43
“WHAT IS FATE exactly, Cordelia?” gumam aku saat dia sudah berhenti bicara. Apa yang gadis cantik itu katakan terus mengudara di benak. Aku masih kesulitan menafsirkan premis, entah harus berkata apa mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu.
Pada dasarnya, aku tahu mungkin Cordelia ada benarnya. Tapi di sisi lain, aku masih tidak mengerti. Bukan tidak bisa menerima, hanya saja, kenapa aku? Dari semua gadis cantik, berbakat, dan menarik di dunia ini, kenapa harus aku Saoirse Lee? Kenapa tidak gadis cantik lain yang mungkin lebih pantas?
Maksud aku, hey, lihatlah Cordelia. Gadis yang merupakan anak perempuan satu – satunya Nyonya Smith itu punya wajah yang super cantik. Dia gadis yang menawan, tinggi, dan aku tahu punya banyak bakat terpendam. Dan aku? Aku hanya seorang gadis Asia biasa yang datang karena beasiswa pertukaran pelajar. Jika aku tidak mendapatkan kesempatan itu, aku mungkin tidak akan pernah datang ke sini.
“Apa menurut kamu takdir itu sendiri, Cordelia?” tanya aku lagi saat gadis itu hanya diam dan terlihat sedang berpikir. Aku biarkan inkuiri itu mengudara di antara kita berdua, menjadi sebuah pengingat kalau pada dasarnya, bahkan gadis cantik di samping aku itu juga masih tak paham dengan semua ini.
“Takdir adalah . . . sesuatu yang rumit. Hal yang tak bisa ditahan, namun aku yakin bisa dirubah. Takdir juga adalah permainan yang lucu.”
“Lucu bagaimana?” tanya aku.
“Tidakkah lucu dari semua tempat, kau datang ke New Cresthill, bertemu dengan Damon, dan menjadi pasangan jiwanya? Bukankah itu juga termasuk takdir yang membawa kau ke sini agar Damon bisa bertemu denganmu?”
Aku telan bulat – bulat perkataan Cordelia Smith.
Bukankah itu juga takdir aku bisa datang ke sini dan bertemu Damon Hawkwolf?
***
TAKDIR ITU SESUATU YANG TIDAK pernah bisa di duga oleh manusia. Banyak insan berkata kaalau takdir tidak adil pada mereka, kalau takdir itu sangat berada di pihak mereka. Dan banyak juga manusia yang justru tidak percaya pada takdir.
Apa itu takdir?
Apa yang akan mereka lakukan pada hidup kita? Apa takdir itu semacam pemegang kendali semua opsi, semua pilihan, semua manuver yang kita lakukan di bumi?
Apa kita bisa melawan takdir? Bisa menolak apa yang mereka inginkan dan justru membuat takdir sendiri?
Entah lah. Semuanya terasa seperti kapas dan abu – abu, dan takdir sendiri pun terkadang tidak peranh konsisten datang menghampiri setiap insan di bumi.
Lantas, apa yang membuat seseorang pantas menerima takdir baik dan buruk? Apa dilihat dari perilaku mereka di bumi? Bagaimana cara mereka memperlakukan alam semesta? Melihat cara mereka apresiasi keindahan dunia dan kebaikan sesama manusia?
Tapi mengapa kalau begitu, sesuatu yang baik—tidak—keberunttungan, selalu menimpa orang yang salah? Sedangkan orang yang benar – benar membutuhkan harus menerima opsi yang berbeda. Opsi yang tidak beruntung. Pilihan dan hasil yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Apa semua korban Ted Bundy ingin berakhir seperti itu, atau memang sudah takdir? Apa semua korban dari bencana alam memang akan berakhir seperti itu sebab ulah mereka sendiri, apa itu memang sudah takdir?
Tidak ada jawaban pasti. Hanya bisa menerka dan menangisi semua yang sudah terjadi. Tersenyum dan menggelak harsa pada semua kebaikan yang sudah terjadi.
Takdir.
Aku masih tidak bisa menafsirkan premis semua yang terjadi padaku beberapa bulan terakhir ini.
Aku diterima program pertukaran pelajar dengan beasiswa penuh, tanpa harus mengeluarkan uang sama sekali. Lalu, entah bagaimana caranya, aku malah dikirim ke sini, ke New Cresthill dari semua pilihan beasiswa. Itu saja sudah meneriakkan kalau ini semua ulah takdir , ‘kan?
Kemudian, dari semua tempat, aku malah pergi ke menara terlarang itu. Aku mestinya tidak mengabaikan hal yang terjadi saat itu, tapi karena takdir aku akhirnya naik dan bertemu dengan Damon Hawkwolf.
Laki – laki yang memang adalah takdir aku. Predestinasi itu sesuatu yang rumit. Dari sekian banyak varietas kejadian, dari semua kemungkinan dan kebetulan di bumi, aku bisa sampai di sini. Tempat yang bahkan tidak aku ketahui ada satu bulan sebelum aku harus pergi.
Mungkin Cordelia memang benar. Mungkin gadis cantik yang ternyata punya keturunan manusia serigala itu—yeah, I know. Shocking. I still can’t believe she is a descendant of a werewolf—punya poin yang bagus.
“And maybe, maybe, we enter the Hawkwolf life, because it is our fate.”
Kita masuk dalam kehidupan keluarga Hawkwolf karena memang itu takdir kita. Sesuatu yang tidak diketahui orang banyak, tapi aku memang sedikit percaya pada takdir.
Seperti ketika aku tidak sengaja ketinggalan dompet dan harus kembali ke rumah lagi. bus yang seharusnya aku tumpangi kecelakaan di jalan. Lalu ketika Mama seharusnya pergi ke super market di dekat rumah tapi akhirnya memesan makanan saja. Tiba – tiba ada berita kalau super market yang cukup besar di kota kami itu kebakaran.
Takdir itu sesuatu yang tidak bisa diduga. Memang benar. Mutlak.
Damon Hawkwolf adalah takdir aku.
Pasangan jiwa.
Rasanya aku seperti sedang melawak saat mengatakan kata – kata itu sendiri. Pasangan. Jiwa. Wah, siapa yang akan mengira sesuatu yang sangat absurd begini nyata?
Jangan salah. Aku percaya pada pasangan jiwa. Soul mates. Mereka memang nyata. Banyak contoh pasangan jiwa pada pertemanan, pada pasangan, pada partner dan bahkan orang asing yang baru kau temui ketika datang ke tempat baru.
Itu nyata.
Tapi dalam skala begini? Dalam kategori pasangan jiwa seorang manusia serigala? Wah, aku masih harus membiasakan diri dengan itu lagi.
“I think I’m in love with you, Shay.”
Teko jus jeruk yang sedang aku pegang bergoyang, membuat aku tidak sengaja menumpahkannya ke atas meja. Buru – buru aku meraih tisu makan di pinggir konter dapur untuk membersihkannya.
Bagus.
Aku benar – benar harus berhenti memikirkan hal itu, atau aku akan mengacau setiap hari. Suara Damon itu sangat mendistraksi. Aku tidak bisa melupakannya dari benak. Berkali – kali aku mencoba melakukan hal normal, tapi pernyataan darinya selalu membuat aku tersipu dan bertingkah konyol.
Tadi pagi, aku nyaris jatuh di kamar mandi sebab sibuk termangu membayangkan wajah Damon saat dia mengatakan hal itu.
“I think I’m in love with you, Shay.”
Sial. Apa begini rasanya menjadi gadis – gadis remaja yang sedang jatuh cinta?
Aku—
Tunggu dulu. Apa yang baru saja aku katakan?
Apa begini rasanya menjadi gadis – gadis remaja yang sedang jatuh cinta?
Tangan aku mencengkeram teko kaca itu dengan keras. Er . . . aku sedang melawak pada diri sendiri, ‘kan? Apa yang aku katakan itu tidak benar, ‘kan?
Aku tertawa tipis. Tidak mungkin, ‘kan? Lagi pula, aku mengatakannya dengan reflek. Aku tidak sengaja. Itu pasti hanya keceplosan saja.
Wait a minute. Kalau aku keceplosan, itu berarti aku baru saja mengatakan—
“Apa yang sedang kau lakukan?” Cordelia membuat aku menumpahkan jus jeruk lagi. Aku mengumpat rendah. Gadis yang baru masuk itu ikut mengambil tisu dan membersihkan konter. Setelah selesai, aku meletakkan teko kaca itu jauh dari aku, agar tidak ada lagi insiden kaget pada diri sendiri.
Aku matai gelas kristal aku yang berisikan jus jeruk. Ini absurd, ‘kan?
“Shay,” Cordelia mendorong bahu aku dengan satu jari. “You are scaring me.”
“I’m scaring me,” kata aku dengan mata yang masih hilang fokus. “Apa kau mendengarnya?”
“Mendengar apa?” tanya Cordelia.
“Mendengar pikiran aku. Isi hati aku,” jawab aku.
“Er . . . Shay, kau sedang sakit?” Cordelia menarik aku agar menghadap dia dan memeriksa kening aku. “Tidak panas. Tapi kenapa bicara kamu seperti orang mabuk begitu? Oh my God, are you drunk?”
“What? No!” aku menampis tangan Cordelia dari kening. “Aku tidak pernah menyentuh minuman keras di hidup aku sebelumnya. Dan aku hanya—aku hanya sedang bingung.”
Cordelia menaikkan satu alis padaku. Dia meraih buah apel di atas konter dan menggigitnya besar. Saat dia mengunyah, gadis cantik itu berkata, “Bingung pada isi hatimu sendiri? Pada isi pikiran kamu?”
Aku memalingkan wajah dan menegak jus jeruk dingin itu sampai puas. Mungkin ini yang aku butuhkan. Sesuatu yang segar agar pikiran aku bisa bersih dan jernih. Agar hati aku bisa fresh lagi.
Cordelia Smith berdecak. “Kau sedang denial , rupanya.”
“Denial?” sergahku sedikit tersinggung.
Gadis di depan aku itu mengangguk. Lalu dia memutari konter dapur dan duduk di salah satu kursi bar konter. “Kau sedang menyangkal apa pun itu yang ada di dalam pikiran kamu. Sangat terlihat dari kau yang resah dan ceroboh. Jus jeruk itu,” dia menunjuk teko kaca yang berada di ujung konter. “Pasti bisa tumpah karena kau sedang terdistraksi oleh sesuatu.”
“I think I’m in love with you, Shay.”
Sial. Kenapa juga dia harus benar seratus persen? Apa Cordelia juga punya semacam kekuatan super? Kalau iya, aku akan sangat iri dan dengki. Aku juga ingin kekuatan super. Setidaknya, hanya mahir menutupi perasaan. Itu saja.
“Aku tidak punya kekutana,” lanjut gadis itu. “Kau hanya sangat mudah ditebak.”
Sekarang, Cordelia yang membuat aku kesal. Aku memutar dua mata padanya. “Aku tidak mudah ditebak, Cordelia.”
“Dan apa aku salah?” tantang Cordelia. “Apa aku salah mengatakan kau sedang terdistraksi oleh sesuatu, makanya kau sangat ceroboh dan terlihat resah? Kalau kau merasa bingung?”
Aku meminum jus jeruk lagi.
“Biar aku tebak lagi, okay?” Cordelia mengunyah apel dengan gaya mengesalkan. “Pasti ada hubungannya dengan Damon.”
“I think I’m in love with you, Shay.”
Aku menampar diri aku sendiri dalam benak. “Tidak. Jangan ngaco,” kata aku sembari berjalan ke tempat cuci piring dan mencuci gelas jus aku. Aku sendiri bahkan tidak sadar kalau jus jeruk aku sudah habis.
Cordelia Smith si gadis yang aku anggap sangat cantik—tapi sangat tidak cantik saat ini karena dia membuat aku kesal—hanya mengumbang pelan. Sial. Gadis itu tahu kalau dia benar. Dia gigit lagi apel di tangannya.
“Lantas?” lanjut Cordelia. “Katakan padaku apa yang membuat kamu bingung.”
“Not any of your bussiness,” gerutu aku sembari membilas gelas jus jeruk tadi. “Lupakan saja aku pernah mengatakan sesuatu.”
“Oh, baiklah.” Cordelia mengedikkan bahu. “Tapi aku ingin kau ingat satu hal, Shay.” Cordelia berdiri dari kursi bar tempat dia duduk. “Menyangkal hal yang sudah jelas itu tidak baik. Yang ada hanya menunda sesuatu yang akan terjadi, dan membuat dua hati sengsara.”
Aku melihatnya pergi dengan perasaan campur aduk. Kenapa gadis cantik itu selalu punya banyak hal dan kata - kata yang tepat untuk dikatakan?
“I think I’m in love with you, Shay.”
***
Cordelia Smith sekarang secara resmi bukan lagi gadis paling cantik yang pernah aku temui. Aku tidak peduli. Bisa – bisanya dia membuat aku semakin tidak habis pikir, bingung, dan tidak kapabel menghentikan kata – kata Damon padaku malam itu. Bukan hanya itu saja. Dia juga membuat aku memikirkan diktum dari bibirnya tentang penyangkalan.
“Menyangkal hal yang sudah jelas itu tidak baik. Yang ada hanya menunda sesuatu yang akan terjadi, dan membuat dua hati sengsara.”
Er . . . mudah baginya untuk bicara. Dia sudah bahagia dengan Hunter Hawkwolf. Tidak perlu lagi memikirkan opsi, menerka isi hati, dan apa yang harus di lakukan. Menyangkal? Aku bukan menyangkal.
Karena apa yang bisa aku sangkal jika aku sendiri tidak tahu apa isi hati aku?
Biarlah Cordelia ingin bicara apa. Aku tidak akan membuatkan dia jus jeruk khas aku lagi selama satu minggu.
Merasa frustasi pada diri sendiri, aku akhirnya melangkah keluar dari rumah besar itu. Penopang tubuh secara otomatis membawa aku ke halaman belakang. Ketika aku berniat untuk jalan ke air terjun, aku melihat figur yang aku kenal sedang berlari ke arah tempat aku berdiri.
Untuk sekian sekon aku merasa takut. Teror menyelimuti tubuh. Tapi ketika korteks visual sudah kapabel membentuk sebuah figur familiar, hati aku tiba – tiba kembali tenang lagi. Senyum yang tidak aku rencanakan terlukis di bibir.
“Knight,” gumam aku pelan. Aku tertawa saat dia sampai di depan aku dan menundukkan kepalanya. Aku segera mengelus bulu di atas kepalanya dengan lembut. Serigala hitam itu mendengkur seperti merasa suka dengan apa yang aku lakukan.
“Hi,” sapa aku pelan. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya aku halus. Knight menoleh ke belakang dan menatap aku lagi. “Oh, kau baru saja berlari?” dan aku melihat dia mengangguk sedikit.
Apa serigala hitam ini bisa mengerti apa yang aku bicarakan? Tapi lagi, saat kejadian waktu itu bersama Ingruth si iblis jahat di tengah hutan, mereka semua bisa mengerti bahasa manusia dengan mudah.
Lalu aku berpikir keras. Apa Damon ada di dalam saat dalam bentuk begini? Atau serigalanya mengambil alih semuanya? Tubuh dan pikiran dan hati? Aku mengelusnya pelan. Lalu Knight menurunkan tubuhnya dan terlentang ke bawah. Aku tertawa, ikut duduk di depannya.
Knight maju dan mengistirahatkan wajahnya di atas pangkuan aku. Well, sebagian dari wajahnya sebab dia jutaan kali lebih besar dari aku. Knight mendengkur senang lagi saat aku meneruskan mengelus kepalanya halus.
“Knight?” aku berkata pelan. Telinga serigala itu bergerak seperti mendengar apa yang aku katakan. Kemudian entah kenapa, aku membiarkan bibir aku bergerak sendirinya. “Do you think Damon is really in love with me?”