39
AKU INGAT APA yang Damon katakan saat kita menyaksikan film bersama beberapa waktu yang lalu. Aku masih ingat apa yang dia katakan, dan rasanya seperti ada satu koneksi yang membuat kepala aku pening. Aku tidak begitu ingat siapa namanya.
Apa dia gadis yang sedang dibicarakan Damon saat ini, atau gadis yang berbeda lagi. Apakah hanya ada satu gadis yang berakhir tragis bersama Damon, atau ada yang berbeda lagi?
Tapi aku menahan diri agar tidak menanyakan hal itu. Aku menahan diri agar tidak melepas inkuiri lain dari bingkai mulut yang bisa membuat aku semakin tidak tenang. Relevasi hanya bisa dilakukan dalam satu hari saja. Tidak bisa terus – menerus. Aku butuh istirahat. Aku butuh diam, dan tidak memikirkan hal apa pun kecuali sesuatu yang membuat aku senang. Aku harus terus melakukan itu supaya aku tidak cepat tua!
Sungguh, sejak kapan sih hidup aku berubah menjadi sebuah cerita unik yang tidak berhujung? Kenapa juga tiba – tiba dari plot hidup yang membosankan aku berubah menjadi seorang gadis dengan peran karakter utama yang punya plot hidup fantasi begini?
Bagaimana juga caranya aku bisa berakhir di sini, bersama dengan Damon Hawkwolf, dan takdir yang rasanya terlalu out of this world? Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu dengan sabar apa yang akan semesta lakukan padaku selanjutnya. Aku rasa aku ini hanya bahan percobaan dari sebuah naskah baru yang belum terlihat seperti apa akhirnya. A
ku menahan diri agar tidak mengerang, atau menghela napas berat. Damon. Tidak bisakah kau menceritakan segalanya tentang masa lalu kamu dan membuat aku menjadi gadis yang tenang? Aku melirik pria itu mendegus. Ya, tentu saja tidak. Bukan Damon namanya jika pria itu tidak dipenuhi oleh rahasia. Masalahnya, bagaimana cara aku membongkar segalanya?
***
AKU MENATAP DAMON secara intens. Mutlak, apa yang dia katakan kapabel membuat aku menjadi kumpulan – kumpulan rasa bingung yang parah. Ini nyata. Bukan keluar dari labium Michael, tapi dari Damon sendiri.
Seorang Hawkwolf sendiri.
“Maksudmu, iblis yang kemarin sempat menyerang aku?” tanyaku tidak percaya. Iblis yang sama dengan yang menyerang aku di hutan kemarin? Yang berusaha membawa aku lari dan mengeluarkan kekuatan anehnya itu?
Damon mengangguk. Laki – laki itu menelan ludah sebelum melanjutkan, “Entah kenapa iblis itu selalu tertarik padaku. Baginya, aku mungkin sebuah mainan yang menyenangkan.”
“Tapi pasti ada suatu alasan kenapa dia bisa begitu, ‘kan?”
Laki – laki itu tersenyum tipis. “Karena aku tidak pernah mempan dengan kekuatannya.”
“Apa yang kau katakan?” tanyak tidak mengerti.
“Kau ingat ketika aku bilang jangan mendengar suara nyanyian dia?” Damon bertanya pelan. Aku mengangguk. Suara nyanyian itu. Vokal yang membuat aku tertidur, jauh dari realita dan mengunci aku dalam kegelapan. Jika bukan karena suara Damon sendiri, aku tidak akan bisa keluar.
Laki – laki di depan aku itu menarik napas panjang. “Well . . . itu karena aku tidak bisa di hipnotis oleh nyanyian iblis itu.”
“Maksudmu, kau kebal dengan nyanyian mematikan iblis itu?” aku mengerjapkan mata padanya. Laki – laki itu hanya mengedikkan bahu bak masalah itu bukan sesuatu yang luar biasa.
Aku ingat ketika dia datang menolong aku. Dia dan Knight, serigala hitamnya. Itu menjelaskan segalanya kenapa dia bisa dengan santai melumpuhkan si iblis. Aku pikir memang tidak ada nyanyian. Tapi ternyata memang Damon tidak mempan dengan hipotis itu. Dan aku tidak sadar kalau aku sudah mendengar perangkapnya.
Damon mengangguk, tanda dia melihat ekspresi yang aku yang mulai memasang semua puzzle. Dan sekarang dia ingin apa? Aku bergidik.
“Shay, kau tidak perlu khawatir.”
“Tidak perlu khawatir katamu?” aku berdiri dengan emosi. Laki – laki itu mengikuti aku tidak lama. Dia berusaha untuk bicara tapi aku memotongnya. “Tidak perlu khawatir,” cibirku. “Kau mengatakan kalau gadis terakhir yang dekat denganmu mati mengenaskan. Dan orang yang bertanggung jawab atas hal itu—ah, tidak. Iblis yang bertanggung jawab itu juga sudah menyerang aku tidak lama lalu.”
“Aku tidak akan membiarkan apa – apa terjadi padamu, Shay.” Damon berseru, “You know that.”
“I know that!” aku membalas sama kerasnya. “Tapi apa kau tidak berpikir untuk memberti tahu aku ini dari awal? Setidaknya aku bisa punya informasi kalau hidupku ini di jadikan target oleh iblis jahat!”
“Kau tidak di jadikan target—“
“Apa kau benar – benar percaya itu?”
Dari jawaban Damon yang menghela napas berat, aku tahu dia juga berpikiran hal yang sama. Bahkan orang imbesil pun akan paham. Sekarang, aku yang menjadi target si Ingruth iblis tidak tahu diri. Setelah berhasil menghabisi . . .
“Kenapa juga dia tertarik padamu? Bagaimana dia bisa tahu kau tidak terpengaruh oleh kekuatan dia?”
Damon memalingkan wajah lagi. “Aku . . . aku pernah menjadi orang yang terlalu sengak dan sombong. Tabiat aku yang dingin juga di iringi oleh percaya diri yang berlebihan. Aku membuatnya marah. Suatu hari aku harus melawannya di hutan, dan mengetahui kalau dia tidak punya kendali atas aku.”
“Lalu, apa yang terjadi hingga gadis itu bisa di serang?”
“Aku memprovokasi dia.” Damon terlihat membenci dirinya sendiri. “Aku membuatnya berpikir kalau dia tidak bisa melukai siapa pun yang aku lindungi. Karena aku kebal dengan kekuatan nyanyian hipnotik itu. Dan dia membuktikan kalau aku salah dengan membunuh dia.”
Aku mengatupkan rahang. “Siapa namanya?”
Damon terlihat termegap mendengar inkuiri aku. Lalu dia menggeleng. “Tidak penting siapa namanya—“
“Tidak penting?” aku kali ini sudah benar – benar berteriak. Aku menatap laki – laki itu dengan frustasi. “Dia di habisi oleh iblis karena kamu, Damon!”
Damon Hawkwolf meringis.
Diktum itu tidak bisa aku tarik lagi. Aku mungkin sudah mengatakan hal yang paling menghancurkan di hidup Damon. Laki – laki itu menatap aku dengan . . . kecewa? Aku yang menelan ludah segera merasa menyesal.
Aku yakin Damon tidak ingin itu terjadi.
Aku dan mulut besarku. Merasa canggung, aku berdeham dan berusaha menenangkan diri. Hey, mendapat berita kalau ternyata serangan itu bukan serangan random melainkan terencana bukan hal yang mudah untuk di terima, ya.
Apalagi yang menyerang adalah seorang iblis.
“Damon . . . aku—aku minta maaf,” kata aku pelan. “Aku tidak bermaksud mengatakan itu.”
“Aku tahu apa maksudmu.” Damon menolak untuk bertemu dengan korteks visual aku, dan aku tidak suka itu. Aku tidak suka dia yang mengalihkan perhatiannya dari aku. Tapi, aku malah teringat lagi dengan rumor bodoh dan segala racunnya.
Fakta kalau itu benar membuat aku tidak tahu harus berbuat apa.
Apakah aku bisa menerima hal itu? Lagi pula, itu semua masa lalu, ‘kan? Tapi aku sekarang menjadi pengganti target wanita itu. Seorang iblis yang jahat menaruh atensinya padaku.
“Dan kau masih akan pergi ke tempat perjanjian itu?” tanyaku lirih.
Aku tahu sekarang seberapa genting masalah ini. Aku tahu sekarang apa koneksi dia dengan Ingruth, dan kenapa semua Hawkwolf bersaudara enggan untuk bercerita tentang kejadian waktu itu.
Damon adalah sumber masalahnya.
Seperti kata Michale, semua keluarga Hawkwolf itu berasa kalau mereka yang paling kuat dan berkuasa di kota ini.
“Aku harus melakukan itu,” Damon menatap aku pilu. “Kalau tidak, dia akan mencari segala cara untuk melakukan hal yang sama padamu, Shay.”