BERHASIL?

1706 Kata
Kini Clara tengah bersiap untuk pergi ke sekolah. Berada di depan cermin dan tersenyum manis membuatnya menjadi lebih percaya diri. Ketukan pintu terdengar membuat Clara terpaksa menyudahi pujiannya pada dirinya sendiri untuk membukakan pintu kamarnya yang kebetulan ia kunci. Alasannya sederhana. Ia tak mau Tio mengerjainya ketika mandi. Seperti tempo hari, Tio mengambil handuk serta mematikan air rumah saat Clara tengah keramas. Dan saat itu Clara akan membilas rambutnya tapi airnya mati. Bisa kalian bayangkan seberapa kesal Clara saat itu. Ternyata di balik pintu itu ada bi Ijah yang kini tengah membawa nampan berisi s**u hangat. Biasanya jam tujuh begini, Clara minta diantar s**u coklat hangat karena enak saja rasanya. Clara menyahut cepat nampan berisikan segelas s**u itu dan langsung menaruhnya di meja kecil dekat ranjangnya. Bi Ijah sempat takut gelas itu akan jatuh, tapi syukurlah dugaannya salah. Clara langsung mengandeng kedua tangan bi Ijah, mengajaknya berdansa, menari bahkan hingga ia memutar tubuh bi Ijah membuat beliau sedikit pening. Setelah selesai bersenang ria, Clara memeluk bi Ijah. Bi Ijah hanya tersenyum, Clara sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri, ia tidak dapat memiliki momongan dengan mang Asep, mungkin masih belom rejekinya memiliki momongan. Lagi pula, Tuhan telah menggantikan harapan itu dengan kemunculan Clara. Clara sudah sangat cukup untuk menghiburnya layaknya anak. "Bi' Ijahhhhh... Aaaa!!! Clara jadi deg-degan Bi!" Bi Ijah mengernyit mengapa majikannya ini mendadak girang? "Bi' tanya dong kenapa." kesal, Clara kesal jika lawan bicaranya hanya muter-muter dan tidak peka. "Kenapa non?" terpaksa bi Ijah bertanya karena kalau tidak, bisa runyam nanti kalau terus Clara merengek-rengek. "Gajadi deh," katanya sampai-sampai mengundang decakan sebal dari bi Ijah. "Tapi bi ini darurat banget. Bibi kudu kongkalikong sama Clara, please bi', untuk hari ini aja. Clara mohon bi', Clara hari ini benar-benar akan menghadapi situasi sulit bi'. Clara harus berpura-pura--" "Dosa, non." potong bi Ijah cepat. Clara terdiam, memang ih. Tapi ini demi mewujudkan semuanya. "Jangan bilang papa kalo Ara mau bolos sekolah ya, bi?" "Loh kenapa mau bolos, non?" Clara menempelkan telunjuknya pada bibir bi Ijah karena bi Ijah sedikit memekik saat bertanya, takut terdengar oleh papanya. "Ara mau beli beberapa buku sama barang bi, Ara pengen refresing juga sig sebenernya." Bi Ijah mengangguk mengerti. "Oke non." putusnya. "Tapi nom Ara harus bawa bekal yang bibi siapin, jangan makan sembarangan dan--" "Deal!" potong Clara cepat. *** Clara menapakkan kaki di depan sebuah mesin timezone. Ia lekas memasukkan koin yang ia miliki sesuai dengan ketentuan dan mukai menggerakkannya pengait mesin tersebut untuk mendapatkan boneka. Setelah kesal tidak mendapatkan boneka satu pun, Clara memilih mencari permainan lain. Satu jam berlalu dan ia merasa bosan, koin yang berada di sakunya mungkin masih ada 50 keping. Tapi ia sudah lelah, perutnya pun sudah lapar. Clara memutuskan rehat sejenak dan mencari food court. Sayangnya, food court dalam keadaan ramai dan padat sehingga Clara memutuskan untuk kembali ke timezone. Binar wajah terukir spontan saat kursi dekat salah satu mesin timezone baru saja kosong karena yang duduk sebelumnya pergi. Dengan sisa tenaganya Clara bergegas duduk disana. BUG. Clara berhasil mendaratkan pantatnya namun bersamaan itu ia juga menabrak seseorang yang teryata juga ingin duduk di kursi ini. BRUFFF. Roti yang semulanya memenuhi mulut Clara langsung memyembur wajah orang yang duduk di sebelahnya. Orang itu kontak n memejamkan matanya dan terpaksa menerima kejorokan Clara. Clara terbatuk-batuk dan berusaha mengambil minuman di tasnya. Roti yang bi Ijah bawakan dan ia makan rasanya berhenti di kerongkongan dan menghambat pernapasannya. Tangan Clara tidak bisa membuka penutup minuman yang tiba-tiba saja terasa susah dibuka. Clara menyodorkan dengan panik botol minuman di tangannya pada orang di sebelah duduknya. Orang itu terpaksa membantu Clara membuka penutup botol dan Clara lekas menyahutnya, meneguk minuman tersebut dengan rakus. "Huffttt..." seru Clara lega, menghapus jejak air di sudut bibirnya. "Hampir aja mati konyol kesedak roti." Sedetik kemudian Clara lekas mencekal pergelangan tangan Arfa yang beranjak dari duduknya. Ya, orang yang bersamaan duduk dikursi ini adalah Arfa. Kebetulan yang sangat menguntungkan. "Makasih, tapi jangan pergi dong." Arfa menghempaskan tangan Clara dan kembali berjalan. Niatnya ingin menghibur diri dengan membolos malah bertemu biang keladi di ketenangan hidupnya di sekolah. Benar-benar s**l. BRAKKK. Suara itu berhasil menyita perhatian Arfa, ia menoleh ke belakang dan melihat Clara jatuh dengan isi kotak bekal berceceran di lantai. Bahkan ia bisa melihat luka lecet yang perempuan itu dapatkan hasil dari tergores mesin timezone yang ternyata berbentuk lancip. Dengan santai Arfa berjalan ke arah Clara. Entah mengapa ia tergerak untuk membantu perempuan yang mengusik ketenangannya di sekolah. Mungkin hati nuraninya sedang upnormal. Setelah membereskan kekacauan yang ada kini dua orang itu duduk di tempat yang sama seperti tadi. Hanya diam sambil mengamati beberapa orang yang asik bermain dengan mesin-mesin timezone yang ada. Clara melirik Arfa, ia memandang Arfa dari samping. Lelaki ini terlihat tengah fokus mengamati seseorang yang bermain timezone. Tiba-tiba terbesit ide untuk membuat Arfa menjadi teman belajarnya. "Taruhan yok!" Arfa menoleh, mengangkat satu alisnya. Clara memgeluakan 50 keping koin timezone dadi sakunya. Ia meletakkan kepingan koin tersebut di antara duduk. Clara membagi dua jumlah koin tersebut. "Taruhan dengan 25 koin ini." "Gak minat." "Cihh, bilang aja nggak berani, payah!" Mendengar itu Arfa lantaa tersinggung dan menatap tajam Clara. "Ouuu calm down Arfa. Clara cuman pengen taruhan aja, kok." "Oke gue terima." Yak! Berhasil! "Tapi kalo gue menang, lo harus pindah sekolah," balas Arfa. Tentu saja hal itu membuat Clara mendelik lebar, dia saja belum genap sebulan jadi murid baru, lahhh malah di suruh pindah. "Kalo Arfa menang, Clara janji bakalan menjauh sejauh-jauhnya dari daerah kekuasaan Arfa di sekolah, tapi bukan berarti Clara pindah sekolah. Clara janji bakalan berhenti gangguin Arfa. Kita kembali seperti tidak saling mengenal." "Emang sekarang gue kenal lo?" Sabarrrr.... "Gimana?" Arfa terlihat menimang tawaran Clara. "Oke." Clara tersenyum lebar, "Tapi kalo Clara menang, Arfa harus mau jadi temen Clara sekaligus mau ajarin Clara beberapa pelajaran kelas 11 ini. Deal?" "Deal!" *** Sekarang dua orang itu mengambil jalan masing-masing dalam permainan timezone. Ada Clara yang berada di mesin timezone palu, ia yakin akan mendapatkan banyak kemenangan dari game ini. Sementara itu ada Arfa di game bola menggelinding mengikuti pipa yang meliuk-liuk. Mereka benar-benar fokus akan peraihan usaha mereka. Sampai tanpa sadar mereka selesai dengan game masing-masing. Keduanya berjalan ke tempat penyetoran timezone dan menghitung hasil perolehan masing-masing. "Siapa yang paling banyak mbak?" tanya Clara kelewat excited. "Yang ini punya siapa ya?" tanya mbak itu sambil mengangkat kantung plastik pink yang Clara gunakan untuk mengumpulkan perolehannya. "YOSSSHHH CLARA MENAMG YEYYYY!!!" Kebahagian atas kemenangan Clara membuat Arfa kesal ia lantas menanyakan kepada petugas perekap hasil timezone. "Berapa jumlah perolehan saya dan dia?" "Mbak ini memperoleh 890 sementara mas seharusnya 900 tapi 10nya sobek, jadi tidak terhitung," jawabnya. Seharusnya ia yang menang! "Gue yang menang!" Clara yang keasikan bergembira ria lantas menghentikan aksinya, ia menatap Arfa. "Gak denger kata mbaknya?" "Tapi hasil gue lebih banyak dari hasil lo!" "Tapi 10 nya kan nggak bisa di anggap karena cacat, wleee..." Arfa mendegus keras-keras, ia lantas berjalan pergi menjauhi Clara. Sementara itu Clara langsung panik dan mengejar langkah Arfa. "MBAK MAS HADIAHNYA!" "BUAT MBAK AJA!" Balas Clara ikut berteriak. Clara terus mengejar langkah Wrfa sampai ia kelelahan sendiri dan berhenti di tengah keramaian. "GAK SPORTIF BANGET SIH JADI COWOK! BANCI YA! HUH PAYAH!" Teriakan itu menyita banyak perhatian tetapi Clara mengabaikan semua tatapan mata yang terarah padanya, ia hanya memandang lurus ke depan, memandang punggung Arfa. Lelaki itu terdiam di tempatnya merespond teriakan Clara. Tiba-tiba saja ia merasa dipermalukan dan di rendahkan oleh perempuan tersebut. Apalagi hardikan Clara juga sedikit menyentil harga diri Arfa. "KALO DARI AWAL NGGAK MAU SUPORTIF YA GAUSAH NERKMA TARUHANNYA!" Arfa masih diam di tempatnya, berdiri membelakangi Clara. "BIKIN ORANG KECEWA AJA!" Lagi, Arfa masih diam. "CLARA ITU SERIUS PENGEN JADI TEMEN ARFA DAN MINTA BANTUAN ARFA BUAT AJARIN CLARA! BATI BANGET SIH!" "CLARA ITU PENGEN WUJUDIN IMPIAN MAMA, BIAR MAMA TENANG DI ATAS SANA!" Sepertinya benar kataFino, Hasan, Sela, dan Gea. Percuma dengan semua ini, Arfa adalah orang pelit dan menyebalkan. Usaha selama ini sia-sia. Clara berbalik, ia berjalan tanpa semangat. Usahanya sia-sia, ia jadi tidak percaya diri untuk mewujudkan permintaan mendiang mamanya. Rasa kecewanya semakin besar membuatnya ingin putus asa saja. Clara mengantri di eskalator, ia menghela napas panjang berulang kali dan saat hendak menginjakkan kakinya, ia merasakan perih di pergelangan tangan kanannya. Ternyata itu Arfa yang mencekal tangannya. Lelaki itu menariknya keluar dari antrian dan membawanya pergi lalu memasuki sebuah toko buku yang berada di mall tersebut. Arfa tiba-tiba menyerahkan keranjang pada Clara dan menarik tas Clara mengikutinya. Saat Clara hendak bersuara, Clara terpaksa menahannya. Arfa mengambil beberapa buku di beberapa rak. Buku pelajaran dan itu semua ia letakkan di keranjang yang Clara pegang. "Arfa banyak banget!" protes Clara kala Arfa terus mengambil beberapa buku, bahkan keranjang hampir saja tidak muat dan Clara susah payah membawa keranjang sebab terlalu berat. "Bayar semuanya, gue tunggu diluar." Setelah berucap demikian Arfa pergi dan terlihat menyandar di dinding luar toko buku. Clara meneguk salivanya susah payah, "Jatuh miskin tiba-tiba aing..." Melihat pemotalan petugas kasir atas buku-buku yang ia beli karena Arfa membuat Clara merasa lemas seketika. Bayangkan hampir sejutaaaa... "Totalnya 998.500, pembayaran cash atau--" Clara lekas menyondorkan kartu atmnya. "Debit mas," katanya. Petugas kasir mengangguk dan mengesek kartu atm Clara. Tepat saat kartu atm itu di gesekkan, tepat saat itu pula rasanya leher Clara di gorok. *** J adi maksud dari perbuatan Arfa tadi adalah menanggung kekalahan taruhan. Cowok itu mengajaknya ke perpustakaan kota, dia membuka bungkus beberapa buku dan melingkari beberapa soal. "Gue mau tanggungjawab sama kekalahan gue, lo jangan gr." "Dihhh, siapa yang gr." Arfa menyerahkan buku paket yang barusan ia dapatkan soal untuk mengetes level matematika Clara. Sebab perempuan itu menyebutkan 5 mata pelajaran yang menjadi kelemahannya yaitu matematika, geografi, ekonomi, akuntasi, dan perhitungan dalam materi kewirausahaan prakarya. "Jawab ini, lima menit," titah Arfa tsk terbantahkan. Clara mengerjap melihat soal matematika di depannya. Ia mengangkat buku itu sejajar dengan wajahnya, beberapa kali ia mengintip Arfa yang sibuk membawa buku. Mereka duduk berhadapan, posisi mereka terbilang beruntung karena dekat dengan jendela perpustakaan sehingga lebih sejuk. Lirikan sekilas dari Arfa membuat Clara tertangkap basah, ia menaikkan bukunya sehingga menutupi wajahnya. Arfa menurunkan buku yang menutupi wajah Clara dengan kasar. Cenderung membanting malahan, membuat beberapa perhatian pengunjung perpustakaan terarah. "Kenapa nggak ada satupun yang lo jawab?" Clara menyengir. "Nggak bisa hehe..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN