PART 31

2341 Kata
31 PREVIOUSLY ON DAMON – HAWKWOLF CHRONICLES . . . . (recap from the last chapter of Damon – Hawkwolf Chronicles) “Apa lagi?” baiklah, mungkin aku terlalu berlebihan. Jadi bukannya menjawab, aku hanya mengangguk. “Tidur yang nyenyak?” tanya dia sembari menyingkir, memberikan aku jalan dengan melangkah ke samping. Aku melanjutkan jalan tanpa menoleh ke arah laki – laki itu sama sekali, atau merespon inkuiri dia yang tidak penting itu. “Shay, good sleep?” ulang dia lagi. “Apa kau tidak mendengar aku?” Ekhalasi yang aku keluarkan mungkin terlalu besar dan dramatis, karena detik berikutnya aku bisa mendengar Damon terkekeh menertawakan aku. “Ya, ya . . . aku tidur nyenyak.” “Aw, that’s good,” Damon menyamakan langkah kami. “Karena aku tidak.” Langkah aku terhenti tepat sebelum kami berdua masuk ke ruang makan. Secara perlahan aku melihat dia. Damon sudah lebih dulu menatap aku lekat, penuh arti, penuh rasa, afeksi yang mungkin diselubungi hal lain lagi. Dua tangannya tetap berada di dua sisi tubuh, tapi aku bisa melihat jari – jari pria itu mengepal. Walau wajahnya yang rileks, begitu juga bahunya, aku tahu Damon juga sama terpengaruhnya. Dan hal itu cukup membuat aku percaya diri. Setidaknya, bukan hanya aku yang terganggu. “Oh, ya?” Damon tersenyum. Senyum asli. Senyum tulus. Senyum yang sanggup merubah wajahnya menjadi sesuatu yang berbeda. Menjadi Damon yang berbeda. Damon yang hangat, tampan, dan . . . membuat aku berdegup kencang. “Tentu saja,” Damon meraih tangan aku. “You are my Mate, Shay.” “Oh.” Aku tidak tahu harus merespon apa. “Saoirse?” “Iya?” “Mau berkencan dengan aku?” *** APA YANG HARUS KITA JAWAB dengan inkuiri semacam itu? Aku Saoirse Lee yang tidak punya banyak pengalaman. Sungguh. Pengalaman aku hanya sekedar melihat hubungan teman – teman di sekitar aku, atau yah, menonton film dan tv seri. Menyedihkan? Aku tahu. Tapi tidak ada yang lebih menyedihkan dari tersedak di depan Damon Hawkwolf. Bukan hanya tersedak biasa yang kadang terlihat imut jika di lakukan oleh pemeran utama wanita di film – film romansa. Tapi tersedak ala bayi muntah atau pria dewasa yang kebanyakan makan. Tubuh aku otomatis menyondong ke depan, napas tercekat, mata berair, dan d**a aku rasanya akan meledak. Aku buru – buru menepuk d**a dengan gelagapan. Damon yang melihat itu secara otomatis ikut bergerak. Samar, aku merasakan tangan dia memegang punggung aku. Dan tahu – tahu saja, dia sudah ikut menepuk – nepuk bagian belakang punggung aku. Memalukan. Apa kau bisa lebih memalukan lagi, Shay? Lantas, apa yang akan aku lakukan? Aku tetap terbatuk – batuk, menghindari harus menjawab apa yang di katakan oleh Damon. Laki – laki itu mengajak aku kencan. Oh my God, apa aku salah dengar? Akan sangat, sangat, sangat lebih dari memalukan jika aku salah dengar. Apa kata yang berirama dengan kencan? Kencang? Apa yang kencang? Mau makan kacang dengan aku? Er . . . aku rasa tidak. Siapa yang tiba – tiba mengajak makan kacang di tangga rumah kita? Rumah mereka! Shay, sadar. Rumah. Mereka. Aku mengerjapkan mata berkali – kali, sambil merasakan usapan halus jemari besar Damon di punggung. Yang by the way, lama – lama semakin naik, dan semakin naik, dan naik lagi sampai aku nyaris tersedak untuk ke sekian kalinya ketika tangan besar itu menangkup tengkuk leher aku dari belakang. Damon menatap aku, wajah kami sangat dekat. Kening nyaris bersentuhan. Aku menelan ludah. “Kau baik – baik saja?” tanya Damon sedikit cemas, dan sedikit menahan tawa. Laki – laki sialan. Bisa – bisanya dia membuat aku terkejut dan menertawakan aku? Damon menelengkan kepalanya. “Shay?” “Ya,” aku berdeham. Ketika aku mencoba untuk melepaskan diri darinya, pegangan tangan dia menjadi kuat, menahan aku di tempat. “Aku baik – baik saja.” “That’s good,” ujarnya pelan. Napasnya menabrak wajahku, membuat surai di epidermis paras berdiri. Saat aku mencoba melepaskan diri lagi, Damon malah membawa wajahku semakin dekat dengannya. Dua mata aku melebar. “Apa yang kau lakukan?” tanya aku panik. Ini tidak main – main. Setidaknya, aku pikir dia tidak main – main. Jemarinya menangkup kuat belakang leher aku dengan pegangan yang posesif. Dan seharusnya aku tidak merasa tersipu, ‘kan? Seharusnya aku marah, ‘kan? Protes, berusaha melepaskan diri lagi, dan mendorong dia jauh – jauh, ‘kan? Maksud aku, kita memang melalui . . . hal itu tadi malam. Di bawah kembang api yang indah pula. Kala itu, segalanya terasa magis. Indah. Baiklah, aku memang merasa seperti gadis yang paling beruntung. Tapi itu tidak berarti Damon bisa melakuan ini. Walau pun dia berpikir . . . kita semacam pasangan jiwa atau entahlah! Aku berusaha menarik kepala aku ke belakang tapi nihil. “Aku bilang, apa yang kau lakukan, Damon?” ulang aku lagi, kali ini nada bicara aku terdengar mulai kesal. “Menunggu jawabanku?” jawabnya, yang lebih terdengar seperti pertanyaan di bandingkan dengan pernyataan. Aku menarik napas saat aku bisa merasakan ibu jarinya mengelus sisi leher aku. Jari – jarinya begitu besar dan panjang di bandingkan leher aku sehingga dia secara teknis menelan semua sisi leher aku dari belakang, dan berhenti beberapa inci saja di tengah tenggorokan. Damon tersenyum tipis. Sial. Kupu – kupu, kenapa kalian harus beterbangan sekarang? “Jawaban apa?” tanya aku balik, berpura – pura bodoh. Hal itu hanya membuat senyum di bibir Damon semakin lebar. Dia bukan hanya menarik wajah aku, tapi juga tubuh kami berdekatan. Oh . . . apa dia bisa mendengar degupan jantung aku? Please heart, be still! Aku berharap di dalam hati. “Apa kau tidak bisa mendengar aku tadi?” Damon mengelus leher aku lagi. Dan jujur, manuver itu hanya semakin membuat aku tidak bisa berpikir jernih. “Yang bagian mana?” “Bagian mana menurutmu, Shay?” “Bagian ketika kau bertanya ada yang menarik di tangga kita?” ujarku tanpa rasa bersalah. Aku melihat Damon menahan diri agar tidak tertawa. “Karena sungguh, menurut aku, teralis kalian sangat indah. Apa itu emas? Emas asli? Karena jika memang tangga ini terbuat dari emas asli—“ “Asli.” “Oh.” Aku mengerjapkan mata. Dengan pikiran yang kalang kabut, aku mencoba mencerna informasi itu. Asli. Tangga ini di lapisi oleh emas asli. Apa aku tidak salah dengar lagi? “Kenapa?” “Ini . . . emas asli?” Aku berusaha menoleh untuk melihat teralis tangga, melihat anak tangga, tapi tangan Damon masih menahan kepala aku di tempat. “Serius?” “Terakhir yang aku tahu.” “Wow,” ucapku dengan seru yang halus. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan, “Berapa harga rumah kalian?” Kali ini Damon benar – benar tertawa. Dan laki – laki itu—ah sial, hatiku! Tenanglah hati aku!—menaikkan ibu jarinya yang panjang dan mengelus bagian di antara pipi dan daun telinga aku secara lembut. Aku nyaris pingsan. Pingsan sebab hati yang tidak bisa tenang, dan napas yang tidak menderu secara normal. Aku menelan ludah. Lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai tidak ada lagi yang bisa aku telan. Kerongkongan terasa kering. Kepala aku terasa berat. “You are something else, aren’t you?” Damon bergumam pelan. Entah aku harus mendengar itu atau tidak, tapi aku tidak menjawab. Setelah beberapa lama kami berdua hanya berdiri seperti itu, akhirnya kami mendengar teriakan tidak sabar dari dalam. “SHAY!” Ya. Cordelia. Bless her heart, and bless mine too because it’s about to blow apart. Aku berusaha melepaskan diri lagi. Ketika Damon masih tidak menunjukkan niat untuk melepaskan diriku, aku mengeluarkan erangan yang frustasi. “Damon, kau mendengar Cordelia, ‘kan? Dia memanggil aku. Aku harus pergi.” “Kita akan terus di sini sampai kau memberikan aku jawaban.” “Aku sudah bilang aku memang mau sarapan.” “Bukan itu,” Damon meremas tengkuk leher aku. “Aku juga sudah bilang kalau aku tidur nyenyak.” “Shay . . . aku mulai berpikir kalau kau memang suka berada di posisi seperti ini—“ Mata aku melebar. Aku mendorong dadanya tapi dia tidak berkutik sama sekali. “Jangan bermimpi!” aku berseru keras. “Baiklah, baiklah! Lepaskan aku dan aku akan memberikan jawaban.” Damon melepas aku detik itu juga. Entah aku harus senang atau apa. Aku tahu, sebagian dari kata – kata Damon memang benar. Tapi dari cara dia langsung melepas aku tanpa cemas sama sekali yang menandakan kalau dia bisa melakukan ini padaku kapan saja, membuat aku mendengus kesal. Damon tersenyum miring. “Jadi?” “Jawaban apa yang ingin kau dengar?” “Oh, Shay. Kau tahu jawaban apa yang ingin aku dengar,” bisiknya dengan vokal yang serak. Aku nyaris pingsan lagi. Dan dengan pegangan tubuh Damon yang tidak lagi menahan aku di tempat, aku akhirnya berpegangan pada teralis sisi tangga. Yang by the way, terbuat dari emas asli. Ini gila. Aku mengangguk. “Baiklah. I guess.” “I guess what?” “I guess I will go on a date with you, Damon.” ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ Michael tidak sengaja menginjak tas aku yang tergeletak di bawah tanah saat aku sedang duduk di bawah pohon yang rindang sendirian. Laki – laki itu meringis dan memberikan aku seringai malu. “Apa ada yang mengejarmu?” sindirku dengan nada bicara yang aku harap tidak terdengar terlalu serius. Michael terkekeh lalu duduk di samping aku. Pria itu meraih tas aku dan membersihkannya. “Maaf, aku hanya senang melihatmu di sini.” “Aw,” aku mendaratkan tangan di d**a. “Kau senang melihat aku?” “Hey, jangan terlalu tersentuh. Lagi pula, kau jarang terlihat di kampus belakangan ini.” Aku mengangguk. “Aku cukup sibuk. Dan er . . . beberapa hari yang lalu aku sedikit merasa tidak enak badan.” “Shay, kau sakit?” “Begitulah.” Michael memberikan tas aku kembali. Dia ikut bersandar di bawah pohon. “Nanti malam akan ada kumpul kelas bagi angkatan pertukaran pelajar.” “Oh, ya?” kepala aku menoleh ke arahnya. “Kenapa aku tidak tahu?” “Mungkin karena kau jarang terlihat beberapa hari ini?” Aku memukul bahunya. “Apa kau akan ikut?” Tawaran itu tertiup angin begitu saja. Tentu aku ingin ikut. Tapi konversasi tadi pagi kembali berputar di benak. Kencan. Dan Damon lagi – lagi mengucapkan diktum kalau kencan kita malam ini. Apa bisa yang namanya reschedule jam kencan? Michael menyenggol bahu aku. “Shay?” “Maaf, aku sangat ingin ikut,” ujarku dengan napas berat. “Tapi aku tidak bisa.” “Tidak bisa?” Michael menaikkan dua alisnya. “Ada acara yang lebih penting? Shay yang baru di kota ini punya teman selain aku?” dia berpura – pura terlihat tersinggung dan kecewa. Aku memukul bahunya lagi, kali ini lebih keras. “Diam. Aku punya banyak teman.” “Dan salah satunya?” Aku tidak langsung menjawab. Apa boleh aku memberitahu tentang kencan ini? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, aku sedikit tidak mau orang tahu kalau aku dan Damon itu ada semacam hubungan. Keluarga Hawkwolf di kampus ini sangat terkenal. Semua orang tahu mereka. Terutama Hunter dan Damon. Dan aku tidak mau jika rumor tentang kami yang berkencan tersebar luas. Lagi pula, aku belum tahu jika ini artinya Damon ingin bersama dengan aku. Walau pun dia berkali – kali mengklaim kalau aku ini pasangan jiwa dia. Lalu semua masalah tentang iblis itu . . . Aku menggelengkan kepala. “Salah satunya adalah orang yang tidak kau kenal,” aku menepuk dadanya dengan bagian belakang telapak tangan. “Maaf, tapi bisakah kau bilang pada yang lain kalau aku sangat ingin ikut namun aku sudah lebih dulu membuat janji dengan temnaku?” Michael tidak menjawab beberapa lama. Dia mengobservasi aku dengan kening mengerut, membuat aku merasa sedikit tidak nyaman. Tapi kemudian dia tersenyum tipis, dan mengedikkan bahu. “Baiklah. Aku rasa tidak masalah.” Aku mengangguk. “Shay?” panggil Michael. Aku menatap ke atas, melihat daun – daun yang berjatuhan ke bawah. “Iya?” “Apa kau kenal dengan Damon Hawkwolf?” Bibir aku memberengut. Aku lirik Michael dari ujung mata, tapi dia sedang sibuk menatap rumput di bawah kaki kami. Ada apa dengan pertanyaan itu? “Kenal. Kenapa?” “Benarkah?” Michael mengangkat kepalanya dan menatap aku. “Kau berteman dengan dia?” “Aku rasa begitu,” jawabku ragu. Lantas, memangnya aku dan Damon itu apa? Mana aku paham? “Oh.” “Apa yang kau bicarakan, Michael?” tanya aku penasaran. “Tidak,” Michael mengedikkan dua bahunya. “Aku hanya pernah mendengar cerita tentang Damon yang berbahaya.” Hati aku mencelus mendengar kalimat itu. “Berbahaya?” aku mengerutkan alis. “Bahaya apanya?” aku harap Michael tidak mendengar nada defensif di kalimat aku. “Hanya rumor kalau dia laki – laki yang tidak baik,” Michael melanjutkan. “Dia dan keluarga Hawkwolf punya reputasi yang kurang tinggi di mata orang – orang di sini,” kata Michael. Apa dia serius? Aku tidak pernah melihat orang tidak suka pada keluarga Hawkwolf. Hanya beberapa pihak yang mungkin sedikit takut dan tidak berani macam – macam dengan mereka. Itu tidak membuat mereka orang yang buruk, ‘kan? “Bukan itu saja,” Michael menarik napas panjang. “Aku dengar mereka itu sering bertingkah seperti penguasa di kota ini. Dan jika ada yang berani melawan, maka mereka akan di hukum. Damon yang paling parah.” Aku menghentikan Michael sebelum dia bisa meneruskan omong kosongnya. “Rumor. Itu kata kuncinya. Sejak kapan kau mendengarkan gosip di kota ini?” Michael tapi tidak berhenti. Dia menatap aku tajam lalu berkata, “Aku dengar . . . gadis terakhir yang dekat dengan Damon mati dengan mengenaskan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN