15
“NYONYA SMITH, apa kau yakin tak masalah tinggal sendiri di sini?” tanya aku saat aku dan dia sedang sarapan, di hari aku akan pindah ke rumah besar Hawkwolf.
Wanita itu tersenyum penuh arti, seperti apa yang aku katakan terdengar lucu di telinganya. “Seirus, aku lebih baik dari pada putri aku sendiri,” kata dia sembari terkekeh pelan. Aku sempat akan protes dan membela Cordelia Smith, gadis cantik yang merupakan kekasih Hunter Hawkwolf, namun Nyonya Smith memotong aku lebih dulu. “Aku tidak bohong. Gadis itu tidak ragu sama sekali untuk pergi pindah ke rumah Hunter. Yah, bukannya aku bisa melarang dia juga. Dia sudah dewasa, dan dia punya banyak hal yang akan dia lalui di hidupnya. Bersama dengan Hunter adalah paling terbaik yang bisa dia lakukan.”
Aku menatap Nyonya Smith skeptis. “Sungguh? Kau tidak cemas atau apa, anak gadis milikmu yang satu – satunya itu pindah ke rumah yang sangat jauh, terletak di ujung kota, dan bersama kekasihnya pula?”
“Aku tahu Hunter tidak akan pernah melukai Cordelia sama sekali.”
Aku terdiam. Pada dasarnya, aku juga yakin Hunter tidak mungkin akan pernah melukai Cordelia. Dia terlalu sayang dan cinta. Dan jika memang ada yang akan melukai di salah satu antara mereka berdua, aku yakin Cordelia yang justru akan melukai Hunter kalau dia berani macam – macam. Tapi tetap saja. Kalau ini ibu aku, aku pasti akan dilempar dengan sendal dan menjadi babak belur. Bisa – bisanya aku menginap di rumah teman yang pria? Di rumah teman perempuan saja aku sudah setengah mati minta izinya.
Aku mengangguk pelan. “Aku juga berpikir begitu.”
“Hunter itu pria yang baik, jadi aku yakin.”
“Kenapa kau yakin bersama dengan Hunter adalah hal yang terbaik yang Cordelia lakukan?” tanya aku penasaran.
Dan lagi – lagi, Nyonya Smith hanya tersenyum penuh arti. “Karena sudah seharusnya seperti itu. Kau pasti akan mengerti nanti.”
***
GELAP. GELAP. GELAP.
Samar aku mendengar suara langkah kaki orang. Setidaknya aku harap itu bunyi tungkai kaki orang. Samar aku sering mendengar suara vokal yang familiar, kapabel membuat aku tenang walau sedang di selimuti oleh gelap. Samar aku bisa merasakan sesuatu seperti menyentuh jari – jari aku lembut, walau aku tidak bisa melihatnya secara langsung.
Kadang, aku merasa seperti sedang terbang. Tapi tubuh aku hanya begitu saja, terlevasi tanpa arah di tengah gelap gulita. Aku pikir aku mungkin sedang berada di dalam wahana bermain yang kelewatan atau semacamnya.
Mungkin aku harus menemukan jalan keluar dari kegelapan yang terrasa abadi ini. Tapi setelah beberapa lama hanya melakukan itu dan itu lagi—terbang dan terdiam di tengah gelap—aku mulai yakin kalau tidak ada jalan keluar dari sini.
Rasanya seperti sedang mengambang di atas permukaan air di kolam renang. Rasanya seperti sedang menoleh ke bawah dari lantai balkoni yang tinggi sekali. Rasanya seperti sedang mengintip bayangan kamu sendiri dari balik kobangan air.
Rasanya seperti aku sedang sendiri, sendiri, dan sendiri.
Yang ada hanya tubuh aku, raga aku, dan benak aku sendiri. Tidak ada apa – apa di sini. Tidak ada makhluk lain. Tidak ada presensi apa pun.
Tidak ada entitas.
Aku benar – benar sendiri dan aku tidak tahu harus bagaimana.
Selama beberapa saat aku hanya terbang, mengambang, terelevasi ke kanan dan ke kiri, melihat hitam, hitam, dan hitam lagi.
Beberapa saat aku merasa kesepian. Aku takut. Aku ingin pulang.
Beberapa saat rasanya seperti aku ingin menutup mata saja, setidaknya jika aku menutup dua kelopak netra itu, aku tahu rasanya. Seperti tidur, ‘kan? Seperti sedang petak umpet. Seperti sedang berpura – pura kalau ini bukan sesuatu yang aneh.
Beberapa saat aku ingin melepaskan diri saja, membuat aku kehilangan arah saja, membiarkan aku menyerah saja. Aku ingin selesai saja.
Tapi selalu, selalu saja, vokal itu, vokal familiar yang membuat aku merasa seperti orang waras dan jangkar aku pada kesadaran, aku tidak ingin melepaskan diri.
Karena vokal surau itu selalu menggumamkan satu kata yang membuat aku ingin kembali lagi.
“Shay . . . Shay . . . Shay . . .”
***
“Apa kau pikir dia akan—“
“Jangan selesaikan kalimat itu jika kau masih ingin menghirup udara besok hari,” kata suara familiar yang lagi – lagi mengangkat aku dari kegelapan. “Jangan.”
“Tapi bukankah—“
“Jangan!” suara itu menggeram. Aku nyaris tenggelam lagi.
Selama beberapa sekon tidak ada lagi suara. Tidak ada yang berbicara. Aku panik. Aku takut. Aku menggapai ke atas tapi tidak ada jangkar itu. Tidak ada sumber kekuatan yang aku butuhkan itu. Tidak ada yang bisa membuat aku terus berenang ke atas.
Berenang ke permukaan di tengah kegelapan ini.
Aku ingin berteriak, bicara lagi! bicara! Bicara!
Tapi bingkat mulut aku tidak ingin terbuka. Mulut aku tidak mau membentuk kata – kata. Rasanya aku sudah lupa bagaimana caranya membentuk dua puluh enam huruf di dereta alfabet agar meminta siapa pun itu kembali menguraikan sebuah kalimat.
Aku ingin keluar dari kegelapan ini.
Bicara lagi, bicara lagi, bicara lagi!
“Damon—“
“Aku tidak ingin mendengar apa pun itu yang akan keluar dari mulutmu.”
Itu dia! Aku menggapai vokal itu, terus dan terus lagi. Hanya itu yang aku bisa sebelum aku kembali tenggelam. Damon. Nama itu membuat dadaku terisikan sesuatu yang berbeda. Bukan kehampaaan, bukan kekosongan. Nama itu mengisi lidahku dengan jutaan kesan dan pesan, bukan lagi lindap.
Aku tahu nama itu. Aku tahu nama itu, ‘kan? Aku tahu!
Damon, Damon, Damon, bicaralah!
“Lagi pula kita melihat dia setelah Damon sudah datang,” kali ini suara seorang gadis. Suara yang juga pernah aku dengar. Tapi itu tidak cukup untuk membuat aku ingin kembali berenang ke atas. “Aku rasa dia baik – baik saja, Hunter.”
“Tidak ada yang bisa memastikan kalau dia tidak mendengar nyanyian itu—“
Suara geraman. Suara sesuatu di lempar keras. Suara keributan dan pertarungan. Tapi aku terus mengambang, menunggu suara yang aku inginkan.
“DIAM!” suara itu membentak. Tapi tidak apa. Aku hanya butuh itu. Aku mengejar vokal itu. Terus dan terus dan terus lagi. Aku akan keluar dari kegelapan ini. Aku tidak akan menyerah. “Dia baik – baik saja. Dia tidak akan hilang.”
“Baiklah,” kata suara yang sepertinya membuat semua orang marah. “Baiklah.”
Dan aku merasakan diri aku melebur. Aku merasakan diri aku perlahan turun lagi dan turun. Aku merasakan gelap dan hitam semakin menelan aku.
Damon, Damon, Damon!
Tapi tidak ada. Aku tidak mendengar apa – apa lagi. Tidak ada lagi yang ber – adu argumen. Tidak ada sumber suara yang bisa aku jadikan jangkar. Tidak ada suara familiar yang kapabel membawa aku berenang ke atas.
Mencari cahaya. Mencari jalan keluar dari sini.
Aku hanya ingin keluar dari gelap, itu saja. Aku bukan gadis yang punya banyak permintaan di sepanjang hidup aku. Benar, kan? Tapi kenapa rasanya semesta selalu membuat aku susah? Apa ini semacam plot hidup sengsara yang ditulis hanya untuk aku? Apa aku tidak berhak bahagia dan tenang sebentar saja?
Aku membuang napas panjang. Setidaknya, aku pikir aku masih bernapas.
Tapi hanya tiga kata itu saja yang aku dengar, “Shay . . . Shay . . . Shay . . .”
***
Aku lelah. Setidaknya, aku pikir aku lelah. Apa kau masih bisa merasakan lelah? Apa tubuh aku ini masih kenal dengan konsep lelah? Semoga saja. Aku tidak tahu apa yang benar dan apa yang salah. Tidak ada tanda waktu dan tanda kehidupan di sini.
Seperti yang aku bilang, segalanya hitam.
Aku seperti berada di dalam lorong waktu, tersembunyi, terperangkap di dalam lingkaran waktu yang tidak berujung.
Mungkin aku sudah . . . mati? Tapi kata itu terdengar aneh. Terdengar salah.
Jika aku sudah tidak ada, mana mungkin aku bisa mendengar suara – suara itu, ‘kan? Jika aku sudah tidak ada, tidak mungkin aku masih tahu dengan keadaan aku ini, ‘kan?
Lantas aku di mana sekarang? Apa yang sedang terjadi? Apa yang akan terjadi padaku jika aku terus – menerus di sini?
Aku ingin keluar.
“Shay . . . Shay!”
Suara itu lagi. Tapi bagaimana caranya aku mengatakan pada laki – laki itu kalau aku sudah letih? Aku tidak punya energi lagi untuk mencari cahaya, mencari jalan keluar, atau apa pun itu agar aku bisa keluar lagi.
Bahkan suara familiar itu tidak lagi kapabel membuat aku memompa diri agar terus mencapai permukaan.
“Shay, kembali padaku.”
Damon. Itu Damon, ‘kan? Benak aku terasa seperti sedang di selimuti kabut. Seperti aku sedang di tutupi oleh sekumpulan kapas kolosal yang gelap. Aku tidak bisa berpikir. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan aku tidak tahu siapa itu Damon.
Tapi entah kenapa konsep Damon itu mampu menyalakan sesuatu di dalam hati aku.
Aku selalu ingin terus berusaha demi dia.
Pandangan yang terdistorsi membuat aku tidak bisa melihat jauh lebih dari beberapa inci saja—terlebih karena segalanya gelap.
Tapi tiba – tiba suara familiar itu berubah putus asa—suara Damon.
Dan aku tidak suka mendengar nada bicara itu. Aku tidak suka mendengar dia seperti sedang sakit. Jadi aku memaksa diri untuk terus bergerak ke arah sumber suara. Kepala aku mendongak, sebuah manuver pertama aku di sini.
Akhirnya aku bisa bergerak! Aku melihat sebuah titik cahaya kecil di atas. Kecil sekali. Namun hal itu sudah lebih dari cukup bagi aku untuk berubah penuh determinasi. Aku tidak akan menyerah lagi.
Aku tidak mau mendengar nada bicara itu lagi di suaranya.
“Shay, aku mohon . . . aku mohon, kembalilah padaku. Aku tahu kau ada di sana, Shay. Aku tahu kau ada di dalam sana. Jadi aku mohon. Walau rumit, walau susah, walau kau merasa lelah dan tidak kuat lagi, dengarkan suara aku, Shay. Dan kembalilah. Kembali pada Knight – mu ini.”
Aku tersentak jauh ke atas, sesuatu menarik aku, naik dan naik dan naik. Aku menghirup udara. Kepala aku muncul dari atas permukaan kegelapan.
Aku merasa seperti baru bisa bernapas setelah selama berjam - jam mengapung di dalam air. Aku merasa seperti baru saja ada orang yang membuka jalan alveolus, dan membiarkan oksigen masuk ke dalam paru - paru. Aku merasa seperti seorang bayi yang baru dilahirkan ke bumi.
Aku merasa seperti kembali hidup.
Dan aku membuka mata.
***
Dua bola mata aku terbuka. Secara perlahan tapi pasti. Satu hal yang aku rasakan segera ketika aku mulai tersadar, aku haus. Begitu haus aku nyaris berpikir aku akan mati karena dehidrasi. Aku tidak bisa bergerak. Tapi aku tidak membiarkan diri aku sendiri tenggelam dalam rasa panik.
Pelan – pelan aku mulai menggerakkan bagian tubuh yang paling mudah. Mulai dari jari – jari kaki aku sendiri. Butuh waktu yang lama, tapi kau sukses menggerakkan dua ibu jari. Perlahan aku juga mulai menggerakkan bibir, dan manuver naik dan turun d**a aku tidak lagi terasa sakit.
Lalu, setelah aku tdak lagi merasa bak ditelan kabut yang tebal dan gelap, aku menjadi sadar dengan beban di sekitar abdomen. Korteks visual aku segera turun, dan mendapati Damon Hawkwolf tertidur dengan kepala miring di atas tubuh aku.
Jari – jari kami saling terkait, dan aku membuang napas yang panjang. Aku menggerakkan satu jari, mengusap tangannya. Laki – laki itu terbangun dengan cepat dan mata yang belingsatan. Aku melihat Damon Hawkwolf berantakan.
Dia seperti ini karena aku?
Laki – laki ini . . . menjadi seperti orang kehilangan akal karena aku?
“Shay.” Suara itu. Suara Damon. Suara yang membawa aku kembali sadar. Suara yang membuat aku tidak lagi berada di dalam kegelapan yang menakutkan itu. Aku menangis. Setidaknya, aku rasa aku menangis.
Damon memeluk aku, memegang aku seperti aku boneka Rusia yang bisa pecah. Aku membiarkan dia. Dan setelah kami berdua sama – sama sudah tenang, Damon menawarkan aku segelas minum yang dingin, aku akhirnya berhasil mengeluarkan kalimat yang menusuk benak sejak awal.
“Damon, apa yang sebenarnya terjadi?”