PART 50

2317 Kata
50 SATU SERIGALA liar yang berani menyentuh apa yang menjadi milikku. Lantas, memangnya aku bisa apa ketika Damon Hawkwolf sudah mengeluarkan jurusnya dan berkata manis begitu? Aku hanya bisa tersipu dan berdeham canggung. Aku baru saja secara harafiah terbangun dari kegalapan yang lagi – lagi menghampiri hidup aku, tapi bisa – bisanya Damon sudah membuat aku tersipu malu begini. Walau konteksnya seharusnya pria ini terdengar mengerikan, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa seperti gadis yang paling beruntung. In a sense, aku mungkin memang gadis paling beruntung di dunia. Aku bukan gadis yang spesial, tapi mendadak bisa mendapatkan seorang laki – laki semacam Damon Hawkwolf. Tapi fokus aku saat ini hanya ada pada kalimat terakhir yang Damon katakan. Apa yang menjadi milik aku. Serigala liar itu sudah salah pilih orang. Aku yakin jika Cordelia yang saat ini ada di posisi aku, reaksi yang sama juga akan diberikan oleh Hunter Hawkwolf. Aku yakin pria itu akan segera menghabisi siapa saja yang berani menyakiti Cordelia Smith. Aku berdeham sekali lagi dan menutup bibir agar Damon tidak bisa melihat wajahku. “Kau yakin baik – baik saja, Shay?” tanya Damon lembut. Aku mengangguk. “I’m okay,” kata aku lemah. Aku kembali dalam posisi berbaring dan menatap atap ruangan dengan lekat. “Aku sudah baik – baik saja karena tidak ada di dalam kegelapan sekarang.” *** MUNGKIN AKU MEMANG belum terlalu biasa dengan perkara makhluk supernatural dan dunia mereka. Mungkin aku memang tidak akan pernah terbiasa dengan kasus semacam begini. Tapi jujur, apa yang aku bisa lakukan? Sudah jelas mereka ini bukan manusia biasa. Mereka bukan orang – orang normal. Jadi aku tidak bisa heran jika cara mereka menangani sesuatu juga tidak normal. Tidak biasa. Setelah Damon bilang kalau satu dari serigala liar itu mereka tangkap, yang ternyata juga merupakan serigala yang menyerang aku, aku pikir, yah, mereka sendiri yang masuk ke wilayah kita, jadi mereka pasti akan di tangkap, kan? Tapi aku tidak menyangka kalau ditangkap itu punya makna yang berbeda bagi famili Hawkwolf ini. Tidak. Tentu saja mereka menangkap untuk menginterogasi siapa yang memulai p*********n ini, siapa otak dari mereka, siapa yang menyusut ide dan mengatakan kalau menyerang rumah Hawkwolf itu adalah gagasan yang baik. Hanya saja, mereka punya metode yang berbeda. Mereka punya cara yang brutal dan barbarik, dan aku? Aku hanya bisa diam tentu saja. Semua itu bermula dari Cordelia yang datang masuk ke dalam ruangan tempat aku di rawat. Yang by the way, ternyata mereka ini punya semacam bangsal rumah sakit sendiri. Dan dokter sendiri. Yang mungkin adalah posisi Bora di sini. Aku tidak heran. Rumah mereka sudah mirip istana yang punya banyak ruangan dan jalan masuk rahasia. Jika mereka tidak punya ruang rawat sendiri, justru aku akan sangat bingung. Siapa yang mengira akan ada rumah sakit di dalam rumah seseorang? Cordelia masuk dengan senyum yang tertahan dan manuver canggung. Aku memerhatikan dia yang sibuk menyiapkan makanan di atas tray agar aku lebih nyaman memakannya, dan menyodorkan aku tempat makan tersebut. Aku bangun dari posisi tidur. Tempat makan itu dia dorong hingga sampai ke depan d**a. Sebelum aku mengangkat sendok, aku bertanya, “Ada apa, Cordelia yang cantik?’ “Aku cantik?” Cordelia menggerakkan alisnya naik dan turun. “Lantas?” aku menyipitkan mata. “Kalau kau tidak cantik, lalu aku apa?” “Lebih cantik lagi,” Cordelia mencibir. “Jangan bertingkah seperti ingin mendapat pujian. Kau gadis yang cantik, Shay. Semua orang tahu itu. Kau pikir kenapa Damon bisa sangat protektif dan posesif?” “Karena dia mengesalkan dan tidak tahu batas?” “Karena dia takut kau di ambil seseorang,” balas Cordelia. Aku mendengus yang diikuti tawa tipis tanpa rasa humor. “Kalau Damon mau, dia bisa mendapatkan semua gadis yang dia inginkan. Bukan hanya aku. Lagi pula, aku rasa hanya Damon yang mau dengan aku. Itu juga mungkin karena ikatan pasangan jiwa ini.” Cordelia menatap aku horor. “Jangan biarkan Damon mendengar itu. Dia akan sangat marah. Apa kau sudah gila, Shay?” dia mendorong bahu aku pelan. Mungkin masih takut jika aku masih merasakan sakit. Tidak. Aku tidak sakit sama sekali. Mungkin tanaman obat yang di berikan oleh Bora itu berkerja dengan sangat baik. Aku malah merasa seperti orang paling sehat di bumi. Aku tepis tangan Cordelia bercanda. “Aku tidak gila. Hanya mengatakan fakta.” “Wah, kau benar – benar tidak sadar betapa cantiknya kau, ya?” “Dan kau itu punya mulut yang sangat manis, kau tahu itu?” balas aku. “Aku hanya akan mengatakan ini satu kali, okay?” Cordelia menahan dua bahu aku. Dramatis. Cordelia ini benar – benar ratu drama. “Kau gadis yang sangat cantik, Shay. Dan benar, baiklah, memang ada ikatan di antara kalian karena takdir pasangan jiwa itu. Tapi Damon itu benar – benar suka, karena itu kau. He likes you for you. Kalau tidak, dia akan menolakmu.” Kening aku mengerut. “Menolak aku?” “Mereka bisa menolak pasangan jiwa,” jawab Cordelia. “Tapi itu akan menyakitkan bagi mereka sepanjang hidup. Sedangkan jika pasangan mereka manusia, orang itu hanya akan patah hati seperti biasa, namun bisa melanjutkan hidup tanpa merasa ada yang memotong hati mereka setiap sekon.” Aku menelan informasi itu dalam – dalam. Kita bisa menolak pasangan jiwa kita? “But anyway, itu adalah perbuatan yang sangat brutal.” Aku mengangguk pada Cordelia, memutuskan untuk mengesampingkan pikiran itu. “Jadi, apa yang terjadi padamu?” Gadis yang memang sangat cantik itu merotasikan dua matanya. “Tidak ada,” jawab dia. “Makan. Aku akan menunggu di sini. Kau pasti bosan, kan?” “Bosan setengah mati,” balas aku. Lalu aku mulai mengangkat sendok dan memotong daging steak di depanku. “Tapi aku tahu kau bohong. Sudah jelas ada yang mengganggu pikiranmu.” Cordelia membuang napas dramatis. Gadis itu mengangkat dua kakinya dan duduk bersila di depan aku. Tentu saja, tempat tidur ruang rawat rumah Hawkwolf tidak seperti tempat tidur rumah sakit pada umumnya. Kasur ini lebih luas, lebih besar, dan lebih empuk. Aku nyaris tidak ingin pergi dari sini dan meminta pindah kamar ke sini saja. Sejemang, aku sibuk mengunyah sementara Cordelia sibuk berpikir. Aku biarkan dia bersama dengan benaknya yang jelas sedang terjadi dilema berat. Lalu, dia membuka mulutnya. “Aku hanya bingung.” “Bingung kenapa?” “Bagaimana bisa mereka melakukan itu?” “Melakukan apa?” tanya aku penuh sabar. Aku takut jika aku terlalu menekan, Cordelia akan menutup diri lagi dan tidak menjawab pertanyaan aku. “Itu.” “Cordelia, aku bukan peramal, dan aku tidak bisa tahu apa yang ada di dalam pikiranmu itu. Kepala kecil itu tidak bisa bicara dengan sendirinya. Itu apa? Kau mulai membuat aku memikirkan segala macam skenario buruk.” Cordelia melirik aku sekilas. “Er . . . kau tahu kan kalau mereka sedang menahan salah satu serigala liar?” “Iya. Damon sudah bilang padaku,” jawab aku singkat. “Oh,” gadis cantik itu mengangguk. “Well, baiklah.” Aku nyaris melempar dia dengan sendok dan garpu, dan mungkin pisau daging di tangan aku. Aku singkirkan salad kering di depan dan bertumpu satu tangan. “Baiklah apa?” tanya aku masih sabar. Cordelia membasahi bibir. “Mereka punya metode yang berbeda perkara interogasi.” “Interogasi?” “Mereka ingin tahu siapa kepala dari para serigala liar ini,” kata Cordelia. “Siapa yang memberikan ide untuk menyerang atau memang ada yang menyuruh mereka untuk melukai kita.” Aku mengangguk. “Itu masuk akal. Lantas?” “Mereka secara teknis sedang menyiksa di di bawah sana,” kata Cordelia. Mata aku membulat. Dengan cepat aku menyingkirkan tempat makan di depan aku dan mendekat ke arah Cordelia. “Menyiksa? Menyiksa bagaimana?” aku menunjuk ke bawah. “Mereka sedang . . . melukai dia di bawah sana?” “Metode brutal. Tapi efisien.” Aku menelan ludah. “Dan apa yang sebenarnya mereka lakukan?” Cordelia mengangkat satu bahu. “Aku tidak tahu pasti. Tapi jika dari lantai dua, kau bisa mendengar erangan dan teriakan sakitnya.” Aku bergidik ngeri. “Itu . . . disturbing.” “It is,” Cordelia setuju dengan aku. “Tapi aku tidak bisa bilang aku kasihan padanya. Hanya saja, akan lebih baik jika aku tidak perlu mendengar teriakan penuh agoni darinya setiap hari.” “Itu kenapa kau ingin di sini bersama aku?” “Di mana lagi aku bisa bersembunyi dan punya teman?” Cordelia menarik tempat makan itu lagi dan menyuruh aku melanjutkan. “Lagi pula, kenapa juga kau masih di sini? Bukannya seharusnya kau sudah bisa keluar?” “Damon.” “Enough said,” Cordelia memutar dua bola matanya. “Aku pernah nyaris diserang oleh . . . er, makhluk supernatural lain. Dan Hunter tidak mau melepas aku satu sekon saja. Aku harus tidur di sini selama tiga harian.” “Tapi tempat tidur ini sungguh sangat nyaman, kan?” Cordelia mengangguk antuasias. “Sial, aku sendiri harus menelan ego sebab aku pikir di sini sangat enak.” Aku tetawa sembari meneruskan makan. “Diserang siapa?” Gadis cantik di depan aku melirik ke luar jendela. Dia tersenyum pahit. “Oh, maaf. Jika aku menanyakan hal yang sensitif.” “Tidak masalah,” Cordelia mencuri kentang goreng di piring aku. “Vampir.” Aku tersedak salad yang dingin. “V-vampir? Apa?” Cordelia terlihat sedang menahan tawa. Dia mencuri makanan aku lagi sembari mengangguk. “Benar. Vampir. Penghisap darah. Taring.” “Edward Cullen?” “Edward Cullen,” Cordelia mengkonfirmasi. “Tapi tidak mirip, sih. Mereka juga tidak berkilau seperti yang di film.” “Aneh.” “Sangat,” Cordelia setuju lagi. “Kau tidak masalah dengan apa yang mereka lakukan di bawah sana?” tanya gadis cantik itu. Aku berpikir lama. Masalah? Tentu saja aku ada masalah. Mereka sedang menyiksa seseorang. Tapi lagi, siapa yang sedang ditahan di ruang bawah tanah itu bukan orang. Mereka bukan manusia biasa. Dan jujur, apa yang aku harapkan dari para makhluk yang insting utamanya adalah amarah? Jadi aku ikut melirik ke luar jendela sama seperti Cordelia tadi, berharap kalau aku tidak sedang berurusan dengan sesuatu yang mematikan. “Masalah?” aku menoleh pada Cordelia. “Secara tidak langsung, dia yang nyaris membuat aku mati. Dan terluka parah. Untuk apa aku punya masalah?” Cordelia menatap aku seperti seorang ilmuwan yang sedang menatap apa yang sedang dia teliti. Mungkin Cordelia ingin mencari tahu apa aku sedang berbohong atau mengatakan yang sebenarnya. Aku balik menatap gadis itu dengan mimik wajah yang aku harapkan terlihat datar, lalu setelah beberapa saat Cordelia mengangguk puas. Aku memang tidak merasa ada masalah sama sekali. *** Damon datang saat hari sudah menjelang malam. Ketika sinar mentari sudah tidak lagi menerangi dari atas langit. Saat dia, si cahaya besar itu akan terbenam di horizon. Laki – laki tampan itu mengetuk kecil di pintu masuk, dan berjalan dengan percaya diri ke arah aku. Tanpa aba – aba, dia menyondongkan tubuh dan mengecup kening aku penuh afeksi. Dan sialnya, semua sayap kupu – kupu yang ada di abdomen bergejolak sekaligus. Bagus. Baiklah. Oke. Sekarang aku bahkan tidak bisa melihat Damon secara direk di dua netranya yang indah itu. Senyum aku tipis, namun tulus. Ketika aku bergerak akan bangun, Damon mendorong bahu aku lagi agar tertidur. “Tidak perlu,” kata laki – laki itu lembut. “Bagaimana harimu?” “Er . . . aku hanya bisa tidur seharian dan menatap halaman itu lagi dan lagi,” jawab aku sembari menunjuk ke luar jendela. “Bagaimana menurutmu?” “Membosankan?” “Tentu saja,” kata aku cepat. “Dan kau? Hari yang membosankan juga?” “Same old,” jawab dia. “Tidak ada yang istimewa.” “Oh. Karena menyekap dan menyiksa orang itu biasa?” tanya aku berpura – pura polos. Damon menyipitkan matanya. “Cordelia datang ke sini hari ini?” “Dia tidak sanggup lagi jika harus mendengar teriakan penuh agoni barang satu sekon saja,” kata aku. “Apa yang kalian lakukan di bawah sana?” “Stuff,” Damon menghindari tatapan aku yang akhirnya tertuju pada dia. “Hal – hal yang perlu kami lakukan agar mencapai tujuan.” “Apa itu alasannya aku masih di sini?” Damon mendongak dan mengerjapkan matanya. “Maksudmu?” “Aku baik – baik saja. Dari malam pertama aku terbangun. Dan aku rasa kau tahu itu. Tapi kau bersikeras aku masih harus di sini dulu. Apa itu alasannya? Karena kalian sedang melakukan apa pun yang harus di lakukan agar mencapai tujuan?” Damon menunduk lagi. Dia bermain dengan seprai putih di jemarinya. “Aku hanya—“ “Tidak ingin aku merasa takut?” potong aku. “Tidak ingin aku berpikir kalian yang jahat dan aku akan berubah pikiran tentang kalian?” Laki – laki di depan aku menyesap oksigen panjang. “Itu juga. Tapi aku hanya tidak ingin kau mendengar semua itu.” “Aku bukan anak kecil.” “Aku tahu,” balas Damon. “Tapi kau juga belum terbiasa dengan semua ini. Jika kau meminta agar aku membebaskan dia dan menghentikan semua ini, aku mungkin akan melakukannya. Tapi aku tidak bisa. Kita harus tahu siapa ide dari semua ini.” “Dia menyakiti aku, Damon.” Laki – laki itu menggeram, mengingat apa yang terjadi padaku beberapa hari yang lalu. “Aku mungkin akan merasa aneh dan sedikit tidak nyaman, but he got what he deserves.” Damon mengangkat kepalanya dan menatap aku lurus. Ada sorot mata yang melihatkan rasa lega di sana. Aku meraih tangan yang sedang bermain di seprai itu. “Kau melakukan ini untuk aku juga. Dan kita akan terus melakukannya bersama.” Baru saja Damon akan membuka mulut, tiba – tiba saja pintu kamar terbuka lebar dan Talon berdiri membawa berita. “Dia sudah mulai bicara.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN