32
MICHAEL ITU TIDAK pernah berbuat sesuatu yang membuat aku tidak bisa percaya padanya. Sungguh. Pada dasarnya, aku bisa mau berteman dengan Michael dari awal karena pria ini memang seseorang yang terlihat keren dan baik hati. Aku masih ingat laki – laki ini sering sekali menolong aku di awal semester, membuat aku nyaman, dan memastikan kalau aku selalu punya teman di sekitar kampus.
Area gedung fakultas kami selalu tahu kalau aku dan Michael adalah dua teman yang tidak bisa dipisahkan, kalau aku dan Michael itu teman dekat yang selalu bersama setiap saat. Bahkan aku yakin, persepsi orang antara aku dan Michael dan antara aku dan Damon itu berbeda. Aku yakin orang akan lebih kenal dengan aku dan Michael, dari pada aku dan salah satu saudara Hawkwolf itu. Aku bahkan lebih sering terihat bersama pria bernama Michael ini di kampus dari pada bersama Damon atau Cordelia sekali pun.
Semua kelas kami sama, semua subjek kami sama, jadi sudah semestinya kami selalu bersama setiap detik, kan? Aku menatap Michael lekat, mencoba menafsirkan premis tentang apa yang baru saja dia katakan. Pria itu tidak terlihat menyesal sama sekali, seperti dia sangat yakin seratus persen tentang gosip dan kabar burung yang aku yakin dia dengar di kafetaria, atau dari gadis – gadis yang gagal mendekati salah satu saudara Hawkwolf.
Aku yakin mereka ini hanya tidak suka karena sudah ditolak, atau karena memang pada dasarnya, semua orang merasa sirik dan tidak suka dengan kekuatan yang dikeluarkan oleh para Hawkwolf.
Aku tidak mengerti kenapa Michael bisa percaya dan mengatakan hal semacam ini, tapi memangnya aku harus percaya padanya?
Apa yang dia harapkan?
Apa yang aku harapkan? Percaya pada seorang teman dekat, atau pria yang seharusnya menjadi pasangan jiwa aku?
***
GADIS YANG DEKAT DENGAN Damon Hawkwolf mati dengan mengenaskan. Apa aku harus tertawa, atau merinding satu tubuh? Apa aku harus marah, atau merasa tersinggung sebab Michael bisa – bisanya bicara seperti itu?
Lantas apa yang harus kau lakukan jika mendengar rumor mengerikan seperti itu tentang laki – laki yang seharusnya menjadi pasangan jiwamu?
Untuk beberapa lama, hanya suara dersik angin dan pohon yang bergoyang yang terjadi di sekitar kami. Michael terdiam, sama seperti aku.
Karena, apa yang harus aku katakan?
Aku masih belum bisa menafsirkan pemis, belum bisa mencerna semua kata – kata Michael barusan. Rumor macam apa itu? Dari mana Michael mendengar gosip macam itu? Aku bahkan tidak pernah melihat ada orang yang berani menyebut nama famili Hawkwolf dengan konotasi yang buruk.
Desas – desus macam itu sanggup merusak reputasi orang. Lagi pula, memangnya Michael peduli apa?
Michael meraih ranting yang sudah jatuh, dan mulai bermain dengan tanah. Dia melirik aku dengan kepala yang sedikit menoleh. Ekspresi laki – laki itu elusif. Aku tidak bisa mencari tahu arti dari mimik wajahnya.
Tapi satu detik kemudian Michael melempar ranting itu lagi ke tanah, lalu menarik napas yang sangat panjang.
Ketika dia besandar lagi di pohon tepat di samping aku, bahu kami saling bersentuhan. Aku menggigit bibir agar tidak mengatakan hal yang akan aku sesali.
“Jadi?” Michael memecah keheningan. Beberapa orang sibuk berlalu – lalang di depan kami,. Beberapa orang lagi ikut duduk di taman, sibuk dengan kegiatan masing – masing seperti mengerjakan tugas, makan siang, menatap langit, atau seperti aku dan Michael berbicara dengan teman.
Tapi apa mereka juga sedang membicarakan gosip tidak masuk akal?
“Kau akan mengatakan sesuatu?” Michael bertanya. “You’ve been silent for more than ten mintues.”
Sepuluh menit? Aku melihat jam tangan dan tidak melihat waktu yang signifikan. Baiklah, jadikan itu lima belas menit.
Karena sungguh, memangnya Michael berekspetasi aku untuk mengatakan apa?
Kaget? Berseru keras? Menatapnya penuh horor?
Aku bahkan masih tidak tahu harus bereaksi apa tentang kencan pertama aku dan Damon nanti malam. Dan sekarang dia mengatakan omong kosong ini?
Apa Michael tahu aku dekat dengan Damon?
“Saoirse,” Michael menjatuhkan kepalanya di pundak aku, dan entah karena alasan apa, aku merasa tidak suka dan risih. Hampir saja aku mengedikkan bahu agar kepalanya kembali naik. Mungkin aku sedang sensitif. Atau mungkin aku kesal karena mau tidak mau, Michael sudah berhasil menanamkan gosip yang murahan seperti itu.
Michael mendengus.
“Bagus.” Michael menendang ranting tadi jauh dari kami. Pasir beterbangan, membuat aku akhirnya menatap dia lurus. “Kau tidak percaya padaku.”
Alis aku naik secara otomatis. “Aku tidak percaya padamu? Er . . . salah. Aku tidak percaya pada gosip murahan.”
“Ini bukan gosip kalau fakta.”
“Dan dari mana kau tahu kalau itu fakta?”
“Semua orang tahu itu,” Michael merentangkan tangan, menandakan banyak orang. “Mungkin hanya kau yang tidak tahu. Dan jika kau ada waktu untuk berkumpul dengan kami, mungkin kau tidak akan ketinggalan berita.”
“Aku bukan tidak mau berkumpul dengan kalian—“
“Kemarin Leo berbagi cerita tentang semua kejadian di kampus yang mungkin kita harus tahu,” Michael memotong aku. “Terutama tentang keluarga Hawkwolf.”
Aku menelan ludah. “Apa yang dia katakan?”
“Kalau mereka itu orang – orang sombong yang berpikir kalau mereka penguasa kota ini,” Michael menunjuk seseorang di kejauhan dengan dagunya. “Dan mereka selalu main hakim sendiri.”
Aku melihat arah yang di tunjuk oleh Michael, dan di sana, di tempat parkir luar yang tidak jauh dari taman tempat kami duduk, Hunter dan dua orang Hawkwolf bersaudara sedang membuka mobil mereka.
Tanpa di suruh, Hunter menoleh padaku.
Saat mata kami saling bertatap, aku merasakan sensasi aneh di epidermis yang membuat bulu kuduk berdiri. Hunter menelengkan kepalanya padaku. Senyum tipis aku berikan padanya, untuk mencairkan suasana yang terasa sedikit panas.
Hunter tidak membalas senyuman aku. Dia mematai Michael yang duduk di sebelah aku.
“Kau lihat mereka?” Michael melanjutkan, tidak merasa hidupnya sedang diamati oleh manuia yang secara harafiah bisa berubah bentuk seperti monster yang mengerikan. “Mereka bertingkah seperti bisa mengalahkan siapa saja. Seperti ini kota milik mereka.”
“Kau harus berhenti bicara.”
“Saoirse, kau tidak mendengarkan aku. Sudah aku bilang ‘kan, gadis itu mati mengenaskan. Kata Leo, dia di temukan di hutan dengan wajah yang membeku dan hitam dan—“
“Halo.” Hunter tiba – tiba muncul di hadapan kami, menutup sinar matahari dari atas. Aku terkesiap. Buru – buru aku berdiri, diikuti Michael yang menatap Hunter dengan ekspresi tidak suka. “Apa yang kalian lakukan?”
“Mengobrol?” Hunter membalas sengit. “Ada yang bisa aku bantu?”
“Shay, waktunya pulang.”
“Er . . . apa?” aku membulatkan mata padanya, berharap sinyal yang aku berikan terkirim pada laki – laki itu.
“Waktunya pulang,” Hunter hanya mengulang tanpa memedulikan sinyal dari aku. “Kita akan pulang sekarang.”
“Kau salah orang?” Michael melipat dua tangan di depan d**a. “Saoirse—“
“Akan pulang bersama kita.” Hunter memotong Michael. Tidak lama, Talon dan Orion sudah berdiri di belakang Hunter dengan wajah yang datar. “Sekarang, Shay.”
Jika aku tidak masalah dengan menjadi perhatian orang, mungkin aku akan protes. And maybe make a scene right here, right now. Apa yang sedang Hunter lakukan? Aku tidak ingin mereka tahu aku tinggal di rumah Hawkwolf!
“Shay—“
“Hunter, kau bisa pulang lebih dulu.” Aku menghardiknya sebelum dia bisa bicara lagi. “Aku—er, aku masih ada kelas.”
“Aku tahu kau tidak ada kelas lagi.”
“Dari mana kau tahu?”
“Damon,” Hunter menunjuk mobilnya. “Ayo, kita pulang sekarang.”
“Tunggu dulu,” Michael merentangkan tangannya. “Damon? Kau bilang Damon?” Michael menoleh padaku. “Saoirse, kau kenal Damon seperti itu?”
“Tidak, aku hanya—“
“Shay tinggal bersama kita.” Dan sungguh, saat itu, aku tidak peduli dengan Cordelia yang merupakan kekasihnya. Aku hanya ingin menendang dia sekeras mungkin. “Kau tidak tahu?”
Michael menaikkan satu alis padaku.
“Rumah Nyonya Smith sedang ada perbaikan, dan—dan Cordelia, kau tahu Cordelia Smith?—“
“Aku harap tidak—“
Aku melotot ke arah Hunter. “Dia anak Nyonya Smith, host tempat aku tinggal. Dia menawarkan aku tinggal di rumah, er, Hunter.”
“Rumah Hunter yang berarti rumah Damon?” Michael menatap aku seperti seorang ibu yang kecewa dengan anak gadisnya.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Baiklah, ini sudah cukup.” Hunter menepuk tangan. “Shay, ayo.” Laki – laki itu menarik tangan aku secara cepat. Talon meraih tas aku di bawah. Orion menangkap kunci yang di lempar Hunter.
Mataku membulat, tapi begitu aku menoleh pada Michael, wajahnya memerah dan dia mendengus. “Shay, ingat apa yang aku katakan—“
“Dia tidak harus mengingat apa – apa.” Hunter membalas tapi dia tidak menoleh. Dia tetap menarik aku. “Shay tidak harus mendengar gosip murahan.”
Michael tidak menjawab, jadi aku hanya melambaikan tangan padanya. Dia tidak membalas lambaian dariku. Aku merasa seperti hati aku ada yang meremas. Hati aku terasa mencelus. Aku biarkan rasa itu mengudara sembari menatap Michael yang terlihat bak orang baru saja dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Baru ketika kami sudah setengah jalan aku tersadar.
Dari mana Hunter tahu aku dan Michael sedang membicarakan gosip murahan tentang mereka?
***
“Hunter cerita padaku apa yang terjadi,” kata Damon saat dia muncul di ambang pintu. Kalau bukan karena aku sudah dalam posisi duduk di ujung tempat tidur, aku mungkin akan jatuh ke bawah saking terkejutnya.
Bagaimana bisa dia datang tanpa bunyi sama sekali?
“Apa kalian punya kekuatan super atau semacamnya?” seruku dengan suara yang serak. Aku menepuk d**a berkali – kali.
Damon masuk ke dalam kamar tidurku tanpa di undang. Dia berhenti tidak jauh dari aku, berdiri dengan dua tangan di depan d**a. “Kecuali fakta kalau kita secara harafiah adalah manusia serigala?”
Aku meringis mendengar terma itu.
“Kenapa?” Damon mengerutkan keningnya. Hidungnya ikut mengerut, membuatnya sebagian terlihat menggemaskan.
“Aku hanya belum terbiasa dengan hal itu.”
“Hal apa?”
“Er . . . manusia serigala.” Aku melirik Damon, berharap dia tidak tersinggung sama sekali. Tapi laki – laki itu tidak mengatakan apa pun. “Kau bisa bergerak tanpa terdengar?”
“Latihan.”
“Untuk apa kalian latihan seperti itu?”
“Kau pikir hanya kita makhluk supernatural di bumi ini?” Damon mengerjapkan matanya padaku. “Kau sudah bertemu Ingruth, ‘kan?”
Aku tidak menjawab.
“Jadi, apa yang akan kau katakan tentang cerita Hunter tadi?” Damon melanjutkan inkuirinya di awal.
Mendengar itu, aku teringat satu hal yang aku sadari tadi di mobil. “Kalian punya semacam pendengaran super juga? Aku dan Michael, kita cukup jauh dari parkiran. Bagaimana caranya Hunter bisa tahu apa yang kita bicarakan?”
“Jadi benar.” Damon mendengus dan menjatuhkan dua tangannya dari lipatan di depan d**a. Pria itu menyibak surai hitamnya ke belakang, lalu menatap aku dengan mimik yang kesal.
Kenapa juga dia kesal?
Oh, sial. Apa dia pikir aku membicarakan yang tidak – tidak tentang dia dan keluarganya?
Aku mengangkat satu jari telunjuk ke atas. “Dengar, sebelum kau marah, aku tidak berkata apa pun. Aku bahkan tidak percaya dengan rumor yang tidak baik itu tentang kalian—“
“Kau bersama dengan Michael?” Damon memotong aku.
“Apa?”
“Kau. Bersama. Dengan. Michael?” Damon menekan setiap silabel, seperti berbicara dengan anak kecil berusia lima tahun.
Alis aku otomatis mengerut. Dari posisi itu, jelas aku terlihat seperti sedang terintimidasi. Jadi aku berdiri, melipat dua tangan di depan d**a—mengikuti gayanya tadi—lalu menaikkan dagu sedikit.
Jika Damon pikir dia bisa seenaknya bicara seperti itu padaku, maka dia salah. Tidak peduli pasangan jiwa dan segala omong kosong lainnya.
“Iya. Aku bersama dengan Michael tadi di taman. Tapi tenang saja, kau tidak perlu marah begitu. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Hunter, tapi aku tidak percaya satu pun apa yang Michael katakan tentang rumor kau—“
“Aku tidak peduli dengan rumor,” Damon menyipitkan satu matanya, membuat ujung bibirnya naik setengah dengan perasaan yang tidak suka.
“Lantas?”
“Apa yang kau lakukan dengan Michael itu di tengah taman? Duduk bersampingan? Dan . . . entahlah, berbicara. Yang by the way, rumor apa yang kalian bicarakan?”
“Tunggu dulu,” aku mengibaskan tangan. “Kau lebih peduli tentang aku yang duduk bersama dengan Michael?”
“Siapa Michael ini?”
“Temanku . . . whoa, hold on. Apa kau cemburu, Damon?” aku maju satu langkah. Damon tidak menjawab. Dia hanya diam. Tapi dari adam apelnya yang naik dan turun tidak beratur, aku tahu itu adalah respon positif.
Sial.
Kenapa juga hatiku harus merasa hangat dan abdomen terasa aneh mengetahui fakta itu?
Tapi untungnya, akal sehat lebih menang. “Kau gila. Aku dan Michael adalah teman baik sejak hari pertama.”
“Aku tidak suka.”
Aku tertawa. “Dan aku harus peduli? Kau bukan siapa – siapa, Damon. Kau tidak bisa mengatur—“
Lalu dia bergerak secara cepat. Aku bahkan tidak sempat menarik napas. Napas itu tercekat di leher. Leher yang sekarang di pegang oleh jemari besar Damon. Tapi laki – laki itu tidak menekannya, tidak meremasnya, apalagi mencekik.
Dia hanya melingkarkan tangannya di sana, seperti memberi tanda, memberi tahu siapa yang sedang berdiri di depanku.
“Kalau mereka itu orang – orang sombong yang berpikir kalau mereka penguasa kota ini,” Michael menunjuk seseorang di kejauhan dengan dagunya. “Dan mereka selalu main hakim sendiri.”
Aku menelan saliva, walau kerongkongan terasa kering. Dari jarak kami yang sangat proksimal, aku yakin Damon bisa merasakan hembusan napas aku yang memburu. Setelah beberapa sekon, aku tersadar.
“Apa yang kau lakukan?”
Damon memajukan wajahnya. “You are my mate. Kau dengar itu? Aku pasangan jiwamu. Dan Shay, jika kau lupa itu, maka aku punya banyak cara untuk mengingatkanmu.”
Dan oh, hati yang menyedihkan, kenapa kau malah berdegup kencang mendengar hal itu?
Aku sudah gila. Benar – benar kehilangan akal di kota kecil dan terpelosok ini. New Cresthill. Apa kau bahkan benar kota yang nyata?
“Damon—“
“Aku tidak mau kau bersama atau berduaan dengan Michael lagi. Bukan karena aku cemburu, tapi karena Hunter bilang pria itu mengeluarkan aura yang aneh. Dan, baiklah, ya benar. Aku memang tidak suka karena aku tidak mau melihat laki – laki berada di dekatmu,” Damon mengelus leherku. “Jadi, Shay, aku harap kau mengerti itu.”
Aku tidak bisa menjawab. Semua atensi aku tertuju pada netra Damon yang berubah menjadi keemasan. Terang dan indah, dan aku nyaris terhuyung payah ketika dia mengelus bagian belakang telinga yang sensitif.
Lalu dia mengecup keningku pelan. “Sekarang, bersiaplah untuk kencan kita, karena aku punya kejutan untukmu.”