35
CORDELIA SMITH menarik tangan aku agar kami berdua saling berdempetan di depan pintu seperti sudah tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara kami. Aku mengangkat dua alis tinggi ke atas, terkejut mengapa Cordelia tiba – tiba melakukan hal tersebut. Gadis cantik itu menghimpit sisi tubuh aku, memeluk tangan aku erat di samping dengan kuat. Cordelia menatap aku penuh skandal dan emosi yang aneh. Aku menahan tawa melihat sikap gadis cantik yang aneh ini.
Dengan sabar aku menunggu apa yang akan dia katakan, sehingga untuk beberapa detik hanya ada keheningan di antara kami. Cordelia menarik napas panjang dan berbisik padaku, entah kenapa sebab hanya ada kami berdua di sini. Cordelia mengatakan sesuatu yang tak bisa aku dengarkan, sehingga aku mengerutkan kening tak mengerti. Saat dia sudah selesai, aku hanya menahan tawa.
“Kenapa kita berbisik?” tanya aku dalam nada bicara yang juga berbisik. Aku mengerutknan kening saat Cordelia hanya mengerang kesal dan mendongak ke atas, seperti dia tak sabar denganku yang begitu lama dalam menafsirkan premis.
Sungguh, apa ada sesuatu yang tak aku tahu?
“Kau tahu kan kita bisa berbicara dengan biasa saja? Tidak ada siapa pun di sini.” Aku merenyuk saat Cordelia Smith justru melotot ke arahku seperti aku ini bodoh.
“Kau tidak ingat?” Cordelia berbisik sembari menunjuk telinganya.
Aku berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Oh. Ya. Pendengaran super. Aku sendiri ikut berbisik lagi. “Jadi, apa yang kau katakan tadi?”
“Jangan gugup, aku yakin justru Damon yang gugup setengah mati saat ini.”
“Oh, ya?” aku menaikkan dua alis. “Bagaimana bisa kau tahu?”
“Aku hanya tahu. Koneksi antara kalian akan lebih berat pada Damon, dan dia akan merasakan hal itu sepanjang malam.”
***
TIDAK HANYA SATU, TAPI dua hal yang ada di dalam pikiran aku sekarang.
Satu ; kalau aku menatap Damon dan tiba – tiba menyatukan labium kami, apa dia akan menolak dan mendorong aku, atau dia akan mengecup aku balik?
Dua ; apa itu the mating bond?
Jelas aku punya prioritas yang lebih tinggi. Di bandingkan bertanya apa itu mating bond yang tidak aku paham sama sekali, aku justru hanya ingin berada dalam jarak proksimal dengan Damon Hawkwofl.
Dalam setting seperti ini, dan melupakan fakta kalau kota ini termasuk laki – laki di depan aku punya rahasia supernatural, aku nyaris bisa membayangkan kita seperti pasangan normal romansa – komedi yang sedang piknik di bawah bintang dan langit malam.
Sangat kontras dengan perasaan dan kejadian aku tadi pagi.
Michael, dan rumornya yang murahan itu. Kalau saja dia tidak membicarakan hal aneh begitu, aku tidak akan berpikir keras dan mengganggu momen kencan pertama ini.
Secara harafiah kencan pertama di dalam hidup aku.
Ah sial, bagaimana jika aku membuat kesalahan? Bagaimana jika aku membuat Damon merasa ilfeel dan dia tidak lagi mau—
“Shay?” panggil Damon, membuat aku membuyarkan pikiran saat itu juga. Aku menoleh dan mendapati dia sedang menatap aku lurus. “Apa yang kau pikirkan?”
“Tidak ada.”
“Apa kau tahu kau melakukan itu tidak hanya satu kali?”
“Apa?”
“Melamun.” Damon menggeleng. “Kau sering tersesat di dalam benak kamu sendiri, Shay,” Damon menyibak surai aku ke belakang, dan menaruhnya di belakang telinga. Aku membeku di tempat seperti anak sekolah dasar yang tidak pernah kontak dengan laki – laki sebelumnya.
“Er . . . itu tidak benar.”
“Kau baru saja melamun di depan aku, Shay.” Damon berkata dengan datar. Dia meraih keranjang berwarna cokelat yang berisi makanan dan mengeluarkan semua isinya satu per satu.
Semakin lama dia mengeluarkan isi keranjang itu, semakin besar mata aku membulat. Isinya berbagai macam makanan yang aku suka. Tidak banyak. Tidak juga mewah. Hanya burger terlezat yang pernah aku lihat, french fries, beberapa makanan pendamping seperti onion rings, ketchup, potato soup, dan dua minuman soda yang tinggi.
Lalu, saat aku pikir Damon sudah mengeluarkan semuanya, dia mengeluarkan sebuah tas kecil dari dalam.
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
Damon membuka resleting tas, dan di dalamnya terdapat dua kotak kecil berisikan es krim yang masih dingin. “Makanan penutup.”
Aku menganga. Damon tersenyum tipis melihat reaksi aku dan mulai merapihkan makanan kami di depan kami masing – masing.
“Jadi, masih mau melamun, atau mau makan malam?” Damon memberikan aku sebungkus piring yang sudah diletakkan burger. Mulut aku berair, tapi aku mengambilnya dengan pelan dan seanggun mungkin.
Lalu aku menempuk kening sendiri. Untuk apa aku berpura – pura anggun segala?
Damon sudah melihat aku yang menyedihkan. Aku tinggal bersamanya, for crying out loud! Jadi aku tersenyum lebar dan menginspeksi burger dengan mata yang aku rasa sudah mencapai kebesaran maksimal.
Burger itu terlihat sangat lezat dengan suas yang berjatuhan ke luar, daging yang dimasak well done, dan roti bun yang paling fluffy yang pernah aku lihat. Bukannya mengambil burger, aku justru meraih french fries di pinggir dan memakannya.
Aku menngerang keras. “Ini sangat lezat! Ini . . . whoa. Rasanya meledak di mulutku, apa kau—“ Aku berhenti saat melihat Damon menatap aku lekat. “Ada apa?”
“Tidak,” Damon menggeleng. “Apa yang ingin kau katakan?”
“Apa kau memasak ini? Atau bagaimana?”
Laki – laki itu tertawa tipis dan menggigit burger milimnya. Kening dia mengerut penuh konsentrasi, lalu mengangguk setuju denganku. Makanan ini sangat lezat.
“Aku harap aku bisa berkata begitu,” ujarnya. “Tapi tidak, ini semua adalah kreasi Brenda.”
“Brenda?” entah kenapa hati aku tiba – tiba mencelus mendengar nama wanita lain terlepas dari labiumnya.
Bodoh . . . dan menyedihkan. Untuk apa aku merasa begitu?
“Juru masak di salah satu kedai terkenal di New Cresthill,” Damon berkontinyu. “Kau tidak perlu merasa cemburu.”
“Siapa yang cemburu?” balas aku sengit. Aku menggigit burger milik aku sendiri dan mendesah saking enaknya. Ini bukan main – main. Brenda, siapa pun dia, pantas menjadi koki di hotel bintang lima.
Aku rasa, aku tidak akan pernah bisa merasakan burger dengan normal lagi.
Setiap kali aku pergi ke tempat makan cepat saji, aku hanya ingat burger buatan Brenda ini dan menangis sebab rasanya tidak sama. Damon sepertinya setuju, tapi dia menatap aku lagi dengan tatapan lekat yang sama.
“Baiklah, ada apa ‘sih? Kau membuatku takut,” aku berseru keras sembar mengunyah kentang goreng. “Apa ada yang salah? Apa aku menjijikan? Kau sudah lihat bagaimana jika aku makan.”
“Kau harus berhenti mengeluarkan suara begitu,” Damon mendengus. Beberapa detik aku berpikir lalu aku tersadar. Syukurlah keadaan di sekitar kami cukup remang, hanya dengan sinar dari bulan dan bintang, dan lampu jalan – jalan yang menembus pohon – pohon di pinggir.
Aku menelan semua makanan di mulutku.
“Jangan buat komentar itu aneh.” Damon mengibaskan tangan dan memalingkan wajahnya dari aku. Dia berdeham dan bersungut, sibuk mengunyah.
“Er . . . okay.”
“Kau suka ini?”
“Suka sekali,” jawabku. Aku mengangguk penuh antusias. “Apa Brenda kenal denganmu?”
“Dia juru masak yang sudah melayani kami dari dulu,” Damon meraih onion rings. “Er, sejak aku masih kecil, Brenda yang sudah sering menyiapkan makanan jika kita ada . . . perayaan.”
“Oh, begitu.” Aku mengangguk. “Dan Brenda mau kau suruh menyiapkan makanan untuk kencan kita begini?”
Damon tertawa. “Bahkan dia yang paling senang di bandingkan aku.”
“Oh, ya? Kenapa?”
“Karena aku sudah tidak lama pergi kencan.”
Tawa mencemooh yang keluar dari bibirku tidak bisa di tahan. “Kau? Damon Hawkwolf?” aku menunjuk dirinya dari atas ke bawah. “Dengan wajah begini, sudah lama tidak pergi kencan? Kau lihat ‘kan cara gadis – gadis kampus melihatmu?”
“Tapi mereka bukan kamu.”
“Sejak kapan kau pintar merayu?”
“Sejak aku bertemu denganmu?”
“Apa kita akan terus berbicara seperti ini, atau aku bisa melanjutkan makan?” seruku sambil menahan wajah agar tidak memerah. Sesuatu yang cukup rumit sebab kata – kata Damon kapabel membuat aku merasa seperti gadis yang baru remaja.
Ini sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Jadi secara tidak langsung, aku memang gadis yang baru remaja.
Damon menggeleng dengan seringai besar. Senyum yang memperlihatkan gusinya itu merekah sangat indah di wajahnya, membuat laki – laki itu semakin tampan. Di bawah cahaya bintang begini, aku ingin mengulurkan tangan dan mengelus wajahnya itu dengan lembut.
“Makan,” Damon menggigit burger miliknya lagi.
Kami berdua melanjutkan makan dengan nikmat, sesekali tertawa karena sesuatu yang lucu dan menatap satu sama lain dengan mulut yang penuh makanan.
Romantis.
Atau tidak, entah lah. Aku tidak punya patokan dan contoh untuk hal – hal seperti ini. Yang aku punya hanya pengalaman menonton puluhan film romansa komedi di rumah, itu saja. Sudah bagus aku tidak mempermalukan diri sendiri sampai sini.
“Apa itu the mating bond?” tanyaku saat burger milik aku akhirnya habis, sementara Damon sibuk memakan sup kentang miliknya. Aku meraih satu tempat di depan kami, dan tersenyum puas saat tahu isinya sup jagung.
Damon menelan sup di mulutnya. “Semacam ikatan.”
“Ikatan apa?”
“Antara dua pasangan jiwa,” jelasnya. “Setiap pasangan punya semacam tali ikatan yang mengikat mereka berdua. Ikatan itu bisa membuat mereka saling merasakan perasaan masing – masing. Dan . . . yah, seperti tadi itu.”
“Oh,” informasi yang entah harus aku serap bagaimana. “Jadi, kau dan aku semacam punya ikatan batin?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Dan apa saja yang bisa aku rasakan?” tanyaku dengan kening mengerut.
Damon tersenyum dan meletakkan sup kentang miliknya. Dia duduk menghadap aku. “Tidak semua. Dan tidak semudah itu. Hanya jika apa yang kau rasakan, atau yang aku rasakan sangat intens dan kuat. Seperti marah misalnya. Sedih. Takut,” Damon menatapku. “Atau afeksi.”
“Afeksi?”
“Kasih sayang. Rasa cinta. Tersipu. Ketika kau menginginkan aku—“
“Whoa, okay, okay . . . aku mengerti maksudmu.” Aku mengangkat dua tangan. Damon tertawa lagi, sangat senang melihat aku yang kelabakan. Jika tidak ingat aku dan dia sedang kencan, aku akan menendang laki – laki itu.
Tidak peduli jika dia manusia serigala atau semacamnya.
“Apa kita aman di sini?” pertanyaan itu keluar setelah kami berdua sudah menghabiskan semua makanan di depan kami.
Tangan Damon yang sedang bekerja untuk mengeluarkan es krim sebagai makanan penutup dari tas pendingin yang dia bawa terhenti. “Maksud kamu, Shay?”
“Er . . . entahlah. Ini hutan. Aku tidak punya sejarah yang baik tentang hutan di New Cresthill, ingat?” aku tidak bermaksud untuk mengungkit kejadian itu. Apa lagi untuk membahas si iblis jahat yang mengerikan. Tapi aku tahu ketakutan itu tidak akan dengan cepat hilang.
“Kalau kau takut pada ancaman seperti iblis jahat dan makhluk lain, kau bisa menghela napas lega karena ini bagian hutan yang aman.” Damon memberikan aku satu kotak es krim. Ketika aku buka, es krim rasa stroberi dan choco chips menjadi pilihan Damon.
Entah dia tahu aku suka es krim rasa stroberi atau ini hanya kebetulan saja.
“Maaf, hanya saja, ini pengalaman pertama bagiku masuk dan main di dalam hutan,” kataku jujur. “Biasanya hutan adalah tempat terlarang dan berbahaya. Aku rasa aku bahkan tidak pernah melihat hutan di kota aku sendiri.”
“Well . . . seperti yang bisa kau lihat, di sini isinya hanya hutan, hutan, dan hutan lagi.” Damon tersenyum tipis pada aku yang memutar dua bola mataku. “Tenang saja, Shay. Di sini aman. Hutan ini menjadi bagian hutan wilayah kami.”
Mata aku menyipit mendengar informasi itu. “Wilayah kami?” aku mencibir. “Apa kalian semacam pemilik kota ini? Bukankah hutan seharusnya milik . . . yah, milik semua orang? Ini hutan kota, ‘kan?”
Damon tidak menjawab. Seperti sedang menimbang respon apa yang akan dia berikan padaku, laki – laki itu memakan es krim di tanganya dengan nikmat.
Aku menunggu dengan sabar.
“Kau tahu tentang the founding fathers, ‘kan?” Damon akhirnya membalas.
“Iya. Kau baru memberitahu aku tadi.”
“Secara harafiah, karena kita keturunan salah satu penemu kota ini, maka dari itu . . . New Cresthill memang wilayah kita.” Damon menjelaskan. “Dulu, ada perjanjian yang diberikan pada semua orang. Semacam pembagian wilayah dan kedamaian bagi semua orang. Ada kami, manusia serigala, manusia, dan para penyihir. Dari situ—“
“Whoa!” aku berseru. “Tunggu dulu. Penyihir? Kau bilang penyihir?” ini sudah kelewatan, ‘kan? Aku ada di mana, ‘sih? Atau jangan – jangan aku tidak pernah sampai ke New Cresthill dan ini semua hanya ilusi belaka?
Apa aku sedang koma?
Damon terkekeh. “You should see your face right now,” Damon menunjuk wajahku. “Kau tidak berpikir kalau manusia serigala satu – satunya makhluk supernatural yang ada di kota kecil ini, ‘kan?”
“Well, sekarang tidak lagi,” jawabku cepat. “Penyihir? Seperti, I don’t know, expecto patronum and all that things? Like Harry Potter and the Prisoner of Azkaban?”
“Kenapa Harry Potter and the Prisoner of Azakaban?” Damon menahan tawa.
“Itu bagian favorit aku dari semua seri,” balasku. “Serius, Damon. Witches and wizards?”
Damon mengganggu kdan menyibak surai aku lagi ke belakang telinga. “Yes, Shay. Like witches and wizards. Like alahomora and all that things. Tapi aku rasa mereka tidak menggunakan tongkat dan jubah dan punya sekolah magis . . . sepertinya kalau sapu terbang ada.”
“Sapu terbang?” seru aku keras.
“Kau terlalu gembira, tapi iya.” Damon tertawa. “Akan aku kenalkan kau dengan penyihir yang aku tahu—“
“Oh my God, please, please, please!”
Damon mengacak surai aku penuh afeksi. “Tidak perlu bilang please. Apa pun akan aku lakukan untukmu. Intinya, semenjak perjanjian itu ada semacam persetujuan untuk hidup damai dan tentram. Dan para werewolf tentu saja mendapat wilayah hutan. Lagi pula, dari dulu, memang paling banyak kaum kami dari pada yang lain. Secara tidak langsung, kami seperti pemimpin kota ini.”
“Oh,” aku mengingat kata – kata Michael. Well, secara tidak langsung, rumor itu tidak salah. “Apa hampir semua hutan di New Cresthill adalah wilayah kalian?”
“Begitulah.” Sebelum aku bisa bertanya lagi, Damon sudah lebih dulu menarik es krim di tangan aku dan tersenyum lebar. Dia menatap aku penuh arti dan menunjuk ke atas. “Surprise.”
Dan sial. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padanya? Bagaimana bisa aku mengabaikan tarikan dari ikatan batin kami berdua saat di atas langit, bersama dengan bintang – bintang, kembang api bersorak dan memecah keheningan malam dalam bentuk hati berwarna merah.
Di tengahnya, terdapat inisial nama kami D + S yang membuat hatiku melompat girang. Kepakan sayap kupu – kupu di abdomen bergerak kacau. Aku tidak bisa berkata.
Semua tubuh aku terasa seperti di sengat listrik saat Damon mengarahkan wajahku dengan menarik dagu aku ke arahnya.
Lalu di bawah gemuruh kembang api dan sinar bintang, Damo berbisik, “D + S forever, mate.”