29
PADA DASARNYA, jika ini memang bukan dalam konteks Damon Hawkwolf dan para saudaranya pun, di dunia yang bernama New Cresthill seperti kota kecil yang terpencil, gelap, dan punya banyak misteri, aku masih akan kurang bisa percaya dengan konsep pasangan jiwa. Bagi aku itu sebuah konsep yang terlalu rumit untuk dimengerti.
Bagaimana bisa ada yang namanya pasangan jiwa di dunia ini? Aku tidak mengerti.
How can two people be so connected, with so much trust and love, and all the good things in life? Aku rasa aku memang akan selalu menjadi orang yang skeptis dalam urusan pasangan jiwa ini. Aku sendiri tidak pernah melihat secara jelas bukti dari pasangan jiwa yang bersatu di dunia, kecuali jika aku memang percaya tentang konsep ini dan melihat Cordelia Smith dan Hunter Hawkwolf.
Mereka berdua memang terlihat seperti dua orang yang tergabung dalam sebuah koneksi kuat di dunia. Aku tidak akan terkejut memang jika ada yang mengatakan dua pasangan itu seperti pasangan jiwa yang sudah ditakdirkan di bumi.
Cordelia dan Hunter itu memang seperti sebuah kesatuan yang tidak pernah pecah. Rasanya akan sangat aneh dan konyol jika melihat dua pasangan itu terpisah dan tidak bersama bahkan satu detik saja. Aku sudah terlalu terbiasa melihat Hunter yang menempel pada sisi Cordelia, sehingga aku tidak bisa membayangkan mereka berdua tidak bersama.
Tapi apakah aku dan Damon seperti itu? Apakah kami berdua seperti Cordelia dan Hunter yang saling cinta dan saling peduli? Apakah kita berdua memang terlihat seperti pasangan jiwa yang ditakdirkan?
“Hey?” Damon membuyarkan lamunan aku perkara semua hal tentang pasangan jiwa dan segalanya. Aku menoleh dan mendapati Damon berdiri tinggi. Tubuhnya yang masif terlihat gagah dan berani. Dua tangan masuk ke dalam saku celana. “Kau mau menonton film bersamaku?”
Aku terdiam lama. Apa ini yang sering dilakukan oleh dua pasangan jiwa yang baru bertemu? Satu hal yang aku tahu. I will never know if I don’t try. Jadi, aku mengangguk dan menghampiri Damon. “Film apa?”
***
BUKTINYA, AKU MASIH tidak bisa terbiasa dengan satu fakta yang menghantui aku semenjak Damon Hawkwolf menjatuhkan bom nya. Aku adalah pasangan jiwa dia. Mates.
Bukan hanya itu. Tanpa di sengaja, aku sekarang berada di rada iblis jahat yang mengerikan, yang entah kenapa memiliki agenda khusus untuk membuat Damon menderita.
Maksud aku, aku mengerti kalau Ingruth punya semacam dendam tersendiri, tapi kenapa? Kenapa Damon? Aku tahu penjelasan dia tentang diri dia sendiri yang dulu. Laki – laki yang berbeda dengan dia yang sekarang.
Sengak, angkuh, sombong, tidak merencanakan segalanya dengan matang.
Tapi bukan kah dia melakukan itu semua dengan saudara nya yang lain? Lagi pula, menurut aku Hunter adalah tipe laki – laki yang lebih mungkin gegabah dan sombong di depan musuh yang kuat.
Bahkan Archer sekali pun, yang sebentulnya laki – laki lucu namun juga terlalu percaya diri.
Mungkin ada sesuatu yang masih belum dia ceritakan, mungkin aku hanya menarik – narik kesimpulan sendiri. Yang jelas, masalah ini tidak akan pergi dengan sendirinya.
“Damon?” suara dialog dari para pemain film yang sedang kami tonton di ruang tamu terasa jauh. Tapi lagi, anehnya, setiap kali aku bersama dengan laki – laki ini, rasanya dunia hanya milik aku dan dia.
Tidak ada suara, tidak ada visual, tidak ada orang lain, tidak ada konsep waktu dan ruang.
Hanya aku dan Damon Hawkwolf, dan dunia luar berhambur menjadi fragmen – fragmen yang tidak jelas.
Entah apa artinya itu, tapi aku tidak mau memikirkan hal itu terlalu lama. Sudah sekian banyak konklusi buatan yang aku pikirkan di dalam benak. Begitu banyak hipotesis, dan dugaan, dan pikiran dari segala macam skenario buruk.
Dan jujur, aku lebih memilih untuk tidak kapabel berpikir lebih jauh lagi.
Hunter dan Cordelia yang berpelukan di ujung sofa tentu saja tidak menggubris suara pelan aku. Bisa di duga sangat jelas kalau mereka berdua memiliki sentimen yang sama. Bagaimana pun juga, bukan kah mereka pasangan jiwa sama seperti aku dan Damon?
Cuddling, kissing, teasing . . . begitu banyak afeksi.
Aku bergidik ngeri. Kalau aku dan Damon juga pasangan jiwa, apa itu artinya aku akan melakukan hal yang sama seperti Hunter dan Cordelia? Er . . . aku menoleh ke arah Damon yang sekilas menatap dua pasangan itu seperti mereka makanan basi.
Aku rasa tidak.
Lalu satu detik kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah aku, dan tiba – tiba padangan itu berubah menjadi laki – laki yang melihat buah paling segar di super market. “Iya, Shay?”
Ada sesuatu di nada bicaranya setiap kali dia menyebut nama aku. Shay. Saoirse. Saoirse Lee. Seperti es krim di musim panas. Seperti buah semangka dingin di tengah hari. Seperti . . . rasa manis di hati yang sedih.
Jujur, dia bisa saja memanggil aku dengan sebutan paling jelek di muka bumi ini, dan mungkin laki – laki itu masih akan terdengar manis.
Aku nyaris mencibir pada diri aku sendiri.
“Kenapa kita menyaksikan film ini?” tanya aku dalam bisikan pelan. Aku tidak mau Cordelia mendengar, atau Hunter yang sudah pasti akan mengadu pada gadis cantiknya.
Tapi berhubung Hunter juga seorang manusia serigala, dan sepengetahuan aku belakangan ini kalau Cordelia juga memiliki darah manusia serigala di tubuhnya, aku yakin seratus persen mereka bisa mendengar aku walau dalam bunyi frekuensi terendah yang bisa dibuat manusia.
Damon menahan tawa. “Kenapa memangnya?”
“Er . . . seriously? Twilight?” aku mengangkat dua alis. “Bukan kah kalian seharusnya merasa tersinggung atau apa?”
“You think this is a bad movie?”
Aku menggeleng. “Tidak. Do you think this is bad?”
“Secara literasi, bukunya banyak digemari orang, ‘kan? Lagi pula, akurasi mereka terhadap bentuk manusia serigalanya tidak buruk.”
“Benarkah?”
“Kau sudah melihat kita berubah, ‘kan?” Damon meraih jagung brondong di dalam mangkuk besar di pangkuan aku. “Tim Jacob atau Tim Edward?”
“Edward Cullen,” jawab aku tanpa perlu berpikir. Samar, aku mendengar Cordelia terkekeh sembari menutup mulut.
Damon menarik napas, bertingkah bak laki – laki paling tersinggung di muka bumi ini. “Edward? Maaf, apa kau bilang Edward? Edward . . . si Vampir?”
Aku mengedikkan bahu. “Semua orang tim Edward.”
“Cordelia, kau tim siapa?” Damon berseru dari sebelah aku.
Hunter mencibir sebelum gadis cantik itu menjawab, “Edward. Apa kau masih perlu bertanya?”
“Blasphemy. Ini adalah pertanda buruk. Ini pencemaran nama baik. Ini sesuatu yang harusnya tidak pernah aku rasakan,” Hunter merentangkan dua tangan, namun satu detik kemudian kembali memeluk pasangan jiwanya mesra. “Bisa – bisanya gadisku memilih vampir di bandingkan manusia serigala.”
“Blashphemy indeed,” Damon menggerutu. “Ini sama saja seperti mengatai eksistensi aku.”
“Apa vampir nyata?” tanya aku penasaran.
Cordelia dan Hunter membeku sesaat, sebelum kembali normal. “Nyata. Aku rasa,” Hunter yang merespon. Wajahnya kesal dan tidak suka. “Aku harap mereka semua mati.”
Mata aku melebar. “Jadi benar? Vampir memang ada? Makhluk yang mengisap darah dan punya taring? Seperti Edward begitu?”
“Kau terlalu riang,” Damon melempar jagung brondong ke arah aku. “Jangan terdengar senang. Mereka hanya makhluk menjijikan.”
“Tidak ada yang menjijikan dari keluarga Cullen,” sanggah aku membela keluarga vampir terkenal itu.
“Tidak ada vampir mengkilat semacam mereka,” Damon membalas tidak mau kalah. “Serius, bagaimana bisa kau memilih sosok dingin itu di bandingkan Jacob yang lebih gagah, lebih kuat, lebih tampan, lebih hangat—“
“Maksudmu, kamu sendiri?”
Damon mengerjapkan dua matanya tanpa merasa bersalah. “I don’t know what you are talking about.”
Aku merotasi dua netra tapi tidak menjawab dia. Tidak ada gunanya. Sudah jelas mereka akan membela kaum sendiri. Damon tidak berkata apa – apa lagi. Saat film mulai terdapat konflik dan mencapai k*****s, semua orang jelas mulai menikmati film yang notabene di nikmati oleh para remaja.
Jacob mulai berkelahi dengan Edward. Aku tidak terkejut. Dua laki – laki itu seperti makhluk obsesif yang memiliki kebutuhan khusus untuk menandai teritori pada Bella Swan. Aku tidak mengerti kenapa sebagian orang suka dengan konsep seperti ini, tapi mendengar kalau aku harus ada baby sitter dua puluh empat jam dari Damon saja sudah kapabel membuat darah aku mendidih.
“He deserves it,” komentar aku saat Edward mencoba untuk menyerang Jacob.
“Er . . . excuse me?” Damon mencemooh dari samping aku. Tapi tangan dia tidak pernah berhenti terulur ke pangkuan aku untuk mengambil jagung brondong. “Jacob merasakan ikatan dengan Bella. Yang berarti, kemungkinan mereka ada pasangan. Yang berarti, dia tidak salah.”
Aku menatap laki – laki itu kaget. “Tidak salah?” aku menunjuk layar kaca. “Dia mencium Bella tanpa izin!”
Damon terlihat sedikit kehilangan kata – kata.
“Apa?” seru aku keras. “Kau akan membela perilaku seperti itu?”
“Tidak, ‘sih.” Damon mencibir. “Tapi—“
“Oh, tidak ada tapi!” aku mengangkat satu jari telunjuk. “Sshh!”
Kami berdua kembali diam. Tangan dia masih sesekali meraih jagung brondong di pangkuan aku, dan Hunter bersama Cordelia masih sibuk bermesaraan di ujung sofa. Bagian terakhir film akhirnya datang, di mana perkelahian yang cukup sengit terjadi.
“Wow,” kata aku penuh kagum. “Jesper.”
“I know right?” seru Cordelia yang jelas memiliki sentimen yang sama. Bagaimana tidak? Vampir muda itu sangat keren.
Er, apa aku tidak bisa berubah menjadi kisah fantasi romansa vampir saja?
Dua laki – laki di sofa yang kami duduki sama – sama terlihat mengerikan. Mata mereka melebar, mulut menganga, hidung kembang kempis. Yep. They are definitely offended. Lantas, apa aku harus berbohong kalau kaum Jacob lebih menarik?
Satu – satunya yang bisa merebut atensi aku hanya satu anak serigala bernama Seth, dan itu pun langsung terlupakan saat aku melihat Emmett.
“Serius? Jesper?” Damon berbisik tak mengerti.
“Kalian keterlaluan,” dengus Hunter kesal. Laki – laki itu boleh jengkel, tapi dua tangan dia tidak pernah berhenti memeluk Cordelia erat.
“Ada yang salah?” tanya aku.
“Kita tidak salah,” kata Cordelia percaya diri.
Dua laki – laki itu mencibir. Setelah satu mangkuk besar jagung brodong habis, film selesai, dan dua pasangan sejoli itu menghilang dari posisi mereka, aku membuang napas panjang dan meregangkan otot di kursi.
Tapi tiba – tiba jarak pribadi aku terhalangi oleh laki – laki besar yang tidak tahu batas.
“Jadi . . . menurut kamu Jacob tidak berhak mencium Bella seperti itu?”
Aku mengangguk. Sedikit terkejut, tapi berpura – pura keren agar Damon tidak merasa menang. “That’s almost an assault you know? It was without consent. Kalau Bella mau, dia bisa melakukan lebih dari menonjok Jacob di wajah.”
Sesuatu membuat Damon tersenyum lebar. “Oh, Shay. Aku harap kau lebih kuat dari pada Bella Swan.”
Mata aku berkedip cepat. “K—kenapa?”
Sial. Aku tidak bermaksud terdengar menyedihkan seperti itu. Apa lagi terbata. Tidak keren, Shay. Sangat tidak keren.
Damon hanya menatap aku dari atas ke bawah, lalu berseringai lebar. “Karena aku mungkin lebih kurang ajar dari pada Jacob.”
Dan ketika figur laki – laki itu menghilang dari korteks visual aku, baru aku membuang napas yang tidak sadar aku tahan sedari tadi.
Jika ini terus terjadi, aku bisa mati berdiri setiap kali ada di samping Damon. Rasanya jika pria itu ada di sisi aku, segala macam oksigen yang akan masuk ke dalam tercekat, dan aku akan kesulitan bernapas.
Apa ini juga tanda kalau kita memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan jiwa?
***
Balkoni kamar aku—kamar tidur tamu rumah besar keluarga Hawkwolf maksud aku—termasuk salah satu kamar yang paling beruntung. Bagaimana tidak? Balkoni yang cukup masif menghadap ke hutan besar di belakang rumah menjadi tempat paling strategis untuk menatap panorama malam yang indah.
Aku tahu kalau ada banyak misteri dan sesuatu yang mengerikan di dalam hutan besar itu. Tapi antariksa malam yang indah, dilukis oleh asterik yang membentang di atas, membuat segalanya lebih indah.
Gemintang itu bak sebuah cahaya cantik yang menerangi kegelapan menyeramkan, bak sesuatu yang suci di tengah sesuatu yang tidak. Satu per satu kirana itu bersinar, membuat aku merasa seperti seorang peri.
Tapi tentu saja kedamaian itu tidak bertahan lama. Sebelum dia berbicara, aku sudah lebih dulu merasakan presensi nya di belakang aku. Penuh intimidasi walau aku tahu dia tidak akan pernah melakukan apa – apa terhadap aku.
“Indah, ‘kan?” suara beratnya bak madu yang manis.
“I think so.”
“Shay?” Damon muncul di belakang aku. Dua tangan besarnya memperangkap aku. Aku terkesiap, seketika membeku dan mematung. Lengan Damon yang besar menguci aku dari dua sisi. Aku bisa merasakan napasnya di tengkuk aku yang dingin sebab udara malam. Dia terasa hangat, dan nyaman, dan . . . aku harus berhenti memikirkan segala macam hal baik tentang laki – laki ini.
“Damon? Apa yang kau lakukan?” tanya aku pelan. Aku takut jika suara aku menghancurkan momen ini. Di atas kami, dirgantara menyinari tanpa letih. Dan aku termakan suasana cantik itu.
“Saoirse . . . apa kau ingat apa yang aku katakan tadi?” Damon berbisik tepat di daun telinga aku.
Apa yang aku katakan tadi? Tentu saja aku ingat. Aku mungkin lebih kurang ajar dari Jacob. Oh tidak, oh my God, jantung, bisakah kau lebih tenang lagi? Aku tidak mau mati muda hanya karena serangan jantung. Tapi jantung aku benar – benar berhenti saat mendadak Damon memutar tubuh kami.
Dan di bawah malam itu, I got my first kiss.
And God. It was beautiful.