PART 51

1710 Kata
51 TALON BERDIRI seperti pria canggung di ambang pintu. Mungkin dia tidak berpikir akan menemukan aku dan Damon sedang berbicara serius dan terlihat seperti sedang berdisuksi perkara hidup dan mati saat ini. Aku melepas tangan Damon, menjauh sedikit dari pria itu sehingga membuat laki – laki yang bisa menaklukan aku kapan saja itu mengerutkan kening tidak suka. Dia sudah akan meraih tangan aku lagi, tapi aku melotot ke arahnya dan menelengkan kepala ke samping memberikan sinyal kalau Talon ada di sini. Damon menatap aku seperti aku baru saja tumbuh dua kepala. Laki – laki itu merenyuk saat aku menolaknya lagi, dan memutuskan untuk berhenti saat ini. Jangan salah, aku tidak masalah berpegangan tangan dengan Damon, tapi aku tak tahu tentang melakukan itu di depan orang banyak. Aku sendiri masih belum bisa terbiasa dengan fakta kalau aku dan Damon ini pasangan jiwa, tidak, aku rasa aku tidak akan pernah terbiasa. Apa lagi harus secara jelas memperlihatkan itu di depan orang banyak. Aku tidak akan pernah bisa melakukan hal itu. “Apa kalian mendengar apa yang baru saja aku katakan, atau aku harus mengulangnya lagi? No judgement, kalian hanya terlihat sedang sangat nyaman tadi,” Talon bersungut dari ambang pintu membuat aku teringat kalau dia masih ada di sini. Talon mengangkat dua alisnya saat aku berdeham dan memukul bahu Damon agar dia menjawab. “Ya, ya, baiklah,” Damon mengibaskan satu tangan. “Aku mendengar apa yang kau katakan. Sekarang, terima kasih atas informasi itu karena aku baru saja menemukan satu alasan lagi untuk menghabisi pria itu.” Damon menatap aku datar dan memicingkan mata saat aku hanya menahan senyum. *** ENTAH APA YANG ada di pikiran Damon, tapi jika dia pikir aku akan diam saja, maka laki – laki itu salah. Begitu Talon masuk dan membawa berita semacam itu, aku segera meremas jari – jari tangan Damon agar dia memusatkan atensi padaku. Damon menyipitkan mata, secara mutlak tahu betul apa yang aku inginkan dan apa yang aku bicarakan dari manuver tersebut. Laki – laki tampan itu menggeleng. Hanya ada satu jawaban yang akan dia berikan padaku. “Tidak.” Titik. Pada dasarnya, Damon itu memang laki – laki yang tidak banyak bicara. “Kenapa tidak?” aku mengerutkan kening. “Kau bahkan belum dengar apa yang aku minta.” “Aku tidak perlu mendengarnya,” Damon meremas balik jari – jari tangan aku. Temperatur hangat tubuhnya membuat aku ingin selalu mendekat dan memeluk dia. Kebutuhan pasangan jiwa sialan. “Aku pikir kau bilang kalian tidak punya kekuatan membaca pikiran.” Damon melepas tangan aku dan melipat dua tangannya di depan d**a. “Tidak perlu seseorang dengan kekuatan membaca pikiran untuk bisa tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu saat ini, Shay. Jawaban aku hanya satu. Tidak.” Aku merenyuk. “Kau tahu berapa hari aku ada di sini?” aku mengangkat satu jari ketika aku lihat Damon akan menjawab. Smarty pants. Jika dia hanya akan berbicara dengan sarkas, aku tidak akan membiarkan dia membuka mulut. “Shay—“ “Kurang lebih tiga hari,” kata aku. “Entah lah. Aku sudah berhenti menghitung begitu aku mulai bosan. Apa kau tahu di rumahmu ada rakun liar yang suka masuk dan keluar? Aku sering melihatnya dari jendela.” Damon menelengkan kepalanya. “Kau diserang serigala yang empat kali lebih besar dari tubuhmu, Shay. Kau tahu seberapa banyak darah yang kau keluarkan? Did you know you suffered from blood loss? Bukan hanya itu saja—” “Aku sudah cukup,” potong aku cepat. “Cukup tidur, cukup makan, cukup melihat matahari terbit dan terbenam. Cukup dengan kunjungan dari kalian, tanpa bisa keluar. Aku baik – baik saja. Vervain, vivi, versace, apa pun itu yang kau berikan padaku bekerja denga sangat baik.” “Baiklah,” Damon mengangkat dua tangan, gestur menyerah. “Kau boleh keluar.” Tapi dia tahu apa yang benar – benar aku inginkan. Dia tahu aku bukan hanya ingin keluar dari ruang rawat ini dan kembali ke kamar tidur aku sendiri. Laki – laki itu bersiap berdiri untuk pergi. “Damon.” Dia mengerang. Kepalanya mendongak frustasi. Dia sibak surai hitamnya ke atas dan menoleh padaku. “Apa yang akan kau lakukan?” “Aku hanya ingin tahu,” balas aku. “Tahu apa?” Aku terdiam. Tidak ada yang bisa aku balas. Apa yang memangnya ingin aku lihat? Ingin melihat seberapa damage yang mereka lakukan pada serigala liar itu? Ingin melihat seperti apa mereka saat sedang beraksi? Damon membasahi bibir. “Itu bukan sesuatu yang aku ingin kau lihat.” “Kau tidak bisa terus bersembunyi.” “Aku bukan bersembunyi,” balas Damon. “Hanya menyembunyikan satu sisi dunia ini yang mungkin akan membuat kau melangkah seribu kali ke belakang.” Aku terbata. Tidak ada kata – kata yang pantas untuk membalas diktum tersebut. “I just got you,” Damon mengulurkan tangan dan membasuh kepala aku lembut. “Aku tidak ingin ada alasan kau akan pergi menjauh lagi.” Dan memangnya aku bisa membalas itu? Aku tahu laki – laki itu benar. Tapi . . . tapi apa yang akan aku lakukan jika terus – menerus tinggal dalam gelap dan abu – abu? Jika aku akan maju, aku ingin melihat secara jelas dan sublim, apa yang kapabel mereka lakukan. Aku ingin tahu seperti apa dunia ini, seperti apa tabiat mereka, dan seperti apa jika aku ingin hidup lebih lama bersama dengan Damon Hawkwolf. Aku singkap selimut di atas tubuhku dan berdiri secara perlahan. Damon secara otomatis segera menangkap aku, membopong aku dengan sigap. Aku dorong pelan tangannya, membuktikan kalau aku benar – benar bisa berdiri tanpa harus di tolong. Talon mengentuk pintu. “Er . . . aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan aku tidak ingin ikut campur, tapi yang lain sudah menunggu di bawah.” Damon tidak mengabaikan dia. Matanya tertuju padaku. “Berjanji padaku tidak akan ada yang merubah persepsi kau, Shay.” “Kau tahu aku tidak bisa menjanjikan itu,” kata aku. “Just know that sometimes, we have to do the extra things.” Damon menyibak surai aku lagi, menaruhnya di belakang telinga. Aku tersenyum tipis. “I know.” Talon memutar dua matanya tidak percaya. “Kenapa tidak dari awal saja? Sudah jelas kau tidak akan pernah bisa melawan kehendak Saoirse. Membuang – buang waktu saja.” Damon menggandeng tangan aku keluar dan secara sengaja menabrak bahu adik laki – lakinya. “Kau akan tahu jika kau sudah menemukan pasangan jiwamu.” “Ugh, aku harap kita tidak akan bertemu dalam waktu yang dekat. Aku ini masih ingin bebas, kau tahu?” Damon meremas tangan aku tapi tetap memandang ke depan. “Begitu kau sudah memiliknya, percayalah, you will never want to let her go,” lalu dia menatap aku lurus. “Ever.” Di saat itu, aku bersyukur tidak melebur menyatu dengan karpet. Jika itu terjadi, aku akan benar - benar terlihat seperti pecundang bodoh. *** Butuh beberapa saat bagi aku untuk bisa mengatur komposur saat aku kembali masuk ke dalam ruang bawah tanah itu. Memori seketika mengambil alih semua sel serebrum, memainkan lagi semua rasa yang aku rasakan pada momen itu. Rasa panik, rasa takut, dan tentu saja rasa sakit. Damon memegang tangan aku keras, seperti takut jika aku terlepas maka sesuatu yang buruk akan terjadi lagi. Kami masuk ke dalam, melewati jalan yang aku dan Cordelia lewati malam itu. Hingga akhirnya kami sampai di lorong di mana ruangan tempat aku dan Cordelia bersembunyi. Namun bukannya masuk ke sana, Damon membawa aku masuk ke ruangan di seberangnya. “Kau sudah siap?” tanya Damon di depan pintu. Aku mengangguk. “Let’s just get this over with,” kata aku pelan. Damon membuka pintunya lebar. “Apa pun yang terjadi, tetap di belakang aku, mengerti?” Aku mengangguk lagi. Damon berputar dan menangkup dua sisi wajahku. “Aku serius, Shay. Jika aku bilang lari, maka kau lari. Jika aku bilang sembunyi, maka kau sembunyi. Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan, jadi dia itu bom yang sedang berdetak. Kau mengerti?” tekannya lagi. “Aku mengerti, Damon.” Dengan itu, laki – laki tersebut membawa aku masuk ke dalam. Hal pertama yang aku lihat adalah Cordelia juga ada di sini, diberikan proteksi penuh oleh Hunter di depannya. Tubuh masif pria itu nyaris menelan Cordelia penuh. Aku masuk dan menelan ludah. Di pojok runagan, terdapat figur yang membuat aku menutup mulut dengan tangan yang bebas. Sosok pria masif itu di penuhi darah yang membuat aku nyaris tidak bisa melihat epidermis. Dua tangannay diikat dengan rantai ke atas, sementara dia bersimpuh hanya mengenakan celana pendek yang usang. Laki – laki itu hanya bisa membuka satu mata, itu pun nyaris tidak terlihat sama sekali. Tapi aku tahu dia masih punya visual. Talon, Owen, dan Hunter berdiri mengitari dia, berjaga – jaga walau pun aku yakin pria itu tidak bisa melakukan apa – apa. “Jadi, apa yang ingin kau katakan?” tanya Damon. Dia menyembunyikan aku di belakangnya, sama seperti Cordelia. Gadis cantik itu tersenyum tipis padaku, tapi dari mimik wajahnya, aku tahu dia sedikit khawatir serta horor menyelimutinya. “Kenapa harus menunggu aku untuk bicara?” “Karena hanya untuk padamu lah aku punya pesan,” pria itu tersenyum miring. Namun senyum itu terlihat gila dengan wajah yang penuh irisan serta babak belur. Dia terbatuk dan meludahkan darah. Aku meremas jemari Damon. “Kenapa tidak dari awal kau katakan?” geram Damon. Dia mematai laki – laki itu seperti dia permen karet nakal yang menempel di bawah sol sepatunya. Damon mengangkat dagunya. “Apa kau menikmati di siksa dan di perlakukan seperti ini?” “Aku hanya sedang menimbang opsi,” katanya. “Apa kalian bisa menghadapi hal ini, atau tidak. Apa aku harus tetap memihak di sana, atau berganti ke sini. Apa aku . . . mengatakan yang sebenarnya, atau menyaksikan semuanya dari belakang.” Damon sudah siap menyerang dengan marah, tapi Talon dan Owen menahan dia, sementara aku menarik dia mundur. “Cepat katakan apa yang ingin kau katakan. Siapa yang mengirim kau?” Laki – laki itu menyeringai tipis. “Ingruth.” Aku terkesiap keras. Begitu juga Cordelia. Damon di depan aku membeku. “Ingruth si iblis mimpi. Kau kenal dia, ‘kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN