13
AKU INGIN MENANGIS. Mutlak. Aku ingin beteriak sekeras mungkin dan melompat keluar dari jendela mobil yang masih berjalan. Rasanya aku masih tidak bisa menafsirkan premis tentang apa yang baru saja terjadi.
Apa aku sedang berada di dunia lain? Apa aku sedang berada di dalam semacam twilight zone atau semacamnya? Apa aku baru saja masuk ke dalam sebuah dunia paralel di mana ada dua Damon Hawkwolf tapi yang satu lagi adalah Damon yang jahat dan bisa berubah bentuk? Apa aku sedang berhalusinasi? Apa mungkin aku terjatuh dan membentur kepala aku sangat keras tadi di kampus, hingga sekarang aku sedang bermimpi buruk dan terasa seperti sangat nyata?
Tidak. Aku yakin yang tadi menelepon aku adalah Damon. Aku yakin kalau pria itu tadi berbicara dengan aku Aku yakin kalau saat ini adalah hal yang nyata, dan tadi Damon menghubungi aku secara nyata juga. Lalu, apa yang ada di sebelah aku ini? Apa dia semacam makhluk yang bisa berubah bentuk? Apa dia di sini untuk melukai aku?
New Cresthill . . . kau sungguh kota kecil yang terkutuk.
Bisa – bisanya aku berakhir di sini sebagai siswa pertukaran pelajar dan sudah mengalami hal – hal tak mengenakan hati. Maksud aku, ini pasti semacam makhluk tak kasat mata yang suka mengganggu manusia, kan?
Apa lagi kalau bukan makhluk supernatural? Siapa lagi yang bisa berubah bentuk dan membuat orang lain bingung? Menipu orang lain sebagai orang yang mereka kenal? Aku pernah baca beberapa hal tentang shapeshifter. Apa ini makhluk yang sama? Apa aku sedang diculik untuk dia jadikan makan siang?
Apa aku akan keluar dari sini dengan selamat?
***
“SUDAH TEBAL ATAU SUDAH TAHU?”
Lantas, apa yang harus aku jawab dari inkuri seperti itu? Tentu saja aku hanya bisa terpaku diam di tempat. Mematung laiknya gadis imbesil yang tidak punya otak. Tidak bisa berkata apa – apa sebab lidahku terasa beku. Semua vokabulari di dalam bibir menjadi lindap. Tidak ada yang tahu aku harus bagaimana, termasuk diri aku sendiri.
Memangnya ada edukasi bagaimana caranya mengusir makhluk yang tidak seharusnya ada di bumi di sekolah? Memangnya ada cara – cara tersendiri untuk melepaskan diri dari ilusi? Ada caranya kembali lagi ke realita?
Sungguh, aku benar – benar berharap kalau ini adalah mimpi. Atau aku koma. Atau mungkin aku sudah . . . mati?
Tapi dari cara hati aku berdegup terlalu kencang seperti tidak pernah tahu rasanya tenang dan konten di tempat menjawab kalau aku masih punya harapan. Aku punya nyawa dan jiwa di dalam raga.
Jiwa yang sebentar lagi akan runtuh menjadi kepingan bodoh saking aku merasa begitu kehilangan akal. Jiwa yang sebentar lagi akan meronta dari dalam sanubari sebab rasa teror yang menyelimuti tubuh serta darah sudah tidak bisa lagi aku kontrol.
Ketika ponsel di tanganku kembali bervibrasi dan aku mendengar bunyi nada dering yang halus, aku terbangun dari posisi stagnan. Jari – jari aku yang tidak bisa diam akhirnya bisa berfungsi lagi dan saraf motorik di tubuh kembali hidup.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus aku lakukan?
Aku tidak tahu pasti, tapi setelah makhluk di sebelah aku itu kembali fokus ke depan, dua tangan memegang setir seperti hidupnya berpegangan pada benda itu, aku mengangkat sambungan telepon.
Telingaku terasa tidak bisa mendegar apa pun sebab darah yang mengalir begitu kuat, dan suasa hening yang menyentak seluruh benak, tapi aku tahu nada bicara itu. Panik dan cemas dan . . . takut?
Aku tahu vokal itu. Aku bahkan yakin jika aku kehilangan di kegelapan, bahkan vokal itu pun sanggup menarik aku dari sana, menjadi satu – satunya sumber cahaya di seluruh kegelapan.
“Saoirse, dengarkan aku,” seluruh tubuhku menjadi satu lagi. Fokus dan atensi memacu pada satu hal. Pada suara Damon Hawkwolf yang tidak pernah aku sangka akan aku rindukan. Pada suara Damon Hawkwolf yang menjadi satu – satunya pertanda kalau ini asli, aku tidak kehilangan akal, dan aku tidak sedang bermimpi.
Suara Damon Hawkwolf yang kapabel membawa aku pada satu rasa yang similar sekali dengan tenang.
Aku menarik napas panjang, dan mengangguk subtil walau aku tahu laki – laki itu tidak bisa melihat aku. Takut kalau makhluk di sebelah aku ini akan melakukan sesuatu jika aku berbicara.
“Dengar,” dia mendesis pelan, napasnya terengah – engah bak baru saja berlari bermil – mil dengan cepat. “Apa pun yang terjadi, tetap tenang. Ikuti sandiwaranya. Jangan memprovokasi. Aku akan segera datang,” aku tidak repot – repot bertanya bagaimana bisa dia datang untuk aku.
Beberapa sekon berlalu, dan yang terdengar hanya suara napas dia yang memburu. Aku pikir itu saja yang akan dia katakan. Nyaris sebelum aku menutup sambungan telepon, nada bicara Damon Hakwolf berubah rendah dan tajam.
Seperti memberikan sebuah misi mematikan.
“Dan Saoirse?” aku menunggu dengan tidak sabar. “Apa pun yang terjadi, jangan sampai kau mendengar nyanyian – nya.”
Aku menutup mulut. Telepon terputus. Butuh beberapa saat bagi aku untuk sadar, kalau mobil sudah tidak lagi bergerak. Mesin mobil ini sudah mati. Aku melihat sekeliing. Tidak ada kabut. Tidak ada uap apa pun.
Yang ada hanya pohon dan pohon dan pohon.
Di hutan. Entah bagaiama caranya aku dan makhluk ini sudah berakhir di tengah hutan tanpa ada satu interaksi pun dari ktia.
Sudah tebal, atau sudah tahu?
Aku bisa gila. Gila. Gila.
Aku tidak berani menoleh ke samping. Tidak mau mendapati sesuatu yang mengerikan. Tidak mau membuat diriku sendiri termakan oleh rasa takut. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa tetap menatap ke depan.
Sampai kapan? Sampai Damon datang? Kapan dia datang? Apa dia bisa menemukan aku? Apa dia benar – benar akan datang?
Aku tidak tahu. Aku sendiri.
Dan mau tidak mau, aku harus segera melakukan sesuatu. Bukan hanya diam saja seperti patung bodoh. Bukan diam saja sampai aku menunggu orang datang untuk menolong.
Jadi aku menoleh. Aku menengok ke samping, dan melihat sosok Damon Hawkwolf. Tapi aku tahu dia palsu. Aku tahu dia tidak asli.
Dia ikut menatap aku, senyum yang sama terurai di bibir. Aku menahan napas.
“Shay, ya? Shay, Shay, Shay . . .” Dia menelengkan kepala seperti sedang menimbang – nimbang nama aku di bibirnya. Aku menelan ludah. “Cukup cantik. Tidak secantik yang dulu ‘sih.” Aku tidak membuka suara walau pun aku ingin bertanya apa maksud dari kata – katanya. Aku terlalu fokus untuk melarikan diri. Tanganku secara perlahan menelusuri tangan mobil, mencari – cari kunci manual dan gagang pintu. “Aku harus akui ‘sih, kau terlihat lebih menantang dari pada dia. Tapi aku tahu kalau Damon itu lebih terikat padamu.”
Terikat? Siapa dia? Dia. Dia. Dia. Aku tidak peduli. Aku tidak mau peduli. Jadi, begitu dia tertawa dan tenggelam dalam monolog – nya sendiri, aku menarik napas, membuka kunci manual, dan membuka pintu seepat mungkin. Aku secara teknis melompat ke luar, menerjang angin di tengah hutan yang dingin. Aku terjatuh, tapi tidak butuh waktu banyak bagiku untuk kembali berdiri dan akhirnya berlari.
Aku lari, lari, dan terus lari. Tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Aku mendengar suara yang menggetarkan jiwa berteriak, memekik, menyalang seperti suara wanita gila. Aku meringis, menutup telinga, tapi aku terus lari.
Tiba – tiba tubuhku diterjang sesuatu dari belakang. Aku sadar kalau aku menerjang udara dan aku sadar ketika aku menabrak pohon yang besar. Seluruh tubuhku sakit. Bahu, punggung, bahkan dua kaki aku. Aku terjatuh dengan posisi empat kaki. Ketika aku mendongak, bukan lagi Damon Hawkwolf di depan aku.
Seorang perempuan dengan wajah mengerikan dan penampilan yang aneh. Aku menahan tangis. Menahan rasa teror. Dia mendekat, mendekat, dan samar aku mendengar lantunan lagu. Aku membulatkan dua mata. Jangan dengar, jangan dengar, Saoirse, apa pun yang terjadi, jangan dengar nyanyian – nya.
Aku berteriak. Dia mendekat. Dan di detik itu, teriakan aku berhenti saat serigala hitam yang masif dan besar melolong, menggeram, dan berlari menyerang makhluk itu.
Serigala hitamku.