PART 38

1189 Kata
38 MICHAEL MEMANG SELALU bisa membuat aku berpikir keras. Aku tidak mengerti kenapa di saat begini, di momen yang indah begini, bisa – bisanya kalimat terakhir dari Michael terbesit di dalam pikiran aku. Maksud aku, baiklah. Mungkin aku memang merasa kurang percaya diri saat ini. Segala macam bentuk bisikan buruk mengudara di dalam benak. Anxiety membuat aku seperti orang tidak keren yang mempertanyakan segala hal. Tapi pada dasarnya, aku tahu kalau aku memang bukan yang pertama. Aku yakin Damon pasti punya banyak gadis lain. Dan Damon sendiri pernah menceritakan satu hal tentang gadis itu. Apakah dia gadis terakhirnya? Apakah dia gadis yang dibicarakan oleh Michael? Apakah dia alasan kenapa Damon menjadi seperti ini? Aku punya banyak sekali pertanyaan di dalam pikiran, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa menanyakan semua hal itu atau tidak. Aku tidak tahu apakah ini berarti aku sedang menginvasi sesuatu yang privat dalam diri Damon atau tidak. Aku tidak tahu apakah aku berhak bertanya seperti ini atau tidak. Tapi jika aku memang pasangan jiwanya, seharusnya tidak ada rahasia di antara kita, kan? Aku sibuk berbicara dengan diri sendiri hingga aku tak melihat Damon yang mengacak surainya ke atas, dan terlihat seperti sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Pria itu menarik napas panjang. Aku tahu ini bukan hal yang biasa. Aku tahu aku sedang menanyakan satu hal yang rumit dan berat. Tapi memangnya aku bisa menahan diri? Jika aku terus menahan diri, maka aku selamanya akan terus merasa penasaran. Merasa seperti Damon sedang menyembunyikan satu hal padaku. Seperti Damon tidak sedang berkata jujur padaku. Apa ini keputusan yang baik? Apa lebih baik tahu yang sebenarnya, atau hidup dalam keadaan tak tahu saja? *** RUMOR ITU TIDAK SEPENUHNYA SALAH. Apa yang di maksud dari diktum itu? Apa yang harus aku lakukan dengan fakta itu? Antara Damon memang mengakui rumor itu, atau dia menyangkalnya. Hanya ada dua hasil dari respon yang bisa dia berikan padaku. Lantas, jika dia bilang rumor itu tidak sepenuhnya salah. Er . . . sedikit salah, atau semuanya salah? Bagian mana yang salah, kalau ada gadis yang dekat dengan laki – laki itu sebelum aku, atau gadis itu mati mengenaskan? Semoga saja yang pertama. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika memang gadis terakhir yang dekat dengan Damon harus meninggalkan dunia ini dengan cara yang brutal. “Sekarang giliran kau yang tidak bisa bicara, ‘kan?” Damon menyentuh dagu aku, mengangkat wajah aku agar melihatnya. Dua netra cokelat keemasan yang biasanya membuat aku merasa hangat, kini hanya menyorotkan perasaan elusif. Aku tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Tidak seperti dia yang bisa merasakan apa yang aku pkirkan. Bukankah semua ikatan batin antara dua pasangan jiwa itu seharusnya aku rasakan juga? Menoleh ke samping, aku berusaha untuk mengabaikan tatapan yang membuat aku tidak nyaman itu. Damon membuang napas panjang. “Aku sengaja tidak memberitahu ini karena kau bahkan masih belum bisa menerima semuanya.” “Semuanya?” tanyaku akhirnya. Suara aku terdengar lirih dan menyedihkan, dan aku benci itu. Bukankah aku sendiri yang tidak percaya dan menolak kalau gosip murahan itu benar? “Tentang manusia serigala, kota kecil yang menyimpan berbagai macam rahasia supernatural, iblis jahat—Ingruth itu, dan—“ Damon mengekhalasi napas yang panjang. Beberpaa detik dia terdiam sebelum melanjutkan, “Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya menceritakan ini padamu.” “Menceritakan apa? What is it exactly that happened?” “Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” Damon mengangkat dagu aku lagi. “Bagaimana cara aku menceritakannya padamu, berbagi cerita yang selama ini berusaha aku kubur dalam – dalam.” “Kau tidak perlu—“ “Tentu saja aku perlu.” Aku terdiam. Aku berikan semua waktu yang dia butuh, terdiam bersamanya di atas tikar piknik yang dia bawa. Dersik angin menghembuskan kesejukan pada kami berdua. Damon meraih keranjang piknik, lalu mengeluarkan sebuah selimut kecil berwarna abu – abu. Pria itu menyelimuti aku di bahu, dan menarik aku sembari memutar agar aku kembali bersandar di dadanya. “Sebelum kau memang ada gadis lain,” Damon berujar pelan. Hatiku sedikit mencelus. Aku tidak pernah se – naif berpikir kalau aku adalah gadis pertama yang dekat dengan Damon. Siapa aku? Apa aku sudah gila? Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa dengan fakta itu. “Hanay satu. Tidak banyak.” Damon tertawa tipis tanpa rasa humor. “Dulu aku pikir aku tidak akan pernah bertemu dengan pasangan jiwaku.” “Kenapa?” “Aku pikir aku tidak pantas menerima seorang pasangan jiwa,” Damon mengedikkan bahu. “Aku selalu menjadi saudara Hawkwolf yang dingin, dan menakutkan. Bukan salah mereka. Aku memang tidak selalu bersikap baik pada orang. Tapi apa itu salahku?” “Kadang aku juga tidak suka dengan orang.” “And that’s why you and me are soul mates,” Damon mengacak surai atas aku penuh afeksi. “Aku pikir kapan pun aku menunggu, pasti tidak akan ada yang datang.” “Apa ada . . . dari kalian yang tidak bertemu dengan takdirnya?” “Ada. Beberapa. Mereka hidup kesepian dan tanpa cinta.” Damon menggeleng. “Aku pikir aku akan menjadi salah satu dari mereka. Hidup seperti mayat yang berjalan. Tanpa tujuan dan hati yang tidak pernah utuh.” “Separah itu?” tanyaku dengan nada lirih. Aku meraih jari – jari tangannya dan menyatukan tangan kami. “Wolves . . . mereka bukan apa – apa tanpa pasangannya,” jelas Damon. “Mereka hanya akan menjadi entitas yang tidak punya jalan hidup.” “Oh,” aku mengerutkan kening. “Dan pasangan jiwa yang satunya lagi?” “Jika mereka manusia biasa, mereka tidak akan merasakannya. If they are wolves too . . . well, mereka akan sama – sama menderita.” “Tapi kenapa mereka tidak dipertemukan? Bukankah sebagai pasangan jiwa, maka sudah takdir mereka untuk bertemu?” Damon memeluk aku erat dari belakang. Aku biarkan dia melakukan itu, sebab aku rasa dia membutuhkannya. “Takdir bekerja dengan cara yang tidak bisa ditebak, ‘kan? Jadi bayangkan bagaimana perasaan aku ketika bertemu dengan kamu di menara gelap itu?” Entah kenapa hati aku rasanya ingin keluar dari tubuh. Aku eratkan pegangan tangan kami. “Lantas, gadis itu?” tanyaku pelan. “Aku bertemu dengannya di musim panas beberapa tahun yang lalu.” Damon menjelaskan. “Dia gadis yang penuh kehidupan. Jujur, aku rasa tidak ada yang bisa membuatnya putus asa, sedih, atau menyerah.” Aku mendengar nada bicara Damon menghangat saat menceritakan gadis itu. “Dia punya surai blonda yang natural. Senyumnya manis dan sangat lebar. Dia selalu tertawa. Selalu punya sesuatu yang bisa membuatnya senang. Aku jatuh hati padanya. Lagi pula, aku rasa aku tidak pantas menerima pasangan jiwa, ‘kan? Jadi aku mendekati dia, dan kami . . . kami punya hubungan yang cukup baik.” Aku menghapus rasa cemburu yang bodoh di dalam hati. Ini bukan waktunya aku merasa yang tidak – tidak. Damon sedang menceritakan kisahnya. Aku tidak bisa menghancurkan itu. “Lalu?” suara aku serak dan kecil. “Lalu Ingruth datang dan mengambil dia dari aku.” Ingruth. Iblis jahat itu. Dia yang menyebabkan gadis terakhir yang dekat dengan Damon mati mengenaskan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN