PART 14

1223 Kata
14 AKU MASIH INGAT konversasi kecil yang aku dan Nyonya Smith lakukan beberapa waktu setelah kejadian pertama kali aku bertemu dengan serigala hitamku. Aku ingat wanita itu menghampiri aku yang sedang duduk di kursi balkoni rumah kecil cantiknya, menatap ke alam luar, hutan yang terletak tak jauh dari sisi rumah Nyonya Smith. Dia ikut duduk di salah satu kursi balkoni, menatap ke depan tanpa berbicara apa pun selama beberapa lama. Aku menikmati keheningan itu bersama wanita setengah abad yang baru aku kenal selama kurang lebih satu bulan itu. Di sini, segalanya terasa alami. Seperti datang langsung dari semesta. Itu sau hal yang aku suka dari New Cresthill. Dan aku tidak bisa memungkiri kalau aku juga suka dan tertarik oleh panorama yang diberikan oleh New Cresthill. Kota ini sangat kecil dan gelap. Dan terkadang, aku suka kegelapan itu. Bagi seorang gadis yang sangat suka mengunci dirinya sendiri di dalam kamar tidur, itu seperti sebuah pemberian besar. Terkadang, aku sangat suka dengan kabut tebal dan pohon – pohon besar di kota ini. Hutan yang selalu hidup di dekat kami, dan penduduk yang sepertinya kenal satu sama lain. Semuanya terlihat epik. Bahkan, aku sendiri tertarik untuk masuk ke dalam hutan yang lebat itu. Rasanya seperti sedang ada di dalam set film Twilight, dan aku suka itu. Nyonya Smith memegang tangan aku pelan. “Kau suka?” “Suka apa?” tanya aku balik. “Hutan,” kata Nyonya Smith sembari menunjuk ke hutan yang lebat. “Kau suka itu?” “Sedikit. Aku tidak pernah sadar aku suka hutan, tapi rasanya seperti tenang jika menatap ke sana. Kenapa?” aku menyeruput teh hangat yang aku bawa dari dalam. Nyonya Smith tersenyum penuh arti. “Tidak. Kau hanya beruntung.” “Beruntung bagaimana?” “Kau punya pelindung yang tinggal di dalam sana.” “Di dalam hutan?” tanyaku heran. “Pelindung apa?” “Pelindung yang hebat dan tangguh. Tidak ada yang akan bisa menyakitimu, Saoirse.” ***  SUDAH DUA KALI KEJADIAN YANG SAMA TERJADI. Dua kali aku menemukan diri aku sendiri di situasi yang sama dan similar. Dalam bentuk yang tidak berbeda, dan berada di tempat yang similar pula. Sama – sama di berdekatan dengan hutan. Jika aku bisa berada di kondisi yang sama selama dua kali dalam jangka waktu yang singkat bisa menjadi opini aku dalam penilaian kota kecil New Cresthill ini, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Well . . . selain fakta kalau aku sudah berada dalam bahaya dua kali berturut – turut. Dan dalam dua kali kondisi itu, aku selalu menemukan seorang ksatria berbentuk serigala hitam yang sepertinya sangat peduli pada keselamatan aku. Jujur, aku merasa begitu aneh hingga aku hanya bisa terpaku. Sesuatu yang sepertinya hanya bisa aku lakukan beberapa waktu terakhir ini. Aku mengeluarkan napas yang berat dan panjang tatkala serigala hitam itu menyerang makhluk menyeramkan yang sedari tadi akan menyerang aku. Makhluk itu memekik nyaring, begitu nyaring hingga rungu aku terasa berdengung keras. Aku menutup telinga, menutup mata, menutup hati jika aku bisa. Tapi suara erangan dan geraman, lolongan nyaring, dan pertaruangan membuat aku kembali membuka netra. Kelopak itu terbuka dan menemukan makhluk tersebut sudah terhimpit di bawah salah satu kaki serigala masif itu. Ukuran kaki – nya memakan hampir satu tubuh makhluk yang berbentu manusia namun tidak berwajah familiar itu. Ketika apa pun sosok yang sedang ditahan di tanah tersebut meronta seperti akan berusaha keluar dari bawah dan menyerang kembali, serigala hitamku menggeram keras hingga angin berdesik, pohon – pohon bergoyang, dan aku menahan napas. Gigi taring – nya mengeluarkan saliva yang banyak. Rahangnya terbuka lebar hingga aku yakin dia bisa saja menelan makhluk itu hidup – hidup. Satu sekon, dua sekon, tiga sekon . . . siapa pun itu berhenti. Sepertinya dia mulai bisa sadar kalau situasi dia saat ini tidak baik. Sudah jelas serigala hitam itu yang berada di atas angin. Aku mundur satu langkah, setelah menemukan semua indera di tubuh aku kembali berfungsi. Seperti baru menyadari kehadiran orang lain, dua mata emas yang menyala tertuju padaku. Kepalanya mendongak, giginya mendesis—mengeluarkan suara yang murni hewani—dan dia menatap aku lekat. Lantas, apa yang harus aku lakukan jika sedang di tatap oleh hewan terbesar yang pernah aku lihat? Tapi bukannya aku merasa takut, teror, atau apa, aku justru merasa seperti ada dinding proteksi tebal yang mengitar aku. Aku merasa seperti apa pun tidak akan bisa mendekat ke arah aku jika ada dia. Sorot mata itu menjanjikan proteksi dan selimut keamanan yang membuat seluruh tubuh aku akhirnya rileks. Aku membuang napas panjang. Serigala hitam itu menutup mulutnya. Lalu dua mata emas itu mengobservasi aku, mencari . . . tahu jika aku terluka? Apa hewan bisa melakukan itu? Apa serigala punya semacam kelebihan atau sejenisnya? Aku tidak tahu. Tapi yang lebih aneh lagi, entah kenapa, aku justru mengangguk. Aku . . . mengangguk ke arahnya memberikan informasi kalau aku baik – baik saja. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, atau apa yang bisa dikatakan tentang aku oleh manuver itu, tapi aku tidak gila. Sungguh, aku rasa aku tidak kehilangan akal. Aku tahu aku masih waras, dan aku baru saja memberikan satu anggukan kecil pada seekor serigala terbesar, tersangar, dan terhebat yang pernah aku temui. Dan sumpah, aku berani memberikan semua harta yang aku punya, memberikan semua sen di kartu ATM yang aku punya, tapi jujur, serigala hitam itu balik mengangguk. Dia . . . memberikan presensi. Dia mengiyakan kalau aku baik – baik saja. Apa aku baru saja berkomunikasi dengan seekor serigala? Aku tidak bisa berkata apa – apa. Serigala hitamku melepas kaki – nya dari makhluk itu, lalu aku melihat dengan horor bagaimana dia mengangkat tubuhnya dengan ringan, menggoyangkannya seperti anjing yang menggoyang boneka mainan, lalu aku melihat dia melempar tubuh itu ke pohon terdekat. Pohon terdekat yang kebetulan paling besar dan paling kokoh di sekitar sini. Aku menelan ludah. Aku tahu dia tidak akan melukai aku. Entah datang dari mana keyakinan seperti itu, tapi aku yakin dia tidak akan melakukan apa – apa. Aku tahu itu sebab dalam dua kali pertemuan kami, yang dia lakukan adalah menyelamatkan aku. Dan ketika aku melihat dua teliiganya terangkat naik, seperti mendengar sesuatu, merasakan sesuatu, serigala hitam itu menghembuskan napas yang memburu. Dia meraih tubuh yang sudah tidak sadarkan diri itu, menggigitnya di bahu dan membawanya bak sampah—jujur, dia terlihat seperti akan muntah—serigala hitam itu pergi. Aku berdiri tanpa tahu harus melakukan apa. Apa aku kembali ke rumah? Siapa yang harus aku hubungi? Apa yang . . . apa yang baru saja terjadi? Bukannya aku gadis yang lemah, bukan juga aku mengatakan kalau aku gadis paling kuat di muka bumi ini. Tapi memangnya apa yang harus seorang wanita lakukan dalam situasi seperti ini? Baru juga aku mencoba untuk berjalan, entah ke mana yang penting aku keluar dari hutan ini, sosok yang aku kenal terlihat menyeruak dari balik pohon – pohon. Cordelia dan Hunter. Keduanya berlari ke arah aku, dan gadis itu memeluk aku erat. Samar aku mendengar mereka mengatakan seusatu. Aku mendengar Hunter berkata sesuatu. Samar aku bisa melihat wajah cemas dan khawatir mereka. Samar aku bisa merasakan kalau tubuhku akhirnya tersadar bahwa aku sedang terkejut keras. Aku tahu Cordelia sedang memeluk aku. Aku tahu kalau aku menangis. Lalu setelah itu aku tidak tahu apa – apa. Rasa kaget itu menelan realita dan membawa aku jatuh ke dalam kegelapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN