PART 49

2287 Kata
49 SAMAR, aku merasa seperti sedang terbang di atas langit. Kumpulan kapas kolosal menampung tubuh aku di atas agar aku tidak jatuh. Samar, aku juga merasa seperti sedang mengapung di atas air yang tinggi, seperti sedang terapung di tengah laut yang asin, di bawah langit yang biru, dan hanya bisa terbaring lemah menghadap ke atas. Rasanya seperti sedang ada ombak yang membawa tubuh aku ke mana pun dia mau, sebab aku sendiri sudah tidak bisa menggerakkan semua anggota tubuh dengan baik. Air itu membawa aku ke tempat yang mereka mau, sampai akhirnya aku sadar kalau di sekitar aku sudah tidak ada cahaya. Tidak ada lagi langit yang biru dan cerah. Tidak ada lagi langit yang membuat aku tersenyum tipis, atau kumpulan kapas kolosal yang indah. Tidak ada lagi hal yang bisa membuat dua mata aku bekerja dengan baik. Aku hanya melihat gelap. Gelap, gelap, dan gelap. Air itu membawa aku ke tempat asing, ke tempat di mana aku merasa sendiri, dan merasa seperti dunia sedang menutup aku dari alamnya. Aku ingin bangun, ingin duduk, dan berdiri dan mencari semua orang yang aku kenal. Keluagaku, Nyonya Smith, Cordelia, Damon . . . Damon. Aku ingin Damon. Tapi kenapa rasanya seperti ada yang menahan aku ke bawah? Seperti semua air ini mempunya rantai yang besar dan panjang, dan aku tidak bisa berdiri sama sekali. Kenapa lama – kelamaan, rasanya seperti rantai di air ini mulai menarik aku ke dalam. Terus ke dalam hingga aku bisa merasakan nyaris setengah tubuh aku masuk ke dalam air. Aku berusaha meronta, berusaha agar rantai itu tidak membawa aku ke dalam. Kepala aku mendongak ke atas, mencari langit, mencari kumpulan kapas kolosal, mencari Damon . . . tapi air itu terus menarik aku ke bawah sampai kepala aku masuk dan menutup semua dunia dan keindahannya. Aku menarik napas, membuat banyak air masuk ke tubuh aku. Aku meronta. Aku ingin melawan. Tapi nihil. Tak lama, yang ada hanya kegelapan. Kenapa aku terus berakhir di dalam kegelapan, lagi, lagi, dan lagi? *** TIDAK PERNAH DALAM bertahun – tahun aku hidup di dunia, pernah merasakan sakit yang luar biasa seperti ini. Sungguh. Panggil aku hiperbola, atau sering melebih – lebihkan perkataan, tapi apa yang aku rasakan itu nyata dan asli. The pain was like no other thing I ever felt in my life. Jujur, aku nyaris tidak bisa menafsirkan premis. Apa yang bisa aku lakukan selain tergeletak begitu saja? Selain diam tanpa bisa benar – benar melawan? Aku tidak punya kekuatan super. Aku tidak punya kekutaan yang memungkinkan agar aku bisa menghindar. Aku hanya manusia biasa. Manusia biasa yang punya predestinasi aneh semacam menjadi pasangan jiwa bagi makhluk yang seharusnya hanya menjadi mitos saja. Sosok yang seharusnya hanya sebuah cerita fiksi dan ada di dongeng saja. Manusia serigala. Aneh bukan? Jadi siapa aku untuk bisa melawan sebuah serigala masif, yang nyaris empat kali lebih besar dari pada aku dan giginya yang taring? Entah apa aku tergigit atau tidak. Tapi yang jelas, satu sekon aku berlari di belakang Cordelia, satu sekon lagi aku terhempas. Pegangan tangan kami terlepas. Aku merasakan tubuh aku terlempar sangat kuat. Sesuatu yang besar menabrak aku dari samping. Begitu tubuh aku terhentak ke tanah, rasanya aku tidak bisa bernapas. Semua oksigen tertahan di d**a. Aku merintih. Dadaku seperti diinjak ratusan kaki yang besar. Mata aku buram. Aku menangis. Berteriak. Entah. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja aku merasakan rasa sakit yang mendalam. Di seluruh tubuh. Dari atas hingga ujung kaki aku. Semua inci daksa seperti dililit oleh api yang membara. Seperti aku sedang masuk ke dalam kolam api. Sungguh. Bahkan di hari pertama ketika aku sedang datang bulan saja sakitnya tidak seperti ini. Dan aku berani membandingkan kalau rasa nyeri aku ketika saat datang bulan itu jauh lebih sakit dari pada rasa nyeri pada umumnya. Ini bahkan lebih menyakitkan dari saat aku jatuh di gedung apartemen jaman dulu kami. Saat itu aku bermain di balkoni pendek yang kami punya. Pegangan balkoni bahkan tidak sampai ke pinggang orang tua. Aku jatuh dari lantai dua dan patang tulang di satu tangan dan satu kaki. Ini lebih sakit dari itu. Lebih sakit dari melihat idola aku punya kekasih. Baiklah. Mungkin yang satu itu tidak pantas untuk dibandingkan, tapi jujur, apa yang sedang terjadi dengan tubuh aku? Mungkin aku berteriak. Atau ada orang lain yang berteriak. Samar, aku masih bisa mendengar gerama. Lolongan keras yang terdengar seperti hewan sedang kesakitan. Dan lebih banyak perkelahian lagi. Lalu akhirnya aku bisa melihat visual wajah Cordelia. Gadis cantik itu terlihat sangat cemas. Wajahnya memutih. Pucat pasi. Aku bisa merakan jari – jarinya memegang wajahku lembut, seperti takut aku akan pecah laiknya guci yang mahal. Dia memegang aku dengan begitu hati – hati. Apa yang terjadi dengan tubuhku? Aku ingin Damon. Damon. Damon. Damon. Ke mana dia? Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik – baik saja? Aku ingin— “Shay,” ujar vokal familiar. Suara yang sudah tertanam secara permanen di dalam benak. Mutlak. Sebuah suara yang kapabel menggapai aku bahkan di dalam lubang hitam paling jauh di bumi. “Shay, Shay, oh my God, Shay—“ “Kita harus membawanya ke bangsal.” Hunter. Mungkin itu Hunter, tapi aku tidak tahu pasti. Cordelia masih memegang wajah aku. Apa dia menangis? Kenapa semua orang terlihat sangat panik? Kenapa . . . kenapa kepala aku rasanya sangat ringan? Kenapa sepertinya cahaya meredup di ruangan ini? Ah, benar. Ruang bawah tanah. Kita memang ada di ruang bawah tanah. Rasa sakit menyerang bagian abdomen aku, membuat aku memekik kencang. Dua tangan menahan d**a aku agar tetap berbaring, Cordelia menangis dan menangkup wajahku. “Sekarang, Damon. Kita harus membawanya ke Bora!” Hunter berkata keras. Kenapa dia harus berteriak? Aku yang sedang kesakitan! Aku yang sedang— Aku memekik keras lagi. Apa ada api di tubuhku? Kenapa perut dan abdomen aku rasanya seperti terbakar oleh api yang paling panas? “Shay, aku minta maaf. I’m so so so sorry,” Damon melirih. Aku ingin menjawab dia. Aku ingin bilang kalau ini bukan salah dia. Tapi mulut aku tidak bisa membentuk kata – kata kecuali memekik dan merintih kesakitan. “I will fix this, Shay. Aku akan menghentikan rasa sakitmu.” Lalu tubuh aku terangkat. Aku dibawa oleh Damon. Aku bisa mersakan hangat tubuhnya. Temperatur daksanya yang tinggi. Hangat. Sangat hangat. Mungkin jika aku tidak sedang kesakitan, aku akan mempermasalahkan fakta kalau Damon tidak sedang mengenakan kaus sama sekali di tubuhnya. Tapi seperti yang aku bilang, aku nyaris tidak bisa melakukan apa pun. Aku merasakan dia membawa aku keluar dari ruang bawah tanah itu. Tidak tahu ke mana, tapi kami bergerak sangat cepat. Dari isakan dan banyak langkah kaki yang mengikuti kami, aku tahu kalau Hunter dan Cordelia masih ada di dekat kami. Kemudian Hunter membuka pintu yang besar. Damon membawa aku masuk dan meletakkan tubuh aku di atas tempat tidur yang dilapisi seprai putih. Aku melihat sekeliling. Segalanya putih, nyaris seperti di rumah sakit. Tapi aku tahu kami masih di rumah besar famili Hawkwolf. Aku menelan ludah, berkali – kali merintih kesakitan. “Damon—“ “Sssh . . . I know, baby. I know. We will make it stop,” Damon mengelus surai aku halus. Dia menyibak semua surai yang menghalangi wajah aku. “Aku akan membuatmu tidak kesakitan lagi.” “What’s happening to me?” aku meringis. Tangisan aku semakin menjadi. “Apa yang terjadi denganku, Damon? Aku . . . sakit. Rasanya semua seperti terbakar oleh api. Make it stop, please.” Damon ikut merintih bersamaku. Dan entah bagaimana caranya, di sela semua rasa yang sensitif, aku bisa menyadari kalau Damon menangis. Satu likuid netra jatuh di pipinya. Dia memegang tangan aku erat. “I know. I will, baby . . . I will.” Cordelia mengelus bahu aku, sama – sama ikut menangis. “Di mana dia?” bentak Damon pada siapa pun yang bisa mendengar. “Oh, sial.” Aku menoleh ke samping dan melihat Talon membeku di ambang pintu. Sama seperti Damon, dia juga tidak mengenakan atasan. Dadanya dipenuhi peluh, dan . . . darah. Aku memekik lagi saat rasa sakit di abdomen menjadi. Kemudian aku melihat seorang gadis menerobos masuk dari balik Talon. Dia mengenakan jaket kulit dan tergesa. Napasnya terengah begitu dia sampai di tempat aku terbaring. Lalu tanpa rasa takut sama sekali, dia menarik Damon dari lehernya dan menggantikan tempatnya. Damon menggeram, gigi taringnya keluar dari labium, tapi Hunter segera menahannnya. “Let her do her job,” geram Hunter. “Kau ingin Saoirse selamat atau tidak?” Laki – laki itu secara otomatis diam. Aku merintih, terisak sejadi – jadinya. Tangan aku di angkat oleh gadis yang tidak aku kenal itu. Lalu dia mengumpat rendah. Aku lihat dia membuka tas yang dia bawa, dan mengeluarkan sebuah suntikan. Gadis itu menoleh pada Damon. “Vervain. Aku akan memberikan dia ini.” Damon menelan ludah dan menatap aku pilu. “Do it. Berikan dia benda itu.” Dan terakhir kali yang aku ingat adalah teriakan aku sendiri yang penuh agoni. *** Saat aku mulai bisa menggapai cahaya di atas permukaan yang gelap, aku membuka mata dengan pelan. Korteks visual aku rasanya seperti di tusuk oleh ribuan jarum. Tatkala iris netra mendapati kirana yang menyala, aku segera mengejapkan mata kembali, bersembunyi dari bias yang membutakan. Secara perlahan aku mencoba untuk menggerakkan tangan. Mulai dari jari – jari kaki, dan jari – jari tangan. Lalu akhirnya aku mengangkat lengan. Tapi ketika aku mencoba mengangkat lengan kanan aku, manuver itu terhenti. Sejemang aku diselimuti rasa panik. Apa aku tidak bisa menggerakkan tangan lagi? Tidak. Tidak. Tidak. Apa tangan aku— Lalu saat aku menoleh ke bawah, aku mendapati surai hitam lebat yang terberai di atas abdomen. Surai itu terlihat sangat lembut dan membuat aku ingin memainkan jemari di sana. Tak butuh waktu lama bagi aku untuk tahu kalau itu adalah Damon. Aku mengusap surainya pelan dengan tangan yang bebas. “Damon . . .” lirih aku kecil. Saat dia tidak bereaksi, aku mencoba lagi. “Damon.” Kali ini lebih tegas. Damon tersentak. Dia bangun dengan sangat cepat hingga aku nyaris ikut terkejut. Matanya mencari – cari aku, dan setelah beberapa sekon baru tersadar kalau aku sudah bangun. Laki – laki itu membuang napas lega dan menangkup wajah aku hati – hati. “Shay. Kau sudah bangun.” Damon mengelus pipi aku dengan ibu jarinya. Aku tersenyum tipis. “Apa yang terjadi?” Laki – laki itu mengatupkan rahang. “Aku lengah. Saat aku melawan serigala yang menyerangmu, aku pikir dia sudah kalah dan selesai. Tapi saat aku berbalik arah dan siap untuk menolong Hunter, dia melesat dari atensi aku dan menyerangmu.” “Oh,” aku menelan ludah. Gila rasanya jika dipikirkan lagi. Aku di serang oleh serigala. Bukan hanya serigala saja, tapi manusia serigala yang empat kali lebih besar dari aku. Sama sekali bukan pengalaman yang aku inginkan dari New Cresthill dan program pertukaran pelajar. “Lantas, apa yang terjadi lagi setelah aku . . .?” “Kau ingat gadis yang datang saat kau kesakitan?” tanya Damon. Aku mengangguk. “Dia Bora. Dia itu semacam . . . medis? Bora itu penyembuh kita. Benda yang dia berikan padamu itu Vervain. Medikamen tersebut bisa menyembuhkan luka apa pun. Dan sebuah antidot untuk racun werewolf.” Gila. Apa kau sudah bilang semua ini terdengar gila? “Di mana Bora?” tanya aku lagi. “Aku harus berteirma kasih padanya.” Damon tersenyum sekilas. “Kau bisa melakukan itu nanti. Dia sedang mengobati yang lain.” “Oh, no . . . Apa yang lain baik – baik saja?” tanya aku panik. “Mereka baik – baik saja,” Damon menahan aku agar tidak bangun. Dengan tatapan tegas dia menyuruh aku agar menurut. Jadi aku kembali berbaring dengan tenang. “Bagaimana denganmu? Apa kau baik – baik saja? Apa kau sakit? Sakit di mana? Katakan padaku apa yang kau rasakan—“ Aku menutup labium laki – laki itu dengan jari telunjuk. “Satu – satunya yang sakit hanya telinga aku karena kau tidak bisa diam,” candaku. “Aku baik – baik saja, Damon. Setidaknya, Vervain atau apalah itu sepertinya bekerja dengan baik. Obat macam apa itu?” “Itu dari tumbuhan,” jawab Damon. Dia membasahi bibirnya. “Dia antidot sebab Vervain itu racun untuk werewolf dan sebangsanya.” Mata aku membulat. “Maksudmu, Bora membawa sesuatu yang bisa membahayakan kalian?” Damon tertawa tanpa humor dan mengelus surai aku penuh afeksi. “Bora sendiri meminum Vervain setiap hari, Shay.” “Kenapa?” “Hanya sebuah pencegahan. Baginya, tidak ada salahnya menghadapi segala kemungkinan, kan?” Damon menggeleng. “Bora itu gadis paling punya pesiapan di dunia.” “Kalau Vervain berbahaya bagi kalian, kenapa Bora bisa punya?” “Oh. Kita menyuruh Bora menanamnya dengan baik.” “Apa?” tanya aku heran. “Tapi . . .” “Tanaman itu bukan hanya kelemahan bagi kita, Shay. Tapi bagi yang lain. Dan sudah jelas, bagi sebangsa kita yang bukan teman..” Dalam artian, mereka bisa menggunakan benda itu sebagai senjata sendiri. Dan dalam situasi seperti ini. Itu taktik yang bagus. “Bagaimana dengan, er . . .Rogues? Dengan kawanan yang menyerang tadi?” “Begitu mereka sadar kalau ini bukan pertarungan yang bisa mereka menangkan, mereka kabur lagi menjauh di dalam hutan, dan menyebrang ke perbatasan kota sebelah. Karena kita tidak punya wewenang, kebanyakan dari kita berhenti saat mengejar.” Damon menjelaskan. Lalu laki – laki itu menatap aku larus. “Semua kecuali satu.” Aku balik menatapnya, menanyakan dalam sorot mata apa yang aku tangkap dari diktumnya. “Satu serigala liar yang berani menyentuh apa yang jadi milikku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN