PART 12

1190 Kata
12 SELAMA HIDUP AKU, aku selalu suka yang namanya menonton genre film horor. Sungguh, bagi aku itu satu – satunya pelepas adrenalin paling tinggi yang bisa aku lakukan. Jika aku ke arena permainan, aku tidak akan pernah berani melakukan wahana permainan yang berbahaya. Aku terlalu payah dan tak berani untuk mendekat sekali pun. Jadi, bagi seorang gadis yang tak punya banyak wadah di hidupnya, aku menuangkan semua perasaan itu dengan menonton film horor, dan sekarang aku ketagihan. Aku seperti mania genre film yang mengisahkan tentang banyak hal supernatural, dan hantu. Iya, bagiku hantu justru menyenangkan. Aku ingat dulu sekali aku sering merengek untuk merayakan pesta Halloween, tapi pada dasarnya, memang kita bukan dari keluarga dan budaya yang merayakan acara seperti itu, jadi aku tidak pernah merasakannya. Aku hanya bisa menonton dari teve tentang budaya Halloween dan aku harus pus dengan itu. Aku juga masih ingat dulu sekali Ibu selalu kesal jika aku menonton film yang menyeramkan dan mengerikan di teve keluarga. Mereka semua selalu protes tentang aku yang punya selera film mengerikan. Pasalnya, aku juga suka genre thriller dan kriminal. Jadi, aku selalu melakukan itu semua sendiri. Tapi aku tidak akan pernah menyangka kalau aku akan merasakan itu semua secara langsung. Jujur. Memangnya aku pernah berpikir kalau aku akan menjadi salah satu gadis yang merasakan langsung kisah supernatural yang mengerikan? Begitu kepala aku menoleh ke samping, dan melihat makhluk yang tersenyum sembari ikut menoleh secara pelan, pelan, dan pelan. Aku tahu ada sesuatu yang tak beres. New Cresthill, kota macam apa kau sebenarnya? *** BESAR DI NEGARA DAN SECARA PRAKTIS benua yang masih sangat percaya dan tahu jelas kalau hal – hal yang berbau supernatural itu nyata, tidak bisa mempersiapkan aku akan semua fakta saat ini. Cerita jaman dulu, pamali, dan omongan – omongan tentang sesuatu yang tidak pada tempatnya di bumi tidak akan membuat aku siap akan kenyataan di depan mata sekarang. Aku tidak akan pernah mengira kalau apa yang mama katakan tentang makhluk yang bukan tinggal di bumi, atau kekuatan paranormal yang asing di dunia ini itu memang benar – benar nyata. Dan aku tentu saja tidak akan pernah mengira kalau aku akan menjadi salah satu orang yang akan mengalaminya. “Shay? Jangan buat aku berpikir yang tidak – tidak, jawab aku sekarang!” Entah kenapa nada bicara Damon Hakwolf—tidak tahu yang asli atau tidak—terdengar panik. Kenapa dia panik? Bukankah dia tidak suka padaku? Sejauh yang aku tahu, dia tidak pernah bersikap ramah seperti teman, walau pun dia tidak bertingkah seperti laki – laki kurang ajar juga ‘sih. Tapi saat ini dari vokalnya yang berat dan serak, diselimuti rasa panik dan . . . takut, membuat aku mematung tanpa bisa bicara. Damon Hawkwolf yang lain, yang duduk di samping aku, dua tangan di memegang kemudi setir begitu kencang hingga memutih, menoleh ke arah aku. Bibirnya yang putih pucat bak kapas melebar, melebar, dan melebar. Dia tersenyum, panjang. Panjang dan panjang hingga aku tidak bisa bernapas. Itu tidak bisa ‘kan? Mausia biasa tidak bisa ‘kan tersenyum selebar itu? Sungguh, aku rasa pipinya begitu merekah hingga aku bisa melihat daging mulut di dalamnya. Aku ingin menangis. Berteriak. Menjerit sejadi – jadinya. Tapi seperti ada rantai besar yang menahan tubuh aku agar bereaksi. Rasa terkejut dan takut dan bingung bercampur menjadi satu. Tidak paham dan tidak bisa menafsirkan premis. Jika di telepon adalah Damon Hawkwolf, lalu siapa laki – laki yang sedang tersenyum lebar padaku ini? Hati aku nyaris keluar dari rongga d**a saking kencangnya berdetak. Pikiran aku kabur. Bahkan tatapan aku pada wajahnya pun terdistori semakin lama semakin buram. Aku melebur dalam rasa teror. Aku begitu takut sampai seluruh tubuh aku bergetar tidak karuan. “Saoirse!” Aku ingin sekali berpegangan pada vokal itu. Vokal yang sesungguhnya membuat aku merasa tenang dan terproteksi walau pun aku tidak akan pernah mengatakan itu pada orangnya. Vokal yang saat ini menjadi satu – satunya jangkar aku pada realita. “Jawab aku, sial!” Damon Hawkwolf—setidaknya aku pikir dia Damon, menyumpah keras. Aku membayangkan di lorong kampus, berdiri di depan pintu kelas, dan memegang ponsel sembari berkata kasar. Apa dia bisa menemukan aku sekarang? Jika aku berteriak, apa dia akan datang padaku dengan kecepatan kilat seperti yang selalu dia lakukan itu? “Apa yang sedang terjadi? Di mana kau?” ada emosi tersembunyi dari suaranya. Suara yang sedikit bervibrasi, tapi karena apa? Karena dia begitu cemas . . . ? Aku menatap sosok di samping aku yang sudah kembali fokus ke jalanan di depan kami. Satu tatapan saja, aku bisa melihat kalau jalanan seluruhnya di tutup oleh kabut yang tebal. Aku nyaris tidak bisa melihat satu meter di depan cahaya mobil. Suasana berubah mencekam. Semua surai di epidermis aku berdiri. Tanpa bisa aku tahan, daksa yang sudah bergetar menjadi merinding keras. Temperatur turun drastis. Tiba – tiba aku menggigil dan kedinginan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tahu ini bukan sesuatu yang baik, Aku masih belum juga menjawab kata – kata Damon di seberang telepon. Aku harus segera keluar dari situasi ini. Apa ini mimpi buruk? Apa semuanya hanya sebuah ilusi? Apa aku jatuh dari tangga megah dan tinggi kediaman Hawkwolf keluarga? Apa aku tersandung dan jatuh di parkiran? Apa pun itu, aku harus bangun! Apa ini alam bawah sadar? Bangun . . . bangun . . . bangun . . . ! Laki – laki di samping aku tidak mengeluarkan suara apa – apa. Jika dia mendengar suara Damon dari telepon, dia tidak menggubris itu. Sebaliknya, kecepatan mobil melaju, membuat aku terlempar ke sandaran kursi dengan keras. Aku memegang sabuk pengaman penuh antisipasi. “Saoirse!” Aku menggeleng. Ini gila. Ini gila! Ini mimpi buruk, ‘kan? Tapi kenapa semuanya terlihat seperti nyata? Kenapa aku bisa merasakan semua indera di tubuh dua, tiga, empat kali lebih kuat dari biasanya? Aku harus keluar dari sini! Keluar dari sini! Dengan determinasi dan adrenalin yang mengalir di darah secara bersamaan, aku mengangguk. Aku tidak menjawab pertanyaan panik dari laki – laki di seberang telepon, melainkan mematikannya. Bibirku bergetar saat aku memaksakan kata – kata terlepas. “Damon?” Tidak ada jawaban. Aku menelan ludah. Tenggorokan aku kering. “Damon? Kelihatannya kabut sudah terlalu tebal, bagaimana jika kita kembali saja ke kampus?” Aku menunggu dengan hati yang sangat takut hingga aku ingin menangis. d**a aku terasa sesak. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi insting mengatakan siapa pun makhluk yang sedang berada bersama aku ini bukan lah sosok yang baik. Aku merasa bodoh karena sudah menutup sambungan telepon Damon. Seharusnya aku berteriak meminta tolong padanya. Seharusnya aku segera menjerit atau semacamnya. Entah karena perasaan yang kuat atau karena aku yakin, dari atmosfer di dalam mobil ini tidak benar, kalau Damon Hawkwolf yang di seberang telepon tadi adalah Damon yang asli. Saat aku merasa kalau nyawaku sedang dalam bahaya dan sedikit lagi akan meninggalkan raganya, makhluk itu tertawa. Nyaring. Bukan seperti laki – laki. Bukan seperti vokal Damon yang berat dan serak. Telepon aku bergetar lagi. Lagi. Dan lagi. Tapi fokus aku hanya terarah pada satu hal. Dia menoleh dengan senyum yang sama. “Sudah tebal atau sudah tahu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN