ASAL MULA

873 Kata
Clara berlari dengan wajah merahnya menuruni tangga dengan cepat. Sangking cepatnya, Clara tak menyadari ada seseorang yang hendak menaiki tangga. Clara menoleh lalu terkejut saat akan menabrak orang itu. Sesegera mungkin ia menghindar dan naasnya kakinya terkilir, tapi beruntung saja ia berpegangan pada gagang tangga, jika tidak, dapat dipastikan ia akan atraksi turun dari tangga lebih meanstream. Karena tertutup tumpukan buku, orang itu menyembulkan kepalanya kesamping, melihat seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Clara, yang kini tengah meringis merasakan ngilu di kakinya. Kumisnya tertarik keatas sebentar, "Kenapa kamu?." tanyanya, Clara hanya nyengir dan, "Ehh itu pak mmm... Anu.. Itu pak... Emm saya tadi..." "Sini kamu!" Mampus! Lindungi Clara ya Allah. Clara udah capek di hukum, masa dapet lagi sih. Clara menghampiri pak Ujang, sambil memaksa kakinya agar terlihat normal. Sampai di depan pak Ujang, Clara belum sempat menanyakan 'kenapa pak' tapi pak Ujang telah menyela terlebih dahulu. "Bantu saya ya... " pak Ujang sengaja mengantung kalimatnya hendak menambahkan nama Clara. Mengerti maksud pak Ujang, Clara ambil suara "Clara pak." Pak Ujang mengangguk "Oke. Clara bantuin saya membawa buku ini ke kelas 11 IPS 5 yaa..." katanya seraya menaruh setengah buku di tangan Clara tanpa menunggu keputusan dari Clara. Clara pun terpaksa menerima buku itu. Batinnya, emang dasar guru! Seenaknya saja menyuruh muridnya. Tidak tau apa! Dia kan baru selesai menjalani hukuman, ehhh kenapa malah ditambahi. Bukannya tidak mau, Clara mau-mau saja. Hanya saja dirinya sedang lelah, serta kakinya terasa nyut-nyutan. Untuk jalan menuruni tangga saja terasa nyeri apalagi menaiki tangga kembali seraya membawa beban. Berat. Clara tidak kuat. "Ayo." Clara tersentak lalu mengangguk dan berjalan mengikuti pak Ujang dengan kaki terseok-seok. Sesekali ia meringis merasakan nyeri di pergelangan kaki kirinya. Sudah cukup! Clara tidak tahan. Clara berhenti lalu menoleh kekanan dan kekiri guna mencari bantuan. Dan alhamdulillah! Tiba-tiba saja ada seseorang dengan kacamata bulatnya melewatinya, tak buang-buang waktu dan kesempatan Clara langsung memanggilnya. "Psstt.. Woi cowok!" Lelaki itu yang merasa dipanggil itu berbalik. Menoleh penuh keheranan. Bahkan alisnya sampai bertautan, lelaki itu menunjuk dirinya sendiri "Aku?" Clara mendengus ya pastilah dia, siapa lagi coba yang ia panggil ditengah sepinya koridor ini. "Ck, bukan! Tuh! Clara manggil cicak yang nemplok di tembok." sungutnya. Lelaki itu manggut-manggut kemudian melanjutkan langkahnya. Clara mendelik "Woii!!" pekiknya pelan. "Apa lagi?" "Clara tuh manggil kamu, bukan cicak mas! Sini bentar." lelaki itu melangkah menghampiri Clara, tangannya sontak terulur saat Clara tiba-tiba memberinya setumpuk buku. "Tolong anterin ke kelas sebelas ips lima! Ini pelajaran pak Ujang lo yaa. Jangan sampe telat." "Kok jadi aku?" Clara berdecak "Clara minta tolong ya. Tolong anterin buku ini ke kelas sebelas ips lima. Ingat! Sebelas. Ips. Lima!" kemudian Clara berlari dengan terpincang-pincang meninggalkan lelaki tadi. "Woiii kenapa nggak kamu aja!" "Bilangin Clara kebelet pipis sama makan di kantin, ya! Clara juga mau balik kekelas, tadi Clara tuh dihukum sama bu Heny, jadi kamu tolongin Clara ya. Makasi gan!" Dan lelaki itu hanya menganga, mencoba memahami perkataan Clara yang terlewat cepat. *** "Ara." panggil Tio di sela aktivitasnya menyelesaikan makanan yang tersaji di piringnya. Clara yang tadi sedang lahap-lahapnya makan langsung terhenti dan menatap Tio dengan mulut yang mengembung karena kebanyakan isi. "Kwenapwah pwah?" tanyanya dengan mulut penuh makanan. "Abisin dulu makanannya. Baru ngomong." dan Clara menjawabnya hanya dengan mengangguk dan mengunyah lebih cepat. Setelah dirasa sudah menelan makanannya, Clara bertanya kembali pada Tio tapi juga memasukkan kembali makanan dengan sendok ke mulutnya. "Kok papa tiba-tiba kangen mama ya?" BRUFFF. Keterkejutan itu membuat Tio harus menerima semburan makanan dari mulut Clara. Tio langsung mengusap kasar wajahnya. "Jorok banget sih kamu!" Dan Clara hanya menyengir seraya menampilkan jari telunjuk dan jari tengah yang membentuk V. "Ara juga kali, pa. Ara juga keinget ekspektasi mama dulu, meskipun bercanda tapi Ara juga pengen buktiin. Sayangnya mama udah ninggalin Ara duluan sebelum Ara pamerin itu." "Nggak ada yang terlambat, Ra. Kamu bisa usaha mulai sekarang, mama pasti tau anaknya lagi usaha buat wujudkan impiannya." "Kok kita berdua jadi mellow ya, pa?" Keduanya lantas terbahak. "Tapi pa, Ara nggak yakin bisa melampaui ekspektasi nilai mama waktu SMA. Soalnya kalau berhubungan dengan matematika atau angka-angka perhitungan lainnya, otak Ara buntu. Mentok terus pa kalo buat mikir." "Bukan buntu, tapi kamu gak mau usaha lebih keras. Kamu terlalu benci sama matematika." tutur Tio. "Ya tapi kan...." Clara mengaduk-aduk makanannya. "Bisa gak ya pa?" "NAH!" "Jadi gitu ceritanya!" ujar Clara setelah menceritakan kejadian tadi malam pada keempat temannya. "Menurut kalian bisa gak ya? Percaya sama anak cantik ini nggak?" tanya Clara sembari menunjuk dirinya sendiri. Fino yang berada disebelahnya lekas menarik tangan Clara agar temannya itu kembali duduk dan tidak mempermalukan diri di ramainya kanti saat ini. Tak berlangsung lama setelah itu, Clara melanjutkan ceritanya. Mereka masih tetap mendengarkan cerita Clara. Tangan Clara mengepal kuat, ia menatap bergantian keempat temannya. "Menurut kalian, Clara bisa gak melampauinya nilai mama waktu SMA?" "Gak." Wajah Clara berubah masam, memiliki teman seperti mereka berempat selama hampir 10 tahun membuat Clara harus kuat lahir batin mendapatkan reaksi tidak mengenakkan seperti barusan. "Semangatin kek, ini malah bikin mental down!" cibirnya. Keempatnya malah terbahak melihat wajah masam Clara, bahkan Clara sampai mengaduk-aduk makanannya kesal. Hasan mengangguk, lalu merespon Clara dengam melipat kedua tangannya di d**a. "Jadi?" Clara medongak menatap Hasan "Jadi Clara pengen usaha semaksimal mungkin." "Dengan cara?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN