36
CORDELIA salah telak. Damon yang lebih gugup? Aku yang lebih gugup. Bahkan, aku yakin tidak pernah ada sejarah di mana manusia lebih gugup dari pada aku saat ini. Aku seperti seseorang dengan rasa gugup di dalam hati yang tak bisa aku rendamkan.
Rasanya seperti ada yang menahan diri aku agar tidak bisa merasa tenang. Dengan pikiran yang campur aduk, aku berusaha untuk meyakinkan diri sendiri kalau aku bisa melakukan ini. Melihat apa yang terjadi dengan kembang api itu, justru membuat aku semakin merasa seperti bubur. Dua tungkai kaki seperti akan jatuh ke bawah, melebur bersama bentala dan menggantikan tanah.
Tapi bukan itu saja.
Bukan hanya merasa seperti kaki aku akan melebur dan menyatu dengan bentala, tapi rasanya tubuh aku juga seperti akan terbang naik ke atas, menjadi tak ada beban dan berat sama sekali. Rasanya seperti kumpulan kapas kolosal di bumi akan menarik aku ke atas, dan aku bisa melakukan apa pun yang aku mau selagi aku mengambang di atas sana. Aku merasa seperti ada di langit ke tujuh. Damon berdiri di samping aku dengan keren.
Sungguh, apa dia tidak pernah merasa kurang percaya diri satu detik saja? Apa dia tidak pernah merasa seperti orang yang kurang yakin, ragu, dan berpikir dua kali? Apa Damon Hawkwolf bahkan tahu rasanya gugup seperti apa?
Aku yakin Cordelia itu sedang tidak sadarkan diri. Pasti dia sedang mengantuk berat atau tak bisa berpikir jernih. Dari mana dia bisa mengatakan hal semacam itu? Bisa – bisanya dia bilang Damon yang akan merasa lebih gugup dari pada aku? Walau aku sudah tahu kalau koneksi yang dia bicarakan itu mungkin yang Damons sebut mating bond tadi. Tapi tetap saja.
Apa ini yang dinamakan . . . cinta?
Ah, apa yang kau bicarakan Shay? Wake up!
***
D TAMBAH S SAMA DENGAN SELAMANYA. Sebut itu menyedihkan, sebut itu kekanak – kanakan, sebut itu memalukan. Bahkan, sebut itu murahan jika kalian mau. Tapi aku tidak bisa menolak rasa hangat di dalam hati dan kepakan sayap kupu – kupu itu.
Mungkin aku memang kurang pengalaman. Atau memang aku hanya punya selera yang rendahan.
Tapi ah, siapa yang bisa mengatakan ini kejutan yang rendahan?
Di saat semua orang mendapatkan kejutan seperti kue kesukaan mereka, atau mungkin mobil mewah, rumah, entah lah, apa pun itu yang berbentuk hal mahal dan mewah, aku mendapatkan kejutan yang sederhana namun sanggup membuat hati melebur.
Aku mendapat piknik di tengah hutan, di bawah langit yang di penuhi bintang, dan di sinari oleh bulan yang terang.
Lalu aku mendapatkan makanan terbaik, dan juru masak paling hebat di New Cresthill.
Dan sekarang, aku diberikan pemandangan indah dari kembang api yang membentuk inisial aku?
Jangan buat aku mulai tentang laki – laki di samping aku yang—by the way—mungkin adalah pria paling tampan di dunia ini.
Aku tidak pilih kasih. Tapi Damon Hawkwolf memang laki – laki yang menawan.
Dan ketika senyum lebarnya dia suguhkan untuk aku, di bawah riuh kembang api, dan sinar yang terang dari percikan api di atas serta bintang, bagiku, dia memang orang yang paling indah.
Indah adalah diktum yang paling tepat untuk menjelaskan struktur wajahnya.
Damon Hawkwolf itu bagaikan mimpi aneh yang tidak bisa aku lepaskan dari hidup aku. Seperti sebuah anomali yang di lempar oleh semesta ke arahku, dan berteriak kalau aku harus menerimanya kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun.
Laki – laki itu semacam anugerah. Sesuatu yang tidak pada tempatnya, tapi akhirnya menemukan akhir di hidup aku.
Entah bagaimana bisa aku menjadi gadis yang terpilih untuk menjadi . . . pasangan jiwa pria itu. Tapi, mengingat bagaimana caranya aku bisa di terima oleh program pertukaran pelajar ini, di terima di New Cresthill, dan mendapat host Nyonya Smith, itu semua seperti kebetulan yang sudah di rencanakan.
Oh, dan pipa air Nyonya Smith?
Semua itu seperti sebuah skenario yang sudah di buat khusus di hidup aku. Cerita takdir aku yang akhirnya mulai.
Lantas, dengan semua fakta itu, apa aku masih tidak bisa menerima hal tersebut? Kalau aku memang pasangan jiwanya? His mate? Dengan semua kebetulan demi kebetulan, kejadian yang seharusnya tidak bisa di jelaskan secara sains, dan ikatan antara kami berdua, apa aku masih bisa menyangkal?
Jika iya, maka aku gadis yang delusi.
Damon mengelus pipi aku lembut. “D plus S, forever mate.”
Semuanya bergulir menjadi satu. Rasanya seperti aku baru saja berhasil menyelesaikan rubik. Baru berhasil mencari jalan keluar dari bilik yang panjang. Berhasil membuka teka – teki kehidupan aku sendiri.
“Forever. Mate.” Kalimat itu keluar dengan tekanan di setiap kata. Aku. Dan. Damon. Forever mate.
Apa aku sudah gila?
Apa artinya ini, ketika aku sudah menerima kenyataan itu? Menerima Damon sebagai pasangan jiwa aku?
Laki – laki itu menarik napas, terkesiap. Lama dia menunggu, hingga bunyi kembang api hilang, dan cahayanya membuat kami berdua kembali di selimuti gelap hutan di bawah langit malam.
Damon membasahi bibirnya dan berkata, “Apa yang kau katakan?”
“Er . . . kau mendengarku.”
“Aku mendengarmu,” Damon mengangguk.
“Lantas? Kenapa kau ingin aku mengulangnya?” seruku sedikit sangsi. Aku berusaha memalingkan wajah darinya, tapi satu tangan Damon dengan cepat menarik dagu aku hingga kami saling berhadapan lagi.
“Kau tidak bisa kabur dariku lagi, Shay.” Damon berbisik. “Katakan lagi.”
“Tidak.”
“Aku mohon.” Damon berkata dengan nada yang rendah dan serak.
Aku menelan ludah.
“Oh my God, please, please, please!”
Damon mengacak surai aku penuh afeksi. “Tidak perlu bilang please. Apa pun akan aku lakukan untukmu
Giliran aku yang mengacak surai dia penuh afeksi. “Tidak perlu memohon.”
Damon memajukan tubuhnya penuh antisipasi, seperti anak kecil yang siap menerima permen kesukaan darinya. Aku tersenyum tipis. “Forever. Mate.”
“Akhirnya,” Damon membuang napas panjang. Jika ada yang bisa menggambarkan ekspresi laki – laki itu saat ini, aku ingin tahu. Sebab aku kehilangan kata – kata.
Apa yang sedang dia rasakan? Bahagia? Gembira? Penuh ekstasi dan girang? Apa?
“Kau akhirnya milikku.” Damon berkata tidak percaya.
“Hmh, aku tidak tahu tentang kepemilikan,” ujarku dengan senyum tipis. “Tapi kau tidak buruk untuk seorang pasangan jiwa.”
“Shay,” Damon menggeleng. “Kau dan kata – katamu itu.”
“Apa ini berarti kita secara resmi pasangan jiwa?”
Damon tertawa dan menarik aku. Aku bersandar di depan dadanya, mendongak ke atas menatap bintang yang cantik. “Shay, shay . . . kau dan aku sudah menjadi pasangan jiwa di momen pertama kita bertemu.”
“Oh, benarkah?” tanyaku heran.
“Kenapa? Kau pikir karena kau tidak menerima aku, atau tidak percaya padaku, itu berarti aku dan kau belum menjadi pasangan jiwa yang resmi?”
Aku mengedikkan bahu, membuat Damon semakin erat memeluk aku dari belakang. “Aku pikir begitu.”
“Kau selalu memikirkan hal yang tidak – tidak.”
“Itu aku. You get that, or not at all.”
“Tidak ada yang bisa memisahkan ikatan kita, Shay. Bahkan kita sendiri. Kau dan aku sudah ditakdirkan bersama. Dari bulan, dan alam semesta. Dan kau tahu? Serigala hanya punya satu pasangan jiwa di seumur hidupnya.”
“Hanya satu?” aku berbalik badan, bersandar di salah satu lutut Damon. Laki – laki itu memeluk aku dari samping. “Seumur hidup? Maksudmu, tidak akan ada lagi selain aku?”
“Tidak ada akan ada lagi gadis yang lain selain kau, Shay.” Damon meraih tangan aku, lalu mencium bagian depan telapak tangan dengan halus. “As a werewolf, you only get one mate in your life. Pasangan jiwa itu akan bersama denganmu dari hidup sampai mati. Dan tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.”
Mendengar itu, pikiran aku justru memilih waktu yang tidak tepat untuk memikirkan kata – kata Michael. Pria itu sudah menaruh racun yang kapabel menghancurkan momen berharga ini.
Dan aku, sialnya aku dan mulut aku yang tidak bisa menahan diri ini harus mengeluarkan isi hati itu keras – keras.
“Bagaimana dengan gadis yang sebelum aku?”
Damon membeku. Pegangan dia di tangan aku berhenti. Manuver halus di lengan tidak lagi memberikan aku kehangatan. Dan sungguh, bahkan aku pikir detak jantungnya sempat berhenti sekilas.
Reaksi itu membuat aku tidak enak hati
Apa rumor itu . . . ? Tidak. Tidak mungkin, ‘kan?
Tapi saat aku menoleh lagi ke arah Damon untuk melihat mimik wajahnya, dia sedang menatap aku dengan rahang yang mengatup keras. “Gadis sebelum kamu?”
“Iya, gadis sebelum aku. Katakan padaku, apa ada gadis lain sebelum aku?”
Gadis terakhir yang dekat denganmu dan tewas mengenaskan?