PART 30

1225 Kata
30 “SAOIRSE LEE, kenapa kau terlihat seperti baru saja melihat setan?” sahut Cordelia saat gadis itu tiba – tiba muncul dari depan dapur, dan menghampiri aku yang membeku di balik konter dapur yang luas. Aku mengerjapkan mata, dan butuh beberapa detik untuk bisa menafsirkan premis. Aku menatap Cordelia dan merasa malu secara otomatis. Dengan cepat aku berusaha untuk bersikap normal, tidak seperti gadis bodoh yang baru saja mematung di balik konter dapur, dan tak bisa aku pungkiri, pasti wajah aku sangat merah dan aneh. Aku berdeham dan merapihkan pakaian yang aku pakai, sembari mengatur komposur tubuh dengan berdiri tegak, bersikap seolah tidak ada yang salah. Aku mengantungi dua tangan ke dalam saku celana, menatap Cordelia dengan dua alis diangkat. Memang lebih baik bersikap seolah aku dia yang salah dari pada aku harus membela diri sendiri. Lagi pula, memangnya aku terlihat seperti baru saja melihat setan? Lebih seperti melihat malaikat. Aku memukul kepala aku sendiri di dalam hati. Ini bukan waktunya memikirkan kejadian itu lagi. “Shay?” Aku berdeham. “I—iya?” aku meringis di dalam hati mendengar diri aku sendiri terbata tak karuan. Aku berdeham lagi, kali ini lebih keras dan lebih tegas. Dengan gaya yang konyol, aku mengeluarkan tangan dari dalam saku celana dan bersandar dengan dua sikut di atas konter sambil duduk di kursi dapur. “Kenapa, Cordelia cantik? Ada yang bisa aku bantu?” “Kau ini kenapa, sih? Aneh sekali.” Cordelia mengerutkan keningnya. Aku menahan diri agar tidak menyembunyikan wajah, sebab itu akan terlihat semakin mencurigakan. Jadi, aku mengangkat dagu dan mengedikkan bahu saja. Aku menggigit bibir mencari alasan. “Tidak apa – apa. Mungkin kau saja yang sedang aneh.” “Kenapa kau berdiri begitu seperti patung? Di tengah dapur yang gelap pula. Air panas kamu sudah jadi dari tadi,” tunjuk Cordelia pada pot air panas aku yang sudah jadi. Aku melirik teh di gelas, dan mendadak merasa tidak ingin minum teh lagi. Aku bersungut dan berdiri. “Ah, ya benar.” “Kau yakin baik – baik saja?” tanya Cordelia lagi. “Ya, aku yakin.” Hanya nyaris mati sebab apa yang baru saja terjadi. ***  APA YANG HARUS AKU LAKUKAN SEKARANG? Bersikap biasa saja atau justru secara direk mempertanyakan pada laki – laki itu apa arti dari hal yang terjadi pada kita tadi malam? Er . . . apa itu akan terlalu canggung? Apa yang aku tahu dari hal – hal seperti ini? Apa yang aku tahu? Tidak ada. Kosong. Nihil. Zero experience. Pengalaman aku hanya sekedar tak sengaja berpegangan tangan dengan laki – laki, atau yang paling skandal saat aku terjatuh tidak sengaja tersandung dan memeluk seseorang. Itu saja. Sungguh. Tadi malam itu bagaikan pesta kembang api yang indah. Bak menemukan sumber air yang melimpah di padang pasir. Seperti aku baru saja tahu yang namanya bahagia. Panggil aku berlebihan, gadis norak, atau sekedar orang payah . . . tapi aku serius. Dan nyatanya, itu semua bahkan berakhir sebelum aku sempat menarik napas. Hanya sebuah kecupan polos. Seperti mengecup kening adik bayi, atau mengecup pipi teman sepermainan. Lalu, tahu – tahu saja Damon Hawkwolf mundur beberapa langkah, mengucapkan selamat malam, dan pergi. Iya. Begitu saja. Dia pergi dengan tidak menoleh sama sekali. Brutal, aku tahu. Tapi aku masih tidak bisa melupakan kejadian itu. Sekarang, saat pagi sudah datang, dan aku sudah selesai bersih – bersih, apa yang akan aku lakukan? Pertanyaan itu seperti bom yang siap meledak di dalam pikiran aku sendiri. Apa yang harus aku lakukan? Sudah jelas aku tidak bisa di sini seharian. Aku ada kelas siang. Dan cepat atau lambat, Cordelia pasti akan memanggil aku untuk sarapan di bawah. Tanpa sadar, aku menggigit kuku, bingung, panik, dan entah apa mengusik benak. Haruskah aku bersikap polos, atau tidak? “Shay!” sudah aku duga. Cordelia itu sama saja dengan Nyonya Smith. Makanan paling penting dalam satu hari adalah sarapan. Tidak boleh yang namanya melewatkan sarapan, bahkan jika kau hanya makan energy bar saja. Aku mengerang keras, lalu akhirnya berdiri. “Iya, aku datang!” More like, yes I don’t want to come, tapi aku tidak tega menolak gadis cantik itu. Berhubung dia selalu menyiapkan sarapan untuk semua orang, aku setidaknya harus mencicipi apa pun itu yang dia siapkan sebagai tanda terima kasih. Ugh, kenapa dia harus baik sekali, ‘sih? Aku membuang – buang waktu dengan turun tangga secara pelan, mengamati teralis di luar, melihat halaman belakang yang luas, menatap lantai yang bersih—bagaimana bisa lantai di sini selalu bersih tanpa noda sama sekali? Tanpa debu? Aku lihat tidak ada asisten rumah tangga di sini, tidak ada juga orang yang terlihat selain Hawkwolf bersaudar— “Shay?” Aku mungkin memekik pelan. Atau terkesiap. Atau mungkin jantung aku melompat ke luar saking kagetnya. Tapi aku tidak sempat memikirkan itu saat figur Damon sudah muncul di depan aku, tepat di bawah anak tangga. Sialnya, walau pun aku masih berdiri di atas dua anak tangga darinya, Damon masih lebih tinggi dari aku. Dan membuat aku harus mendongak ke atas. “Er . . . apa?” Payah. Aku benar – benar payah. Damon berseringai penuh arti. “Ada yang menarik di tangga rumah kita?” Rumah kita. Maksudnya rumah keluarga mereka, Shay! Aku harus sadar. “Tidak ada,” jawab aku cepat. Mungkin terlalu cepat. I really need to pull myself together. Damon berdiri tegak, tidak terlihat payah sama sekali, tidak terlihat bingung, atau panik, atau tidak tahu harus melakukan apa. Ini mungkin bukan yang pertama kalinya bagi laki – laki itu. “Damon, bisa kau menyingkir?” aku mengangkat dua alis ke atas, berlagak seperti gadis yang keren. Aku tidak akan membiarkan dia tahu kalau apa yang terjadi di antara kita kemarin mempengaruhi aku sebesar ini. “Sarapan, ya?” “Apa lagi?” baiklah, mungkin aku terlalu berlebihan. Jadi bukannya menjawab, aku hanya mengangguk. “Tidur yang nyenyak?” tanya dia sembari menyingkir, memberikan aku jalan dengan melangkah ke samping. Aku melanjutkan jalan tanpa menoleh ke arah laki – laki itu sama sekali, atau merespon inkuiri dia yang tidak penting itu. “Shay, good sleep?” ulang dia lagi. “Apa kau tidak mendengar aku?” Ekhalasi yang aku keluarkan mungkin terlalu besar dan dramatis, karena detik berikutnya aku bisa mendengar Damon terkekeh menertawakan aku. “Ya, ya . . . aku tidur nyenyak.” “Aw, that’s good,” Damon menyamakan langkah kami. “Karena aku tidak.” Langkah aku terhenti tepat sebelum kami berdua masuk ke ruang makan. Secara perlahan aku melihat dia. Damon sudah lebih dulu menatap aku lekat, penuh arti, penuh rasa, afeksi yang mungkin diselubungi hal lain lagi. Dua tangannya tetap berada di dua sisi tubuh, tapi aku bisa melihat jari – jari pria itu mengepal. Walau wajahnya yang rileks, begitu juga bahunya, aku tahu Damon juga sama terpengaruhnya. Dan hal itu cukup membuat aku percaya diri. Setidaknya, bukan hanya aku yang terganggu. “Oh, ya?” Damon tersenyum. Senyum asli. Senyum tulus. Senyum yang sanggup merubah wajahnya menjadi sesuatu yang berbeda. Menjadi Damon yang berbeda. Damon yang hangat, tampan, dan . . . membuat aku berdegup kencang. “Tentu saja,” Damon meraih tangan aku. “You are my Mate, Shay.” “Oh.” Aku tidak tahu harus merespon apa. “Saoirse?” “Iya?” “Mau berkencan dengan aku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN