47
AKU MENDORONG PINTU GESER itu sekuat tenaga tapi tidak ada satu pun yang terjadi. Damon berdiri membelakangi aku dengan bahu yang tegak dan figur yang super was – was. Secara subtil, aku bisa merasakan aura di sekitar kami berubah. Segalanya menjadi panas, dan aku tidak bisa memungkiri kalau momen ini terasa sangat creepy.
Belakang tubuh Damon terlihat sangat tegang seperti dia akan perang sebentara lagi. Dengan kuat aku terus mencoba menggeser pintu itu, tapi nihil. Pada dasarnya, dia sudah mengunci pintu ini, dan aku tidak bisa memecahkan kaca tebal yang ada di pintu geser. Damon memastikan aku tidak bisa keluar, dan meninggalkan dirinya sendiri di luar sana. Aku menggedor pintu keras, hingga bunyi kepalan tangan aku memukul kaca tebal menggema di seluruh ruangan. Aku berdecak saat Damon tidak kunjung memberikan aku atensi.
“Apa yang sedang terjadi? Damon! Damon jawab aku! Ada apa? Siapa yang akan datang, Damon? Just answer me first!” Aku mulai merasakan tangan aku perih dan nyeri memukul kaca tebal dan sesekali terkena kayu pintu geser yang kuat. Tangan aku itu terlihat sangat kontras dengan pintu geser yang aku rasa lebih akurat jika dibilang terbuat dari besi. Damon tidak menoleh ke belakang, tapi aku bisa mendengar apa yang dia katakan selanjutnya.
“Lakukan apa yang aku minta, Shay!” Damon berteriak keras. Suaranya menggema. Dia mengepalkan dua tangan di sisi tubuh. Pria itu meringkuk sedikit, postur yang sering dia lakukan jika akan berubah menjadi Knight. “Masuk ke dalam sekarang dan lakukan apa yang aku minta!”
Aku akan protes keras, namun dua bola mata aku membulat lebar saat tak lama, dari kejauhan di dalam hutan, aku melihat serigala masif dengan gigi taring dan wajah seperti predator.
Tidak hanya satu.
Tapi banyak.
***
KALAU AKU BISA menjabarkan isi hati aku saat ini, mungkin aku akan mengeluarkan segala macam rasa gundah dan ketakutan yang mengunci sel – sel tubuh. Tapi sungguh, aku sendiri tidak kapabelm menerka apa yang sedang terjadi dan kenapa penopang tubuh aku berlari sekuat tenaga.
Sesungguhnya, jika berada dalam masalah genting begini, biasanya aku akan malfungsi. Semua saraf motorik di tubuh berhenti bekerja dan aku tidak akan bisa bergerak.
Tapi ada sesuatu dari sorot mata Damon yang memberi tahu aku kalau ini bukan sesuatu yang biasa. Dari vokal dia yang penuh urgensi, aku tahu kalau Damon tidak sedang bercanda dan aku benar – benar harus bergerak.
Seperti disuntik adrenalin yang kencang, berdosis tinggi dan mematikan, aku belari sekuat tenaga ke atas, menelesuri tangga berputar yang tinggi lalu langsung menuju kamar tidur Cordelia.
Lari lebih dulu. Ask questions later.
Aku membuka pintu kamar tidur itu dengan tergesa membuat gadis cantik yang sedang duduk di atas tilam terkejut bukan main. Buku yang sedang dia pegang terlempar sementara dia sudah siap untuk menerkan dan melawan siapa pun itu yang masuk ke dalam kamar tidurnya secara kasar.
Tangan aku otomatis terangkat ke atas dua – duanya dalam posisi menyerah. “Cordelia, ini aku.”
Gadis cantik itu membuang napas panjang dengan lega. Dia menepuk – nepuk dadanya untuk mencoba menenangkan diri dari rasa kaget yang aku sebabkan. Aku segera menyerbu ke arahnya.
Tanpa basa – basi aku menarik dia hingga berdiri dari atas tempat tidur.
Cordelia terkesiap. “Hey, hey, ada apa ini? Kenapa kau menarik aku begini?”
“Kita harus pergi dari sini,” kata aku cepat. Aku tergesa – gesa menarik dia yang masih bingung. “Er . . . jujur aku juga tidak tahu ada apa. Tapi Damon menyuruh aku mengajak kau ke ruang bawah tanah. Aku bahkan tidak tahu ada ruang bawah tanah di rumah ini.”
“Kenapa? Ada apa?” Cordelia mulai mengikuti manuver aku. Dia memakai sendal rumah dengan terburu – buru. Gadis yang aku lihat semakin mirip dengan Nyonya Smith setiap harinya itu mencengkeram lengan aku keras. “Katakan padaku ada apa.”
“Damon bilang kau akan mengerti.” Aku menarik napas dalam. Kami berdua berdiri di ambang pintu. “Damon bilang panggil Cordelia dan pergi ke ruang bawah tanah. Sekarang.”
“Apa yang terjadi?”
“Dia bilang katakan pada kau kalau the Rogues are here.”
Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi yang jelas, wajah Cordelia tiba – tiba menjadi pucat pasti. Sangat putih dan penuh teror. Dua matanya yang besar semakin membulat. Pegangan tangannya di lengan aku menguat keras.
Aku meringis, tapi aku biarkan dia menyerap informasi itu. Dan sungguh, aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa menjadi semakin panik.
Rasa gudah dan ketakutan itu menjadi tatkala Cordelia mengangguk dan menutup pintu kamar. Dia meremas lengan aku keras.
“Ikuti aku dan jangan membuat suara,” bisik Cordelia. “Sekarang kita pergi ke ruang bawah tanah. Tempatnya ada di dapur belakang di dekat pintu keluar. Saat kita sudah masuk, aku mau kau jangan panik karena awalnya akan sangat gelap dan mengerikan. Paham?”
Aku hanya bisa mengangguk.
Jadi aku dan Cordelia berlari dengan hati – hati, tidak ingin membuat suara yang keras atau memberikan tanda kita ada di dalam rumah ini. Walau aku masih tidak paham apa yang terjadi, tapi aku tetap mengikuti gadis itu tanpa bertanya apa – apa.
Kami melewati dapur belakang, mendapati pintu yang dia bicarakan tertutup rapat. Cordelia berkutat di dalam duvet yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, lalu gadis itu mengeluarkan sebuah kunci besar berwarna silver. Aku menyipitkan mata padanya.
“Apa itu?” tanya aku pelan.
Cordelia menggeleng. “Akan aku jelaskan nanti,” jawab gadis itu. Dia meneruskan aksinya dengan membuka pintu dan menarik aku ke dalam.
Aku mendengar dia mengunci pintu itu lagi. Lalu aku mulai tersadar dengan kondisi sekeliling.
Benar saja. Segalanya gelap gulita. Aku tidak bisa melihat jarak bahkan lima meter di depan aku. Dengan panik, aku mencari – cari di mana Cordelia. Tangan aku menggapai – gapai ke depan secara frustasi.
Baru ketika aku mulai panik, aku merasakan tangan Cordelia menyatu dengan jemari aku. “Maaf, aku kesulitan mengunci pintunya. Lewat sini,” dia menuntun aku ke satu arah. Sungguh, jika Cordelia mengantar aku ke ujung jurang pun, aku tidak akan tahu.
Gadis itu menarik aku ke arah tersebut cukup lama. Kami beberapa kali menuruni tangga, hingga akhirnya aku mendengar Cordelia mencoba meraih sesuatu. Dia menggeram kesal, lalu aku mendengarnya menarik sebuah benda.
“Sebentar,” kata gadis itu. Dia melepas tangan aku, berkutat dengan benda tersebut, dan tidak lama, api menyala di tangannya. Korek api. Aku mulai membuang napas lega. Cordelia berjalan beberapa langkah, meraih sesuatu di dinding, dan menyalakan api di ujung obor.
Gadis itu menatap aku lekat. “Baiklah, kita sudah sampai.”
Kemudian dia sibuk menyalakan semua obor di sisi – sisi ruang bawah tanah ini. Ketika sudah ada cukup cahaya, aku baru sadar kalau kita berada di sebuah ruangan yang terbentuk seperti semacam gua.
Cordelia ikut membuang napas lega. Bahunya menjadi rileks. Dia menjatuhkan diri di salah satu batu yang besar dan bersandar.
“We are going to be a while in here,” katanya padaku yang masih terkejut.
“Ada apa sebenarnya, Cordelia?” tanya aku akhirnya. Aku duduk tidak jauh darinya, di salah batu yang terbentuk seperti kursi tanpa sandaran.
Cordelia melirik aku lekat. “Rogues. Para serigala liar.”
***
Para serigala liar. Ada berapa banyak hal yang belum aku tahu dan aku paham di dunia supernatural ini? Jujur, aku mulai merasa muak dan tidak habis pikir. Seberapa dalam dan seberapa luas dunia ini?
Apa jangan – jangan aku ini masuk ke semacam dunia paralel? Apa aku sudah terjun secara direk ke semesta lain?
Am I on another universe? Multi – universe is real?
Karena, bagaimana bisa mereka semua menyembunyikan ini dari mata – mata awam orang normal? Di mana mereka menyembunyikan diri dan histori yang turun – temurun?
Segala macam hal yang seharusnya dunia luar ketahui tersembunyi dengan begitu mahir. Penuh presisi. Aku tidak akan pernah membayangkan dalam milyaran tahun kalau manusia serigala itu nyata.
Kalau ada yang namanya iblis jahat berkeliaran di dunia—yah, walau aku juga tahu kalau segala macam setan dan hantu itu nyata. Aku percaya itu.
Ada juga sihir. Magis. Penyihir? Witches and wizards. Aneh.
I can’t wrap my head around it. Dan jika satu sekon lagi Cordelia berbicara, aku akan meledak. Melihat ekspresi aku yang sepertinya tidak terlihat ramah, gadis cantik itu menutup mulutnya. Dia menatap aku canggung.
“Apa Damon belum cerita tentang itu?” tanya Cordelia.
“Perkara kalau ada yang namanya serigala liar segala? Tidak. Oh, tidak. Kau lupa kita sedang sibuk menata perasaan masing – masing?”
Cordelia mengernyitkan keningnya. “Masing – masing? Er . . . Shay. Maksud kamu hanya perasaan kamu saja, ‘kan? Tidak ada yang perlu di tata dari perasaan Damon. Dia hanya tahu satu. Kau. Kau. Kau.”
“Aku seharusnya merasa terharu dengan itu, ‘kan?”
“Lantas?” Cordelia berdiri dan pindah duduk di samping aku. Gadis cantik itu membawa satu obor yang menyala terang dan menaruhnya di dinding belakang kami. Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas.
Dia sudah tidak sepucat tadi, namun masih ada sisa tanda panik di wajahnya.
Aku mengedikkan bahu. “Yang ada aku semakin bingung.”
“Kenapa mesti bingung, Shay? Dengarkan saja kata – kata hatimu,” kata Cordelia santai.
Aku mendelik ke arahnya, sudah siap untuk protes kalau segalanya tidak semudah itu sebelum kami mendengar geraman yang melolong tinggi. Kami berdua saling berpegangan erat. Geraman itu membuat langit – langit di atas kami bergetar, dan beberapa serpihan berjatuhan dari atas kami.
Tangan aku meremas jemari Cordelia. “Lupakan perkara perasaan aku dan hati yang dilema ini. Jelaskan lagi padaku apa serigala liar ini.”
“Secara teknis, mereka itu serigala yang tidak punya kawanan. They are pack less and have no family. Tidak banyak yang aku tahu. Tapi yang jelas, nyaris dari mereka semua itu brutal dan barbarik. Mereka tidak suka dengan kawanan yang punya keluarga. Seperti namanya, mereka itu liar. Yang mereka lakukan hanya membuat onar dan mengganggu kawanan di dekat mereka.”
“Apa mereka semua seperti itu?”
Cordelia menggeleng. “Ada beberapa serigala yang tidak punya kawanan itu tidak macam – macam. Mereka hanya tidak ingin terikat dan mengikuti aturan. Namun mereka hidup dengan tenang tanpa mencari masalah.”
Suara geraman lagi. Perkelahian sengit. Hati aku berdegup kencang. “Dan aku rasa yang di atas sana adalah serigala yang suka mencari masalah?”
“Bagaimana menurutmu?”
Suara dentuman dan sesuatu menabrak benda keras meresonasi. Aku dan Cordelia secara otomatis teriak bersama.
“Tempat macam apa pula ini memangnya?” tanya aku panik. “Apa kita aman di sini?”
“Ini tempat untuk menjaga new wolves yang baru berubah. Mereka biasanya belum bisa menahan amarah di tubuh sendiri.”
“Itu saja?”
“Dan er . . . mungkin tempat untuk tawanan?”
Mata aku membulat. “Tawanan apa?”
“Seperti musuh misalnya,” Cordelia berdeham. “Itu tidak penting. Cepat ambil satu obor.”
Aku mengikuti apa yang di perintahkan oleh gadis cantik itu. Dia juga mengambil satu obor. Cordelia menari kami ke arah sebuah lorong. Kami berdua belari melewati beberapa pintu sampai akhirnya tiba di pintu yang paling pojok.
Gadis cantik itu membuka rantai yang menutup pintu dan mengajak aku masuk.
Ruangan itu gelap, hanya disinari oleh dua obor di tangan kami. Ada dua besi yang tertanam panjang di dua sisi di tengah ruangan. Cordelia segera menarik aku masuk dan menutup pintu lagi. Lalu gadis itu memberikan aku obornya, meraih rantai di belakang pintu, dan mnegunci kami di dalam.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya aku panik. Apa dia baru saja mengunci kita berdua di dalam ruangan ini?
Sebuah geraman kencang yang banyak membuat Cordelia mengumpat rendah dan menarik aku ke pojok ruangan. Kami berdua berdiri dengan hati yang berdegup kencang.
“Cordelia, apa yang sedang terjadi?”
“Masalahnya adalah, serigala liar juga punya kawanan,” Cordelia mematai pintu. Suara langkah kaki yang banyak meresonasi di seluruh sisi. Aku menahan napas. Bukan suara kaki manusia. Suara derapan langkah hewan yang banyak. “Kadang mereka membentuk aliansi sesama serigala liar untuk menyerang.”
Aku membuang napas panjang dan berat. Rasanya tenggorokan aku tidak bisa menelan saliva lagi. “Oh. Oh. Informasi yang berguna,” aku menghimpitkan diri di dinding. Suara langkah kaki itu semakin keras, diikuti lolongan dan geraman keras. Perkelahian sengit lagi. Cordelia tersentak saat bunyi sesuatu yang sangat keras terdengar.
Aku memeluknya. Suara langkah kaki itu. Hati aku mencelus. Mereka ada di dalam ruang bawah tanah. “Mungkin itu Hunter atau Damon?” tanya aku lirih. Cordelia tidak menjawab. Dia hanya balik memeluk aku erat. Wajahnya kembali putih lagi. Dua obor kami sudah terabaikan di bawah tanah.
Lalu, rasanya seperti ada slow motion. Pintu kami ditabrak dari luar. Teriakan kami menggema. Dan dalam hentakan kedua kalinya, rantai yang ditaruh oleh Cordelia terlepas dan pintu itu terbuka.
Samar, aku bisa mendengar Cordelia menjerit. Mungkin aku juga. Aku tidak tahu. Fokus aku hanya pada dua serigala masif yang menampakkan gigi – gigi taringanya pada kami.
Dan mereka bukan Hunter atau Damon.