33
“AKU TIDAK SUKA kejutan,” kata aku pelan sembari menahan diri agar tidak terlihat seperti seorang gadis yang gugup dan tidak keren. Aku meremas dua jemari keras, mengalihkan atensi dari rasa gugup di dalam hati, dan mencoba agar tidak menjadi salah tingkah. Aku menaikkan alis saat Damon tidak terlihat terganggu.
Aku mendengus keras. Memangnya dia pikir aku bercanda? Dengan kepercayaan diri yang sepertinya tidak akan pernah menjadi tinggi di depan laki – laki ini, aku berkacak pinggang bak gadis yang yakin dengan apa yang akan dia lakukan. Aku menaikkan dagu sedikit, agar terlihat cukup berani dan gagah. Deru napas aku terdengar sampai ke rungu, membuat aku merasa kalah sebelum bertempur.
Aku berdeham dan memutuskan untuk mengulang perkataan aku lagi. “Aku bilang aku tidak suka kejutan. Kau dengar itu?”
“Semua orang suka kejutan, Shay.” Damon menggeleng, dan jika aku tidak salah lihat, pria itu seperti sedang menahan garis harsa agar tidak terlukis di bingkai mulut yang merekah dan merah muda itu. Aku menahan diri agar tidak mengingat sebuah momen yang sempat terjadi di antara kita beberapa saat yang lalu. “Mau itu orang tua, anak kecil, atau young adults seperti kita. Semua orang akan suka kejutan.”
“Well . . . tidak aku. Aku tidak suka kejutan. It makes me nerveous,” kata aku keras. Aku mencoba untuk tegas, tak mau kalah dengan Damon yang selalu menang jika kita sedang adu argumen. Aku biarkan rasa hati yang berdegup kencang tak menjadi atensi aku. Fokus, Shay. Aku bisa melakukan ini. “Kejutan membuat aku tidak tenang dan tak bisa diam. Jadi, er . . . katakan saja apa yang akan kau lakukan.”
“Jika aku melakukan itu, namanya bukan kejutan, Shay.”
“Bagian dari aku tidak suka kejutan mana yang tak kau pahami?” ketus aku.
Damon hanya tertawa dan berjalan mundur, dan ugh, kenapa juga dia harus terlihat keren? Damon mengedikkan bahu. “Sayang sekali, tapi aku yakin kau akan suka kejutan ini.”
***
MUNGKIN INI WAKTU YANG TEPAT untuk mengatakan kalau aku tidak pernah secara resmi pergi berkencan dengan orang, ‘kan? Dengan laki – laki yang aku suka. Atau mungkin saat Damon Hawkwolf mengajak aku kencan. Di momen itu.
Seharusnya aku berkata, “Kencan? Apa itu kencan? Apa itu makanan? Apa itu kultur di New Cresthill? Apa yang kau katakan, aku tidak mengerti, menjauh dariku!”
Baiklah, mungkin itu terlalu berlebihan, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku benar – benar mengatakan itu.
Atau mungkin aku bisa pura – pura sakit jadi sekarang aku tidak perlu pergi?
Aku tatap refleksi diri di depan cermin kecil di kamar mandi. Gaun musim panas yang aku punya berwarna merah maroon terlihat kontras dengan epidermis aku yang putih.
Yah, tidak seputih Damon, tapi masih terlihat cukup jelas.
Gaun itu aku kenakan dengan outer berupa kardigan berwarna hitam, untuk menutupi tangan yang terbuka sampai ke pergelangan tangan. Aku mengerjapkan mata.
Siapa yang akan mengira aku akan pergi kencan dengan seseorang di New Cresthill?
Aku bisa di terima program pertukaran pelajar ini saja sudah sebuah keajaiban. Full scholarship pula, sesuatu yang sangat jarang dari asalku.
Aku tidak tahu apakah itu sebuah keajaiban, atau sebuah kutukan jika di pikirkan sekarang.
Tapi, rencana aku hanya mencari pengalaman sebanyak mungkin, menemui orang – orang baru, dan melihat apakah aku bisa hidup mandiri sendiri, terutama di negara orang yang jauh dari perlindungan dua orang tua aku.
Siapa yang akan mengira aku akan berakhir dengan sebuah keanehan yang seharusnya hanya ada di film saja?
Damon Hawkwolf.
Aku akan pergi kencan dengan salah satu laki – laki yang tampan, terkenal, dan di kagumi di kota kecil ini. Dan berada dari keluarga yang ternama di New Cresthill.
Terutama tentang keluarga Hawkwolf.
Kata – kata Michael masih terngiang, terutama karena itu baru terjadi siang tadi. Aku masih ingat garis cemas di wajahnya saat dia sadar kalau aku kenal dengan Damon. Lalu ekspresi tidak suka yang dia berikan ketika Hunter dan yang lain datang.
Apa Michael termakan gosip?
Kalau mereka itu orang – orang sombong yang berpikir kalau mereka penguasa kota ini.
Lantas, aku sudah tahu ‘kan? Aku tahu rahasia di balik rumah besar ini. Rumah yang terletak jauh dari populasi orang banyak. Rumah yang tersembunyi di dalam hutan yang lebat. Rumah yang di jauhi oleh orang banyak.
Tapi apa itu berarti mereka memang penguasa kota ini?
Apa mereka semacam pemilik New Cresthill?
Aku berpikir begitu keras hingga aku tidak mendengar Damon yang tiba – tiba sudah muncul di ambang pintu masuk.
Sejak kapan pintu kamar tidurku terbuka?
“Nice dress,” komentarnya dengan suara berat yang khas itu.
Aku terkesiap dan berputar ke belakang. Tapi apa yang aku lihat membuat aku membuka bibir. Rahang aku nyaris menyentuh lantai sebab Damon terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Surai yang seharusnya terlihat berantakan, sekarang tertata rapih ke belakang. Dia mengenakan switer putih yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Celana jeans hitam yang membuat kakinya terliat lebih panjang. Lalu jam tangan berwarna emas di pergelangan tangan.
“Emas?” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
“You might want to close your mouth,” Damon meledek. “Walau aku tahu rumah ini selalu bersih dan rapih, aku tidak mau sampai ada serangga yang masuk.”
“Aku hanya olahraga rahang.” Baiklah, itu alasan yang sangat buruk, dan aku berharap semesta akan menelan aku hidup – hidup saat ini juga.
Damon menahan labium agar tidak tersenyum. “Olahraga rahang? Aku harus lebih sering melakukan itu.”
“Hmh . . . terutama karena kau tidak bisa diam.”
“Hah, you and me the same.” Damon menggeleng. “Kau sadar ‘kan yang keluar dari mulutmu itu selalu saja protes, protes, aku lapar, dan protes lagi?”
Mendengar itu, aku segera menutup mulut, dan melotot ke arahnya.
“Jangan hiraukan itu, aku senang mendengarnya,” Damon mengibaskan tangannya.
“Senang mendengar apa?”
“Suaramu.”
Aku menutup mata dan membukanya, lalu hanay melotot lagi agar dia tahu kalau aku sedang tidak suka dipermainkan seperti itu.
Damon tersenyum miring. “Dan jawaban aku adalah iya, emas.”
“Kenapa emas?” tanyaku sembari berputar dan pura – pura berkutat dengan apa pun yang ada di atas meja rias. Padahal hati aku rasanya akan keluar dari rongganya.
“Kenapa tidak?”
“Laki – laki biasanya lebih memilih silver atau hitam.”
“Maka mereka tidak punya selera yang baik,” Damon melipat dua kakinya di ujung. Aku bisa melihat itu dari bayangan cermin yang mengarah langsung ke pintu kamar.
“Hmh . . . whatever makes you sleep at night.”
“No silver,” Damon menjawab sembari maju dua langkah. Dia berhenti beberapa langkah dari belakang aku, membuat aku membulatkan mata saat melihat refleksi kami berdua di depan cermin.
Tubuhnya yang tinggi dan masif menelan proyeksi tubuh aku yang jauh lebih kecil darinya. Laki – laki itu mengobservasi aku lewat bayangan kaca.
“Jadi, kau tidak suka warna silver, perak?” tanyaku dengan napas yang tidak beraturan.
“Bukan tidak suka, tapi tidak bisa.” Informasi itu membuat aku dengan cepat berputar dan menghadap ke arahnya. Damon menaikkan alis pada mimik wajahku yang bisa aku tebak terkejut.
Aku menelengkan kepala. “Tidak bisa? Maksudmu . . . seperti kau tidak bisa terkena silver, begitu?”
“Apa pun yang perak.” Damon memberi konfirmasi. Dia menunjuk ke arah luar. “Apa kau pernah lihat ada yang terbuat dari silver di rumah ini?”
“Oh,” aku meneggakan postur tubuh. “Itu benar.”
“Jarang bagi kami untuk bisa di lukai. Aku tahu ini terlalu cepat dan absurd, tapi banyak dari kami yang bisa menyembuhkan diri sendiri. Tidak semua, sebab bagi serigala yang masih muda dan belum benar – benar menyatu dengan jiwanya, proses itu masih terlalu rumit. Tidak ada bantuan dari gen serigala dan kekuatan bulan.”
“Apa setiap serigala akan ada masa dewasanya?” tanya aku, sekarang penasaran dengan semua cerita ini.
“Biasanya saat usia kita mencapai tujuh belas tahun.”
“Are all of you immortal?”
Rasa humor terpancarkan dari wajah Damon, tapi dia menahan gelak harsa yang nyaris keluar. “Tidak, Shay. Kita tidak immortal, dan kita juga tidak selalu muda.”
“Tapi kalian tidak bisa dengan mudah di bunuh.”
“That is correct,” Damon mengangguk. “Dan sebelum kau bertanya, memang ada makhluk lain yang hidup selamanya.”
“Seperti . . . Ingruth?”
“Seperti dia,” kata Damon dengan rahang yang mengatup. Tapi satu detik kemudian, laki – laki itu kembali mengatur ekspresi wajahnya.
“Vampir?”
“Ada apa dengan Vampir?”
“Well . . . apa mereka nyata?” tanyaku dengan napas yang tertahan.
Damon mengangguk lama, membuat aku mengerutkan kening. “Kami pikir begitu.”
“Bagaimana bisa?”
“Tidak ada cerita tentang makhluk pemakan darah dalam waktu yang cukup lama,” jelas Damon. “Sampai setidaknya satu tahun lalu. Aku rasa Cordelia akan menggantung siapa saja yang berani bilang vampir itu tidak nyata.”
“Cordelia? Ada apa dengan Cordelia?”
“Dia dan Hunter nyaris dibuat celaka oleh makhluk penghisap darah itu.”
Aku menelan kata – kata itu dengan pikiran yang aku coba untuk terbuka lebar. Tapi nihil.
Aku masih menganggap semua ini absurd walau aku sudah secara jelas melihat mereka berubah bentuk menjadi makhluk yang berbeda.
“Jadi kalian tidak bisa di habiskan kecuali dengan sesuatu yang silver?” tanyaku, kembali lagi pada topik kami di awal.
Kini giliran Damon yang menelengkan kepalanya. “Apa itu sebuah ancaman?” saat aku terkejut dan akan buru – buru menjawab, Damon lebih dulu tertawa dan mengibaskan tangan. “Aku bercanda. Dan benar, hanya silver yang bisa melukai kami.”
“Kenapa kau memberitahu aku ini?”
“Kenapa tidak?” Damon mengulurkan tangannya, dan sial, dengan mudah, dengan begitu saja, aku memberikan tangan aku padanya. Dan saat tangan kita menyatu, aku merasakan sengatan listrik yang merambat di seluruh tubuh.
“Oh.”
“Kau bukan musuh, Shay. Bukan juga orang luar. Informasi semacam ini butuh kau tahu. Dan aku akan menceritakan lebih banyak padamu. Apa pun yang kau inginkan.”
Dan sengatan listrik itu semakin kuat.
Dari ekspresi Damon, aku tahu dia juga merasakan hal yang sama. “Jadi, kau sudah siap? Atau kau masih mau membahas hal – hal yang bisa membunuhku?”
“Er . . . ada lagi yang bisa membuatmu lemah?”
Damon tertawa, kepalanya mendongak ke atas. “Kau. You’re going to be the end of me someday. Shall we?”
Aku mengangguk dan mengikuti laki – laki itu ke mana pun dia akan membawa kami kencan malam ini.