PART 28

2539 Kata
28 AKU TIDAK TAHU KENAPA. Tapi . . . tiba – tiba aku butuh sesuatu. I need you. Baiklah, Shay. Itu sesuatu yang sangat tidak keren. Aku menatap Damon yang masih diam tanpa bisa mengatakan apa pun. Bayangkan, seorang Damon Hawkwolf kehilangan kata – kata di depan aku yang selalu kalah dalam urusan adu argumen dengan pria ini. Apa dia sudah gila? Tidak. Aku yang sudah gila. Aku yang sudah tidak waras. Aku yang sudah kehilangan akal di depan pria tampa, tinggi, dan bertubuh masif ini. Aku sudah kehilangan akal di depan makhluk supernatural kuat yang mungkin bisa menyerang aku kapan saja, bisa melakukan apa saja padaku tanpa harus ada yang menahan. Jika aku tidak bisa pulang hari ini, tidak bisa kembali ke rumah Nyonya Smith, ada orang tua aku tidak bisa menghubungi aku dalam waktu dekat, itu berarti aku sudah melarikan diri masuk ke dalam hutan gelap dan lebat New Cresthill sebab rasanya aku ingin kabur saja dari depan wajah Damon Hawkwolf. Aku tidak mengerti kenapa dari semua momen yang ada di dunia ini, aku harus memutuskan saat ini mengeluarkan isi hati yang bahkan aku sendiri masih tidak paham. Aku sendiri masih tidak mengerti kenapa aku bisa merasakan hal semacam itu, dan bisa – bisanya aku mengatakan itu pada pria yang secara jelas memang menunggu momen seperti ini. Aku membasahi bibir, bingung harus berkata apa lagi. Momen ini sudah terlanjur terjadi, dan saat ini, hanya ada deru napas kami yang terdengar. Rasanya konsep waktu dan ruang sudah tak terasa lagi. Aku seperti berada di dalam twilight zone, dan ironisnya, ini memang secara harafiah seperti ada di zona Twilight. Aku membicarakan tentang seri buku dan film yang berceritakan tentang vampir dan manusia serigala itu. Aku berdeham pelan untuk mengalihkan atensi namun Damon masih menatap aku lekat. “Apa ada yang namanya vampir? Kau tahu, makhluk yang menghisap darah?” aku meringis sendiri mendengar diri aku yang bertanya seperti itu. Damon masih diam, membuat aku malah semakin gugup. Baiklah. Bagus. Keren sekali, Shay. Kau sudah mengacaukan segalanya. When will you learn to shut your mouth, Shay? *** PENGAKUAN ITU TIDAK SEHARUSNYA aku keluarkan. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan Damon sudah mendengar diktum mnyeedihkan aku. Apa dia akan berpikir kalau aku gadis yang banyak maunya sekarang? A needy, and clingy, and demanding girl? Aku harap tidak. Nyatanya, aku sendrii tidak mengerti kenapa aku tiba – tiba membutuhkan dia. Kenapa aku mendadak ingin berada di sisi laki – laki itu. Merasakan presensi dia. Dan menyentuh dia . . . Tapi bukannya aku bisa mengelak juga. Sudah jelas aku berlari tanpa arah dari rumah tadi. Dan berkeliaran di tengah hutan yang besar. Aku juga tidak tahu secara jelas Damon ada di mana, namun aku tetap bersikeras ingin mendatangi laki – laki itu. Damon tidak bereaksi cepat. Malah, laki – laki itu hanya menatap aku tanpa ekspresi. Tangan dia memegang lengan aku dengan jari – jari yang kuat. Aku pikir aku sudah salah bicara. Aku pikir, this is it. Maybe he’s going to hate me now? Dan memangnya kenapa kalau dia menganggap aku aneh atau semacamnya? Aku tidak peduli, ‘kan? Damon bukan apa – apa untuk aku . . . bukan? Aku mencoba menarik lengan aku dari cengkraman tangan dia yang kuat, namun nihil. Kekuatan aku dan dia bagaikan semangka besar dibandingkan dengan anggur yang kecil. Jadi aku akhirnya diam, menunggu apa yang akan dia katakan. Setelah beberapa sekon terlewat dan rasanya pohon – pohon di hutan ini semakin dekat, dan dekat, dan dekat, aku berkata dengan tidak sabar, “Well?” Satu alis laki – laki itu naik ke atas. “Apa kau akan mengatakan sesuatu?” Damon melumat bibirnya, seperti berpikir keras tentang apa yang sedang terjadi di antara kita sekarang. Saat dia berbicara, vokal laki – laki itu terdengar canggung. Dia berdeham. “Er . . . baiklah.” “Baiklah?” “Baiklah.” “That’s all you have to say?” tanya aku tidak percaya. Aku mungkin sedang berperilaku aneh. Maksud aku, bukankah aku yang sedari kemarin berusahan menjauhi Damon, menolak percaya tentang semua masalah pasangan jiwa yang selalu dia kata – katakan itu, dan tidak mau membiarkan Damon masuk ke dalam benak aku. Sekarang, kenapa aku yang protes saat laki – laki ini tidak bereaksi lebih? Mungkin sebab kejadian semalam. Mungkin, saat merasakan sakit luar biasa itu, ada yang terjadi di dalam otak aku. Mungkin, iblis mengerikan itu sudah merusak akal sehat aku sendiri. Entah lah, tapi ada sesuatu dari nada bicara Damon Hawkwolf yang acuh tak acuh akan apa yang baru saja aku katakan kapabel membuat aku kesal. Bukan kesal. Aku merasa . . . seperti tidak di anggap. Apakah aku sudah mulai gila? Damon masih memegang lengan aku, tapi sekarang laki – laki itu menarik aku ke arah yang aku anggap kembali ke rumah. “Aku tidak tahu harus berkata apa,” kata dia setelah kami mulai menjauh dari titik tadi. Okay . . .? Sekarang dia yang kehabisan kata – kata? Ke mana semua percaya diri dia dan kata – kata tidak masuk akal seperti, You are mine, Shay, atau sekedar, Kau harus ada di sisi aku terus – menerus. Sungguh, Damon adalah laki – laki yang beruntung. Kalau tidak ingat dia secara harafiah bisa berubah menjadi serigala hitam yang besar dan menakutkan, aku pasti akan menghabisi dia. “Aku baru saja mengatakan kalau aku butuh kamu,” kata aku. Mungkin lebih seperti menggerutu. “Dan yang kau katakan hanya baiklah?” “Lantas, apa yang kamu ingin aku katakan?” “Er . . . entahlah, tapi yang jelas, bukan hanya baiklah.” Kalau aku bisa, aku akan melempar dua tangan ke atas, jengkel dan frustasi. “Itu butuh keberanian tinggi, kau tahu?” “Oh—“’ “Sudahlah,” aku mengibaskan satu tangan yang tidak di pegang oleh Damon. “Lagi pula, sepertinya aku sudah gila. Kenapa juga aku harus merasa seperti aku butuh berada di sisi kau—“ Damon berhenti. Dia benar – benar berhenti tanpa aba – aba dan aku harus menabrak punggungnya yang besar dan bahunya yang lebar. Belum juga aku sempat protes, laki – laki itu sudah lebih dulu menghimpit aku ke antara pohon dan tubuhnya. “Kau tidak mau menyelesaikan kalimat itu,” kata dia sembari menatap dua mata aku lekat. “Kenapa?” tanya aku, dengan napas yang terengah. Aku masih belum bisa terbiasa dengan manuver mendadak darinya. Laki – laki ini bak serigala. Mungkin karena dia memang serigala, Shay. Seorang Alpha. So demanding, and in power, and . . . why do I like it? Aku mengangkat dagu aku tinggi sebagai bentuk kalau aku tidak takut. “Kenapa kalau aku bilang begitu?” “Dengar, Shay,” dia berbisik halus. Aku harus menelan ludah berkali – kali sebab rasanya aku kehilangan vokabulari dan tenggorokan kering bak di gurun pasir. “Kau tahu kenapa aku hanya bereaksi seperti itu?” Aku menggeleng, tidak mempercayai kapabilitas diri aku sendiri untuk berbicara saat ini.” “It is because needing is the basic thing a mate can feel,” Damon menangkup wajah aku, mengelus pipi aku lembut. Dan aku berusaha sekuat tenaga agar tidak bersandar di jari – jarinya. Kenapa juga tangannya harus terasa halus dan hangat sekali? “Maksud kamu?” “When you need to see me, to be on my side, that feeling is common,” jelas Damon. “Itu perilaku biasa seorang pasangan jiwa. Shay, apa yang harus aku katakan ketika aku bisa mengerti apa yang kau rasakan? Ketika aku merasakan hal itu dua puluh empat jam?” Kali ini aku benar – benar tidak tahu harus berbicara apa. “Setidak detik, menit, setiap tarikan napas, setiap detak jantung, setiap momen di dalam hidup aku?” Damon tersenyum tipis. “Kau harus lebih terbiasa dengan hal itu, Shay.” “Oh.” “Iya, oh,” Damon melepas aku dan menggandeng tangan aku erat. Lalu kami kembali berjalan. “Kau tahu ‘kan apa itu artinya?” “Artinya apa?” “Kau baru saja menemukan bukti lain kalau kita pasangan jiwa,” kata Damon. Dan aku bisa mendengar tawa penuh kemenangan dari nada bicaranya. Bisa membayangkan seringai menyebalkan walau dia sedang menghadap ke depan. Selama tiga detik lamanya, aku berpikir untuk menimpuk dia dari belakang. Tapi aku mengurungkan niat itu dan berkata, “Don’t sound so smug.” “I don’t need to, Shay.” Damon tidak menoleh sama sekali, tapi aku bisa mendengar dia dengan jelas. “You will find it all by yourself. And I will be here waiting.” *** Damon memang membawa kita kembali ke rumah. Tapi laki – laki itu mengajak aku ke atas, ke atap rumah yang sepertinya memang tempat dia bersembunyi dari semua orang. Tempat di atas ini semacam rumah hijau yang di bandung dengan cantik. Berbentuk kotak dari gelas kaca yang tebal, ada berbagai macam tanaman di dalamnya. Mulai dari bunga – bunga cantik, bahkan sampai kaktus yang terlihat seperti kapabel menusuk aku hingga mati. Baiklah, mungkin aku berlebihan. Damon mengajak aku duduk di tengah rumah hijau itu. Sebuah sofa yang cukup besar yang bisa menampung dua orang sekaligus itu terlihat sudah tua, dan lama tidak digunakan, tapi begitu aku duduk, rasanya masih empuk dan nyaman, Ketika aku mendongak ke atas, aku bisa melihat celah yang terbuka, seperti jendela yang sengaja di buka agar udara masuk. Indah. Rasanya seperti aku berada di rumah peri cantik. “Ini milikmu?” tanya aku. Kagum, mungkin. Tapi ini terlihat sangat jauh dari representasi seorang Damon Hawkwolf. “Yep,” jawab dia santai. Laki – laki itu kembali dari, entah dari mana, aku perhatikan dia punya kemahiran hilang tanpa bisa di lihat. Dan membawa dua gelas yang berisikan cokelat panas. Cokelat panas? Baiklah, siapa laki – laki ini dan apa yang telah dia lakukan pada Damon yang asli? Seperti bisa melihat ekspresi aku, Damon mencibir. “Semua orang suka cokelat panas.” “Okay . . .” “Aku serius,” Damon bersikeras. “Jangan berlebihan.” “Apa semua orang juga suka mawar merah? Bunga lili? Dan er . . . is that blue Hydrengia?” Damon berdeham. Dia melihat ke sekeliling, menolak kontak mata dengan aku. Apa Damon Hawkwolf merasa malu? Oh. Ini momen yang brilian. “Damon?” “Aku suka tanaman,” dia menjawab dengan nada datar. “Apa itu yang akan kita bahas saat ini? Bunga dan cokelat panas?” Sial. Bisa sekali dia mengganti topik seperti itu. “Tentu saja tidak,” aku melotot ke arahnya. “Aku ingin tahu segalanya. You know it.” Damon terdiam dulu sebentar, lalu dia bersandar sembari membawa gelas panas ke depan dadanya. “Namanya Clara.” Aku mengangkat dua alis, tidak menyangka awal ceritanya akan di mulai dengan nama seorang gadis. Clara. Nama yang cantik. Apa pemilik nama itu juga sama cantiknya? Apa hubungan dia dengan Damon? Dan lebih penting lagi, apa hubungan dia dengan Ingruth si iblis mengerikan? “Clara. Dia . . . cinta pertama aku.” Damon melirik aku, menunggu reaksi. Dan apa yang harus aku lakukan? Marah? Kesal? Terkejut? Sedikit. Lagi, aku tidak menyangka ceritanya akan berhujung ke sini. Cinta pertama? Ini lebih dalam dari apa yang aku bayangkan. Aku pikir, para manusia serigala hanya membenci iblis. Lagi pula, semua orang harus membenci iblis yang jahat, ‘kan? Cinta pertama. Apa Damon masih mencintai dia? “Itu sudah berlalu sangat lama,” kata Damon. Apa dia bisa membaca pikiran aku? “Kalau aku bilang aku sudah tidak merasakan apa – apa untuknya, aku mungkin akan berbohong. Tapi yang tersisa hanya rasa rindu. Rindu dengan momen yang ada. Rindu pada memori.” Aku menganguk. Tidak tahu harus berkata apa. “Dia gadis yang ceria. Gadis yang percaya diri. Dia punya ambisi yang besar, dibarengi dengan hati yang sangat baik,” Damon tersenyum tipis. Tipis sekali hingga aku nyaris tidak bisa melihatnya. “Clara adalah teman sekelas aku.” “Apa yang terjadi dengannya?” tanya aku dengan suara bisikan yang terdengar asing. “Ingruth.” Damon seperti menahan napas. “Dia memasuki wilayah New Cresthill. Katakan saja, aku dulu laki – laki yang sembrono. Aku sombong. Aku merasa seperti orang yang paling kuat. Dan semua itu membawa Clara ke ujung maut.” Aku terkesiap. “Clara . . . dia sudah tidak ada?” Damon menggeleng. “Ingruth mengambil dia dari aku.” Dan sekarang aku mengerti segalanya. Kenapa Damon sangat membenci dia. Kenapa Damon sangat cemas karena iblis itu. Kenapa semuanya bertingkah seperti ini adalah masalah personal. Karena memang ini adalah hal pribadi di antara Ingruth dan Damon. Dia sudah menghabisi gadis yang Damon cintai. Saat itu, aku merasakan rasa simpati yang tinggi. Jadi ketika aku mendekat dan memeluk dia dari samping, aku tidak banyak berpikir. Ketika aku mengulurkan tangan aku ke atas dan mengusap surai dia penuh afeksi, aku tidak banyak berpikir. Damon membuang napas panjang. “Clara seharusnya tidak boleh berakhir seperti itu. Tapi karena aku, karena aku dia—“ “Itu bukan salahmu, Damon.” Laki – laki itu tertawa pahit. “Tapi itu memag salah aku. Hari itu kami semua bersiap memburu Ingruth. Tanpa hati – hati. Tanpa rencana yang matang. Dan dengan mudah dia berada di atas angin. Menculik Clara. Bernyanyi di depan dia.” Aku menahan napas. “Clara tidak pernah bangun,” Damon berkata lirih. Aku memeluk dia lebih kencang. Clara tidak pernah bangun. Tidak seperti aku. Tidak saat aku tertidur sebab lantunan nada mengerikan Ingruth. Tidak seperti aku yang mendengar suara panggilan Damon dan berhasil kembali. “Aku kembali,” kata aku pelan. Bukan pertanyaan, bukan pernyataan. Aku hanya mengatakn itu sebagai konfirmasi untuk diri aku sendiri. Mungkin juga untuk Damon. Aku kembali. Tiba – tiba seberapa besarnya masalah itu menjadi nyata untuk aku. Saat itu, aku bisa saja tidak bangun lagi. Saat itu, aku bisa saja terus berada di dalam kegelapan. “Kau kembali,” ulang Damon sebagai konfirmasi juga. “Kau kembali.” “Karena kau memanggil aku.” Damon bangun. Dia menghadap ke arah aku dan berkata, “There you go. Bukti lain lagi.” Aku menarik napas panjang. Terkejut. Termenung. Entah lah. Entah apa yang aku rasakan. Bukti lain lagi. Bukti kalau kita . . . pasangan jiwa. Bukti. Bukti, Shay. Rasanya seperti ada yang menyalakan lampu di dalam benak aku. Rasanya seperti ada yang menarik tuas on di dalam hati. Rasanya seperti ada yang baru saja membuka dua mata aku lebar – lebar. Karena di saat itu, hati aku tahu. Hati aku percaya. Hati aku menolak untuk menyangkal lagi. Aku dan Damon. Pasangan jiwa. Mates. “Saoirse Lee,” Damon menangkup wajah aku dengan dua tangan. Lalu dia berkata penuh janji. Diktum itu tergores nyata di dalam hati aku. Menusuk sanubari. Dan tidak akan pernah terhapus. “Aku tidak akan pernah membiarkan apa pun melukai kamu. Aku, Damon Hawkwolf, akan menghabisi Ingruth dari dunia ini.” Lantas, apa yang harus aku balas dari kata – kata itu? Tidak ada. Itu ultimatum yang akan terus Damon laksanakan seumur hidupnya. Sampai itu benar – benar terjadi. Sampai tidak ada lagi bahaya yang bisa diberikan oleh iblis mengerikan itu. I guess we will see how it ends.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN