PART 40

2175 Kata
40 “SETIDAKNYA, INI tidak seburuk yang aku pikirkan, kan?” Damon membuka suara saat aku dan dia sedang merapihkan bekas kencan kami dan bergegas untuk segera pulang. Aku melirik laki – laki yang sedang memasukkan semuanya ke dalam basket yang besar dan menunggu aku selesai. Saat aku sudah sama berdiri di depannya, Damon menarik napas panjang. Rasanya aneh melihat dia seperti ini. Baru saja tidak berapa lama yang lalu aku berpikir kalau pernah tidak Damon merasa kurang percaya diri, sekarang rasanya aku sedang melihat secara langsung butki kalau memang Damon Hawkwolf itu pernah yang namanya merasa ragu pada dirinya sendiri. Pria itu berdeham saat aku hanya sibuk menatap dia dengan perasaan yang campur aduk. Elusif memang rasa di dalam hati ini. Tidak bisa diberikan penjelasan. Rasanya seperti aku ini payah dan tidak punya pendirian. Rasanya seperti aku ini bukan gadis tegas yang bisa membuat keputusan yang penting. Jadi, aku hanya diam sejemang, mencerna pertanyaan dari Damon dengan cepat. Ini tidak seburuk yang aku pikrikan, kan? Aku mencoba berpikir untuk tahu apa yang dia bicarakan, tapi nihil. Damon mengacak surainya lagi ke belakang dengan satu tangan. Pria itu bersungut saat aku tak kunjung menjawab. “Shay? Apa kau sudah kehilangan kemampuan bicara? Jawab aku.” Aku berdeham dan ikut menarik napas yang dalam. Suara deru ekhalasi kamk mengisi malam yang berubah canggung. Aku menelan ludah. “Apa yang kau bicarakan? Relevasi tadi, atau kencan ini?” tanya aku balik. Damon terlihat lega saat akhirnya aku berbicara. “Kencan ini.” Aku menggigit sisi dalam pipi sebelah kanan dan berpikir. Tentus aja aku tidak bisa berbohong padanya. Iblis jahat itu memang menjadi topik terakhir yang kita bicarakan, tapi kencan ini adalah topik yang berbeda lagi. Aku berjalan mundur dan menatap Damon lekat. “It’s the best date I ever had.” *** SETELAH KENCAN YANG BERAKHIR dengan cukup canggung itu, aku dan Damon pulang dengan pikiran yang masing – masing kacau. Mutlak, aku tidak bisa berkata apa – apa lagi untuk meladeni polemik berupa rival antara Damon Hawkwolf dan Ingruth si iblis mengerikan. Jujur, jika dikatakan aku tidak peduli, itu sangat salah. Tentu saja aku lebih dari peduli. Bagaimana pun juga, ini nyawa aku yang kita bicarakan. Yang menjadi target bukannya dia yang dulu berperilaku sengak dan kelewat percaya diri, malah aku. Aku yang berperan sebagai pasangan jiwa laki – laki itu. Miris. Memangnya dia tidak berpikir kalau orag – orang tersayang dia bisa menjadi dalam bahaya? Aku tahu aku tidak ada dulu. Damon dan aku bahkan masih jauh yang dari namanya kenal satu sama lain. Jiwa aku masih berada jauh di seberang lautan yang luas. Berada secara teknis di negeri yang berbeda. Damon sendiri memiliki pasangan yang lain. Pasangan yang by the way, harus meninggalkan bumi dengan cara yang mengenaskan . . . ah sudahlah, aku tidak akan berhenti jika memikirkan hal itu lagi. Yang aku tahu hanya sebanyak apa pun aku mencoba untuk mengerti semua ini, aku tidak akan pernah bsia. Rasanya otak aku tidak bisa menampung semua informasi menjadi satu. Atau aku memang kelewat bodoh. Nyatanya, Damon Hawkwolf itu hanya mengatakan satu hal. Aku ini sekarang menjadi target iblis jahat yang mau menghabisi aku gara – gara dia tidak suka padanya. Lantas, aku bisa apa? Protes? Lalu apa yang bisa di hasilkan dari protes? Semalam, kami berdua pulang di dalam mobil yang hening. Sangat hening. Hanya ada deru kendaraan mesin mobil yang terdengar, dan samar, hara – huru di kota New Cresthill. Tapi begitu kami masuk ke dalam jalanan sepi yang di apit oleh hutan gelap di dua sisi, satu – satunya jalan menuju rumah besar keluarga Hawkwolf, baru aku mulai merasa keheningan itu mencekik leher. Tidak bisa diam, aku akhirnya membuka mulut. “Jadi, apa aku harus mulai berhati – hati sekarang?” Damon mengatupkan rahang, sesuatu yang selalu dia lakukan setiap dia merasa marah. Aku memalingkan wajah darinya dan menatap jendela. Hal yang sia – sia, ‘sih. Sebab sungguh, apa yang bisa di lihat dari hutan yang gelap? Bisa menafsirkna bentuk dahan dan ranting pohon masif saja sudah bagus. Aku menunggu jawaban dari Damon, namun setelah beberapa menit berlalu dan dia masih belum membuka mulut, aku akhirnya menoleh padanya. Jemari dia mencengkeram kemudi setir hingga buku – buku jari itu memutih. Jika aku tidak kenal siapa Damon Hawkwolf dan tahu kalau laki – laki itu tidak akan melukai aku, maka aku akan merasa takut. Damon terlihat sungguh menakutkan jika sedang frustasi. “Well?” “Oh, kau bicara denganku?” Damon menengok tipis ke arah aku tanpa memutus lini pandang dia di jalan depan. Bagus, ‘sih. Aku akan merasa sangat tidak aman jika dia berani menoleh dan tidak fokus pada jalan yang hanya di sinari oleh lampu mobil. Sungguh, siapa ‘sih yang menciptakan kota New Cresthill ini? Ah, iya. Nenek moyang Damon sendiri salah satu penemunya. Apa keluarga Hawkwolf tidak mampu memberikan lampu jalan? Aku rasa pasti bisa mengingat kekayaan dan rumah besar mereka. Tunggu dulu, bagaimana bisa Damon dan keluarganya kaya raya, ya? Aku tidak pernah melihat satu pun dari mereka kerja. Dan er . . . aku tidak pernah melihat orang tua mereka. “Apa maksudnya?” tanya aku heran. “Aku pikir kau sedang berbicara dengan jendela,” Damon menunjuk ke samping. Aku tahu dia sedang sedikit frustasi sekarang, tapi bukan kah aku yang seharusnya bersikap mengesalkan? Hidup aku yang sedang dalam bahaya. Tawa tipis tanpa humor aku keluarkan. Jika dia tidak bisa melihat kalau aku sedang sarkas juga, maka itu salah dia sendiri. “Oh, iya. Tentu saja. Lagi pula, berbicara dengan jendela sama saja dengan berbicara padamu. Sama – sama susah mendapatkan jawaban.” “Kau menyamakan aku dengan jendela? Serius?” Damon mengeratkan pegangannya di kemudi setir. Aku berdecak pelan. “Lupakan saja.” “Iya, Shay. Kau harus berhati – hati. Tapi terlepas dari Ingruth atau tidak, menjadi target atau tidak, kau harus tetap berhati – hati. Itu adalah kebutuhan nomor satu manusia.” “Kebutuhan nomor satu manusia, atau kebutuhan nomor satu menjadi pasangan jiwa seorang Damon Hawkwolf?” “Bukan hanya aku saja,” Damon menggeleng. “Tapi kebutuhan nomor satu menjadi pasangan jiwa manusia serigala.” Napasku terberai keras. “Yang benar saja.” Damon mengerutkan kening dan menatap aku sekilas. Tapi dari pandangan singkat itu, aku bisa melihat jutaan emosi di dalam sorot netra laki – laki itu. Marah. Emosi. Kesal dan frustasi. Intinya, bukan hal yang baru karena Damon itu selalu dua puluh empat jam merasakan emosi tersebut. Pria itu menyeka bagian dalam mulutnya dengan lidah. “Yang benar saja? Sekarang aku yang akan bertanya, apa maksudnya itu?” “Aku harus berhati – hati karena aku adalah pasangan jiwa seorang manusia serigala,” jawabku cepat. “Satu, aku bahkan masih belum bisa mencerna semua informasi tentang makhluk supernatural dan segala macamnya ini.” “Dan dua?” “Dua, aku tidak pernah meminta untuk menjadi pasangan jiwa, Damon!” Laki – laki itu seperti menyesap oksigen keras. Terkejut. Damon terkejut? Bagus, Saoirse. Dua kali kau melontarkan kalimat yang mungkin kapabel menyakiti laki – laki itu. Dalam satu malam. Dan di hari kencan kalian pula. Mungkin ini alasan kenapa kau tidak pernah punya pasangan sebelumnya. Because you will only hurt him by your stupid words. Belum juga aku sempat menjelaskan, Damon sudah lebih dulu membalas dengan mimik wajah yang elusif. “Yeah well . . . aku juga tidak pernah meminta untuk menjadi pasangan jiwa kamu.” *** Sial. Itu lebih sakit dari yang aku duga. Aku pikir aku tidak akan pernah bisa merasa sakit hati yang cukup besar. Namun setelah satu hari berlalu pun, aku masih mengingat dengan jelas apa yang Damon katakan padaku malam itu. “Yeah well . . . aku juga tidak pernah meminta untuk menjadi pasangan jiwa kamu.” Lantas, kenapa juga aku harus merasa sakit hati? Kenapa juga pada momen itu, aku harus merasakan hati yang mencelus bagaikan baru saja di terkam oleh harimau besar? Aku ini payah. Jujur. Payah sebab di saat seharusnya aku yang merasa di atas angin—maksudku, bukankah mestinya aku yang menelak Damon dalam sentens keren dan kapabel merusak hatinya? Dan sekarang, malah aku yang di buat belingsatan sebab kalimat macam begitu. Aku juga tidak meminta . . . huh. Dia pikir dia siapa? Atmosfer di dalam rumah besar milih keluarga Hawkwolf otomatis mengikuti suasana hati kita berdua. Seperti rumah itu punya panel yang menunjuk apa hati aku ini sedang good mood, atau bad mood, satu rumah serasa mencekam dan canggung. Apa lagi Damon sangat tidak membantu sebab pria itu jelas – jelas menghindari aku. Sungguh, dia bahkan tidak mencoba menyembunyikan kalau dia sedang tidak ingin bicara padaku. Yah, aku juga bisa di salahkan ‘sih, sebab tadi malam saat Owen bertanya, “How did the date goes?” dengan senyum penuh arti yang berarti dia tahu mengenai kejutan indah Damon, aku malah melotot ke arahnya. “Tanya saja sendiri pada saudara-mu!” Mungkin membentak manusia serigala yang bisa berubah menjadi makhluk lima kali lebih besar dari kamu adalah manuver yang salah. Tapi jelas, aku tidak peduli saat itu. Owen meringis dan memilih untuk menjauh secara perlahan dari aku. Yang paling aku benci adalah, walau pun kencan itu berakhir dengan miris, tapi itu adalah kencan paling terbaik yang pernah aku punya. Well . . . satu – satunya kencan yang pernah aku alami, tapi itu bukan masalahnya sekarang. Masalahnya adalah aku tidak bisa melupakan rasa tubuh kami saling mendekap mesra, suara kembang api yang menunjukkan sesuatu khusus untuk aku, dan piknik di tengah malam bersama bintang – bintang cantik. Siapa yang bilang Damon itu dingin dan tidak kapabel ber-emosi? Diam – diam, Damon Hawkwolf itu romantik dan sedikit manis. “Ada apa yang terjadi dengan kalian?” Cordelia tiba – tiba muncul di ambang pintu kamar aku. Ah, ya, satu lagi. Walau pun rumah ini sebesar istana kerajaan, aku baru sadar kalau tidak ada yang namanya privasi di sini. Semua orang bisa dengan mudah masuk ke dalam kamar kamu tanpa bisa di ketahui. Hawkwolf sekeluarga itu semacam ninja, ya? Aku melotot ke arah Cordelia sebab merasa terkejut. “Bisa tidak lain kali mengetuk pintu dulu?” “Sudah mau hampir dua hari dua malam kalian bertingkah seperti tom and jerry. Seharusnya orang yang baru pulang kencan itu bahagia, ‘kan?” Cordelia memilih untuk tidak menghiraukan apa yang aku katakan. “Apa semua orang tahu aku pergi kencan dengan dia?” “Jika tidak dihentikan oleh Hunter, mungkin satu New Cresthill akan tahu,” kata Cordelia. Gadis cantik itu masuk ke dalam kamar tidur aku tanpa di undang. Lalu dia duduk di samping aku di atas tempat tidur. “Apa yang terjadi?” “Kenapa tidak tanya Damon saja?” Baiklah. Aku harus berhenti mengatakan itu. Cordelia mengerang. “Mana bisa? Dia mengeluarkan api setiap kali ada yang mencoba mendekat dengannya.” “Dia bisa mengelurkan api?” seru aku keras. “Tidak secara harafiah, Shay.” Cordelia memutar dua bola matanya. Gestur itu mengingatkan aku pada Nyonya Smith yang sering memarahi aku kalau melewatkan sarapan. “Menurut Hunter, dia sedang self – healing.” “Self – healing?” seru aku lagi. “Seharusnya aku yang self – healing!:” “Apa ‘sih yang terjadi?” Aku menggigit bibir agar tidak secara otomatis merocos berantakan. Cordelia memang tidak mungkin melakukan hal yang tidak – tidak, seperti misalnya membeberkan perasaan aku pada Damon sendiri. Tapi aku tidak tahu sampai mana masalah ini menjadi konsumsi publik. “Apa kau tahu tentang gadis terakhir yang dekat dengan Damon?” Cordelia membeku. Sejemang, aku menatap dia yang melumat bibir. Oh. Iya. Dia tahu. Aku tahu dia tahu. Jadi aku menaikkan satu alis yang menyebabkan si gadis cantik menghembuskan napas berat dan menjatuhkan diri di atas kasur seperti ratu drama. “Mungkin.” “Hanya ada jawaban iya dan tidak, Cordelia. Aku tidak terima mungkin.” “Dengar, jika diatanya apa aku tahu atau tidak, iya. Aku tahu. Tentu saja aku tahu. Aku sudah tinggal di rumah ini sekitar satu tahun. Tapi apa aku tahu secara detail mengenai kejadian itu? Tidak.” “Hunter tidak pernah cerita?” Cordelia menggeleng. “Itu sudah terjadi jauh sebelum mereka kenal kita, Shay. Hunter hanya pernah bilang secara singkat tentang apa yang menyebabkan Damon menjadi seperti itu. Setidaknya, sampai kau datang.” Aku terpaku di tempat. Ponsel yang aku pegang menjadi tidak penting. Itu hanya berarti satu hal. Damon tadi malam memutuskan untuk berbagi cerita yang menyakitkan untuk aku. Dan sekaran, aku malah membuatnya merasa bersalah? Baiklah. Aku tahu komentar kecil yang dia berikan untuk aku terakhir sedikit membuat aku sakit hati. Tapi aku juga mengatakan hal yang sama padanya. Kita saling terbuai dalam rasa kesal dan frustasi. Aku bangun dari tempat dan bergerak untuk keluar kamar. “Kau tahu di mana laki – laki itu?” teriak aku pada Cordelia yang terperanjat berdiri. “Er . . . di halaman belakang seperti biasa—Shay, kau mau ke mana?” “Memperbaiki semua ini!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN