48
“APA YANG harus kita lakukan sekarang?” tanya aku saat rasanya semua jalan sudah tekunci. Dua serigala masif itu terlihat berbeda dari serigala Hawkwolf yang sering aku lihat, atau sekumpulan mereka yang sering datang latihan di halaman belakang.
Dua serigala yang besar dan mengerikan ini terlihat seperti predator yang siap memakan mangsanya. Mereka seperti serigala liar yang tidak pernah berubah menjadi bentu manusianya. Atau jangan – jangan mereka ini memang serigala asli? Tidak. Aku pernah dengar dari Talon kalau serigala asli yang tidak seperti mereka akan tunduk dan lari saat melihat serigala yang merupakan manusia serigala.
Ini pasti bukan serigala hutan biasa, kalau tidak, tidak mungkin dia ada di sini, mengancam aku dan Cordelia, dan berhasil kabur dari pengawasan Damon di atas.
Damon.
Apa dia baik – baik saja? Apa dia terluka, atau masih berkelahi dengan sengit di atas sana? Kenapa dari semua waktu yang ktia punya, mereka tidak pernah menjelaskan padaku satu saja tentang dunia mereka ini? Apa pun itu. Aku akan sangat merasa bersyukur saat ini jika aku tahu bahkan satu hal saja tentang apa yang sedang terjadi.
Serigala liar yang terlihat menyeramkan itu menyeringai aku lebar. Saliva berjatuhan dari gigi taringnya, membasahi bulu di sekitar mulut yang terbuka lebar. Aku juga melihat serigala satu lagi melakukan hal yang sama, melihat aku dan mungkin Cordelia juga seperti makan siang yang nikmat. Aku mencengkeram lengan Cordelia seperti lengan gadis itu adalah life line satu – satunya yang aku punya.
Apa Damon tahu aku sedang dalam posisi seperti ini sekarang? Apa Damon tahu aku butuh bantuannya saat ini? Apa Damon tahu aku sedang dalam bahaya sekarang? Di mana dia saatsedang aku butuhkan? Oh no . . . apa sesuatu terjadi pada laki – laki itu hingag dia tidak bisa datang ke sini tepat waktu? Apa dia sedang terluka sehingga tidak bisa menyelamatkan aku saat ini?
***
TIDAK JARANG AKU terlalu terpaku untuk bergerak sebab situasi yang membuat aku terkejut tidak karuan. Jujur, reaksi utama aku jika sedang terkejut adalah tidak bisa bergerak sama sekali sampai akhirnya aku tersadar sendiri.
Sebuah kebiasaan buruk karena aku mungkin akan menjadi korban pertama dalam film – film horor yang mengerikan. Semua orang punya insting untuk berteriak dan melarikan diri. Aku? Bisa teriak saja sudah bagus.
Cordelia di sebelah aku ikut membeku. Tapi gadis cantik itu tiba – tiba sudah berubah posisi. Dia berdiri di depan aku dengan posisi yang berjaga. Dua kaki terbuka, satu tangan melingkar ke belakang menjaga aku. Wajah nya penuh determinasi.
Jika aku tidak ingat situasi saat ini, mungkin aku akan memeluk Cordelia erat.
Secara resmi dia adalah idola aku di dunia. Dia adalah gadis paling keren yang pernah aku temui.
“You’re like my idol right now,” bisik aku sembari menahan diri agar tidak menangis.
“Sshh . . . diam. Kekuatan pendengaran yang tinggi, ingat?”
“Aku bahkan tidak bisa ingat apa yang aku makan tadi pagi,” jawab aku pelan. “Apa mereka akan melukai kita?”
Cordelia mematai dua serigala itu. “Aku tidak tahu.”
“Ini menyedihkan.”
“Aku yakin bantuan akan datang. Aku yakin Damon, atau Hunter, atau yang lain akan datang menyelematkan kita dari dua . . . serigala ini.”
Serigala liar yang di ceritakan oleh Cordelia tadi menggeram. Suaranya menggema ke seluruh ruangan, membuat serpihan – serpihan dari atas kami berjatuhan lagi. Bentuk ruang bawah tanah yang lebih pantas di bilang gua tersembunyi itu terlihat seperti sangat rapuh.
“Sepertinya kau membuat dia tersinggung,” kata aku dengan nada rendah.
Cordelia bersungut. Gadis cantik itu mundur membuat aku menabrak dinding dan menghimpit aku dengan tubuhnya. “Er . . . apa yang kau ingin aku lakukan? Minta maaf?”
“Bisa dicoba?” kata aku pasrah. “Atau kita bisa memohon pada mereka?”
“Mereka tidak peduli pada apa pun kecuali pada diri sendiri, Shay.”
“Lantas apa yang mereka pedulikan dari dua gadis menyedihkan yang jauh dari level mereka? Apa yang mereka pedulikan dari dua gadis tidak bersenjata? Apa salah kita?”
“Tidak ada. Kita tidak punya salah kecuali menjadi pasangan jiwa serigala yang punya kawanan. Hawkwolf mungkin famili lama di kota ini. Keluarga yang di hormati oleh banyak penduduk New Cresthill.”
“Lantas?’
“Itu berarti mereka juga punya banyak musuh.” Cordelia meremas tanganku. “Dan kita termasuk dari musuh mereka.”
Aku menelan ludah. Dua serigala masif tersebut masing – masing berwarna hitam. Tapi jauh dari warna hitam serigala Damon, Knight itu punya warna yang indah dan magnifisen. Hitamnya pekat dan mempunyai karisma tersendiri. Aku saja nyaris terhipnostis pertama kali aku melihatnya.
Tapi kali ini, dua serigala itu punya hitam yang mengerikan. Tidak ada yang indah dari hitam mereka. Bulu mereka terlihat kasar, kotor, dan tidak terawat. Mereka terlihat seperti anjing liar yang tidak punya pemilik di jalanan. Hitam mereka seperti kelam dan mematikan.
Salah satu dari mereka maju, secara resmi masuk ke dalam ruangan tempat kami terpojok. Dia menyeringai kami, giginya terlihat sangat tajam dan kapabel menembus apa saja. Saliva bercucuran dari dalam mulut besar itu. Sedangkan yang satunya lagi masih berdiri dengan empat kaki di ambang pintu.
“Ini tidak baik, ‘kan?” bisik aku pelan.
Cordelia melirih sedih. “Sangat tidak baik.”
“Apa ada kemungkinan kita bisa kabur dari sini?” aku mematai jalan keluar yang sedang tertutup oleh dua serigala besar dan menakutkan.
“Er . . . entah lah. Jika kau punya ide, kau bisa mengatakannya pada aku.”
“Kau yang ahli di sini!”
“Ahli apanya?” bisik Cordelia keras. “Aku sama saja denganmu saat ini.”
“Sama apanya?” balasku mengikuti nada bicaranya.
“Santapan lezat.” Jika aku bisa, aku akan memukul kepala Cordelia dari belakang. Masalahnya, aku terlalu takut untuk bergerak, dan dia sedang memegang tangan aku erat.
Serigala hitam yang sudah maju menelengkan kepalanya, seperti sedang mengobservasi aku dan Cordelia. Di momen itu, Cordelia menahan napas sembari mencengkeram lengan aku dari depan. Dia ikut mematai serigala itu, mungkin ingin mencoba untuk menafsirkan manuver serigala liar itu.
Lalu saat serigala yang satunya lagi ikut masuk, rasanya atmosfer menjadi berubah. Bulu – bulu di tubuh aku berdiri. Cordelia menegang. Pegangan tangan dia di lengan aku mengeras. Aku mengerjapkan mata, berpikir kalau mungkin ini adalah akhir dari segalanya.
Sangat tidak keren untuk di habiskan oleh dua serigala liar, ‘kan?
“Apa yang sedang terjadi?” tanya aku dengan hati yang mencelus.
“Bantuan datang,” Cordelia berbisik. “Aku rasa bantuan datang.”
“Aku tidak melihat apa – apa.”
Tapi sumber dari atmosfer yang tiba – tiba berubah itu muncul. Aku menahan agar tidak terkesiap dan menarik napas keras. Di belakang mereka, dua serigala familiar berdiri tegak bak malaikat pencabut nyawa. Siap untuk melawan siapa saja.
Dari tatapan mata mereka, aku tahu kalau tidak ada kata ampun di dalam hati mereka masing – masing.
Aku nyaris menangis di detik itu juga.
“Oh. They really came.”
Cordelia mengangguk. “They came.”
Knight dan serigala yang aku duga adalah Hunter berdiri dengan empat kaki laiknya pahlawan megnanggumkan. Knight menggeram, diikuti Hunter yang maju penuh konfidens.
Di depan aku, Cordelia sudah melepaskan napas lega. Pegangan di tangan aku masih keras, tapi dia tidak lagi meremas aku.
Gadis cantik itu menoleh satu senti saja. “Jika aku bilang lari, kita akan keluar dari sini, mengerti?”
Aku mengangguk, tapi berhubung dia tidak benar – benar sedang melihat aku, jadi aku berkata, “Okay.”
Suara aku lemah, lirih, dan menyedihkan. Jauh berbeda dari Cordelia yang penuh determinasi dan tegas.
Aku payah. Titik.
Dua serigala liar itu berdiri tegak. Secara perlahan mereka menoleh ke belakang, memutar dan mematai Knight serta serigala Hunter.
Lalu semuanya terjadi begitu cepat. Tahu – tahu saja mereka sudah saling menyerang satu sama lain. Knight bersama serigala yang tadi maju lebih dulu, dan serigala Hunter yang sering Cordelia panggil Fluffy menyerang serigala satunya lagi.
Cordelia menarik pergelangan tangan aku. Gadis itu menunggu pembukaan. Seperti mengerti, Hunter menyerang dengan presisi handal. Saat melihat sebuah kesempatan, dia melompat ke atas, menggigit leher atas lawannya, lalu menarik serigala itu hingga keluar dari ruangan.
Knight yang sedang menghimpit sang lawan di bawah, menginjak leher lawannya dan menarik serigala itu keluar. Aku menelan ludah.
Cordelia menoleh padaku dan mengangguk. “Ini saatnya.”
Aku menarik tangannya. “Mungkin lebih baik kau dan aku menungug di sini saja, ‘kan?”
“Kau sudah gila?” Cordelia menarik pergelangan tangan aku lagi. “Kita di sini sama saja seperti santapan yang menunggu di lahap. Tempat ini terlalu sempit dan terlalu terpojok. Kita harus keluar dari sini atau kau bisa terluka.”
“Bagaimana denganmu? Kau juga bisa terluka!”
“Aku keturunan werewolf, ingat? Aku punya sebagian apa yang mereka punya, termasuk menyembuhkan diri dengan cepat. Tapi kau? Manusia tidak bisa terkena gigitan werewolf. Kau tahu itu.”
Iya, tentus aja aku tahu itu. Semua orang tahu cerita manusia yang tidak boleh tergigit werewolf, atau mereka akan berubah juga menjadi manusia serigala. Pikiran aku langsung terbawa secara otomatis pada adegan di Teen Wolf, serial barat yang sangat aku sukai.
Scott McCall di gigit oleh werewolf di dalam hutan, membuatnya berubah menjadi makhluk yang sama.
Aku mengangguk pada Cordelia. Gadis cantik itu meremas tangan aku dan menarik aku keluar dengan cepat. Para serigala masif itu sedang berkelahi di tempat aku dan Cordelia pertama duduk, saling mengitari dan menyerang.
Cordelia menarik aku dan kami berlari melewati tempat itu. Namun secara cepat aku mendengar lolongan yang nyaring. Aku menoleh ke belakang. Serigala hitam mengerikan yang tadi mendekat ke arah kami sedang berlari ke arahku.
Mataku membulat lebar. Aku mencoba untuk berteriak atau memanggil Cordelia tapi gagal.
Tiba – tiba saja aku merasakan tubuh aku tersentak ke belakang. Kepala aku terbentur batu. Dari korteks visual yang buram , aku bisa melihat serigala yang menyeringai lebar. Mulutnya terbuka ganas. Saliva dari gigi yang taring berjatuhan ke bawah.
Aku terkulai lemas. Suara geraman keras menggelegar.
Serigala itu mengangkat kepalanya dan bersiap menerkam aku.
Aku kehilangan kesadaran.