46
“APA YANG MENJADI masalah?” tanya Damon lagi saat kami berdua masih tidak merepon. Lantas, memangnya dia pikir dia akan mendapat respon macam apa tiba – tiba masuk ke dalam kamar wanita tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan menguping pembicaraan kita?
Baiklah, aku tahu secara teknis dia tidak menguping. Karena, apa yang akan dia lakukan? Dia punya pendengaran yang super. Dia bisa mendengar apa saja yang dia mau, dan itu termasuk mendengar pembicaraan konyol antara aku dan Cordelia.
Dengan tergesa aku terbangun dari posisi, sementara Cordelia masih menutup mulut seperti penjahat yang baru saja tertangkap basah. Gadis itu menaruh buku yang dia pegang dan ikut berdiri, namun dia berada di sisi tempat tidur yang satunya lagi sehingga aku kehilanngan support yang secara fisik. Aku menarik napas dalam saat Damon mengangkat naik alisnya, yang berarti dia akan segera bicara lagi.
“Jadi, ada yang mau menjelaskan padaku?” Damon bersandar di sisi ambang pintu, lalu melipat dua tangan di depan. Aku bisa melihat muscle yang menonjol dari kaus yang dia kenakan, serta urat yang mengalir dari lengan sampai ke jari – jarinya. Aku menelan ludah, sebab Damon terlihat sangat mengintimidasi. Pria itu hendak berjalan ke dalam, namun aku segera menahan laki – laki itu.
“Baiklah, stop.” Aku merentangkan dua tangan ke depan. “Aku akan . . . bicara, I guess.”
“You guess?”
Aku mengangguk. “Tapi tidak di sini,” aku menunjuk ke seluruh kamar, dan melirik Cordelia yang berdiri canggung tak jauh dari kami. Dia menyembunyikan setengah bagian bawah wajahnya di telapak tangan.
“Baiklah, ikut aku.” Damon berdiri tegak dan berjalan keluar dari kamar tanpa aba – aba.
Cordelia hanya bisa menatap aku dan meringis.
Dia mengangkat satu ibu jari sebagai tanda support.
***
MEMANG BENAR, sepertinya aku punya takdir yang tidak bagus. Sudah aku bilang aku ini mungkin menggunakan nyaris seluruh keberentungan yang aku punya tatkala aku di terima program pertukaran pelajar ini, ‘kan?
Dengan otak yang biasa – biasa saja, lantas bagaimana bisa aku di terima dengan mudah? Kecuali itu memang takdir. Dan memang itu takdir, kan? Setidaknya, jika memang semua ini nyata, dan aku tidak sedang berhalusinasi, hal tersebut memang takdir.
Takdir yang membawa aku pada Damon Hawkwolf.
Tapi jujur, aku rasa aku memang tidak punya keberentungan yang indah. Setiap kali aku mencoba melakukan sesuatu, pasti saja gagal. Ketika aku tidak bermaksud mengatakan sesuatu, pasti saja selalu tersebut.
Saat aku tidak ingin bertemu dengan seseorang, pasti selalu saja orangnya sendiri yang datang menghampiri aku.
Jujur, rasanya memang selalu indah dan menyenangkan jika bisa berada dekat dengan Damon. Seperti yang pernah aku katakan dan selalu aku rasakan. I have this need to be close to him.
Rasanya seperti aku butuh Damon selalu ada di samping aku agar aku bisa berfungsi dengan baik. Jika aku boleh hiperbola dan menjijikan seperti kata – kata di dalam film dan buku, I need him like I need air to breathe.
He is the air that I breathe.
Ugh, klise. Tapi memang benar. Mungkin itu semua efek dari perkara pasangan jiwa dan manusia serigala ini. Entah lah. Yang jelas, aku memang sudah terpincut dengan aura Damon Hawkwolf.
Bukannya aku juga tidak paham. Tapi aku tahu aku memang sudah mulai menaruh rasa pada laki – laki itu. Oh, ayolah. Jika seorang pria memberikan kejutan seindah itu, apa kau tidak akan jatuh hati?
Bukan hanya kembang api, tapi kembang api yang menuliskan inisial kalian? Aku bahkan tidak tahu hal itu bisa.
Dan acara piknik tiba – tiba di tengah hutan yang cantik? Di bawah bintang – bintang yang bersinar terang begitu?
Tidak perlu juga aku sebutkan, tapi aku sangat ingin menyebutkan ini, kalau dia melihat kau seperti kau lah bintangnya.
Itu semua paket yang kapabel memporak – porandakan hati. Sungguh, bahkan orang dengan hati yang beku sekali pun pasti akan meleleh. Jika tidak, mungkin orang itu bukan manusia. Jika tidak, mungkin orang itu sangat mahir dalam menyembunyikan perasaannya.
Terlebih itu semua datang dari Damon Hawkwolf yang terkenal sebagai laki – laki dingin, angkuh, serta tidak punya emosi alias datar. Bayangkan seberapa merasa spesialnya dirimu?
Tapi sungguh, aku tidak punya rencana untuk memberi tahu dia secepat ini. Aku sendiri pun masih tidak yakin dengan perasaan aku sendiri. Apa aku memang benar – benar mulai jatuh hati padanya? Apa aku suka padanya?
Sudah aku bilang ini semua adalah yang pertama untuk aku. Yang artinya, aku bahkan tidak paham rasa suka itu seperti apa. Aku tidak tahu tanda – tanda kalau aku suka pada seseorang, dan aku tidak tahu caranya mengenali rasa itu.
Jika aku mengikuti apa yang ada di film, mungkin segalanya akan lebih mudah. Tapi ini semua lebih rumit dari itu.
Aku tidak mau berada di samping Damon hanya karena kebutuhan primer itu. Hanya karena ikatan batin yang dia katakan. Aku tidak mau bersama dengan laki – laki itu hanya karena aku harus bersama dengan dia, bukan karena aku ingin. Aku tidak mau menerima Damon hanya karena sebuah situasi.
Tapi karena aku memang mau menerima dia.
Itu masalahnya. Perkara pasangan jiwa ini membuat aku bingung setengah mati. Pada akhirnya, aku akan bertanya lagi apa semua ini memang benar – benar perasaan aku sendiri, atau karena aku di takdirkan untuk bersama dengan dia?
Aku tahu itu mungkin terdengar pretensius. Tapi sungguh. Aku tidak mau berada dalam sebuah hubungan yang tidak murni karena rasa yang tercipta dari hati masing – masing.
Dan itu membawa aku kembali pada pertanyaan yang sama, namun dengan subjek yang berbeda.
Apa Damon memang benar – benar jatuh cinta padaku? Is he really in love with me? Itu lah kenapa aku menanyakan hal tersebut pada Knight. Serigala hitam itu mungkin bingung. Tapi aku tidak. Inkuiri tersebut sebab aku tidak tahu harus yakin, atau mempertanyakan segalanya.
Bagaimana jika apa yang mendorong laki – laki tersebut untuk menyatakan cintanya hanya sebuah kebutuhan yang sama seperti aku?
Bagaimana jika dia melakukan itu hanya untuk memiliki saja?
Mungkin itu tidak adil. Mungkin aku sedang berperilaku salah. Karena pada dasarnya, dia bukan aku. Dan aku bukan Damon. Mempertanyakan perasaan sendiri adalah satu hal, tapi mempertanyakan perasaan orang lain adalah hal yang sangat berbeda.
Aku bukan dia. Jadi aku tidak bisa dan tidak boleh menafsirkan perasaan dia begitu saja.
Tapi sungguh. Apa kalian jika menjadi aku tidak akan bertanya hal yang sama?
Aku percaya cinta pada pandangan pertama. Sungguh. Menurut aku, memang ada hal – hal seperti itu. Terlebih jika mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Sama seperti aku dan Damon.
Namun keraguan di hati sudah terlalu dalam.
“Ada yang ingin kau katakan padaku, Shay?” tanya Damon dengan vokal dia yang berat nan serak. Aku menundukkan kepala, tidak menatap dia yang duduk di samping aku.
Bagus. Oke. Baiklah. Kita kembali lagi pada posisi di awal. Aku harus duduk di sebelahnya dengan kepala menunduk dan isi kepala yang campur aduk. Apa ini rasanya terjadi turbulensi? Kepala aku rasanya akan pecah. Sel serebrum mungkin saling bergejolak di dalam sana.
Apa yang harus aku katakan pada laki – laki ini? Apa yang dia mau aku katakan?
Tatkala mendengar aku dan Cordelia di kamar tidurnya yang terbuka, dengan kaus hitam dan celana pendek cokelat Damon mengajak aku untuk bicara bersamanya. Bicara. Ugh, aku sangat benci itu.
Apa tidak ada hal lain yang manusia bisa lakukan selain bicara?
“Shay?” Damon mendorong aku dengan bahunya pelan. “Kau tahu ‘kan aku mendengar segalanya?”
“Hmh?” aku mengumbang pelan. Tiba – tiba tanah di halaman belakang terasa sangat menarik. “Tahu? Tahu apa? Mendengar apa?”
“Kau tahu apa.”
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan Damon, sungguh.” Aku mencabut rumput – rumput tidak bersalah.
Baiklah. Mungkin bermain bodoh akan mengeluarkan aku dari masalah ini. Mana tahu Damon akan terlalu lelah dan frustasi untuk meladeni aku.
Tapi laki – laki itu malah mengulurkan tangannya dan mengangkat naik dagu aku. Manuver itu membuat aku menelan ludah saat menatap secara direk netra emasnya. Kejapan dua mata itu menghapus rasa gundah di hati secara otomatis.
Tidakkah luar biasa kekuatan afeksi itu?
Damon mengelus dagu aku lembut dengan ibu jari. “Katakan padaku apa masalahnya, Saoirse Lee.”
Pada dasarnya, aku ini memang gadis bodoh sepertinya. Siapa yang ingin aku bohongi? Damon itu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. He always gets his way. Tidak mungkin dia akan menyerah dan melepaskan aku begitu saja. Terlebih jika ini menganut dirinya sendiri juga.
“Er . . . masalah apa, ya?” tapi aku tetap saja bermain seperti aku ini gadis bodoh.
Damon menarik napas panjang. “Apa yang kau katakan pada Cordelia di dalam kamar.”
Mata aku menyipit padanya. “Aku tahu kau punya kekuatan super. Semacam alat indera yang super atau apalah itu. Tapi apa aku tidak pernah berpikir kalau menguping itu hal yang sangat tidak baik?”
“Mana bisa aku tahan jika kalian berdua teriak – teriak begitu?” balas Damon.
“Kami tidak teriak – teriak! Siapa yang melakukan itu?”
“Shay. Aku bisa mendengar suara Cordelia memekik dan terus mengatakan romantis, romantis, romantis sekali dari dalam hutan.”
Aku akan menghabisi Cordelia Smith. Tidak peduli kalau ibunya, Nyonya Smith, adalah host aku selama di New Cresthill. Jika aku harus tinggal di jalanan nanti, biarlah.
“Kami sedang membicarakan Edward dan Bella.”
“Apa?” tanya Damon bingung.
“Edward dan Bella,” ulang aku lagi. “Kau tahu? Pasangan vampir di cerita terkenal Twilingt—“
“Aku tahu mereka,” potong Damon. “Kau pikir aku bodoh?”
“Setidaknya aku sudah mencoba,” balasku lirih. “Dengar, aku tidak tahu kau ingin aku bicara apa. Tapi yang jelas, no, I don’t have anything to say to you.”
Damon yang sekarang menyipitkan matanya. Dia mengangguk pelan dan memandang ke depan. Bibirnya dilumat ke dalam sembari bergaya sedang berpikir keras. Lalu, setelah beberapa sekon hanya duduk seperti itu tanpa membuka mulut, Damon akhirnya meregangkan tangan ke atas dan rebahan di atas bentala.
Dia melipat dua tangan di belakang kepala. “Jadi, kau tidak akan mengatakan apa – apa tentang apa yang kau bilang pada Knight?”
Mata aku membulat secara otomatis. Oke. Bagus. Baiklah. Aku rasa Damon itu orang yang tidak basa – basi. Atau tidak bisa membaca situasi kalau individu lain yang sedang dia ajak bicara itu sedang tidak ingin mengatakan apa – apa.
Yah, siapa yang ingin aku bohongi? Damon itu memang berdarah dingin dan datar. Aku tahu dia tidak peduli. Dia hanya ingin aku membahas hal tadi. Perkara kata – kata aku pada Knight dan konversasi aku bersama Cordelia.
Ugh. Cordelia. Awas ya kau.
“Er, sial. Aku—aku butuh ke kamar mandi—“ satu tangan Damon secara sigap menahan pergelangan kaki aku dengan cengkeram yang mematikan. Aku kembali duduk dengan wajah kecewa.
“Kau tidak akan bisa lari dariku, jadi tidak usah membuang waktu,” komentar Damon. Dia membuktikan aku dengan melepas pergelangan kaki itu dan kembali rebahan dengan gaya yang sama. Yang artinya kalau dia memang benar. Aku tidak akan bisa lari darinya.
Bagaimana bisa aku lari dari manusia yang punya kekuatan super begini?
Mana tubuhnya besar dan atletis pula. Aku yakin baginya, kecepatan lari aku sama saja dengan dia berjalan kaki dalam hari yang sedang malas.
Aku memicingkan mata dengki. “Sombong sekali.”
“Bukan sombong, hanya memastikan kalau kau mengerti fakta.” Damon menepuk lutut aku. “Sekarang, katakan padaku apa masalahnya.”
“Aku ingin kau lebih spesifik, Damon. Apa yang kau tanyakan?” balas aku sengit. Jika dia ingin aku membuka mulut, maka aku juga mau dia secara direk bertanya.
Mana tahu jika didorong dia akan terpojok dan menyerah?
Ha. Aku benar – benar bodoh. Damon tentu saja mendorong balik. Lebih keras. “Kau bilang pada Knight I think I am beginning to fall in love with him too. Dan aku tidak mungkin salah dengar,” Damon bangun dan duduk bersila. Aku tahu dia sedang menatap aku intens, tapi aku menoleh jauh ke depan menatap sesuatu yang tidak pasti. “Aku bisa mendengar segalanya.”
“Aku tahu,” gerutu aku kesal. “Cordelia sudah menjelaskan perkara serigala dan tubuhnya and all that.”
“Shay? Apa masalahnya?” Damon membuang napas. “Kenapa kau tidak mengatakan hal itu padaku? Dan mengapa kau masih menanyakan hal tersebut pada Knight? Kalau aku benar – benar jatuh cinta padamu atau tidak.”
Aku menelan ludah. Apa sudah tidak ada jalan keluar dari sini? Melihat eskpresi Damon dan keheningan di sekeliling, aku tidak punya pilihan lain. Jadi aku memalingkan wajah dari hal yang tidak jelas, dan memandang iras tampan Damon.
“Aku hanya tidak yakin,” jelasku. “Perkara pasangan jiwa ini? Kau harus tahu kalau aku masih belum bisa seratus persen berada di kapal yang sama. Aku masih sibuk menafsirkan premis. Setiap kali satu hal terjadi, hal yang lain terjadi lagi.”
Damon menyumpah rendah. “Sudah aku duga,” katanya dengan nada rendah. Saat aku bertanya kenapa, dia menjawab, “Sudah aku duga kalau aku bermain terlalu cepat. I’m going too fast with you.”
“Aku tidak bisa menyangkal itu,” kata aku pelan. “Aku hanya tidak tahu apa ini semua nyata, atau manifestasi dari ikatan batin yang kau katakan. Baiklah. Oke. Aku memang suka padamu. Seperti yang pernah aku katakan, aku punya keinginan besar untuk selalu bersama denganmu, Damon. Tapi kau harus mengerti. Aku tidak tahu apa itu aku yang sebenarnya, atau itu hanya takdir yang bermain di hati aku.”
Damon terbungkam. Giliran dia yang menatap hal tidak jelas di depan kami. Dersik angin membuat surai hitam kami terbang ke sana – kemari. Aku menarik napas panjang, mencium aromatik tubuh Damon yang memberikan efek tenang.
Sungguh. Apa bisa seseorang yang baru aku temui beberapa bulan lalu ini memiliki efek yang sangat dominan di hati aku sendiri?
Namun, ketika aku pikir Damon akan bereaksi perkara diktum aku yang panjang dan lebar itu, laki – laki tersebut malah berdiri sembari mengangkat aku bersamanya. Aku terhuyung payah, tapi pegangan tangan Damon di lengan aku membuat aku tetap berdiri.
Aku menatapnya lekat. Ekspresi wajah pria tampan itu penuh urgensi. Dia menatap aku serius. “Dengarkan aku baik – baik. Kau pergi ke dalam rumah. Panggil Cordelia dan berlari ke ruang bawah tanah. Cordelia tahu harus ke mana. Jangan keluar sebelum salah satu dari Hawkwolf datang menjemput. Mengerti?”
Aku bergidik ngeri. Atmosfer berubah dingin, serasa seperti ada yang mencekik leher. Aku menggeleng dan berusaha untuk memegang Damon, tapi laki – laki itu mendorong aku masuk ke dalam. “Damon, damon, ada apa? Ada apa? Aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri jika kau terlihat seperti itu—“
“Shay,” dia mengguncang bahu aku. “Listen to me. Get in there, and get Cordelia.” Damon mengusap pipi aku sekilas dan melepaskan aku. “Tell her the Rogues are here.”
Lalu dia menutup pintu geser dengan keras. Mengunci aku di dalam.