42
AKU TIDAK PERNAH punya konversasi tentang laki – laki bersama Mama. Jujur, ibu yang sudah punya beberapa anak itu tidak pernah satu kali pun bertanya padaku perihal hubungan yang pernah aku jalin, atau sekedar rasa suka terhadap lawan jenis.
Baginya, aku akan selalu menjadi gadis kecil yang tak paham artinya rasa suka terhadap kaum Adam. Jangan tanyakan lagi Papa, ayah yang mungkin sudah mencapai setengah abad itu. Baginya, aku adalah bayi. Lebih parah dari Mama yang masih memperlakukan aku seperti aku ini tidak bisa hidup sendiri di dunia. Jadi, tentu saja aku kurang pengalaman.
Kurang pengalaman dalam artian aku memang tidak punya pengalaman apa pun tentang hal semacam ini. Jangankan suka pada seorang pria, aku bahkan tidak punya waktu untuk tertarik pada kaum Adam.
Maksud aku, tentu saja aku punya beberapa crush sepanjang aku tumbuh menjadi dewasa, aku rasa semua orang pasti pernah mengalami itu, tidak pernah tidak. Tapi itu semua hanya sebatas rasa kagum saja. Hanya sebatas rasa suka yang tumbuh sebab di mata aku, orang itu sangat tampan atau sangat keren. Segala sesuatunya tidak pernah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih.
Dan memang pada dasarnya, aku sendiri tidak pernah mau ada yang lebih. Aku tidak menganggap sesuatu yang seperti itu penting. Bagi aku, yang selalu memikirkan apa menu makan siang, dan setelah selesai mulai bingung dengan menu makan malam, rasa suka pada laki – laki hanya hal yang rumit dan membuat hidup susah. Hidup sudah susah, untuk apa ditambah rumit lagi? Begitu yang sering aku katakan.
Karena jujur saja, dari pengalaman yang aku lihat di teman – teman gadisku, mereka selalu berakhir dengan patah hati atau rasa sedih karena cinta mereka tidak terbalaskan. So? Menurut aku, itu hanya buang – buang waktu saja.
Jadi bayangkan apa yang aku lakukan saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir Damon Hawkwolf?
Memangnya dia pikir aku akan bereaksi seperti apa? Aku bahkan tidak pernah mendengar I love you dari Mama.
Aku hanya bisa mematung.
Dan berharap aku tidak terlihat bodoh.
I love you.
Apa yang sudah terjadi pada duniaku?
***
AKU TAHU MOMEN SEMACAM INI. Aku tidak benar – benar buta dan cupu. Setidaknya, aku sering membaca buku dan melihat adegan film tentang momen seperti ini. Menyatakan cinta? Pft . . . aku sudah menyaksikannya seumur hidup aku.
Siapa yang pikir kalau akan ada laki – laki yang bisa melakukan itu pada aku?
Aneh.
Justru di negeri yang jauh, sangat jauh—dan by the way terasa seperti terletak di ujung dunia mengingat New Cresthill itu terpencil parah—aku baru menemukan laki – laki yang sudi melihat aku apa adanya.
Panggil aku berlebihan, tapi sungguh, selama aku hidup tidak pernah ada pria yang pernah memperlihatkan kalau dia tertarik padaku.
Siapa juga yang mau mendekati gadis kutu buku yang hidupnya hanya tahu tentang buku, buku, dan buku lagi?
Damon Hawkwolf.
Sangat tidak membantu dengan fakta kalau Damon Hawkwolf itu semacam laki – laki idaman di kota ini. Baiklah, dia dingin, moody, dan wajahnya hampir setiap waktu terlihat seperti akan membunuh.
Tapi siapa yang bisa mengelak kalau Damon itu laki – laki yang menarik?
Dengan iras bak paragon dari eden semacam itu, walau pun persona dia panas dan parah laiknya iblis dari inferno sekali pun, pasti tetap akan ada sebarisan gadis yang menunggu agar bisa di lihat olehnya.
Tidak ada yang bisa mengabaikan fakta itu.
Lagi pula, semua laki – laki di Hawkwolf bersaudara itu atraktif. Entah jika fakta itu sebab mereka adalah makhluk supernatural, dan manusia serigala pula, atau memang mereka punya keturunan yang bagus.
Dan itu membawa aku pada pertanyaan selanjutnya, di mana orangtua mereka?
Mungkin ini bukan yang waktu untuk menanyakan keberadaan ayah dan ibu ketika anak laki – laki mereka sedang menyatakan perasaan padamu, ‘kan?
Sungguh, aku kehilangan kata – kata.
Masa bodoh dengan pengalaman membaca dari buku dan melihat adegan di film. Setelah aku bisa menafsirkan premis dan sadar dari posisi stagnan, sekarang aku tahu kalau dinyatakan cinta itu laiknya terjun head first dari atas jurang ke bawah ombak yang marah.
Aku tidak bisa melakukan apa – apa.
Kalimat Damon terus – menerus mendengung di rungu, menjadi satu dengan memori dan benak. Nyatanya, aku ini memang payah dalam masalah percintaan dan segala macam.
Aku Saoirse Lee, gadis yang bahkan tidak pernah memegang tangan pria sebelum bertemu dengan Damon Hawkwolf.
“Maybe this is the time for you to say something?” Damon membuat aku sadar dari lamunan. Aku nyaris tersedak saliva sendiri sebab terkejut. Damon menggeleng dan menahan senyum. “Iya, aku yakin ini saatnya kau mengatakan sesuatu, Shay.”
“Er . . .” Aku meringis saat aku terdengar bodoh. “Apa yang harus aku katakan?”
Mungkin saat ini semua sudah selesai aku akan merasa tersinggung mendengar tawa Damon yang keluar dengan keras. Mungkin setelah ini semua sudah selesai aku akan sadar dan membalas Damon yang menertawakan aku.
Tapi saat ini aku terlalu bingung untuk memberikan reaksi.
Apa dia serius, atau dia bercanda?
“Shay, you’re so clueless,” Damon berdecak. Dia mengacau surai dengan satu tangan, menyebabkan bahu laki – laki itu dan aku bersentuhan.
Di momen itu, segalanya berjalan lagi. Aku bisa mendengar deras air, dersik angin, bahkan kicau burung di atas kami. Segalanya kembali normal, tapi satu hal yang masih malfungsi. Degup hati aku.
Akan terlihat bodoh jika aku terkena serangan jantung di sini, ‘kan?
Bodoh dan payah. Dan yah, itu memang aku. Si gadis bodoh dan payah. Bagaimana bisa ‘sih aku berakhir menjadi pasangan jiwa laki – laki semacam Damon Hawkwolf?
“Shay, aku hanya ingin kau tahu. Itu saja,” Damon menarik napas panjang. “Aku tidak butuh jawaban atau semacamnya. Jika kau belum siap, well . . . apa yang bisa aku lakukan?”
“Jika aku belum siap?” tanya aku bingung.
“Jika kau belum siap untuk mengatakannya balik,” Damon menjawab santai.
Alis aku terangkat secara otomatis. Apa dia serius? Dari mimik wajahnya yang kelewat percaya diri, aku tahu dia serius. Damon Hawkwolf si pria yang kelewat konfidens. Sungguh, jika dia tidak tampan, aku akan menenggelamkan dia di dalam danau air terjun.
Yah, bukannya aku bisa juga, ‘sih.
“Dan apa yang membuatmu percaya kalau aku akan mengatakannya balik?” balas aku sengit.
Damon—ya, sial, dia memang terlihat percaya diri. “It’s only a matter of time,” laki – laki itu mengedikkan bahu. “Kau akan mengatakan aku cinta padamu kembali padaku dalam waktu yang singkat.”
“Kau terlihat terlalu percaya diri.”
“Itu karena aku tahu.”
“Tahu apa?”
“That you love me back,” Damon bisa - bisa terkekeh. “Aku tidak harus mendengarnya sekarang tapi aku akan mendengarnya.”
“Bagaiana kalau bukan itu yang akan aku katakan?” Sungguh, aku hanya tidak suka melihatnya merasa sengak dan menang.
Jujur? Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
Apa aku mencintai dia juga? Entah. Yang jelas, aku sudah mulai merasakan sesuatu untuk laki – laki ini. Sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Dan aku tidak yakin apa arti rasa itu.
Sudah aku bilang aku ini bodoh dan payah.
Dan sangat, sangat, sangat bukan lawannnya Damon yang sudah punya pengalaman. Tunggu dulu . . .
“Kau seumuran denganku, ‘kan?” tanya aku tiba – tiba. Rasa penasaran itu mendadak timbul di hati dengan asumsi yang bodoh. Aku menelan ludah saat Damon menatap aku intens seperti aku baru saja tahu rahasia dia yang paling dalam dan paling gelap.
Oh, no . . .
“Aku minta maaf,” Damon menunduk. “Aku . . . ah, mungkin ini waktu yang tepat untuk bilang kalau aku berusia, er, sekitar lima ratus tahun?”
Mata aku membulat sublim. d**a aku bergerak turun dan naik secara eksesif. Tangan aku menutup mulut yang terbuka. “Lima ratus tahun?!” jeritku keras. Aku berseru begitu kencang hingga suara aku meresonasi ke dinding gua di dalam air terjun.
Damon mengangguk lesu.
Aku hanya bisa duduk lemas dan heran. Lima ratus tahun?
“Apa kau . . . kau immortal?” tanya aku histeris.
Damon tidak langsung menjawab. Aku menanti dengan hati yang mencelus karena, sungguh, aku tidak tahu harus melakukan apa jika laki – laki di samping aku ini serius berusia lima ratus tahun.
Itu lebih dari lima kali hidup aku sekarang.
Itu sangat . . . absurd. Aku tidak bisa menerima informasi ini. Siapa yang bakal mengira aku akan bertemu dengan orang yang immortal—
Bahu Damon berguncang. Aku mengerutkan kening melihatnya menutup mulut dan bergetar hebat. Baru setelah beberap sekon aku mendengar suaranya. Suara tawa.
Oh, serius. Setelah semua ini selesai, aku benar – benar akan membalasnya untuk ini.
“Kau . . .” Damon terbatuk, tertawa, wajahnya memerah. “Kau sungguh – sungguh percaya kalau aku ini lima ratus tahun?”
Aku tidak menjawab, hanya merenyuk seperti bocah berusia lima tahun. Terkutuklah laki – laki ini.
“Oh my God, Shay. That was hilarious,” Damon bertepuk tangan. Bunyinya lagi – lagi meresonasi ke seluruh arah. “Aku tidak percaya kau percaya itu.”
“Apa yang harus aku lakukan ketika aku tahu kalau ada iblis jahat?” balas aku sengit. “Dan iblis yang menargetkan aku pula.”
Kalimat itu membuat Damon tersadar dan terdiam. Bagus. Kali ini aku tidak menyesal sudah mengatakan itu. Laki – laki di samping aku berdeham.
“Iya, aku seumuran denganmu. Manusia serigala itu tidak immortal, Shay.” Damon menjawab setelah sejemang berlalu. Dia menoleh padaku. “Kita sama seperti manusia biasa.”
Entah kenapa rasanya dia menargetkan kalimat itu untuk aku.
“Jadi, kau dan aku, kita bisa kembali normal?” tanya aku akhirnya. “Kau masih marah padaku?”
“Aku tidak pernah marah,” jawab Damon.
“Oh . . . baiklah.” Aku tersenyum tipis. “Baiklah.”
“Setidaknya kencan kemarin sedikit indah ‘kan walau berakhir seperti itu?”
“Sedikit?” seru aku kencang, “Sangat indah!”
Damon ikut tersenyum lagi. Lalu dia bersandar ke belakang dengan tumpuan dua tangan. Wajahnya menerima sinar dan hangat matahari. Aku terpesona dengan panorama itu. “Baiklah.”
Kami berdua duduk bersampingan seperti itu dalam diam. Pada dasarnya, kau tidak perlu mengatakan apa – apa dengan orang yang membuatmu nyaman. Sangat nyaman malah. Walau pun selama berjam – jam atau lebih berdua saja, merasakan presensi satu sama lain dalam keheningan, kau tidak akan pernah bosan.
Itu yang terjadi antara aku dan Damon saat itu.
Sampai akhirnya dia membuka mulut lagi. “Jadi, mau berkencan dengan aku lagi?”
***
Saat aku kembali, Cordelia Smith masih duduk di atas tempat tidur aku di kamar. Aku tersenyum tipis padanya yang tidur menyamping dan bertumpu satu tangan. Cordelia itu memang gadis yang sangat cantik. Kadang, aku merasa iri dengan wajahnya yang ayu. Saat aku melihat kaca dan merasa seperti aku tidak begitu menarik.
Hunter adalah laki – laki yang beruntung.
“Kau masih di sini?” tanya aku sembari ikut berbaring di sampingnya.
Cordelia secara otomatis bermain dengan surai aku lembut. Hal itu membuat aku tiba – tiba rindu dengan Mama di rumah. Gadis cantik itu mengumbang. “Masih.”
“Ke mana Hunter? Biasanya kalian tidak pernah terpisah.”
“Sedang berlari,” kata Cordelia. “Mereka sering melakukan itu. Untuk melepas penat katanya. Kata Talon ‘sih karena memang ingin sekali – kali bebas saja berlarian.”
“Dalam bentuk serigala?” tanya aku.
Cordelia mengangguk.
“Hey, Cordelia?” gadis itu mengumbang lagi. “Bagaimana perasaan kamu saat pertama kali tahu tentang Hunter?”
“Kalau aku pasangan jiwanya?”
“Dan ketika kau tahu kalau dia juga . . . manusia serigala.” Aku menatap atap kamar tidur. “Pasti mengejutkan, ‘kan?”
“Er . . . Shay?” aku menoleh padanya. “Ini mungkin waktu yang tepat untuk mengatakan kalau Ibu aku juga . . . seorang manusa serigala, ya?”
Aku terbangun dari posisi tidur. Cordelia meringis dan ikut bangun. Dalam satu kata jelaskan, Cordelia menceritakan segalanya. Semua cerita yang layak di gunakan sebagai seluruh plot satu buku fantasi epik. Begitu dia selesai, aku hanya bisa menganga.
“Jadi begitulah,” Cordelia menghempaskan tubuh ke atas kasur. “Aku dan hidup aku yang menarik.”
“Wow.”
“Iya, aku tahu.”
“Apa menurutmu ini semua memang takdir?” tanya aku pelan. Aku ikut berbaring lagi. Bersama – sama, kami menatap atap kamar tidur secara seksama. Dua gadis yang secara tiba – tiba harus memasuki sebuah kehidupan yang asing dan aneh.
“Takdir itu memangs sesuatu yang tidak bisa kita prediksi,” jawab Cordelia Smith. “Aku tidak tahu apa ini takdir atau tidak, atau kah ini semua memang hanya sebuah kebetulan yang membawa kita pada kehidupan Hawkwolf. Tapi kau tahu apa? Aku tdiak akan menukarnya dengan apa pun.”
Aku biarkan jawaban Cordelia itu masuk ke dalam hati. Aku tidak akan menukarnya dengan apa pun. Lantas, apa aku sudah siap menerima semua ini? Menjadi target seorang iblis? Dan siapa yang bisa menjamin setelah kami berhasil menghabiskan Ingruth si iblis jahat, tidak akan ada lagi musuh – musuh lain yang menargetkan kita?
Aku menyesap oksigen seperti gadis rakus.
Bersama dengan Damon Hawkwolf itu sama saja hidup berdampingan dengan bahaya.
Tapi ketika aku menoleh dan melihat Cordelia tersenyum lebar dan tulus, aku hanya bisa terdiam saat dia melanjutkan, “And maybe, maybe, we enter the Hawkwolf life, because it is our fate.”