Belum sampai Linzi akan mengambil sapu tangan milik Aden, sudah diambil oleh pemiliknya. Entah kenapa Linzi sedikit kecewa karena belum sempat melihat penggalan huruf tersebut. Hatinya seperti ingin sekali melihat huruf apa yang ada di sapu tangan milik sang calon tunangan. "Nona," panggil Aden setelah menyimpan kembali sapu tangan miliknya ke dalam saku. Linzi menatap sang calon tunangan, lalu tersenyum kecil, "Aa sudah selesai teleponnya?" Aden menganggukkan kepalanya, "Iya, Nona. Ayo kita pergi." Kali ini Linzi yang mengangguk. Mereka pun melanjutkan langkahnya ke mobil Aden. Lagi-lagi ponsel milik Aden berdering, dan membuat Aden berdecak kesal. Siapa lagi yang menelponnya? Pikir Aden. Kemudian Aden mendesah lelah saat ada nama sang mommy yang menelponnya. "Maaf, Nona. Ini dar

