PART 41

2188 Kata
41 “SAOIRSE LEE, ke mana kau akan pergi?” teriak Talon saat dia melihat aku keluar dari pintu geser halaman belakang rumah besar Hawkwolf itu. Biasanya, mereka akan hang out di tempat ini sembari melakukan banyak latihan. Aku sering melihat para saudara Hawkwolf melatih orang – orang yang masih belum bisa fasih dalam berbicara dengan inner serigala mereka (begitulah yang dikatakan oleh Damon suatu hari oke) dan terkadang aku melihat mereka melatih anak – anak kecil yang belum terlalu mahir dalam berubah ke bentuk serigala mereka sendiri. Aku keluar dari pintu dan dua bola mata aku segera mencari figur familiar yang belakangan selalu menghantui benak aku setiap detik, menit, dan jam, seperti ada yang menaruh mantra di dalam kepala aku dan mengatakan kalau memikirkan Damon dua puluh empat jam adalah hal yang bagus. Aku menoleh ke kanan dan kiri, tapi tidak mendapati Damon Hawkwolf di mana pun. Raga aku langsung menghampiri Talon yang sedang berdiri di antara beberapa serigala kecil yang bertingkah seperti anak anjing menggemaskan. Aku tersenyum tipis saat salah satu dari mereka mendongak dan menatap aku lekat. Aku menahan diri agar tidak mengulurkan tangan dan mengelus bulunya sebab aku tidak tahu apakah itu akan terlihat tidak sopan atau tidak. Aku menarik lengan Talon agar dia mendekat. “Apa yang kau butuhkan?” tanya pria itu lagi. Aku mendekat dan berbisik, “Kau tahu di mana Damon?” “Kau tahu kan semua orang bisa mendengar suara kamu bahkan jika kau berbisik begitu?” Talon menaikkan alisnya. “Aku tidak tahu, tapi terakhir kali aku lihat dia masuk ke hutan. Mungkin ke air terjun sana, atau entah. Kau boleh mencarinya. Kita sudah menjelajahi hutan beberapa saat yang lalu dan sepertinya area di sekitar sini aman.” Aku mengangguk dan memukul pelan bahu Talon. “Thanks.” “Kau akan memberitahu aku ada apa?” Aku hanya berlari dan berteriak, “Aku hanya ingin mencari Damon. Itu saja!” Ya, dan memperbaiki semua ini. *** AKU MASIH BISA ingat dengan jelas apa yang di katakan oleh Ingruth si Iblis jahat itu. Iblis yang secara tidak langsung menaruh target pada aku, hanya karena aku ini . . . pasangan jiwa Damon Hawkwolf. Bagaimana tidak? Bagaimana bisa aku melupakan kejadian itu ketika aku masih bisa ingat dengan jelas, sublim, mutlak menjadi memori yang menempel padat serta mengerikan di sel serebrum, terntang kekuatan Ingruth yang kapabel merusak semua sistem di tubuh aku. Panggil aku berlebihan, tapi itu memang nyata. Pada dasarnya, aku tahu kalau Ingruth itu memang iblis. Aku tahu ini semacam cerita fantasi yang kelewatan. New Cresthill punya histori yang aneh, dan di tempati oleh makhluk – makhluk yang seharusnya hanya ada di buku cerita saja. Tapi apa aku akan menebak kalau Ingruth punya kekuatan yang merusak? Aku bisa ingat momen ketika Orion melangkah dari belakang. Manuver yang membuat Ingruth si iblis jahat melepaskan amarahnya. Masih membekas di dalam memori dan hati laiknya benalu, sebuah parasit mematikan di otak saat aku masih berdiri, dan satu detik kemudian jatuh ke bawah dengan sakit yang sanggup membutakan mata. Dua mata. Segalanya terasa seperti aku baru saja ditusuk oleh ribuan jarum yang panjang. Tumpul. Pedih dan sakit. Dan sungguh, rasa itu membuat aku tidak bisa melakukan apa – apa selain berteriak miris. Aku berteriak. Sejadi – jadinya. Kepala aku nyaris pecah. Semua tulang di tubuh aku terasa seakan diremuk tanpa belas kasih. Tapi satu detik begitu mereka semua terdiam dan mengambil satu langkah menjauh dari Ingruth, rasa sakit itu hilang. Memang benar. Rasa sakit itu kapabel melumpuhkan segalanya. Termasuk jiwa. Terbukti dari aku yang masih tidak bisa melupakan semua kejadian itu, walau nyaris dua minggu mau berlalu. Dan kini, aku tahu ceritanya. Aku tahu kenapa ada masalah di antara Ingruth si iblis jahat dan Damon Hawkwolf si manusia serigala yang tak kuasa. Ada histori antara mereka. Seorang gadis yang terlibat di tengah kesombongan kekuatan dan kejahatan yang buta. Tentang seorang manusia yang harus kehilangan hidupnya sebab dua makhluk yang merasa mereka paling hebat dari satu sama lain. Damon mungkin tidak sepenuhnya salah, tapi dia ikut andil. Dan memangnya laki – laki itu tidak tahu? Dia tahu. Maka dari itu dia tersakiti. Damon bukan dingin. Dia bukan sengak. Dia bukan bertingkah seperti itu karena dia tahu dia yan paling hebat di muka bumi ini. Laki – laki itu bukan membenci semua penduduk New Cresthill dan merendahkan mereka. Tidak. Sekarang aku tahu ada cerita di balik itu semua. Ada seorang gadis yang mencuri hatinya, lalu tidak mengembalikan fragmen penting itu padanya. Dia membawa hati aku jauh ke tempat yang tidak bisa di raih oleh Damon. Mutlak. Damon tidak akan pernah bisa mendapatkan hatinya lagi. Sampai akhirnya kau datang. Cordelia itu terlalu pintar untuk dirinya sendiri. Dan, yah, untuk Hunter Hawkwolf juga. Wanodya cantik dan luar biasa itu menuturkan satu kata yang tidak di katakan oleh semua orang. Damon Hawkwolf hancur, kehilangan hatinya, sampai akhirnya Saorse Lee datang dan membuat hati yang sudah mati itu berdegup lagi. Kencang. Sublim. Dengan persisi handal dan di campur kehangatan abadi. You’re my mate, kata Damon. Aku pasangan jiwa dia. Lantas, apa lagi yang sanggup mengembalikan hati yang sudah mati kecuali jiwa yang hilang? Aku memompa tungkai kaki dengan cepat. There is the need again. Kebutuhan. Keharusan. Sebuah dorongan kalau aku harus bertemu Damon. Aku harus berada di dekat laki – laki itu. Aku harus menutup jarak kita. Sungguh. Aku tahu jauh di lubuk hati tidak mungkin ini semua hanya lelucon bodoh atau mimpi. Ini nyata. Dan aku tahu, aku memang jiwa yang hilang itu. Aku yang mengembalikan hati yang tidak berdegup itu. And I need to see Damon Hawkwolf to let him know. *** Aku tidak menyangka akan menemukan Damon di air terjun tempat favorit aku di seluruh hutan New Cresthiil. Dulu, saat aku pertama kali bertemu dan berteman dengan Talon, Archer, dan Orion, kami ber – empat datang ke tempat ini dan secara resmi menjadikan air terjun cantik itu hal paling berharga di hidup aku. Panggil aku berlebihan. Namun jika kalian sendiri yang melihat betapa cantiknya si air terjun, maka kalian akan mengerti. Tidak ada kata – kata yang cukup pantas untuk menggambarkan keindahannya. Dengan air yang deras, pohon – pohon di sekitar, kerling sinar ultra violet yang cantik dari balik kumpulan kolosal kapas di atas langit. Tempat ini seperti negeri dongen yang menjadi nyata. Dan seorang pangeran galau di tengah bebatuan besar di depan air terjun. Aku tahu laki – laki itu menyadari kedatangan aku. Tidak mungkin tidak. Suatu hari ketika aku akan mengantarkan jaket yang pernah di pinjamkan untuk aku ke kamar tidurnya, laki – laki itu sudah lebih dulu menyapa aku saat aku baru akan mengetuk pintu yang sudah terbuka. Dan dia sedang bediri menghadap keluar di balkoni. Kekuatan pendengaran yang super. Sungguh, aku benar – benar masuk ke dalam buku fantasi yang epik. Jadi, tidak semestinya aku menyapa. Namun saat aku berhenti tidak jauh dari dia, dan laki – laki itu masih diam, mau tidak mau aku membuka mulut. “Damon.” Bibir aku terasa hambar. Tenggorokan kering. Tangan keringatan. Aku benci ini. Aku tidak suka ini. Kebutuhan itu membutuhkan kehangatan Damon. Aku tidak suka dia yang diam dan tidak mengarahkan atensi padaku. Damon itu semestinya menatap aku lembut. Saat situasi menjadi canggung, aku mencoba lagi. “Damon.” Akhirnya pria itu mengangkat kepalanya. Dia menoleh sedikit ke belakang, namun korteks visual itu seperti sedang memandang sesuatu yang jauh. Tidak fokus. Tidak terarah padaku seorang. Dia tidak menjawab. Hanya manuver kepala itu yang menjadi respon dia. Aku menelan ludah. Dengan ragu aku semakin mendekat hingga berdiri tepat di samping dia yang duduk di batu paling besar. Dari sini, aku bisa merasakan percikan dan lemaparan air dari air terjun yang jatuh ke bawah. Suara dersak air dan ributnya angin mengisi keheningan kami. Aku ikut duduk di sebelah laki – laki itu. “Damon.” “Ada yang ingin kau katakan?” tanya Damon. Aku tidak suka ini. Bukankah itu semestinya kalimat aku? Dia yang selalu datang mengganggu aku. Dia yang selalu mencari aku di mana dan memanggil nama aku. Aku ingin dia menyebut Saoirse. Aku ingin dia menyebut Shay. Apa saja. I want him to say Mate. My mate. “Er . . . aku ingin bicara.” Bagus. Itu terdengar bodoh. Belum lagi suara aku yang kecil dan lirih. Untung saja laki – laki ini punya kekuatan pendengaran yang super. Kalau tidak, mungkin dia tidak akan bisa mendengar aku di balik gemuruh air terjun. Damon menghadap ke depan lagi, menatap danau kecil di bawahnya. “So talk. Bukankah sedari tadi kau sudah bicara?” “Apa kau harus sedatar itu?” sergahku. Aku meringis sendiri. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk terdengar pahit, tapi Damon ini sedikit berlebihan, ‘kan? Apa dia sangat marah? Apa dia sangat kecewa mendengar apa yang aku katakan? “Dua, aku tidak pernah meminta untuk menjadi pasangan jiwa, Damon!” Di momen yang tidak terkendali, jujur, aku menyesal sudah mengatakan itu. Jadi, dengan niat yang bulat dan pasti, aku mengatakan apa yang aku rasakan padanya. He deserves that. “Aku menyesal,” kata aku lirih. Kepala aku menunduk ke bawah. “I’m sorry.” Damon tidak merespon. Jadi, aku berkontinyu saja semabari secara tiba – tiba merasa kalau pasir yang basah dan daun – daun yang jatuh itu sangat menarik. “Aku menyesal sudah mengatakan hal itu. Er, kau tahu apa maksud aku. Dan . . . aku juga ingin minta maaf karena usdah melukai hatimu.” Damon masih tidak mengatakan apa - apa. “Aku bilang aku minta maaf,” ulang aku sedikit frustasi. Ketika aku masih tidak mendapat balasan, akhirnya aku mengangkat kepala aku dan bersiap melabrak dia keras. Namun saat aku akan menatap laki – laki itu, aku mendapati Damon sudah memandang aku intens. Iris netra laki – laki itu fokus hanya padaku. Seperti yang aku inginkan. Sial. Sekarang aku malah menjadi nerveous tidak karuan. Mata aku mengerjap berkali – kali. Mulut berusaha menelan saliva namun tidak ada yang tertelan. Aku seperti sedang dehidrasi berat. “A—apa?” decit aku tipis. Bagus. Sangat payah. Aku datang penuh determinasi, tapi baru di tatap seperti itu saja sudah mulai keder. Mengingat aku sedang duduk di atas batu, bukan kursi di mana aku bisa menggeser tubuh menjauh, aku mencoba berdiri. Tapi Damon sudah lebih dulu menarik aku agar kembali duduk. Tapi dia masih tidak bicara. “Damon—kenapa?” aku merenyuk. “Are you giving me the silent treatment? Sungguh, aku benar – benar menyesal. Aku tulus. Aku bukan mengatakan ini hanya untuk membuatmu merasa baik. Tapi jujur, aku tidak bermaksud.” Damon mengatupkan rahang dia. Laki – laki itu meremas pergelangan tangan aku. “Aku benci ini,” ujar aku pelan. Lagi – lagi bersikap payah dengan mengalihkan pandangan dari netra yang intens dari Damon Hawkwolf. Damon menaikkan satu alis. Well . . . setidaknya itu sebuah reaksi, kan? Aku akan menerima itu. “Aku benci saat kau bersikap tidak kenal padaku,” lanjut aku lagi. Ini sebuah kemajuan. Setidaknya, sekarang aku tahu kalau Damon mendengarkan kata – kata aku. “Benci saat kau tidak menyapa aku atau mengganggu aku. I don’t like being strangers with you.” Damon meregangkan pegangan dia di pergelangan tangan aku. Cekatan jari – jarinya berubah menjadi usapan halus menggunakan ibu jari. Aku bergidik, dalam kategori yang bagus. Ibu jari itu memutar di atas pergelengan tangan aku, tepat di denyut nadi tangan. Mutlak, aku ini payah kalau soal Damon Hawkwolf. Setelah beberapa interval berlalu, beberapa detik yang penuh agoni sebab aku nyaris ingin berteriak saking frustasinya, Damon membuka mulut. Satu detik . . . dua detik . . . tiga detik . . . “I think I’m in love with you, Shay.” Hati aku berhenti berdegup. Jujur. Sungguh. Demi apa pun rasanya hati aku tidak lagi berdetak. Dan bukan hanya hati aku yang malang saja, melainkan seluruh waktu. Rasanya pohon – pohon di sekitar kami berhenti bergulir, efek dari angin yang menggoyangkan dahan. Rasanya air terjun masif itu pun berhenti, tidak bergerak turun ke bawah. Rasanya gelombang air di danau bawah membeku. Dan aku, aku si Saoirse Lee yang payah soal Damon Hawkwolf hanya kapabel menganga lebar. Mengatakan segala macam hal tentang manusia serigala dan pasangan jiwa, dan iblis yang jahat, serta sejarah bersama gadis yang meninggalkan dunia sebab iblis mengerikan itu adalah satu hal. Tapi tiba – tiba menyatakan kalau dia sedang jatuh cinta padaku, is a totally different thing! Ini sama saja Damon manjatuhkan bom yang besar di atas kepala aku. Ini sama saja Damon sedang berusaha membunuh aku secara perlahan— “I have been since I first met you. Dan mungkin itu memang karena ikatan batin kita. Mungkin itu memang efek dari fakta kalau kita pasangan jiwa. Tapi—tapi malam itu saat kau bilang kalau kau tidak memilih ini, aku sadar kalau kau benar. Dan aku akan menghancurkan hidup seorang gadis lagi. Aku mencoba untuk menjauh. Sungguh. Tapi aku tidak tahan lagi.” Damon menarik napasnya panjang. “I am in love with you, Saoirse Lee.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN