37
PREVIOUSLY ON DAMON – HAWKWOLF CHRONICLES . . . .
“Tidak ada akan ada lagi gadis yang lain selain kau, Shay.” Damon meraih tangan aku, lalu mencium bagian depan telapak tangan dengan halus. “As a werewolf, you only get one mate in your life. Pasangan jiwa itu akan bersama denganmu dari hidup sampai mati. Dan tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.” Mendengar itu, pikiran aku justru memilih waktu yang tidak tepat untuk memikirkan kata – kata Michael. Pria itu sudah menaruh racun yang kapabel menghancurkan momen berharga ini.
Dan aku, sialnya aku dan mulut aku yang tidak bisa menahan diri ini harus mengeluarkan isi hati itu keras – keras. “Bagaimana dengan gadis yang sebelum aku?” Damon membeku. Pegangan dia di tangan aku berhenti. Manuver halus di lengan tidak lagi memberikan aku kehangatan. Dan sungguh, bahkan aku pikir detak jantungnya sempat berhenti sekilas. Reaksi itu membuat aku tidak enak hati Apa rumor itu . . . ? Tidak. Tidak mungkin, ‘kan?
Tapi saat aku menoleh lagi ke arah Damon untuk melihat mimik wajahnya, dia sedang menatap aku dengan rahang yang mengatup keras. “Gadis sebelum kamu?” “Iya, gadis sebelum aku. Katakan padaku, apa ada gadis lain sebelum aku?” Gadis terakhir yang dekat denganmu dan tewas mengenaskan?
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
DULU AKU SELALU DI SEBUT pembuat onar. Bukan pembuat onar juga ‘sih, tapi lebih seperti penghancur suasana di tengah orang banyak. Entah kenapa mereka berikan aku titel itu, tapi sekarang aku bisa menebak kenapa, ‘kan?
Setelah beberapa lama Damon tidak menjawab dan membuat kami tenggelam dalam keheningan, aku secara perlahan merasa seperti aku baru saja melempar bola api di tengah salju yang sejuk.
Bagus.
Bagus sekali, Saoirse Lee.
Kau baru saja merusak kencan pertamaku dengan laki – laki paling tampan di kota ini. Dan bukan itu saja, aku mungkin sudah membuat Damon merasa kalau aku bukan gadis yang dia inginkan.
Siapa yang membicarakan mantan yang pernah dekat denganmu di kencan pertama mereka?
Jika itu bukan bendera merah, aku tidak tahu lagi. Ini mungkin kencan paling buruk yang ada dalam sejarah manusia dan kita bahkan belum selesai.
Damon terlihat sedang menyerap pertanyaan aku di dalam pikirannya. Atau mungkin dia hanya menyesali keputusan dia untuk mengajak aku kencan. There is no in between. Aku tidak akan heran jika dia akan mengakhiri kencan ini, right here right now.
Jika bukan karena minimnya pencahayaan di sini, laki – laki di sampingku itu sudah pasti akan melihat wajah aku yang pans dan memerah. Darah merangkak naik ke parasku, membuat aku menutup setengah wajah walau aku yakin dia tidak bisa melihatnya.
Ini kacau.
Aku benar – benar pengacau.
Aku memang pembuat onar seperti yang dibicarakan orang – orang. Sekarang aku mengerti kenapa mereka memanggil aku perusak suasan. Tidak bisa di salahkan, orang – orang itu mungkin merasa seperti Damon Hawkwolf saat ini.
Semakin lama waktu yang bergulir di antara kita, aku semakin merasa kalau suasana semakin canggung. Damon tidak mengatakan apa – apa sama sekali.
Dia meletakkan dua tangan di atas lutut, tapi aku masih berada di dalam dua lututnya itu, terkunci di situasi yang ingin aku hindari. Aku bisa merasakan kalau Damon sedang mendongak ke atas, menatap langit malam.
Atau mungkin berharap pada langit agar dia bisa memilih pasangan jiwanya dan menjauh dari aku.
I would not be surprised . . .
Merasa tidak bisa lagi tahan, aku akhirnya memutuskan untuk membuka mulut. “Apa kau lupa caranya bicara?”
Baiklah, harus aku akui, situasi canggung membuat aku menjadi sinis.
Dan yah, sedikit dari diriku memang merasa frustasi sebab Damon masih saja diam. Apa pertanyaan aku sesulit itu? Sungguh, yang perlu di lakukan hanya menjawab iya atau tidak. Memangnya ada berapa gadis yang sebelum aku?
Bukannya aku juga akan meminta penjelasan. Aku bukan gadis seperti itu.
Apa jangan – jangan . . . ah, tidak. Aku tidak bisa menggunakan rumor itu sebagai alasan kenapa Damon rumit untuk menjawab.
Tapi sungguh, dia membuat ini begitu sulit.
Apa yang bisa aku lakukan ketika dia tidak bisa menjawab sebuah inkuiri sederhana? Dan dengan rumor yang di berikan oleh Michael?
Michael, kau laki – laki sialan.
“Er . . . lupakan saja. Lupakan aku pernah bertanya sesuatu,” kataku sesantai mungkin. Aku ingin terdengar seperti aku tidak marah atau kesal, atau kecewa. Aku tidak butuh penjelasan seperti itu, ‘kan?
Damon bergerak di belakang aku. Tahu – tahu saja dia menepuk jidat aku, sampai aku terdorong ke belakang dan menabrak dadanya. Tangan itu berhenti di kening aku. “Jangan berpikir yang tidak – tidak.”
“Siapa bilang?”
“Aku bisa mendengar pikiranmu secara jelas, Shay.” Damon berdecak. “Dan tidak, kami tidak bisa baca pikiran. Aku hanya tahu kau dengan baik.”
Aku mencibir. “Kita belum kenal selama itu.”
“And yet, I know you like I know the back of my hand. Kita punya ikatan bantin, ingat?”
“Apa ikatan batin itu bisa membuat kita saling membaca pikiran masing – masing?” tanyaku cemas. Aku tidak ingin Damon bisa tahu apa yang aku pikirkan.
“Seperti yang aku bilang, kita hanya bisa saling merasakan emosi yang kuat, seperti jika kau sangat marah dan sedih, atau takut. Dan sekarang, kau merasa cemas. Kenapa kau merasa cemas?”
Michael sungguh, lain kali aku bertemu dengan kamu, aku akan memukulmu dengan pemukul baseball yang aku bawa dari rumah.
“Cemas?” aku tertawa canggung. Ketika aku berusaha untuk keluar dari dekapan dia, Damon menekan kening aku dengan dua jari seperti menahan anak kecil yang berusaha kabur. “Untuk apa aku cemas?”
“Sekarang aku yang cemas karena aku beriskap seperti orang aneh.”
“Pft . . .” Aku menampar lengannya tapi dia tidak terpengaruh. “Siapa yang kau sebut aneh? Dasar orang aneh. Aku tidak aneh. Kau yang aneh. Siapa yang aneh?”
Baiklah, Shay. Kau harus berhenti bicara, dasar aneh!
“Kau bersikap mencurigakan.”
“Aku tidak mencurigakan,” seruku sembari meronta di dalam kandang Damon. Tentu saja kau tidak bisa melawan dia yang besar dan kuat.
Aku mendengus.
“Shay, kenapa kau cemas?” tanya Damon lagi.
“Aku tidak cemas!”
“Kenapa kau canggung dan mata kutu?”
“Aku tidak seperti itu!”
“Apa yang aku pikirkan?”
“Bukan apa – apa,” jawabku cepat. “Aku hanya . . . hanya bingung kenapa kau diam lama sekali. Jangan – jangan gadis sebelum aku banyak sekali, ya? Kau sampai bingung harus menjawab bagaimana?”
“Tidak,” jawab Damon dengan mudah.
Aku nyaris mendengus lagi. “Lantas kenapa kau membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab?”
“Kau tidak sabaran, itu saja.”
“Kau terlihat mencurigakan,” kata aku mengikuti apa yang dia bilang.
“Aku tidak mencurigakan,” Damon meraih dua tangan aku yang meronta dan menahannya dengan satu tangan. “Kau yang mencurigakan.”
“Ugh, berapa kali harus aku bilang aku tidak mencurigakan?”
“Lantas kenapa kau merasa cemas?”
“Kenapa kau tidak bisa menjawab dengan cepat?”
“Aku hanya sedang menimbang bagaimana kau harus merespon inkuiri itu tanpa membuat aku ingin mengambil jutaan langkah mundur saat aku baru saja bisa membuat kau bertemu denganku setengah jalan.”
Aku tertegun. Hati aku mencelus. Deg. Secara harafiah. Aku menjadi stagnan, tidak lagi mencoba kabur dari Damon.
“Apa maksudnya?”
“Dan sekarang kau terasa lebih cemas dari awal,” Damon menggeleng. Aku tahu sebab dagunya bergerak di atas pucuk kepala aku.
“Berapa kali harus aku bilang aku tidak cemas?”
“Kau tidak pandai berbohong.”
“Aku tidak berbohong!”
“Apa namanya kalau bukan bohong saat menyembunyikan perasaan?”
“Siapa yang menyembunyikan perasaan?”
“Kau ingin tahu kenapa aku sulit menjawab?”
“Iya!”
“Kenapa?”
“Karena rumor—“ aku melumat bibirku ke dalam, menghentikan labium sebelum aku bisa mengatakan hal yang aku simpan di dalam hati.
Damon yang kali ini membeku. Lalu, dengan mudah laki – laki itu memegang aku di pinggang, dan memutar aku hingga kini aku duduk di antara dua lututnya dan menghadap pria itu.
Walau aku tahu dia tidak bisa melihat aku secara jelas, tapi posisi kami sangat proksimal. Aku tahu dia punya semacam visi yang jauh lebih jelas dari kami. Kami yang merupakan manusia biasa.
Dengan menyedihkan aku mencoba untuk menghindari tatapan dia.
“Rumor?” ada sesuatu dari nada bicara Damon. Sesuatu yang tertahan. Apa dia marah? Apa dia menganggap aku gadis bodoh karena mendengar dan berbicara tentang rumor—
“Biar aku tebak.” Damon masih menahan dua tangan aku di tangannya. “Rumor ini berbicara tentang keluarga Hawkwolf yang buruk. Dan aku. Secara spesifik tentang aku. Benar?”
Aku tidak merespon. Apa yang ingin aku katakan tidak ada yang baik untuk situasi saat ini.
“Sepertinya aku benar.” Damon menggeleng.
“Aku tidak percaya!” seru aku sebelum Damon bisa berpikir yang buruk. “Aku tidak percaya apa yang mereka katakan, sungguh.”
“Kenapa?” tanya Damon dengan nada rendah.
“Karena . . . karena rumor itu . . .”
“Terdengar buruk?” potong laki – laki di hadapan aku ini.
Aku menggeleng. “Itu tidak penting.”
“Ini penting,” Damon menatap aku lurus. “Saoirse,” bagus. Bukan Shay. Bukan yang lain. Saoirse. “Rumor apa yang kau dengar?”
“Kalau kau . . . kalau gadis terakhir yang dekat denganmu mati mengenaskan.” Tidak ada gunanya mengelak lagi. Damon sudah jelas sadar aku menyembunyikan sesuatu. Yang aku lakukan hanya mempermalukan diri aku sendiri.
Damon menarik napasnya dan tersenyum tipis. “Rumor itu tidak sepenuhnya salah.”