34
“OH WOW . . . you look very fancy.” Cordelia berseru tatkala melihat figur aku yang sudah siap keluar dari rumah. Aku menahan senyuk lebar yang bisa merobek pipi aku dari segala sisi. Gantinya, aku menawarkan garis harsa kecil dan tipis yang terlihat malu – malu. Aku menggigit bibir saat Cordelia mendekat ke arah aku berdiri di depan pintu.
Damon sedang keluar ke arah garasi untuk mengambil mobil dan membawanya ke pintu depan. Menurut laki – laki itu, lebih baik aku menunggu di depan pintu dan tak perlu repot – repot ikut ke garasi agar aku tidak lelah. Aku tidak mengerti kenapa itu sebuah hal yang perlu dia pikirkan. Sungguh, aku tahu memang rumah Hawkwolf ini besar dan masif sekali. Banyak sekali ruangan tersembunyi, dan mereka bahkan punya danau buatan sendiri di sisi rumah yang terlihat seperti sebuah danau yang keluar dari set film horor.
Tapi aku tak mengerti kenapa Damon harus sangat ekstra begitu. Bagus. Sekarang aku malah menjadi malu tak karuan, sebab Damon bersikap sangat eksesif. Aku berdeham untuk menghilangkan rasa malu saat Cordelia sudah ada di depan aku.
“Gaun yang sangat bagus. Apa ada event menarik yang harus aku tahu?” goda gadis cantik bernama Cordelia itu. Aku tertawa tipis mendengarnya. Dia terdengar konyol dengan wajah penuh arti, dan alis yang turun naik seperti sedang menertawakan aku. Aku memukul bahunya pelan, membuat gadis itu akhirnya melepas gelak harsa yang keras.
“Aku tahu, aku tahu. Pasti ada kencan yang besar, ya?”
“Hanya kencan biasa,” jawab aku dengan suara pelan. Aku menghisap bibirku ke dalam, dan menolak untuk melihat Cordelia di depan aku.
Gadis cantik itu bertepuk tangan ria dan melompat di tempatnya, seperti dia yang akan diberikan kejutan oleh Damon. “I’m so excited! Selamat, Shay!”
Selamat untuk apa, entah. Tapi aku memegang kebahagiaan Cordelia sebagai kepercayaan diri.
***
“KE MANA KITA AKAN pergi?” tanyaku ketika kami berdua sudah berada di dalam mobil. Aku melirik Damon, tapi dia sibuk menyalakan mesin mobil dan berkutat dengan kaca spion.
Ketika aku masih menunggu, tiba – tiba Damon sudah lebih dulu menyondongkan tubuhnya ke arah aku. Dua mataku membulat, mengira kalau kejadian malam itu di balkoni, di bawah kembang api akan terulang lagi.
Dan sial, jika aku memang menginginkan hal itu.
Tapi Damon melewati wajahku. Lalu dia menarik sabuk pengaman di samping aku dan memasangnya dengan ketat.
“Sabuk pengaman. Selalu yang pertama. Kau paham itu?” Damon memberi tahu aku dengan nada bicara yang tertahan, seperti sedang mengingat sesuatu yang tidak dia suka.
Aku mengerutkan kening, sedikit tidak paham kenapa dia bersikap begitu tentang sabuk pengaman. Aku ingin bilang kalau aku sudah tahu, aku bukan orang dari pedalaman atau orang yang tidak pernah naik mobil sebelumnya, tapi dari ekspresi wajah Damon aku tahu dia sedang serius.
Jadi, aku tahan apa pun yang akan keluar dari mulutku.
“Got it.”
Damon mengangguk puas. Dia kembali fokus ke depan, dan secara perlahan kami berdua mulai keluar dari pekarangan rumah Hawkwolf.
Di depan dekat dengan gerbang, aku melihat Talon dan Owen berlarian, sementara Hunter dan Cordelia bersimpuh di atas rumput, di depan bunga – bunga yang indah.
Damon membunyikan klakson mobil, membuat mereka semua melambaikan tangan.
Aku dengar Owen berteriak, “Good luck!”
Saat aku dan Damon sudah berada di jalan, di apit oleh dua sisi hutan yang cukup gelap dan menakutkan, aku kembali membuka konversasi. “Jadi, kau masih belum menjawab pertanyaan aku.”
“Kejutan, Shay.” Damon menahan senyum. “That’s how surprises work. You do not know anything about it.”
Aku merenyuk. “Aku tidak suka kejutan.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak suka dikejutkan?”
“Siapa yang tidak suka mendapat kejutan?” satu tangan Damon terulur ke depan. Dia melirik aku untuk meminta izin. Aku mengangguk. Lagi pula, di sini terlalu hening dan aku tidak mau terasa canggung.
Damon menyalakan radio mobilnya, dan dia membiarkan apa pun yang sedang di putar oleh stasiun itu menyala.
Love in the Dark oleh Adele. Salah satu lagu favorit aku. Dengan mudah aku langsung terhisap ke dalam lagu, menyanyikan lirik yang aku tahu dengan nada pelan.
Laki – laki di samping aku menoleh. “Suara yang indah.”
Aku menahan tawa. “Bagus? Oh no, aku rasa kau salah dengar.”
“Kita punya pendengaran super, ingat?”
“Oh . . . iya.” Aku berdeham dan berhenti bernyanyi. “Aku lupa.”
“Tolong jangan berhenti,” Damon berbelok ke arah jalan kota. Di sini, kita berdua sudah mulai melihat beberapa pemukiman dan toko, keluar dari jalur hutan yang gelap. “Lanjutkan nyanyian itu.”
“Er . . . mungkin nanti.”
Damon berdecak. “Aku tahu aku seharusnya tidak mengatakan apa – apa.”
“Ingat itu lain kali,” kataku dengan senyum mengolok. Pandangan aku terlempar ke luar, melihat beberapa orang menyalakan obor di depan pekarangan rumah mereka. Aku belum pernah melihat itu sebelumnya. Mungkin karena beberapa kali aku lewat, hari masih terang, dan aku tidak memerhatikan sekitar.
Setelah melihat cukup banyak orang yang melakukan hal sama, aku akhirnya bertanya, “Apa yang sedang mereka lakukan?”
“Mereka siapa?”
“Orang – orang itu,” tunjuk aku keluar. Seorang ibu sedang menyalakan api yang terpasang di pagar rumahnya, dan dua anaknya melompat – lompat melihat api itu.
Damon mengumbang pelan. “Hmh . . . mereka melakukan itu untuk mengusir sesuatu yang jahat.” Dari mimik wajahnya yang tiba – tiba dingin, aku tahu Damon tahu apa itu yang mereka anggap jahat.
“Apa itu?” tanyaku penuh kuriositi.
“Banyak hal,” Damon segera membelokkan mobilnya. Di bagian ini, kota lebih terang dan lebih banyak orang berlalu – lalang. Kota lebih sibuk dan rumah – rumah menyalakan lampu mereka terang.
“Seperti?” aku masih tidak bisa melepas topik itu.
“Entahlah, iblis, vampir, penculik, kriminal,” Damon menghentikan mobil di salah satu lampu merah kota. “You name it.”
“Dan apa guna obor itu?”
“Mereka percaya api akan menjauhkan sesuatu yang buruk itu. Kalau mereka takut dengan panas dan sesuatu yang menyala terang.”
“Itu . . .”
“Primitif?”
“Aku tidak akan bilang itu.”
“Takhayul?”
“Mungkin sedikit . . .”
Damon tertawa tipis. “Tapi itu memang benar,” Damon kembali berjalan. “Dari dulu, memang di percaya kalau cahaya api dan panasnya mampu mengusir ruh – ruh jahat, atau niat buruk yang tidak di terima oleh pemilik rumah.”
“Dari dulu?”
“New Cresthill itu kota yang tua, Shay.” Damon melaju lagi, meninggalkan tengah kota dan berbagai macam lampu toko yang terang.
“Oh, seberapa tua?”
“Sangat tua.”
“Dan kau tahu ini dari mana? Apa ada semacam kelas histori tentang New Cresthill?”
“Tidak,” Damon tersenyum lebar. Dia menggeleng. “Kelas histori New Cresthill. Shay, kau dan lawakanmu itu.”
“Aku serius.”
Damon mengangguk, tapi senyum lebar itu masih di bibir. “New Cresthil bukan hanya kota bagi kita, tapi sebuah rumah. Rumah yang sudah ada turun – temurun, dari nenek moyang yang jauh beratus – ratus tahun di atas kita.”
“Kita, as in you and your brothers? The Hawkwolf?”
“Itu benar,” Damon berhenti di lampu merah lagi. “Keluarga Hawkwolf sudah lama berada di New Cresthill. Kita, er . . . semacam salah satu keluarga penemu kota ini.”
Mulut aku terbuka. “Keluarga penemu?”
“Our ancestor was one of the founding fathers,” Damon menjelaskan pendek. “Setidaknya, begitulah ajaran yang di ceritakan padaku.”
“Oh, wow,” aku berseru. “Siapa lagi penemu – penemu kota ini?”
“Itu cerita untuk hari lain,” Damon menggeleng. “Sekarang adalah malam kencan pertama kita, ingat? Dan kita sudah sampai di tempat kejutanmu.”
***
Aku tidak menyangka kalau Damon akan mengajak aku keluar dari hutan di rumahnya, dan kembali lagi ke dalam hutan lain. Sungguh, apa kota kecil ini benar – benar terletak di antah berantah? Apa aku ada di dunia semacam Narnia?
Bahkan Narnia lebih baik dengan istana, rumah – rumah besar, dan segala macam hal magis yang indah.
Oh dan Aslan. Defenitely Aslan.
“Hey, apa kalian bisa berbicara jika sedang dalam bentuk serigala?” tanyaku saat Damon sudah keluar dan membukakan pintu untuk aku.
Kening Damon mengerut tapi dia mengulurkan tangan, yang segera aku raih. Saat dia menutup pintu dan mengunci mobil, Damon menjawab, “Er . . dari mana pertanyaan itu datang?”
Aslan. Tapi aku tidak memberitahunya. “Aku hanya tiba – tiba penasaran.”
“Kita tidak bisa bicara, tentu saja,” Damon menatap aku lurus. “Tapi kita bisa berkomunikasi dari dalam hati.”
“Apa?” seruku tidak percaya.
“Kau pikir bagaimana caranya serigala berkomunikasi?” Damon menarik aku ke suatu tempat. “Dengan insting dan hati.”
Aku menelan informasi itu layaknya pembaca yang sedang membaca buku fantasi. Berkomunikasi dengan insting dan hati? Bagaimana juga caranya itu?
Ketika aku kembali fokus pada sekeliling, mataku semakin melebar. Kita bukan hanya di hutan, tapi di hutan yang sangat indah. Kepalaku otomatis menoleh ke sana kemari, melihat banyak hal yang tidak bisa aku serap sekaligus.
Di atas pohon – pohon yang indah terdapat lampu – lampu kecil yang menghiasi setiap ranting dan dahan seperti kunang – kunang cantik. Beberapa pohon terdapat ornamen bintang emas yang mengkilat. Mataku melihat dedaunan berwarna oranye dan merah yang berjatuhan seperti di musim gugur, membuat segalanya lebih indah.
Berkat lampu – lampu kecil itu, hutan ini tidak terlihat gelap dan mengerikan. Justru magis dan indah.
Aku menoleh pada laki – laki di sampingku. “Wow, Damon. Ini luar biasa.”
“Terima kasih. I tried,” Damon mengajak aku ke lebih dalam. Dan ketika kami berdua mencapai semacam bukit yang tinggi, aku melihat permadani tebal dan berbulu tipis berwarna cokelat di atas tanah, terbentang bersama makanan – makanan yang disiapkan dengan rapih.
Aku menganga. “Ini . . . ini semua kau yang siapkan?”
“Well, ada banyak orang yang membantuku, tapi ini semua ideku, tentu saja.” Damon menarik aku hingga duduk. “Surprise. Kita akan piknik di bawah bintang.”
Dan baru ketika aku mendongak, nyaris terpana dan terpesona, kehilangan kata – kata saat melihat ribuan asterik yang membentang di atas antariksa. Aku memekik ringan melihat panorama itu.
“Damon . . . ini . . . aku—aku tidak tahu harus berkata apa.”
Laki – laki itu malah tertawa, kepala mendongak ke atas. Kerling di matanya nyaris menyatu dengan bias bintang – bintang, dan sial, I almost fell in love right here right now.
Sesuatu merekah di hatiku, sesuatu yang hidup, dan menjalar dari hati ke seluruh tubuh. Aku menarik napas panjang. Damon berhenti, menatapku lurus. “Kau merasakan itu?”
“Apa itu?”
“The mating bond.”