PART 45

1212 Kata
45 “SHUT UP!” aku berseru saat Cordelia tidak kunjung meralat apa yang dia katakan. Gadis itu menatap aku seperti aku baru saja tumbuh dua kepala. Aku meringis di dalam hati dan menahan diri agar tidak berteriak keras penuh rasa frustasi. Cordelia di depan aku merentangkan tangan ke samping, seperti sudah menyerah dan putus asa melihat aku yang bodoh dan tak pernah bisa membuat diri sendiri keren barang satu detik saja. Gadis cantik itu menarik napas panjang dan mengguncang bahu aku keras. “You shut up! Apa kau tidak tahu kalau Damon juga ada di dalamnya? Mereka secara harafiah adalah dua jiwa yang bersatu, Shay. Di mana ada serigalanya, di situ ada Damon. Di mana ada Damon, di situ juga ada serigalanya. Mereka punya kebutuhan yang sama, punya keinginan yang sama. Kau pikir kenapa kau bisa akur dengan serigala masif yang punya basic skill seperti seorang predator? Aku tahu kau baru dalam semua hal ini, tapi ayolah, bahkan anak kecil pun akan tahu tentang hal seperti itu. Kau tahu kan kalau itu berarti Damon bisa mendengar semuanya?” Cordelia menghela napas berat dan mengerang kesal. Dia menepuk keningnya sendiri dan menatap aku tak percaya. Gadis itu menggeleng pelan. “Kau ini. Ada – ada saja, Shay. Apa yang kau katakan padanya?” Tapi aku sudah tak bisa mengatakan apa pun untuk menjawab Cordelia. Rasanya dunia aku menjadi miring, lalu berputar kencang. Aku menutup muka dengan dua tangan dan merengek kesal. Cordelia mengelus bahu aku prihatin sembari berkata, “Perbaiki ini, miss. Lagi pula, kau tahu Damon cinta mati padamu. Dia tidak akan membuatmu merasa malu. Benar kau mengatakan sesuatu padanya?” *** AKU TIDAK BISA MENAFSIRKAN premis apa pun perkara Damon dan serigalanya, dan apa yang sudah aku katakan. Panggil aku hiperbola, tapi sungguh, memangnya kalian sendiri tidak akan merasa terkejut dan malu bukan main jika tahu kalau kalian sudah mengatakan sebuah kata – kata yang seharusnya di simpan di dalam hati secara direk? Itu yang aku lakukan. Dan bukan hanya aku katakan keras – keras, tapi aku mengatakan hal itu secara langsung pada orangnya. Damon Hawkwolf. Yang saat itu sedang berada di dalam figur manusia serigala-nya, Knight. Oke. Baik. Bagus. Saoirse Lee mempermalukan diri sendiri lagi. Itu bukan hal yang baru, ‘kan? Benar. Itu bukan hal yang baru. Dan selama ini, aku belum mati saking malunya. Aku yakin pasti ada hal – hal memalukan lain yang pernah aku lakukan. Er . . . seperti apa misalnya, Shay? Zero. Kosong. Tidak ada. Ini mungkin hal paling memalukan yang pernah kau lakukan di dalam hidupmu. Sudah cukup untuk menjadi alasan kau mengubur diri sendiri hidup – hidup. Siapa yang sangka kalau Saoirse Lee akan meninggalkan dunia di bagian negeri yang paling jauh dari rumahnya? Di kota yang kecil dan terpencil semacam New Cresthill? “Shay, kau mulai membuat aku takut,” kata Cordelia sembari mengguncang bahu aku. Oh, aku masih di dalam kamar tidurnya? Sial. Aku pikir aku sudah terkubur jauh di dalam inti bumi. Jauh dari rasa malu, dan tidak lagi perlu menghadapi Damon Hawkwolf. “Saoirse Lee!” Cordelia berseru lagi. Aku mengerang dan menjatuhkan diri ke atas tilam. Aku tutup wajah aku dengan bantal. Tidak aku biarkan Cordelia yang mungkin histeris melihat aku seperti ini. Gadis itu merampas satu – satunya hal yang menutup aku dari dunia dengan ganas. Cordelia memegang bantal itu sebagai senjata dan mengancam, “Kau mau begitu? Kalau tidak cepat menjelaskan apa yang terjadi, aku sendiri yang akan membekap kau hidup – hidup, Shay.” Aku mendengus. “Saoirse—“ “Kau benar, okay?” aku bangun dan duduk bersila. “Benar apa?” tanya Cordelia. “Benar, benar, benar!” aku menutup muka dengann tangan. Cordelia berdecak dan menarik aku lagi. “Apa yang kau bilang tadi benar!” Cordelia meringis. “Kau mengatakan sesuatu pada serigalanya?” Aku mengangguk lesu. “Apa itu? Apa yang kau katakan hingga seburuk itu? It’s not like you confessed your undying love or something,” Cordelia tekekeh pelan. Lalu tawa kecil itu terhenti tiba – tiba. Ketika dia melihat aku yang mendelik, gadis cantik itu menutup mulutnya. Aku lempar dia dengan bantal yang lain. “Kau, kau menyatakan?” Aku mendengus keras. “Tidak. Secara teknis tidak. Tidak, ‘kan?” “Aku butuh konteks,” balas Cordelia. “Aku butuh lebih dari kau yang mengerang, marah – marah dengan diri sendiri, dan jawaban yang putus – putus.” Bantal yang ada di tangan gadis cantik itu aku raih, dan aku himpit dengan dua tangan. Dengan wajah memerah dan suara lirih yang malu, aku menceritakan segalanya dari awal. Aku berikan gadis itu konteks seperti yang dia mau. Aku ceritakan apa yang di katakan oleh Damon kala itu. Kata demi kata yang sudah menancapkan ujung tombaknya di dalam memori secara mutlak. “I think I’m in love with you, Shay.” “I think I’m in love with you, Shay.” “I think I’m in love with you, Shay.” Sial. Lagi – lagi aku dibuat tidak kapabel menahan hati yang rasanya akan lepas dari rongganya yang keras. Aku mulai membuat jari – jari meremas bantal itu saking frustasi dan kesalnya. Frustasi pada diri sendiri yang sudah membuat kesalahan, kesal pada diri sendiri sebab bisa – bisanya aku masih bertingkah bak anak kecil begini setiap kali membayangkan kejadian malam itu. Sungguh. Aku rasa hanya aku gadis yang bertingkah payah seperti ini, ‘kan? Ketika aku sudah selesai, Cordelia menganga. “Dia mengatakan itu? “Secara teknis tidak hanya itu saja.” Cordelia memukul aku dengan bantal, sama seperti aku tadi. Kini giliran aku yang meringis dan melotot ke arahnya. “Katakan padaku semua detail-nya! Jangan ada yang di tinggalkan.” Baiklah. Jadi, aku menelan ludah dan meneruskan cerita itu sampai ke akhir. “I have been since I first met you. Dan mungkin itu memang karena ikatan batin kita. Mungkin itu memang efek dari fakta kalau kita pasangan jiwa. Tapi—tapi malam itu saat kau bilang kalau kau tidak memilih ini, aku sadar kalau kau benar. Dan aku akan menghancurkan hidup seorang gadis lagi. Aku mencoba untuk menjauh. Sungguh. Tapi aku tidak tahan lagi.” Cordelia menyesap oksigen panjang. Lalu gadis cantik itu tiba – tiba memekik keras membuat aku menutup dua telinga secara otomatis. “Cordelia Smith—“ “Romatis sekali!” pekiknya keras. Aku mengerang kesakitan dan kesal saat dia memukul – mukul aku di lengan seperti gadis yang sedang melihat idolanya konser. “Romantis sekali! That’s so romantic—“ “Aku mengerti!” seru aku sembari mendorong dia agar menjauh. Senyum lebar terukir di wajahnya. Dia bertepuk tangan. “Aku tidak akan pernah menyangka Damon bisa melakukan itu!” “Aku juga,” balasku. Aku mengelus lengan yang dia pukul secara brutal. “Lantas, apa masalahnya, Shay?” Cordelia mengerutkan keningnya. “Apa yang menjadi masalah?” “Iya, Shay. Apa yang menjadi masalah?” Dua mata aku membulat. Cordelia yang posisi duduknya mengarah ke pintu kamar ikut melotot dan menutup bibirnya keras. Aku kenal suara itu. Tentu saja aku kenal suara itu. Aku tidak akan pernah lupa vokalnya. Jadi, ketika aku berpuat dari posisi duduk, aku hanya bisa meringis melihat Damon Hawkwolf sedang bersandar bahu di ambang pintu. “Apa masalahnya, Saoirse Lee?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN