PART 20

2453 Kata
20 “OKE, DENGAR, young man,” aku menunjuk dengan penuh sangsi. Tidak peduli jika itu tindakan yang tidak sopan atau sebagainya, aku terlalu terpana untuk bisa memikirkan gestur tubuh aku sendiri. Masih berdengung di telinga apa yang dia katakan tadi. Bagaimana dengan mudahnya dia menyatakan kalalu aku harus tinggal bersama dengan dia selamanya. Baiklah, aku tahu ini memang bukan hal biasa. Ini bukan sekedar dikejar psikopat, atau pembunuh bayaran, pembunuh berantai, atau mungkins seorang keluarga penuh dendam yang ingin melukaimu karena kau adalah sesuatu yang berharga baginya. Ini perkara iblis, seorang makhluk yang tak kasat mata, yang punya kekuatan, punya segala macam hal yang bisa membuat aku sebagai target begitu mudah. Lihat saja kemarin, saat dia menculik aku dengan mudah, dan membuat aku tertidur di dalam kegelapan selama waktu yang lama? Baginya, mencelakai aku mungkin seperti mengambil permen dari anak kecil. Like taking a candy from a baby. Tapi tetap saja, jika dia pikir aku setuju begitu saja . . . then he has another thing coming to him. “Kau tidak bisa begitu saja menyuruh aku—“ “Aku tidak peduli.” Damon memotong aku dengan gaya yang sengak dan membuat aku ingin menghantam dia dari kepala. “Kau akan tinggal di sini dan berada di samping aku selamanya. Dua puluh empat jam. Kalau tidak, aku akan mengikat kau di rumah ini jadi kau tidak bisa kabur.” Aku menatap kepergian dia dengan mulut yang terbuka. “What did he say to me?” seru aku keras. *** SATU HAL YANG HARUS DAMON TAHU, kalau dia pikir aku akan diam saja dan dengan iklhas menenrima fakta kalau aku harus tinggal bersama dengan dia selamanya pula, well, he got something very big coming to him. Memangnya dia pikir dia siapa? Baiklah, dia yang menyelamatkan aku. Baiklah . . . aku rasa dia memang Knight. Tapi aku tidak semudah itu. Kalau dia pikir hanya dengan menjatuhkan bom berupa fakta kalau aku ini pasangan jiwa laki – laki itu, maka aku akan menurut, dia salah besar. Dia mungkin percaya aku ini adalah pasangan jiwa dia, tapi aku tidak percaya. Aku adalah aku. Aku adalah diri aku sendiri. Aku bukan milik siapa – siapa, dan tentu saja bukan milik laki – laki asing yang baru aku kenal belum juga lebih dari satu bulan. Dia gila kalau dia pikir aku akan setuju begitu saja. Malam itu, aku menghabiskan makanan dengan cepat, dan menjatuhkan ultiimatum kalau “Aku tidak akan tinggal di rumah ini. Apa lagi selamanya. Begitu waktu dua minggu selesai, dan rumah Nyonya Smith sudah benar, aku akan kembali.” Pipa air sialan. Mudah – mudahan dia tahu seberapa kacaunya hidup aku saat dia rusak. Satu hari setelah itu, aku tidak bertemu dengan Damon sama sekali. Berhubung tidak ada kelas dan kampus libur, aku tidak tahu harus melakukan apa. Saat aku bangun dan selesai bersih – bersih, aku turun dari kamar. Penopang tubuh aku membawa aku menelusuri rumah, melewati ruang tamu yang besar, dan sampai ke pintu belakang di samping dapur. Kaca besar dan jendela kristal menanti aku, membawa sinar matahari masuk dan menerangi seluruh rumah. Begitu aku keluar dari pintu geser tersebut, dersik angin langsung menerpa aku hingga surai aku terbang kacau. Aku tersenyum. Aromatik yang familiar dan menenangkan hati mengudara. Aku berjalan beberapa langkah, merasakan hangatnya sinar matahari. Tidak jauh dari aku, terdapat pintu geser lain yang membawa ke ruang keluarga. Pintu tempat aku dan Cordelia keluar kemarin. Aku mengobservasi sekitar, melihat kalau aku memang berada di halaman belakang kemarin. Mata aku secara otomatis mencari – cari sosok yang sejak kemarin menghantui benak, tapi nihil. Aku membuang napas panjang. Nyatanya, aku memang selalu memikirkan Damon Hawkwolf. Mau seberapa mengesalkan dan bodohnya laki – laki itu, entah kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan dia. Langkah aku berhenti saat korteks visual menangkap figur yang tidak familiar. Tiga figur. Mereka bertiga laki – laki yang menarik dan tampan. Tubuh tegap dan gagah membuat aku teringat akan Damon dan Hunter. Aku menelan ludah saat mereka sudah mulai dekat. Benar – benar tampan. Tiga laki – laki itu tersenyum tipis saat melihat aku. Aku melambaikan tangan tipis pada mereka. Ew, weird . . . aku harus berhenti bertingkah aneh di depan orang – orang yang tampan dan menarik. Salah satu dari mereka mengangguk ke arah aku. Rambutnya sedikit panjang dan ikal. Dia lebih tinggi dari dua laki – laki di sebelahnya. Ketika dia tersenyum, bibirnya membentuk kotak yang manis. Surai hitam itu ikal, dan terbang terbawa angin. Dia mengulurkan tangan kanan nya. “Talon.” Aku mungkin mengelap tangan aku dulu di celana sebelum menjabat tangannya. Mungkin. Aku tidak akan mengakui itu. “Halo. Saoirse.” “How are you?” “Er . . . feels weird.” Dia tertawa, bibirnya bertambah lebar. Kotak itu merekah, memperlihatkan lesung pipi tipis di sudut bingkai mulut. “Aku tahu. Tenang saja, semuanya akan segera masuk akal.” “Kalian juga . . . ?” Mereka bertiga tertawa. Laki – laki paling pendek dari mereka, tapi juga jauh lebih tinggi dari aku, yang menjawab. Matanya membentuk bulan sabit saat tersenyum. “Tentu saja. Apa Damon pernah bilang kalau dia punya saudara? Aku tidak akan terkejut kalau dia tidak pernah bilang,” laki – laki itu mengulurkan tangan juga. “Orion.” Aku menjabat tangan laki – laki itu. “Saoirse,” kataku. “Dan ya, aku rasa Damon pernah bilang. Atau mungkin Hunter. Atau Cordelia . . . entahlah. Otak aku sedang tidak berfungsi dengan jelas.” Laki – laki terakhir di sebelah mereka ikut mengulurkan tangannya. “Archer.” “Halo, Archer.” “Kau mau berkeliling?” tawar Talon, sembari menunjuk ke hutan belakang. “Apa itu ide yang bagus?” “Bagian hutan ini adalah properti kita,” tentu saja. Aku tersenyum tipis. “Jadi aku bisa jamin aman. Lagi pula, kita hanya akan melihat – lihat di sekitar pinggir hutan saja.” “Er . . .” Aku melirik ke belakang, melihat rumah yang kosong dan tanpa Coredelia pula, jadi aku mengangguk. Lagi pula, apa yang akan aku lakukan sendirian di rumah sebesar ini? “Baiklah. Tapi kalau ada apa – apa, kalian yang tanggung,” kataku bercanda. Tiga laki – laki itu berdiri tegak dan meregangkan otot bahu mereka. “Tentu saja. Kalau sampai terjadi apa – apa, Damon yang akan menghabisi kita sendiri,” kata Orion. Yang lain tertawa, tapi tawa mereka di selimuti teror ringan. Bahkan Talon bergidik ngeri. “Apa yang akan kita lihat?” tanya aku ketika kita bertiga sudah mulai jalan. Archer berjalan di samping aku, sementara Orion di samping aku lainnya, tapi dia mejaga jarak. Talon berjalan di belakang kami, seperti sentri yang berjaga. Aku menggigit bibir saat merasa seperti seorang putri yang sedang dijaga oleh tiga ksatria tampan dia. Tiga laki – laki itu menyeringai aku. “You will see,” kata Orion. Mungkin percaya begitu saja pada tiga orang pria yang baru saja aku kenal bukanlah ide yang baik. Tapi mereka semua ini adalah seorang Hawkwolf, dan jika aku bisa percaya sedikit pada Hunter, kekasihnya Cordelia, dan Damon sendiri, maka aku juga bisa percaya pada semua saudaranya, kan? *** Takjub bukan kata yang tepat. Aku tidak tahu apa ada diktum yang cocok untuk menggambarkan perasaan aku saat ini. Ketika aku setuju dengan tiga orang laki – laki yang mengajak aku keliling hutan, aku hanya skeptis. Lagi pula, apa yang bisa aku lihat di hutan? Burung yang terbang? Rumput? Hanya tanah dan pasir dan lumpur? Dan apa lagi, pohon besar, ranting, dan ilalang? Aku tidak banyak ekspetasi, dan aku sudah jelas tidak akan komplain. Tiga orang laki – laki itu sudah dengan baik mau mengajak aku menghabiskan waktu, jadi walau pun kita menanjak, melewati batu - batu besar yang membuat kaki aku sakit sebab aku tidak menggunakan sepatu yang cocok untuk alam, dan tubuh aku mulai basah sebab walau pun pohon – pohon menghalangi sinar matahari tapi suasana masih panas, aku tidak komplain. Dan aku sudah jelas tidak akan protes saat ini. Ketika tiga orang laki – laki itu membawa aku belok, melewati jalan setapak yang cukup minim, dan menyuruh aku menutup mata, aku mengikuti mereka. Ketika mereka menyuruh aku membuka nya, sudah jelas aku membiarkan kelopak netra mengikuti komando itu. Napas aku tercekat. Aku sungguh kehabisan kata – kata. Kami ber – empat keluar dari balik pohon – pohon yang rindang, bahkan harus menunduk agar tidak menabrak ranting yang besar. Dan di sisi seberang, aku menganga. Air terjun tinggi mengalir deras dengan magnifisen. Aku berdiri di ujung seberang air terjun tersebut. Air yang dingin dan terhempas dari danau kecil di bawahnya menerpa epidermis. Tubuh aku otomatis tidak lagi merasakan panas. Sebaliknya, aku merasa hidup. Air itu bersinar terang, dingin, dan cantik. Dan ketika air jatuh ke bawah, danau kecil tersebut seperti di hantam oleh ratusan kristal cantik yang merefleksi di permukaan air. Warna – warna seperti putih dan oranye dan kuning, bahkan aku melihat merah muda sekilas, melukis pemandangan itu. Aku tidak bisa berkata apa – apa. “Bagaimana?” tanya Talon. “Kau suka?” Aku mengangguk. Aku rasa aku mengangguk. Kalau tidak, aku harap Talon tidak marah. Sebab aku masih tidak kapabel membentuk vokabulari. Ini sangat cantik. Begitu cantik hingga aku pikir ini tidak nyata. “Hey, tutup mulutmu. Secantiknya pemandangan ini, kita masih di hutan. Kau tidak mau ada serangga yang masuk,” kata Archer sembari menyenggol sikut aku. Mendengar kata serangga, aku otomatis menutup bibir. Mereka bertiga terkekeh geli. “T—tapi, bagaimana bisa? Aku tidak pernah mendengar ada air terjun di New Cresthill,” seru aku sembari menunjuk pemandangan di depan kami. “Dan kalau air terjun nya seindah ini, tidak mungkin tidak menjadi atraksi pengunjung.” “Sudah kami bilang ini properti pribadi, ‘kan?” “Tidak ada yang pernah melihat ini?” tanya aku histeris pada Orion. Lalu aku memandang mereka satu per satu. “Hanya kalian yang bisa datang ke sini?” Seringai dari mereka cukup menjadi jawaban aku. Sial. Seberapa kaya mereka? Seberapa berkuasanya mereka sampai bisa melakukan ini? Menutup akses ke dalam hutan dan menyembunyikan harta karun sebesar ini? “Apa tidak ada pernah yang bertanya? Pasti ada ujung sungai atau danau atau apa pun itu yang berarah ke air terjun ini—“ “Danau di atas juga milik properti pribadi.” Aku melirik Archer. “Serius?” Mereka bertiga menganggul. Sial. Benar – benar orang kaya rupanya. Tiga laki – laki itu mengajak aku lebih dekat. Dan saat mereka mengajak aku berenang, aku terpaksa menolak sebab tubuh aku masih terasa sakit dan nyeri. Archer, Talon, dan Orien menghabiskan waktu cukup lama bermain di dalam air, melompat dari tebing yang cukup tinggi, dan bercanda satu sama lain. Aku tertawa, dan tertawa, dan tertawa melihat tingkah mereka. Walau pun aku tidak ikut berenang, tapi mereka tidak pernah lupa membawa aku dalam konversasi. Singkat ceritanya, aku sangat senang dan nyaman bersama tiga orang laki – laki ini. Sudah lama aku tidak merasa se – santai ini. Baru ketika Talon keluar dari air, mengibaskan rambut basahnya, yang aku anggap sangat menarik, aku membuka mulut. “Kau tahu apa itu Ingruth?” Talon terlihat terkejut sebentar, begitu juga Orien dan Archer yang masih di dalam air, lalu dia duduk di sebelah aku. “Kau harus bertanya pada Damon jika punya banyak inkuriri.” “Kenapa?” “Karena itu ceritanya. It’s not our place to tell,” kata Talon sembari menyibak suaraina ke atas. “Apa yang terjadi dengan dia dan . . . iblis itu?” “Banyak,” Talon menoleh ke arah aku. “Banyak hal. Jangan terkejut jika kau bertanya.” Aku merinding, tapi aku tidak membiarkan mereka tahu. Archer dan Orien keluar dari air, lalu duduk di atas batu – batu di depan kami. Orien yang membuka mulut sembari mengenakan kausnya yang otomatis basah. “Damon punya masa lalu yang cukup rumit,” kata Orien. Yang lain mengangguk. “Oh . . .” Aku mengumbang pelan. “Apa masa lalu itu ada kaitannya dengan seorang gadis?” tanya aku. Aku tidak peduli. Bukannya aku peduli. Aku tidak peduli, ‘kan?’ Tiga laki – laki itu saling bertukar pandang, lalu mengangguk. “Lebih detail – nya, kau bisa tanya Damon.” “Tapi, apa kalian tahu apa itu Ingruth?” tanya aku lagi. “Dan kenapa dia mau menyerang aku?” “Jadi kau sudah percaya?” tanya Archer. Aku mengedikkan bahu. “Dia iblis. Seperti yang sudah kau tahu. Dia bisa berubah wujud, dan karena itu dia sangat arogan. Baginya, apa pun bisa dia taklukan karena dia bisa menjadi apa saja.” “Dan nyanyian – nya?” tanya aku lagi. “Damon bilang jangan dengarkan nyanyian dia.” “Kalau kau mendengar nyanyian dia, maka kau akan terperangkap di dalam realitanya,” jelas Orien. “Atau di dalam kegelapan.” Aku termangu. Gelap. Tidak bisa bergerak. Shay . . . Shay . . . Shay . . . “Aku rasa aku—“ napasku tercekat. “Aku rasa aku terperangkap.” Talon menepuk bahu aku. “Kita tahu.” “Apa?” “Cordelia satu – satunya orang yang optimis. Dia pikir kau hanya pingsan karena terkejut. Tapi kita tahu, kau ada di dalam sana.” “Tapi aku tidak ingat mendengar nyanyian apa pun.” “Tidak ingat, mungkin. Ingruth banyak sekali taktiknya. Mungkin kau mendengar dia teriak, berbicara, tapi nyatanya, dia sedang menghipnotis kamu hingga kamu tidak sadar kalau dia sedang bernyanyi. Dia iblis, Saoirse. Dia jahat dan curang dan licik,” Talon membasuh wajahnya. “Dan kau selamat. Gila. Kau bangun, Saoirse.” “Aku bangun.” Archer dan Orien mengangguk. “Sebenarnya, Wyatt sudah ingin menanyakan hal ini padamu. Dia kakak kami yang paling pintar dan jenius. Dan baginya, ini adalah hal yang perlu diselidiki. Hal yang membuat dia gila sebab Damon melarangnya bertanya hal – hal yang aneh padamu sebelum kau benar – benar pulih,” Orien menatap aku lekat. “Sesungguhnya, kami juga penasaran.” “Bagaimana bisa kau sadar?” tanya Archer pelan. Suara air terjun menggema. Suara burung berkicau meresonasi. Suara angin menimpa pohon – pohon mengudara. Aku terdiam lama, menatap likuid yang deras jatuh ke danau, membentuk kristal indah dan cantik. Dan aku hanya punya satu jawaban. Aku hanya punya satu respon untuk kuriositi mereka. Dan memangnya aku bisa bohong? Aku bisa berpura – pura ketika hanya hal itu yang selalu ada di dalam pikiran aku semenjak aku tersadar? Shay . . . Shay . . . Shay . . . “Karena dia memanggilku,” bisik aku pelan. “Aku sadar karena Damon memanggil aku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN