PART 44

1889 Kata
44 “APA YANG KAU LAKUKAN?” tanya Talon saat mendadak pria itu lewat tidak jauh dari tempat aku duduk bersama Knight. Aku menatapnya serius sembari terdiam dan berpikir pada diri sendiri. Apa akan terlihat bodoh jika aku katakan aku sedang berbicara dengan serigala? Yah, walau aku tahu Knight ini bukan serigala sungguhan. Maksud aku, tentu saja dia serigala sungguhan, hanya saja dia tidak sepenuhnya serigala, kan? Entah, ini semua membuat kepala aku sakit. Talon mendekat dan berdiri tidak jauh dari kami. Dua tangannya masuk ke dalam kantong dan menatap aku dan Knight secara bergantian. Kening dia mengerut. “Apa kau sedang berbicara dengan dia?” tunjuk Talon pada serigala berbulu hitam lebat yang sedang mengistirahatkan kepalanya di atas pangkuan aku. Talon menaikkan alisnya saat aku tak kunjung menjawab. Baiklah, masa bodoh. Pada dasarnya, mereka semua ini manusia, kan? Jadi, saat Talon masih menunggu, aku akhirnya mengangguk pelan, tak tahu harus merespon apa. Talon terlihat sedikit terkejut, lalu kepalanya mundur beberapa senti. Dia menatap Knight yang mendadak bangun dan ikut memandang Talon lekat. Seperti ada yang terlewat di antara mereka, namun aku tak mengerti. Aku hanya bisa melihat manuver itu dengan kening yang mengerut. Saat sudah beberapa lama terlewat, Talon menggeleng dan jika aku tidak salah lihat, dia seperti sedang menahan gelak harsa. Aku hendak bertanya tapi Talon segera berjalan mundur menjauh dari kami. “Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua.” Dia memberikan aku salut di kening, dan mengedipkan satu mata padaku. “Shay, ingat, aku hanya adik bawahan yang tidak punya banyak kuasa di rumah ini, oke?” “Oke . . .? Kenapa memangnya?” tanya aku tak mengerti. Talon mengedikkan bahu dan menyembunyikan senyum. “Ingat itu jika kau sadar sesuatu nanti. Jangan marah padaku.” Lalu pria itu menghilang dari hadapan kami. *** DULU AKU PERNAH dengar tentang yang namanya animal whisperer. Entah itu nyata atau tidak. Tapi selalu tertarik setiap kali acara itu ada di teve. Seorang laki – laki yang cukup gagah, akan mampu mengerti apa yang hewan itu inginkan dan katakan. Bagi aku yang masih kecil dulu, itu semacam kekuatan super yang sangat keren. Siapa yang tidak mau bisa bicara dengan hewan? Dulu, aku sangat suka dengan cerita Cinderealla bukan karena dia bertemu dengan pangeran tampan atau punya sepatu gelas. Aku sangat suka dengan dongeng itu sebab Cinderlla bisa berbicara dengan teman – teman tikus kecil mereka. Aku masih ingat dulu Mama akan berteriak sejadi – jadinya jika aku mendekat ke arah tikus di jalanan, atau merengek meminta dibelikan peliharaan tikus. Dari kecil aku memang sudah bukan gadis normal rupanya. Sekarang, untuk menambah daftar hal – hal yang membuat aku tidak normal, ada Knight di atas pangkuan aku sebagai saksinya. Aku tahu kalau mereka saat dalam bentuk begini mengerti apa yang manusia katakan. Terbukti dari dulu saat mereka berkomunikasi dengan Ingruth si iblis jahat. Atau acap kali aku melihat Cordelia dan bentuk serigala Hunter bercanda di halaman belakang. Tapi pertanyaan aku adalah, apa yang ada di dalam bentuk serigala ini juga Damon atau bukan? Knight beringsut dengan hidung yang lucu. Aku tertawa dan menepuknya. Ini menyenangkan. Seperti memiliki peliharaan anjing yang besar. Mama tidak pernah mengijinkan aku punya peliharaan di rumah. Tikus atau pun bukan. Menurut dia, aku gadis yang tidak bertanggung – jawab. Siapa yang akan merawat mereka? Siapa yang akan memberi makan? Siapa yang akan memastikan kalau mereka terlatih dan tidak membuat kotor? Segala macam alasan. Dan apalah aku yang memang mengaku kalau pasti ujung – ujungnya Mama yang akan mengurus peliharaan itu. Atensi aku terebut saat Knight menjilat bagian dalam telapak tangan aku pelan. Aku terkekeh, namun segera menjauhkan tangan aku darinya. Serigala hitam itu menjatuhkan kepalanya lagi ke atas pangkuan aku. Matanya bersinar ke atas menatap aku. Obsidian emas itu sungguh terasa tidak nyata. Apa benar memang ada makhluk semacam ini di dunia? “Apa kau nyata?” tanya aku dengan gumaman kecil. Knight merenyuk. Aku memberikan dia garis harsa tipis sembari mengelus atas kepalanya lagi. “Apa kau Damon atau Knight?” Tentu saja aku tidak mengharapkan dia menjawab. Tapi satu sekon kemudian, aku nyaris pingsan saat aku mendengar suara berat yang terdengar di dalam benak tanpa sumber sama sekali. “Both.” Aku nyaris berteriak. Vokal berat itu terdengar tidak jauh berbeda dari Damon. Namun dari suaranya terdengar bagian yang serak dan tertahan. Seperti sudah lama tidak bicara dan tidak menggunakan pita suara. Aku melirik ke bawah menahan horor. Knight menaikkan dagu dia ke atas dari pangkuan aku. Tatapan lurus itu seperti ingin memberitahu kalau iya, dia yang baru saja berbicara. Aku yakin mata aku masih membulat besar. Knight melunglung pelan seperti merenyuk melihat aku yang tidak bereaksi. Mungkin dia pikir aku takut padanya. Tapi yah, jujur, aku memang sedikit ngeri. Ayolah, siapa yang tidak akan nyaris pingsan tiba – tiba mendengar suara di dalam benak tanpa ada sumber sama sekali? Hanya bersama serigala sebagai pelakunya? Aku menelan ludah dan memaksa senyum yang canggung. Apa yang harus aku katakan sekarang? Bukannya aku juga bisa berbicara sih. Aku benar – benar dibuat kehilangan kata – kata. Knight menyerongkan kepala dan mendusel di atas pangkuan aku. Kepala masif itu menyentak tubuh aku ringan. Mungkin meminta atansi karena aku masih terkejut bukan main. Aku secara perlahan mengelus kepala dia lagi. Serigala hitam yang besar dan gagah itu mendengkur puas. “No need to be scared,” kata dia lagi. Aku masih membeku, tapi kali ini aku tidak terkejut saat mendengarnya. Suara yang familiar namun terdengar asing secara bersamaan itu membuat pikiran aku kacau. “I am the wolf.” Aku mengangguk. Mengangguk saja sebab apa lagi yang bisa aku lakukan? Apa itu berarti ada dua orang di dalam hati Damon? Apa itu berarti aku memang benar, kalau di dalam figur ini ada sesuatu yang berbeda di diri mereka? Aku harus menanyakan hal ini padanya atau pada Cordelia nanti. Sungguh. Jika aku harus melakukan konversasi rumit begitu bersama serigala yang melakukan komunikasi melalui pikiran, aku akan benar – benar tidak sadarkan diri. Si serigala hitam membungkuk sekilas, menurunkan kepalanya seperti tunduk dan memberi hormat padaku. “I am Knight.” “Jadi benar namamu Knight?” seru aku keras. Jika orang normal melihat ini, mereka akan kabur. Aku berseru pada serigala. Tapi lagi, apa yang membuat ini nyata? Apa aku tiba – tiba memang punya penyakit delusi atau semacamnya? Apa aku mulai pintar halusinasi? Apa ini semua jangan – jangan dunia yang aku ciptakan sendiri? Knight kembali bertumpu ke atas pangkuan. “I have no name. You gave me a name.” Aku menyesap oksigen panjang. Aku yang sudah memberikan dia nama. Nama. Itu sesuatu yang cukup penting dan besar. Knight adalah nama yang baik. Untung saja aku tidak memberikan dia sebutan Pocky atau Marbles seperti yang aku ingin berikan jika aku punya peliharaan tikus. Tangan aku secara otomatis bergerak lagi di sepanjang bulu kepala Knight yang tebal dan hitam. “Apa kau suka dengan nama itu?” tanya aku. Knight mendengkur puas. “Kau masih belum menjawab pertanyaan aku,” kata aku. “Do you think Damon is really in love with me?” Knight tidak merespon. Malah, serigala hitam itu menutup mata dan menikmati saja usapan halus aku. Ini benar – benar terasa seperti punya anjing besar yang berbentuk raksasa. Tangan aku turun ke belakang telinga dan menggaruk dia di sana. Knight mendusel sebab suka. Aku membuang napas. “Apa yang aku pikirkan berbicara dengan serigala? Maaf, lupakan saja aku pernah bertanya begitu.” “No need,” Knight menjawab. “Damon. Love.” Jika bukan karena memang sudah setengah gila, aku pasti tidak akan mengabaikan kata – kata dari serigala. Tapi, mendengar itu, hati aku melompat tidak karuan. Damon. Love. Itu artinya hanya satu kan? Jawaban Knight hanya ada satu konklusi, ‘kan? Aku mengelus dia lebih semangat lagi. “Damon dan aku itu sedikit terlihat cocok, ‘kan?” Knight mengangguk. “Aku rasa juga begitu,” jawabku. “Aku dan Damon itu punya ikatan yang cukup besar, ya?” Knight hanya merespon dengan cara yang sama. Aku tertawa sebab dia tiba – tiba bersin seperti anak anjing. Tawa aku di balas dengan pelototan kecil darinya. “Kau seperti Damon. Kalian mirip.” Knight itu melotot kecil lagi, seperti tidak terima di samakan dengan Damon. Aku terkekeh. “Jangan khawatir. Kau lebih keren. Lebih besar. Lebih gagah. Kau juga lebih menggemaskan.” Knight menerima dengan puas semua pujian aku kecuali untuk yang terakhir. “Okay, okay . . . baiklah kau tidak menggemaskan. Tapi sangat lucu—“ Aku memekik dan tertawa saat Knight menggeram dan menggerakkan kepalanya ke pangkuan aku, menggelitik dengan parah. Setelah puas melihat aku yang sudah tidak tahan, Knight berhenti. Aku menarik napas dalam – dalam sembari tertawa tipis. Knight kembali ke atas pangkuan. Selama beberapa saat kami hanya terdiam dengan damai, lalu aku mendengar vokal familiar dan berat itu lagi. Suara seraknya menggema di dalam benak dengan keras. “Damon. Love? Dan pada dasarnya, aku tahu apa yang dia tanyakan. Damon. Love. Aku tahu apa yang di maksud oleh Knight. Jadi aku terdiam untuk beberapa lama, sebelum menjawab dengan suara yang tidak aku kenal. “Aku rasa begitu,” jawab aku pelan. Aku menatap Knight serius. “I think I am beginning to fall in love with him too.” *** Setelah puas bermain dengan Knight, aku bergegas untuk mencari Cordelia, sebab Knight kembali berlari ke dalam hutan yang berarti aku tidak bisa berbicara dengan Damon untuk waktu yang dekat. Pintu kamar tidur Cordelia terbuka lebar, memperlihatkan gadis yang sedang membaca buku dalam posisi tidur terbalik di atas tilam. Aku mengetuk pintu sebagai sebuah permisif. “Hunter sedang lari – lari juga?” Cordelia mengintip dari balik buku dan terkekeh. “Lari – lari? Itu sebutan yang cukup pantas untuk mereka,” gadis itu bangun dari posisinya dan duduk bersila. “Iya. Damon juga, ‘kan?” Aku berjalan masuk dan duduk di sampingnya. “Iya.” Aku mengintip sedikit judul buku yang sedang Cordelia baca, dan memberikan catatan untuk diri aku sendiri agar mengingat nama judul bukunya. Aku akan meminjam buku itu nanti pada Cordelia. “Ada apa?” tanya Cordelia. “Aku ingin bertanya sesuatu,” kata aku serius. “Saat mereka berubah menjadi . . . itu. Manusia serigala atau apalah itu,” Cordelia menahan tawa. Aku mendelik ke arahnya. “Apa mereka menjadi orang yang berbeda?” tanya aku. Cordelia mengangguk. “Aku tahu kenapa kau bisa bertanya begitu,” kata Cordelia. “Er . . . bagaimana caranya ya aku menjelaskan ini? Secara tidak langsung memang ada dua person di dalam mereka. Diri mereka sendiri, dan diri serigala mereka. Aku beberapa kali berbicara dengan serigala yang ada di dalam Hunter. Bahkan memberikan nama. Fluffy.” Aku tertawa bersama dengan gadis itu. Seketika aku merasa sedikit tenang dan mengerti. “Oh, begitu.” Aku mengangguk. “Itu berarti saat mereka menjadi serigala, mereka menjadi orang yang berbeda?” Cordelia menatap aku lurus. “Tidak. Saat mereka menjadi serigala, diri mereka sendiri masih ada di dalam.” Aku membeku. “Shay?” Cordelia mendorong aku. “Apa yang terjadi? Oh. Oh. Jangan bilang kau mengatakan sesuatu pada serigala Damon?” saat aku tidak menjawab, Cordelia meringis. “Shay. Damon is in there somewhere. Dia bisa mendengarmu juga!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN