Happy Reading ...
***
"Wahh ... serius Zee?" tanya Debbina tidak percaya. Sementara Linzi mengangguk lesu.
Mereka sedang berada di kamar milik Linzi. Debbina sedang main ke rumah sahabatnya. Linzi bercerita tentang kejadian pas resepsi di pernikahan kakaknya. Di mana Sandi tiba-tiba mendatanginya malam itu.
"Si buaya itu belum melupakan lo, tah?"
Linzi menarik napas, lalu menghembuskan sebelum menjawab pertanyaan Debbina, "Aku nggak tahu, Bii. Tapi dia bilang 'beri aku kesempatan'."
"Dan lo mau memberi kesempatan buat dia?" tanya Debbina dibumbui cibiran.
Linzi mendelik tajam ke arah Debbina, "Aku tidak segila itu, Bii," jawab Linzi sedikit kesal.
Debbina menghembuskan napasnya lega. Bersyukur Linzi tidak mau jadi perebut suami orang seperti di kisah Layangan Putus yang sedang viral di televisi. Hihihii
"Lo belum melupakannya?" tanya Debbina dengan nada pelan.
Linzi terdiam sebentar, dia bingung harus jawab apa ke Debbina.
"Aku bingung, Bii. Aku mencoba melupakannya tapi susah. Kamu ingat, laki-laki yang menolongku waktu itu di bassement Apartemen?"
Debbina terdiam, kepalanya miring, berpikir. Beberapa saat kemudian, matanya melebar setelah ingat. Sebenarnya dia sendiri tidak paham, ada hubungan apa dengan laki-laki yang di maksud Linzi.
"Iya gue ingat. Kenapa? Kenapa?" tanya Debbina antusias.
Lebih baik membicarakan orang lain saja, daripada membicarakan si buaya yang bernama Sandi Ramadhan. Menurut Debbina, nama Sandi Ramadhan terlalu bagus buat lelaki buaya kaya Sandi. Tapi balik lagi, Debbina tidak menyalahkan namanya. Dia menyalahkan kelakuannya.
"Aku menyimpan sesuatu dari dia, Bii. Setiap kali aku melihat sapu tangannya, aku selalu mengingat kejadian itu."
"Sapu tangan?"
"Hooh, sapu tangan. Aku masih menyimpannya sampai sekarang, Bii."
"Terus?" Debbina mulai menebak semuanya, namun diam saja. Takut salah tebakan.
"Ya, ya, ya ... aku berharap bisa ketemu lagi dengan pemilik sapu tangan itu, Bii," jawab Linzi pelan dan sedikit gugup.
Debbina langsung terbahak mendengar jawaban Linzi. Dugaannya ternyata benar.
Kening Linzi berkerut melihat sahabatnya malah terbahak.
"Kamu kenapa tertawa?!" tanya Linzi dengan bibir cemberut.
Debbina mengusap air mata karena tertawa tadi, "Gue tadi udah nebak sih ... jangan bilang, lo jatuh cinta ke pemilik sapu tangan itu? Makanya lo berharap bisa bertemu lagi dengan dia."
Linzi sedikit gelagapan, salah tingkah "Mana ada," sangkal Linzi tapi nada bicaranya semakin gugup. Belum lagi semburat hawa panas mulai menjalar ke pipinya yang putih.
"Kalau nggak benar, kenapa muka lo malah memerah coba." Debbina mencolek lengan Linzi, menggoda sahabatnya.
Linzi menepuk-nepuk pipinya pelan, "Nggaklah ... apaan sih, kamu." Bibir Linzi menahan senyum karena Debbina menggodanya.
Lagi-lagi Debbina terbahak melihat tingkah sahabatnya yang menggemaskan. Dan Debbina punya keyakinan, bahwa mereka akan berjodoh.
"Cie, cie, cie ... yang jatuh cinta sama si pemilik sapu tangan." Debbina masih menggoda sahabatnya.
"Debbina!" pekik Linzi, wajahnya memerah antara kesal dan malu.
"Gue benar, kan ... kalau lo jatuh cinta sama dia," ucap Debbina masih tersenyum geli.
"Aku nggak tahu," jawab Linzi ketus.
"Gue bersyukur sih ... lo udah lupain si buaya itu dan udah jatuh cinta lagi ke orang lain," celoteh Debbina.
Linzi diam saja, mendengar celoteh sang sahabat. Pokoknya dia malu sekali sekarang.
"Kapan lo mulai jatuh cinta ke dia, Princess?"
"Udah dong, Bii ... aku malu," rajuk Linzi dengan bibir cemberut.
"Ok, ok, gue doain deh ... lo berjodoh sama dia. Biar gue dapat ponakan dari kalian." Debbina kembali tertawa setelah mengucapkan itu.
"DEBBINA!" teriak Linzi dengan muka merah padam, karena malu. Ketemu saja belum, sudah bahas ponakan. Hiks
"Ehm ... pantas saja lo nggak tertarik dengan teman Kak Libra, si pemilik hotel itu. Ternyata eh ternyata...."
"Bii ... please...."
"Ups, sorry ... Hahahaha..."
** SINGAPURA**
Di sebuah hotel mewah kawasan Marina Bay. Seorang pria tampan duduk santai, tatapannya menatap ke depan melihat pemandangan Kota tersebut.
Sudah beberapa hari dia berada di sini bersama sahabatnya yang menyebalkan, Arfiq Hadiutomo. Biasanya dia akan berangkat keluar negeri dengan Libra, dan Arfiq lebih memilih mengurus semuanya di Jakarta.
Namun, berhubung Libra sedang honeymoon dengan istrinya. Jadilah dia berangkat dengan Arfiq Hadiutomo. Sahabatnya yang menyebalkan itu juga sudah menikah, dan masih tergolong pengantin baru karena mereka menikah belum ada dua bulan. Hanya dia yang masih sendiri alias jomblo. Wkwkwkwk
Ngomong-ngomong soal Libra. Aden jadi kefikiran 'Zee'. Sedang apa dia ada di sana, maksudnya di resepsi pernikahan sahabatnya. Apa karena di undang atau bagaimana? Itulah yang ada di pikiran pemilik nama lengkap Hayden Bayu Abimana.
Haruskah dia cari tahu semuanya, lewat mata-mata Ibnu. Sekretarisnya. Dia penasaran sekali. Kenapa nama gadis itu sama dengan adik Libra.
Aden mengambil ponsel miliknya. Lalu mendial nomor seseorang.
>>) Hallo, Nu ... saya ada perintah buat kamu. Tolong kamu cari tahu nama gadis bernama Linzi adiknya Libra. Semuanya, harus detail. Dan pastikan sertakan fotonya. Saya tunggu, jangan pakai lama.
Di sana Ibnu tentu saja heran dengan perintah atasannya. Tapi dia tetap menuruti perintah sang atasan.
>>) Terima kasih, Nu ...
Aden mematikan teleponnya setelah mendapat jawaban dari Ibnu. Kemudian dia memijit pelipisnya pelan. Rasanya dia pusing sekali. Sudahlah dia pusing karena pekerjaan, ditambah lagi pusing karena memikirkan Zee.
Tentang siapa sebenarnya Zee dan sebagainya. Aden masih berharap kalau Zee, bukanlah adik dari sahabatnya.
***
Beberapa hari kemudian ...
Aden sedang memeriksa berkas-berkas ditemani sedikit wine dan cemilan. Akhirnya setelah beberapa hari di negeri Singapura, dirinya dan Arfiq akan kembali ke Indonesia.
Dia ingin cepat-cepat pulang ke Indonesia. Kemarin dia sempat di buat marah sama Ladyboy yang mengejar dan menggodanya. Dia masih normal, by the way.
Sementara Arfiq bukannya menolong, malah tertawa nggak berhenti-berhenti. Memang sahabat laknat. Pikir Aden.
Aden tidak peduli apa yang sedang di lakukan oleh sahabatnya. Mungkin Arfiq sedang telepon dan menggoda istrinya yang cantik itu. Aden sempat heran juga, Arfiq belum menyentuh istrinya. Padahal pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih dua bulanan. Sudahlah ... itu urusan Arfiq dan Indah.
Tidak lama kemudian ponsel Aden bergetar. Ada Ibnu yang menelpon dirinya. Dia langsung mengangkat teleponnya.
>>) Hallo, Nu. Bagaimana? Dan ada perlu apa?
Tanya Aden santai. Tangannya masih sibuk membuka berkas-berkas.
Gerakan tangan Aden berhenti setelah mendengar Ibnu berbicara dan memberitahukan sesuatu tentang apa yang di pintanya. Lalu Aden membuka pesan yang di kirimkan oleh Ibnu. Matanya hampir keluar setelah melihat foto siapa yang Ibnu kirim ke ponselnya yang mahal itu.
Aden berdiri dari duduknya. Dia mengusap wajah kasar dan sedikit frustasi setelah tahu siapa gadis yang sedang diincarnya. Aden kembali meletakkan ponselnya di telinga.
>>) Serius, Nu? Kamu jangan bercanda Nu. Itu tidak lucu sama sekali bagi saya.
Aden mencoba menyakinkan dirinya kalau foto dan informasi itu tidak benar. Namun, sekali lagi ... Mengingat mata-mata Ibnu tidak diragukan lagi. Dia jadi, ah sudahlah....
>>) Ya sudah. Tunggu saya pulang ke Indonesia. Saya ingin melihat lebih jelas dan detail lagi.
Aden mematikan ponselnya, lalu kembali mengusap rambut kasar. Apa salah dan dosanya, kenapa tidak sesuai yang dia harapkan.
"Ahgdvdgjfhh...." Aden mengumpat apa saja. Dia melihat lagi foto yang dikirimkan Ibnu.
Bagaimana bisa, gadis yang disukainya adalah adik dari Libra Sudjono. Sahabatnya yang kepo itu. Padahal Aden berharap bahwa namanya saja yang sama. Tapi ternyata dia juga bermarga Sudjono, sama seperti marga sahabatnya, Libra.
Ya Tuhan ... Cobaan apa lagi ini. Batin Aden menjerit.
"Den! Den!"
Aden mendengus mendengar ketukan pintu dari luar. Dia berjalan bersungut-sungut membukakan pintu untuk sahabatnya. Arfiq Hadiutomo. Si menyebalkan tapi nasibnya mujur sekali. Karena Arfiq sudah menikah tidak ada halangan sama sekali. Belum lagi istrinya sangat cantik.
Aden membuka pintu dan menatap datar Arfiq, "Ada apa?" tanya Aden dengan wajah datar dan dingin.
Arfiq tidak menjawab, dia menyelonong masuk ke kamar sahabat bulenya. Tanpa permisi Arfiq langsung duduk di sofa kamar yang di tempati Aden.
"Wow ... lo siang-siang sudah minum wine." Arfiq menunjuk sisa wine di gelas yang pasti itu bekas Aden.
Aden berjalan setelah menutup pintu kamar hotel yang di sewanya.
"Lo kalau mau bikin gue mengkel dan kesel. Lebih baik lo keluar lagi deh!" ucap Aden datar dan nadanya sedikit kesal.
"Kenapa lo?" tanya Arfiq dengan kening berkerut.
Aden tidak menjawab, dia berjalan lalu mendudukkan dirinya nya di sofa single.
"Lo ada apa datang kesini? Tumben banget lo! Biasanya lo lagi teleponan atau video callan sama istri lo," ucap Aden dibumbui cibiran.
Arfiq berdehem sebentar, kemudian dia beringsut mendekati Aden.
"Den, masih lama nggak kita disini?"
Aden menaikkan satu alisnya, "Kenapa lo tanya kaya gitu?"
"Gue ... gue...." Bola mata Arfiq berputar, keder bagaimana cara ngomongnya.
"Apaan?!" tanya Aden tidak sabar.
Lagi-lagi Arfiq berdehem, "Gue pengen pulang," cicit Arfiq nadanya sedikit gugup. Efek habis video call dengan istrinya yang cantik itu. Sangat besar sekali. Wkwwkkw
"Kenapa lo pengen pulang?" tanya Aden datar.
"Emm ... Emm ... gimana ya cara ngomongnya," gumam Arfiq mengusap tengkuknya pelan.
"Tinggal bilang aja, apa susahnya sih, Arfiq Hadiutomo!"
"Indah...," ucap Arfiq dengan wajah menunduk.
Aden mengerjapkan mata beberapa kali. Otaknya yang cerdas langsung paham kenapa sahabatnya minta pulang.
"s**t! Jangan bilang lo pengen pulang karena Indah?" tanya Aden dengan mata tajam menatap Arfiq.
"Begitulah," jawab Arfiq, lalu tertawa kaku.
"Wahh ... Nggak! Nggak! Nggak! Enak banget lo minta pulang pengen nemuin istri lo, sementara gue di sini. Nggak!" Aden sedikit berang. Cobaan apa lagi ini, pemirsa? Hiks
"Den...."
"Big No! Tuan Arfiq Hadiutomo Yang Terhormat."
Arfiq berdecak kesal. Ahh gagal deh ... hari ini ketemu dengan istrinya yang cantik itu.
"Dengar Tuan Muda Hadiutomo! Saya paling tidak suka urusan pekerjaan dan pribadi dicampur adukan. Itu namanya tidak profesional. Lagian cuma beberapa hari lagi kita pulang. Jadi empet dulu kangennya!" ucap Aden kesal.
Sudahlah dia menerima kenyataan gadis pujaannya adik Libra. Ini lagi sahabatnya yang menyebalkan minta pulang karena ingin bertemu istrinya.
Ya Tuhan ... ada yang menyedihkan dari ini.
"Ya sudah ... gue kan cuma peng---"
"Nggak, Fiq! Kalau lo tetap maksa pulang. Hasil dari kerja sama ini buat gue semua!" ancam Aden menyeringai ke Arfiq.
Arfiq mengumpat, walau bagaimana pun. Proyek ini sangat diidam-idamkannya. Tidak mungkin dia menyerahkan begitu saja ke Aden.
"Terserah lo deh!" kesal Arfiq.
"Bagus...."
"Eh, Den! Saat gue pulang, ada kejadian apa di pesta pernikahan Libra?" tanya Arfiq setelah beberapa menit mereka hening.
"Nggak ada," jawab Aden singkat, padat, jelas. Belum lagi mukanya datar.
"Princess Sudjono nggak nampakin diri?" tanya Arfiq, tangannya mengambil satu permen milik Aden.
Mendengar nama gadis pujaannya di sebut, tubuh Aden menegang sebentar. Linzi Widya Sudjono. Putri bungsu keluarga Sudjono dan juga adik dari Libra Sudjono. Begitu yang di katakan oleh Ibnu, sekretarisnya.
Hufftt ... mimpi apa dia semalam, menerima kenyataan ini. Batin Aden.
"Den!"
"Apaan!" jawab Aden kesal.
Kening Arfiq berkerut melihat jawaban kesal Aden, "Kenapa lo kesal banget, A? Gue ngalah loh ... nggak jadi pulang."
Aden mendesah pelan, "Fiq."
"Apa? Lo kalau ada masalah, tinggal bilang aja sama gue. Kali aja gue, bisa bantu," ucap Arfiq.
Aden menoleh ke Arfiq. Di antara mereka bertiga, Arfiq lah paling dewasa dan paling diandalkan, walaupun sifatnya sangat menyebalkan.
"Gue bingung, Fiq," keluh Aden dengan wajah lesu.
"Bingung apaan?! Lo kalau mau cerita tinggal, cerita aja, Den. Jangan main tebak-tebakan. Waktu gue, nggak ada buat main kaya gitu," ujar Arfiq.
"Gue tahu siapa adik Libra," lirih Aden tapi masih terdengar oleh Arfiq.
"Lo tahu adik Libra? Terus?" tanya Arfiq santai.
"Iya gue tahu dia. Dia adalah gadis yang gue incar," lirih Aden tapi masih didengar oleh Arfiq.
"Uhhuk ... uhhuk ... uhhuk." Arfiq mencoba meredakan batuk karena mendengar ucapan Aden, "Lo serius, Den?"
"Hemm...."
"Lo tahu darimana gadis yang lo incar adik Libra?" tanya Arfiq. Kenapa jiwa ke ingin tahuannya tiba-tiba muncul.
Aden mengambil ponsel, membuka lalu memberikannya pada Arfiq. Arfiq sendiri mengambil ponsel Aden, dengan kening berkerut.
Mata dia langsung membulat setelah tahu foto yang ada di ponsel sahabatnya.
"Ini orangnya, Den? Princess Sudjono?"
"Hemm," jawab Aden sembari memijit kepalanya, pusing.
Arfiq kembali melihat foto yang ada di ponsel Aden, keningnya kembali berkerut, "Kenapa dari samping mirip istri gue ya," gumam Arfiq pelan.
"Gue juga pertama kali lihat Indah kaya dia," ucap Aden lesu, "Gue bahkan sempat hampir jatuh cinta ke Indah, karena---"
Plakk!
"Kenapa lo pukul kepala gue?!!" berang Aden mengusap kepalanya.
"Itu yang lo omongin bini gue, bego! Bisa-bisanya lo ngomong jatuh cinta sama Indah di depan suaminya!" sungut Arfiq nada suaranya sedikit meninggi.
"Rese lo, Fiq! Gue bilang hampir jatuh cinta ke istri lo! Bukan gue jatuh cinta. Lagian nggak usah pukul kepala juga kali! Kepala gue aset Abimana Group ini!" Nada bicara Aden juga tak kalah meninggi.
"Mau dihargai berapa, kepala lo?" sinis Arfiq.
"Bang--"
"Tunggu, deh, Den! Kok, gue nggak ngeh ya? Lo bilang, lo menyukai Zee. Perasaan, Zee baru kemarin deh, pulang dari Australia."
"Gue menyukai Zee dah lama Buambang!" sarkas Aden.
"Nama gue Arfiq Septian Hadiutomo, bukan Buambang," ledek Arfiq, semakin menyulut emosi Aden.
"Whatever!" Aden mengibaskan tangannya, tidak peduli.
"Coba lo cerita lebih lengkap dan akurat, deh, Den!"
Aden berdecak kesal, kemudian dia cerita awal mula ketemu Zee. Sementara Arfiq mendengarkan cerita sahabatnya sembari terus mengunyah permen sugus rasa buah milik Aden. Belum lagi kepalanya ikut mengangguk-angguk, paham.
"Ok, ok, sekarang gue ngerti."
Aden mendesah pelan, dia mengambil wine yang ada di meja, lalu menyesapnya.
"Gue nggak nyangka lo bisa suka sama Zee sampai bertahun-tahun."
"Ya begitulah," ucap Aden lesu.
Arfiq menghentikan kunyahannya, setelah menyadari sesuatu.
"Den, lo ketemu Zee di Apartemen Y kan?" tanya Arfiq serius.
"Hem ... kenapa?"
"Lo ingat nggak? Libra pernah cerita adiknya diselingkuhi kan sama mantan pacarnya dulu. Dan seingat gue di Apartemen Y juga Zee memergoki mantan pacarnya selingkuh. Dan lo juga tahu mantan calon tunangan lo selingkuh, di Apartment Y juga kan?"
Mata Aden melebarkan setelah paham arah pembicaraan Arfiq.
"Jangan-jangan," tebak Aden.
"Ya iya ... mungkin mantan calon tunangan Lo dan mantan pacar Zee lah orangnya."
Aden ternganga, otaknya mencerna semua ucapan Arfiq.
"Kalau iya, Den. Kenapa jadi kebetulan gini, yaa ... kaya udah diatur sama Yang Kuasa kalian berdua. Patah hati di waktu bersamaan. Amazing...."
Iyakah? Benarkah? kenapa kepalanya jadi semakin pusing sekarang.
"Gue punya keyakinan sih.. Kalau kalian memang berjodoh. Tapi---" Arfiq sengaja menggantungkan ucapannya.
"Tapi apa, Fiq?" tanya Aden penasaran.
"Lo harus berhadapan dengan kakaknya yang kepo itu." Arfiq langsung terbahak setelah mengatakan itu.
"Astaga ... bantu, kek, jangan malah diketawain," gerutu Aden.
"Gue bantu lo?" tanyanya menunjuk diri sendiri, "Lo lupa, kalau lo pernah ngerjain gue. Kemarin juga, lo ngerjain gue tuh," cibir Arfiq.
"Yaa, yaa, itu...."
"Ya itu namanya karma, Tuan Hayden Abimana." Lagi-lagi Arfiq tertawa setelah mengatakan itu.
Aden mendengus kesal, gini amat nasibnya.
Arfiq mengusap air mata karena kebanyakan tertawa, "Ahh gue jadi ingat kata Ustadzah yang sering ditonton Mami gue. 'Apabila, ada seseorang yang jahat sama kita, tidak usah membalasnya. Kita doakan saja, semoga dapat hidayah. Kalaupun bukan kita yang balas, ada orang lain yang balas. Atau mungkin Yang Kuasa yang balas."
Aden menatap tajam Arfiq, sementara Arfiq masih terkekeh geli.
"Keluar dari kamar gue deh, Fiq! Ngeselin banget lo!" sarkas Aden sangat kesal.
"Ok, ok, gue keluar. Gue mau telepon istri gue yang cantik itu. Ah, kayanya gue jadi semakin tampan karena kebanyakan tertawa hari ini. Indah pasti makin suka sama gue."
Aden berekspresi ingin muntah, melihat tingkah sahabatnya.
"Keluar, Fiq," desis Aden tajam.
"Ini gue mau keluar." Arfiq beranjak dari duduknya.
"Den!" panggil Arfiq setelah sampai di ambang pintu.
"Apa?" tanya Aden tanpa menoleh, dia sedang memijit kepalanya.
"Gue doain, lo berjodoh sama Zee. Nanti gue sumbang alunan musik instrumental, gue sendiri yang mainin. Tapi, kalau lo nggak jadi sama dia, gue akan nyewa orang nyanyiin lagu buat lo judulnya 'Harusnya aku yang di sana'." Arfiq terbahak setelah mengatakan itu.
"Pergi nggak, lo!" berang Aden melempar bantal sofa ke pintu tapi tidak kena karena Arfiq langsung menutupnya.
"Tckk, sial. Punya sahabat, nggak ada yang beres," gerutu Aden.
"Ah Mommy, aku harus gimana." Aden mengacak rambutnya kasar.
***