PROLOG
Seorang gadis dengan cepolan rambut itu berkacak pinggang seraya menatap gerbang kokoh di depannya.
SMA Harapan. Apakah harapannya bisa terwujud disini? Gadis itu menegok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Pantesan gerbang udah ditutup, ternyata, sudah jam delapan toh."
Tatapannya meneliti sekitar, mencari sesuatu yang mampu membantunya. Saat menoleh ke sebelah kiri, ia melihat sebuah tempat yang ia yakini dapat membantunya. Bergegaslah kakinya melangkah ke tempat tujuan tersebut.
Dan disinilah Clara menapakkan kaki, di tembok kokoh yang berada tepat di depannya. Senyum cerah langsung terbit saat dirinya melihat sebuah pohon besar yang melintang melewati tembok tersebut.
Berasa seperti kejadian di beberapa film!
Dengan perasaan riang gembira ia memanjat tembok kokoh dengan gejolak semangat. Tidak perduli dengan rok yang ia kenakan sebab ia memakai celana dobelan panjang!
Setelah sukses menapakkan kaki di atas tembok, Clara ber ancang-ancang untuk melompat sampai sebuah getaran di saku roknya mengalihkan perhatian.
SeLalu.
Ahhh Sela pasti lagi cariin! Batinnya.
Gadis itu menggeser tombol terima dengan sedikit berdecak sebal, pasti temannya itu akan menghajarnya dengan lontaran kalimat dan suara yang memekik nyaring.
1.... 2.... 3
"CLARAAAA!!!"
Gedubrak.
Plung.
Krak.
"ADUHHH!" pekiknya.
Clara memegangi pinggangnya yang terasa linu, benar kan? Sela sangat menyebalkan! Rasanya tubuhnya remuk seketika, bayangkan! Ia terjatuh dari tembok yang sekiranya memiliki tinggi 2 meter!
"Duhh! s**l banget Clara hari ini! Sela selalu aja teriak, jebol gendang telinga ini nanti! Gak tau apa Clara lagi di atas tembok, papa juga! Kenapa nggak bangunin pagi-pagi, jadi telat kan dedek!"
Sambil menggerutu Clara berdiri, menepuk-nepuk debu yang tertempel di roknya.
Dan saat melihat rok bagian samping seketika matanya membelalak. Sambil berkaca-kaca Clara menyentuh roknya. Tak percaya dengan apa yang terjadi.
Roknya sobek selutut! WOW!
Clara mendongak kearah langit, "HUAAA MAMA! ROK CLARA SOBEK COBA!" hebohnya.
Tapi kehisterisan itu tak berkepanjangan, selanjutnya tawanya meledak begitu saja, "BHUAHAHAHA! Ini mah kalo jaman sekarang keliatan stylist. Ala-ala korea gak sih? Fotoin ke papa, ah!"
Tangannya meraba saku baju, lalu ke saku roknya, dan kemudian Clara langsung panik dan membongkar tasnya. Tak tanggung-tanggung, ia langsung menumpahkan semua isi tasnya.
Kenapa perasaannya jadi tidak enak. Kemana benda kesayangan yang sudah ia jaga sepenuh hati?
Clara menggelengkan kepalanya, kenapa jadi baper seperti ini! Ini akibatnya terlalu sering menonton drama korea!
Clara menepuk pelan keningnya "HP CLARA!"
Buru-buru Clara membungkuk, mengraya-graya semak beserta rerumputan. Membiak tanaman yang ada, tatapannya jatuh pada ikan-ikan yang bergerombol.
Mungkin karena tubuh yang terasa remuk dan lelah mendadak, maka gadis itu aejenak melupakan fakta untuk mencari ponselnya Clara mendekat ke kolam. Mengamati ikan-ikan itu sampai akhirnya ide menganggu gerombolan ikan ia lakukan sampai ikan-ikan tersebut bubar bersamaan.
Kilauan cahaya dari dasar kolam menyilaukan mata Clara, entah mengapa ia merasa semakin tidak enak. Beberapa detik mengamati sumber kilauan tersebut, akhirnya ia benar-benar sadar bahwa sumber kilauan itu merupakan ponselnya.
"HP CLARA!" cepat-cepat ia nyemplung kedalam kolam ikan tanpa peduli sepatunya basah.
Yang terpenting sekarang adalah ponsel kesayangannya! Hadiah mamanya!
Dengan dramatis ia menyelupkan tangannya sampai benda pipih itu terangkat. Ia mengangkat ponsel itu sejajar dengan wajahnya. Mati, kondisi ponselnya mati.
"Ponsel Clara ya Allah...." kepalanya kembali menengadah ke langit "Mama, ponselnya nyemplung ke kolam... HUAAAAA" adunya.
"Brisik!"
Sentakan itu membuat mulut Clara terkatup erat. Clara beranjak keluar kolam ikan, kemudian ia mencari asal suara tadi.
Dengan suara kecembung dari dalam sepatu yang kemasukan air Clara melangkah perlahan ke arah belakang pohon besar di ujung kolam ikan.
Namun, belum sempat sampai di sana, lebih tepatnya sekitar dua meter sebelum dirinya sampai di pohon, sentakan dari seseorang kembali menghentikannya.
"Stop!"
Memiliki jiwa tatag membuat Clara tidak menghentikan langkahnya. Ia terus mencoba menerka sosok di balik pohon besar yang menyeramkan ini. Jika memang sosok itu manusia ia berniat mengagetkannya, tapi jika bukan manusia maka ia berniat kabur secepatnya.
Perlahan langkah Clara semakin dekat. Tanpa sadar debaran jantung mendadak cepat. Apakah sosok di balik pohon menyeramkan ini manusia? Atau setan?
"ALLAHUAKBAR!"
Clara terjungkal ke belakang karena tiba-tiba orang dibalik pohon muncul dan menatapnya garang.
Ditangannya terdapat sebuah buku-buku tebal dan terpasang headphone yang melingkar di lehernya. Clara bukannya terpesona dengan ketampanan sosok itu malah melamun, teringat akan headphone yang ia miliki dulu namun sudah rusak.
Benda itu rusak kemarin karena terlilit ranting pohon saat dirinya bersembunyi dari Tina, alias orang gila komplek yang suka mengejar-ngejarnya.
Clara tak tau mengapa hanya dirinya yang dikejar oleh Tina, bahkan Tina sempat menunggunya hingga malam hanya untuk membuatnya lari terbirit-b***t. Apakah Tina mencintainya?
Clara menggeleng membuang jauh-jauh pikiran mengenai Tina yang ia duga mencintainya. Tidak mungkin kan kalau dirinya dicintai orang gila. Dan jika Tina menyukai perempuan itu kan tidak normal! Tunggu Tina kan memang tidak normal! Dasar Clara, ada ada saja.
Tuk.
"ADUHHH! Mas apa-apaan, sih, nimpuk kepala Clara pake buku tebel begitu! Sakit nih. Kalo pala Clara benjol gimana?! Harus tanggungjawab mas--"
Hal yang tak terduga, sosok tampan itu hanya melewatinya seolah ia tidak nampak, seolah ia hanya bebatuan kecil saja...
Orang tersebut melangkah melewatinya begitu saja! Clara berbalik menatap punggung lelaki tersebut, "Woy mas! Tanggungjawab, dong! Bemper Clara sakit woi!" protesnya seraya mengusap bokongnya yang terasa nyut-nyutan.
Lelaki itu masih terus berjalan tanpa menoleh ke belakang membuat Clara mendengus kesal. Clara berdiri dengan gerutuannya yang masih terlontar. Tak habis pikir! Ada ya spesies orang seperti lelaki tadi. Sangat tidak berperikeperasaan!
"Edyan tenan pancen!" makinya.
Tapi melihat buku tebal yang tergeletak di tanah membuat Clara menyunggingkan senyum miringnya. Sudah ia putuskan, solusi mengatasi masalahnya ini.