TAK TERDUGA

1725 Kata
Sudah sepuluh menit Clara menunggu Arfa yang berjanji akan mengajarinya di taman belakang. Ralat, bukan janji, tapi terpaksa karena janji yang berhasil tercapai karena tipu muslihat si pembuat janji, yang tak lain dan tak bukan adalah Clara. Istirahat tinggal dua puluh menit. Clara memutuskan untuk menunggu lima menit lagi, jika Arfa tidak datang maka ia yang akan mendatanginya. Ke kelas, ataupun tempat dimana Arfa berada. Clara menggerutu karena Arfa tak kunjung datang, ia membatalkan rencana menyusul Arfa karena dilanda mager. Memutuskan menunggu Arfa, Clara duduk dibalik pohon besar, tempat singasana Arfa. Mulai dari bermain rumput, mengejar semut dengan telunjuknya hingga bersenandung Clara lakukan untuk mengurangi rasa bosannya. Tapi karena mager dan bosan yang dengan cepat menguasainya maka ia memutuskan untuk memejamkan matanya. Pasti nanti Arfa akan membangunkannya meskipun dengan teriakan, bentakan atau yang lainnya. Dan beberapa menit Clara larut dalam tidurnya, tidak mendengar bel masuk. Aldo berjalan mencari keberadaan Arfa karena ada suatu hal yang harus ia sampaikan. Yuda, papanya itu menyuruh Aldo untuk mengajak adikknya pergi makan malam bersama. Arfa sengaja tinggal dirumah neneknya entah karena apa, adiknya itu berubah ketika kejadian itu terjadi. Arfa yang dulunya ramah dan murah senyum menjadi dingin dan menyeramkan. Arfa memutuskan mengasingkan diri, menjauhi saudara bahkan keluarganya. Alasan apa yang mendasari keputusan Arfa, Aldo tak tahu. Bahkan semuanya juga tidak tahu. Sampailah Aldo di tempat biasnya Arfa menyendiri. Taman belakang. Dibalik pohon. Saat hendak memanggil nama adiknya, ucapannya melayang begitu saja ketika melihat perempuan tengah bersandar dan tertidur, terdengar dengkuran halus dari sana. Aldo berjongkok melihat siapa yang tengah tertidur itu. Matanya membelalak ketika mendapati perempuan yang tempo hari lalu ia temui di taman, perempuan yang memberi Arsen s**u nasional. Aldo mengamati perempuan itu dengan senyum manisnya, cantik, terlihat polos dan baik. Itu yang kini bersarang di otak Aldo. Aldo melihat name tag perempuan itu "Clara." gumamnya. Aldo yang berjongkok mendadak terjungkal kebelakang karena tiba-tiba Clara menegakkan tubuhnya sambil masih tetap memejamkan matanya dengan menunjuk-nunjuk Aldo dengan telunjuknya. "Heh Arfa! Jadi orang itu jangan ketus, kasar, jahat! Clara gampol baru tau rasa kan! Makannya jangan macem-macem sama Clara!" Setelah itu Clara kembali menyender pada pohon, melanjutkan tidurnya. Sedangkan Aldo hanya bisa melongo. Ia pikir tertangkap basah karena telah menatap Clara, tapi ternyata? Clara mengingau? Senyumnya seketika langsung merekah, gadis ini menyentil hatinya. Rasa hangat menjalar keseluruh tubuhnya. Sepertinya gadis ini sukses menarik perhatiannya. Aldo meraih buku dan bulpoin yang ia peluk dalam tidurnya, menyobek tanpa permisi buku Clara. Menulis sesuatu disobekan kertas itu. Disamping itu, Afra mati-matian menahan gigitan semut di tubuhnya. Gatal. Itu yang ia rasakan semenjak tadi. Saat melihat siluet Clara dari ujung koridor menuju taman belakang, buru-buru ia memanjat pohon. Tapi Clara tak segera beranjak dari tempatnya, bahkan ia tertidur disana. Merasa tidur Clara begitu nyenyak, Arfa beranjak turun. Dan lagi-lagi rencananya gagal karena ada Aldo yang tiba-tiba datang ke taman belakang. Arfa melihat semuanya, mulai dari igauan Clara yang sempat membuat Aldo terkejut dan terjungkal. Senyuman kagum yang Aldo hadiahkan pada Clara hingga terakhir, Aldo menuliskan sesuatu dikertas yang disobeknya dari buku Clara. Sempat kepo memang, tapi namanya juga Arfa, dia kan gengsi kalau kepo dengan urusan Clara yang bahkan berhubungan dengan Aldo. Setelah Aldo meninggalkan Clara, Arfa dengan hati-hati menuruni pohon agar tak menyebabkan Clara terbangun dan merecohinya. Saat berada di tangkai terakhir dan tinggal melompat, kaki Arfa terjengkit karena gigitan semut membuat ia terpleset. Beruntung ia berpegangan pada tangkai diatasnya, jika tidak ia pasti akan terjatuh tepat diatas tubuh Clara. Tapi kakinya kanannya terasa sejuk. Arfa menoleh dan mendapati sepatunya kini tengah melayang jatuh ke bawah, tepat dengan posisi wajah Clara yang kini terpejam dan menengadah keatas. Seakan di slow motion sepatu itu terjatuh membuat Arfa merasa usahanya bersembunyi gagal total. Plak. Clara terbangun dan menyesap liurnya yang mungkin sudah berkumpul dimulutnya dan hendak jatuh, ia tadi sempat bermimpi akan dicium oleh mas Manu. Tapi tiba-tiba buyar karena merasa wajahnya tertimba sesuatu. Clara mengerjap mengumpulkan seluruh nyawanya. Matanya diliarkan dan mendapati sepatu? Jadi tadi itu bukan ciuman Manu? Melainkan sepatu? Sialan. Clara langsung mengusap kasar bibirnya berkali-kali. "Kuranga ajar! Siapa ,sih, lempar muka Clara pake sepatu! Bibir Clara ternodai kan." Clara memutuskan beranjak dari tempat itu ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh lima menit. Artinya ia telah tertidur selama satu jam sedangkan istirahat sekolah mereka hanya tiga puluh menit. Clara berlari, tapi kembali berbalik untuk mengambil sepatu tadi, membawanya ke kelas. Dan akan menghukum pemilik sepatu itu. Arfa melongo ketika Clara berlari membawa sepasang sepatunya. Arfa hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Hari ini adalah hari sialnya. *** Sekarang sudah jam pulang sekolah, Clara kini berjalan di sepanjang koridor sendirian. Keempat temannya sedang ke perpustakaan untuk mengembalikan buku pinjaman mereka. Ralat, hanya Gea dan Hasan, sedangkan Sela mengikuti Hasan sang pacar dan Fino mengikuti sepupunya alias Gea. Alasannya klasik, mereka tidak mau menemani Clara hari ini karena nanti pasti disuruh-suruh. Clara melihat sepasang kaki yang hanya memakai satu pasang sepatu. Clara tertawa renyah,"Sekolah kok pake sepatu satu, sih! Mau gaol tapi ya gak gitu juga kali, ah!" Clara mendongak, menatap sepanjang koridor untuk mencari keberadaan teman-temannya. Clara merasa sepatu yang ia jinjing sekarang sama dengan sepatu milik laki-laki yang tadi. Tunggu dulu, sepertinya memang mirip. Clara menunduk mencari kaki yang hanya terbalut satu sepatu tadi. Dan ketika menemukannya, Clara menelitinya, dan sambil berjalan ia menatap bergantian sepatu itu dengan sepatu yang tengah dikenakan oleh kaki yang tengah berjalan itu. Dan itu sama! Clara langsung mendongak, dan segera melempar sepatu yang ia jinjing pada kepala orang itu. Kurang ajar orang itu! Menganggu mimpinya tadi. "Woi!" Diujung sana Gea, Fino, Hasan dan Sela tengah berbincang mengenai asumsi mengapa Clara terlambat tadi, apalagi Clara membawa sepatu orang. Mereka menduga Clara mencuri sepatu tersebut dan kabur agar tidak tertangkap oleh pemiliknya. Tapi tiba-tiba mereka mendengar teriakan Clara. Bersamaan dengan sepatu yang melayang diudara. Keempatnya bahkan mengikuti arah terbang sepatu itu. Bahkan seluruh pasang mata yang berada di koridor tersebut mengikuti arah pandang sepatu yang di layangkan oleh Clara. Arfa berjalan di tengah koridor hingga sebuah teriakan membuatnya menoleh dan... Plak. *** Plak. Sebuah sepatu mendarat tepat di wajah Arfa yang kontan membuatnya reflek memejamkan matanya. Napasnya seketika memburu, siapa yang berani-berani melemparinya. Clara langsung melompat dan memekik "Yes!" karena sepatu itu tepat mengenai wajah pemilik sepatu itu sendiri. Tapi setelah menatap siapa pemilik sepatu itu, badannya mematung. Disana Arfa tengah menatapnya dengan wajah mode iblis. Menyeramkan sekali! Semua orang yang berada di koridor menutup mulutnya dengan kedua tangan saat sebuah sepatu mendarat di wajah tampan Arfa. Beberapa pekikan pun sempat terdengar. Khusus untuk keempat teman Clara, mereka tidak menutup mulutnya dan kini tengah terpengarah. Satu kata yang dapat mereka deskripsikan pada kondisi Clara saat ini. Mampus! Arfa menatap sepatunya, memakainya lalu berjalan pelan kearah Clara. Disana, Clara malah ketar-ketir melihat Arfa berjalan santai dengan wajah datarnya. Itu jelas sekali karena Arfa kini tengah menatap matanya. Hingga jarak sekitar dua meter Clara langsung berbalik dan berlari. Berlari entah kemana yang penting ia tidak diterkam oleh Arfa. Arfa langsung mengejar Clara, untuk hari ini ia pasti akan membalas perbuatan Clara. Semua menatap aksi kejar-kejaran Clara dan Arfa. Bak seorang pembunuh tengah mengejar korbannya, sambil berlari Clara memohon maaf pada Arfa. Clara berlari dengan sangat cepat, memutari lapangan, pohon, koridor tanpa lelah. Sebagian dari semuanya, khususnya perempuan yang berada di koridor dan sekitarnya buru-buru membuka kamera ponselnya dan merekam kejadian langkah itu. Jarang-jarang Arfa berlari mengejar korban, biasanya Arfa hanya diam dan korbanya lah yang menyerahkan dirinya sendiri. Clara tak habis pikir, mengapa semuanya tak menolongnya menyelamatkan diri dari kejaran Arfa. Malahan mereka sibuk merekam. Dasar tidak berperikemanusiaan. Temannya susah bukannya di tolong malah di buat tontonan! Sibuk dengan beberapa makian untuk teman-temannya membuat Clara tidak sadar bahwa ia tengah berlari memutari lapangan sendiri. Arfa sudah berhenti berlari dan hanya berdiri menunggu. Sangking khusyuknya memaki para penonton membuat Clara tidak sadar bahwa kini didepannya Arfa berdiri dengan memasukkan kedua tangannya didalam saku celana. Hingga Clara menabrak tubuh Arfa, untung saja Arfa dapat mengontrol keseimbangannya, jika tidak dapat dipastikan ia terjungkal kebelakang. Merasa menabrak sesuatu yang keras dan sedikit empuk, Clara mendongak. Matanya membelalak, dan gelak tawa dipenjuru koridor mengema membuat Clara tersadar ia harus cepat kabur. Clara nyengir kuda. Arfa menatap Clara tajam dan di tambahi seringaian dibibirnya membuat suasana begitu menyeramkan. Perlahan, Arfa memajukan langkahnya, semakin memangkas jarak diantara keduanya. Dan tanpa sadar pula saat Arfa melangkah maju, saat itu pula Clara mundur. Dalam hati Clara mengambil ancang-ancang untuk kabur. Tepat saat ia berbalik badan, kerah bajunya ditarik menyebabkan dirinya gagal kabur. Bak kucing yang tengah tertangkap basah, Clara di putar sehingga menatap Arfa. "Ehhh.. Arfa. Kenapa? Kok mukanya merah gitu? Lagi kesemsem yaaa sama Clara?" setelah mengatakan itu Clara tertawa. Tapi tawanya langsung hilang ketika Arfa menyentil dengan keras dahi Clara. Clara mengaduh lalu terlihat Arfa sempat memejamkan matanya. Kesempatan bagus untuk kabur! Segera Clara berbalik badan kembali, hendak berlari sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya lalu menariknya. Karena tarikan itu begitu keras hingga tubuh Clara kembali menabrak Arfa. Keduanya tersungkur di pinggir lapangan basket posisi Clara diatas tubuh Arfa. Sejenak tatapan keduanya bertemu, beberapa detik mereka hanya saling tatap. Hingga suara pekikan iri kaum hawa membuyarkan semuanya. Arfa langsung menghempas tubuh Clara kesamping sehingga kepala Clara sempat terbentur kursi semen. Gea, Fino, Hasan dan Sela yang melihat kejadian tersebut langsung berlari menghampiri Clara yang kini tengah terbaring seraya bergerak sedikit. Mereka berempat membantu Clara duduk, dan ketika Clara menyingkirkan tangan dari dahinya. "JIDAT LO!" Telinganya langsung berdengung, teriakan tak terduga itu membuat Clara mengusik telinganya. Arfa yang sudah berdiri dan hendak meninggalkan lapangan langsung terhenti ketika mendengar pekikan itu. "Jidat lo berdarah!" Clara mengusap keningnya, dan rasanya perih. Lalu ia membawa tangannya dan melihat tangan itu terdapat darah. Arfa menghitung didalam hati. Pasti habis ini Clara akan berteriak heboh. Satu Dua Ti-- "HAHAHAHA." --ga. Dugaannya salah! "Ini mah nggak papa kali, kepala Clara kuat gini, kecil ini mah. Diplaster udah beres." Arfa kembali berjalan ke arah tujuannya yaitu parkiran meninggalkan Clara dan Hasan yang kini tengah menatap nyalang punggung Arfa. Aldo melihat semuanya, semua kejadian itu. Ia memutuskan untuk menyusul Arfa, sekedar memperingati agar adiknya itu tak kasar pada Clara. Langkahnya terhenti ketika Clara berlari mengejar Arfa. Panggilan keempat temannya bahkan tidak Clara gubris. Mengapa Clara selalu berurusan dengan Arfa? Jelas jelas saudaranya itu telah menyakitinya? Kenapa perempuan itu begitu berani menghadapi Arfa? Semua bubar meninggalkan Aldo yang kini berdiri dan termenung sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN