Princess Sudjono : 8

1933 Kata
Di sebuah kamar bernuansa pink-s**u, seorang gadis cantik sedang duduk bersandar di kepala ranjang yang berwarna putih. Seluruh kamarnya hanya ada warna putih dan pink-s**u, karena pemilik kamarnya memang sangat menyukai kedua warna itu. Hari ini dia tidak ke Toko Kue miliknya. Sebab besok pagi, kakak semata wayangnya akan melaksanakan ijab kabul dan dilanjutkan resepsi pada malam harinya di Hotel Abimana. Hotel milik sahabat dari sang kakak. Itu yang dia dengar. Hihihii Karena Toko tutup, jadilah dia hanya menonton Drama Korea kesukaannya. Tok tok tok! "Siapa?" "Ini Mama, Sayang...." "Masuk, Ma...." Wanita paruh baya yang sekarang berusia sudah kepala lima lebih, tapi masih cantik di usianya, masuk ke kamar sang putri bungsu. "Kamu sedang sibuk, Sayang?" tanyanya kalem, setelah mendudukkan diri ke tepi ranjang sang putri tercinta. "Biasa, Ma. Zee, lagi nonton Drama Korea," jawab Linzi tersenyum manis, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan bersih. "Nggak terasa kamu sudah besar ya, Nona. Perasaan baru kemarin kamu Mama gendong. Sekarang gadis kecil itu, berubah menjadi gadis yang cantik." "Mama bisa aja. Zee kan jadi ge'er," jawab Linzi, sembari memegangi pipinya yang memerah. Sang mama terkekeh pelan. Beliau hanya punya dua anak. Anak sulungnya, bernama Libra Wisnu Sudjono. Sementara putri bungsunya bernama, Linzi Widya Sudjono. "Ehm, Mama tumben ke sini? Biasanya selalu bersama Papa terus." "Papamu sedang tidur, Sayang," jawabnya dengan senyum teduh. "Oowhh ... Mama apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan sama Zee?" tanya Linzi seraya mematikan tab dan meletakkan di atas meja, samping ranjangnya. Paramitha Sudjono, orang tua Linzi dan Libra tersenyum sebelum menjawab pertanyaan putri bungsunya. "Nona, besok Kak Libra menikah, Sayang ... kamu tidak ingin menunjukkan siapa dirimu?" tanya Bu Mitha lembut, seraya memegang kedua tangan Linzi. Linzi terdiam sebentar. Beberapa saat kemudian, dia menghembuskan napasnya. "Harus ya, Ma?" tanya Linzi sembari meringis pelan. Bu Mitha tersenyum teduh. Memang pembawaan beliau punya senyum dan wajah teduh, yang menenangkan. "Tidak harus, Nona. Tapi Mama dan Papa berharap kamu menunjukkan diri ke Publik. Kamu tahu kan, alasannya, Sayang...," jawab Bu Mitha lembut, seraya mengelus surai panjang milik putri bungsunya. "Bolehkah Zee tidak mau sekarang, menampakan diri ke Publik, Ma?" pinta Linzi dengan nada pelan. "Zee janji. Ketika waktunya tiba, Zee akan menampakan diri siapa Zee, Mama," lanjut Linzi memohon. Bu Mitha menghembuskan napas pelan, beliau lupa, kalau anak bungsunya keras kepala. "Ya sudah. Kalau itu mau kamu, Sayang...," jawab Bu Mitha mengalah. "Terima kasih, Mama." "Sama-sama, Sayang. Oh ya, kamu mau masakin apa, malam ini?" "Apapun yang Mama masak. Zee akan senang memakannya, Ma," jawab Linzi manja. "Ya sudah. Mama keluar dulu, Sayang...." "Iya Ma." Linzi menghembuskan napas pelan, setelah sang Mama menutup pintu kamarnya. "Maafkan, Zee, Ma...," gumam Linzi merasa bersalah. Besok pagi... Aiza Xaviera Baldwin telah resmi menjadi istri dari Libra Wisnu Sudjono. Libra mengucapkan ijab kabul hanya satu kali tarikan napas. Mereka melaksanakan ijab kabul di Masjid besar yang dekat dengan rumah sang mempelai wanita. Karena pengantin ingin melaksanakan ijab secara intim dan kekeluargaan. Jadilah hanya dua wartawan saja yang boleh meliput, itupun atas persetujuan dari mempelai pria, Libra Sudjono. "Gila, gue nggak nyangka. Mbak Aiza cantik banget pas akad tadi," ucap Debbina, dia sedang fokus mencorat-coret tangannya dengan Henna warna putih. "Hem ... kamu benar, Bii. Mbak Aiza seorang bule pas didandani, dia benar-benar cantik sekali. Seperti bukan Mbak Aiza. Pangling banget, kan, Bii?" Linzi menimpali ucapan sahabatnya. "Hem ... memang pangling banget dia," jawab Debbina tanpa menoleh ke sahabatnya. Mereka berdua sedang berada di dalam salah satu kamar rumah Baldwin. "By the way Zee ... lo denger kan, di luar sana banyak gosip yang mengatakan bahwa pernikahan mereka adalah pernikahan bisnis?" "Hem ... aku mendengarnya." "Aneh banget tahu nggak mereka. Jelas-jelas Kak Libra dan Mbak Aiza berpacaran sudah lama, malah dikatain begitu. Kurang kerjaan banget mereka buat gosip kaya gitu," gerutu Debbina tidak habis dengan para wartawan. Linzi terkekeh pelan, mendengar gerutuan sahabatnya, "Itulah alasan aku, kenapa nggak mau muncul ke Publik karena takut kehidupan pribadiku dikorek sama mereka." "Eh, Zee." "Apa?" tanya Linzi tanpa menoleh ke Debbina. Dia lagi membuka sosial media yang sedang ramai sekali pemberitaan tentang pernikahan kakaknya. "Kakak lo kan CEO. Temannya pasti banyak juga yang para petinggi perusahaan." "Terus?" tanya Linzi tanpa menoleh. Dia masih sibuk melihat berita demi berita di sosial media. Debbina berdecak kesal mendengar ucapan Linzi, "Ya lo nggak tertarik gitu?!" tanya Debbina sedikit ketus. Linzi menghentikan kegiatannya, lalu menatap Debbina dengan wajah datar, "Nggak," jawab Linzi singkat, setelah terdiam beberapa menit. "Seandainya lo berjodoh dengan salah satu dari mereka, gimana?" Bola mata Linzi berputar mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan Debbina, "Ya nggak gimana, gimana, sih," jawab Linzi menghedikan bahunya "Lagian teman Kak Libra yang mana, yang akan berjodoh dengan aku." Lagi-lagi Debbina berdecak kesal, sahabatnya berubah drastis setelah pulang dari Australia. "Jodoh nggak ada yang tahu, Linzi Widya Sudjono," cibir Debbina sedikit kesal. Linzi terkekeh pelan, "Ya aku harus jawab apa, Bii," kekehnya. "Terserah lo deh." Debbina mengibaskan tangannya, tidak peduli. "Ah ya! Lo nanti malam datang ke Resepsi, kan? Gue denger-denger pemilik Abimana Hotel alias teman Kak Libra seorang blasteran yang tampan dan dia belum menikah. Benar nggak Zee?" "Kalau datang, aku jawab iya. Tapi kalau masalah teman Kak Libra yang blasteran itu aku tidak tahu dan aku tidak peduli." "Cari tahu Zee! Kali aja, kalian berjodoh kan," ucap Debbina sembari terkekeh pelan, mengenai pikiran absurdnya. "Dih, ogah! Seperti yang kamu bilang tadi, kalau jodoh tidak kemana, Bii." "Ah, gue doain deh, kalian berjodoh." Debbina langsung terbahak setelah mengatakan itu. Sementara bibir Linzi cemberut, mengenai pikiran ajaib sahabatnya. *** Malam hari... Linzi dan Debbina berdiri bersampingan sama-sama menatap pengantin yang sedang duduk di singgasana. Di belakang mereka, ada Karen yang ikut berdiri, menjaga Nona Muda Sudjono atau Princess Sudjono, pastinya. Debbina tidak berhenti berdecak kagum melihat dekorasi yang begitu mewah dan elegan yang diadakan di Ballroom Abimana Hotel. Ballroom hotel disulap dengan warna putih bertabur bintang-bintang dan bunga Mawar putih juga. Berbeda dengan Debbina, justru Linzi menatap datar kedua orang yang duduk di singgasana. 'Semoga kalian bahagia,' gumam Linzi dalam hati. "Zee ... Kak Libra habis berapa ya ini?" tanya Debbina penasaran. Asli ... dia jadi berpikir keluarga sahabatnya pasti kaya banget sampai menghabiskan uang yang bisa ditafsir ratusan juta ini. Buat resepsi doang. "Aku nggak tahu, Bii. Itu kan uang Kak Libra," jawab Linzi sembari terkekeh pelan. "Ah lo bener. Kakak lo kan, kaya raya. Uang ratusan juta buat resepsi doang mah kecil. Kak Libra ngeluarin duit segitu, udah kaya ngeluarin duit buat beli kacang goreng. Iya kan, Zee?" "Kayanya," jawab Linzi ikut terkekeh dengan ucapan Debbina. "Eh gue mau ke kamar mandi dulu," pamit Debbina. "Hati-hati, Bii." Setelah Debbina pergi ke toilet. Linzi masih menatap kakak dan kakak iparnya. Linzi salut sekali dengan mereka, karena hubungan mereka awet sampai ke jenjang pernikahan. "Nona Zee. Tuan Besar meminta anda ke ruangannya." "Baik." Di sudut yang berbeda... Setelah Arfiq memilih pulang bersama istrinya. Aden masih santai dengan para temannya yang lain. Hatinya masih bertanya-tanya. Apa gadis yang dia lihat 'Zee' atau bukan. Kalaupun iya, sedang apa gadis pujaan hatinya ada di sini. Mana cantik banget tadi dengan dress warna putih yang sangat cocok di tubuhnya. Kurang lebih setengah jam setelah Arfiq pergi, Aden pamit untuk mencari sang Mommy tercinta. "Saya pamit dulu mau mencari mommy," pamit Aden ke lainnya. Di balkon hotel... Linzi sedang berdiri ditemani oleh Karen yang berdiri di belakangnya. Tadi Papanya bilang mau ada sesi foto-foto dan dia harus ikut. Namun Linzi menolaknya. Mungkin pas terakhir saja dia baru mau foto-foto dengan keluarganya. "Zee." Deg! Suara itu... Linzi menoleh siapa yang memanggil dirinya. Linzi berdoa semoga saja bukan 'dia' yang pernah ada dalam hidupnya. Mata Linzi langsung melebar, setelah dugaannya benar. Dia adalah Sandi Ramadhan, mantannya lima tahun lalu. Sandi mendekat dengan raut wajah tidak percaya karena bisa bertemu dengan gadis yang masih dicintainya. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan gadis yang sudah lima tahun dicarinya. Linzi melihat Sandi mulai mendekat, melangkahkan kaki mundur. Belum lagi wajahnya datar menatap Sandi. Sandi juga menghentikan langkahnya, setelah melihat respon Linzi. "Zee ... ini Kak Sandi," ucap Sandi. "Saya tidak kenal dengan Anda," jawab Linzi datar. Namun, hatinya berdenyut nyeri mengingat kejadian lima tahun lalu. Sandi menahan napas, tidak percaya dengan jawaban gadisnya. Dia mulai maju lagi mendekati Linzi. "Zee...." Karen menghadang Sandi yang ingin mendekati Nona-nya, "Jangan mendekat," peringat Karen dengan wajah datar. "Zee...," panggil Sandi penuh harap. "Saya peringatkan Anda jangan mendekati dia. Dia bukan orang yang Anda cari," ucap Karen masih dengan wajah datar. Karen tahu lelaki di hadapannya adalah mantan pacar sang Nona. "Zee, maafkan aku. Tolong maafkan aku, Zee ... beri aku kesempatan, Zee. Aku mohon," pinta Sandi dengan wajah memelas. Dia masih berharap gadis yang dicintai, masih mau memberi kesempatan untuknya. Dia tidak peduli sudah mempunyai istri dan anak. Dia rela menceraikan sang istri, jika Linzi masih mau kembali padanya. "Saya tidak kenal dengan Anda." Linzi langsung beranjak dari situ. Dia mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir. "Zee," panggil Sandi. "Sekali lagi saya peringatkan jangan mendekati dia! Dia bukan orang yang Anda kenal dan cari." Karen menghalangi Sandi yang ingin mengejar majikan mudanya. Linzi berjalan tergesa-gesa, sesekali melirik ke belakang takut Sandi mengejarnya. Brukk! "Aduh!" "Ya ampun. Maaf-maaf saya tidak sengaja," ucap Linzi suaranya sedikit bergetar. Seseorang yang ditabrak Linzi menoleh, bibir beliau langsung tersenyum melihat siapa yang tadi menabraknya. "Anak cantik!" Linzi yang sedari tadi menunduk, mendongakkan kepala. Mata Linzi langsung melebar setelah tahu siapa yang ditabraknya. Wanita paruh baya yang waktu itu datang ke Toko Kue miliknya. "Tan-- Tan-- te," ucap Linzi tidak percaya. "Iya, anak cantik! Ini Tante," jawabnya ceria, "Kamu sedang apa di sini? Kamu diundang juga di pernikahan putra sulung keluarga Sudjono?" Jantung Linzi berdetak kencang, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. "Iya, Tante. Saya diundang di pernikahan mereka," jawab Linzi tersenyum kaku. "Ya ampun, sayang banget anak tampan Tante, nggak lagi sama Tante. Gimana kalau kita mencarinya, anak cantik?" usulnya ceria. "Eh, tidak, Tante. Maksud saya, saya tidak bisa Tante. Saya ada keperluan." "Tap---" "Lain kali saja ya, Tante. Saya buru-buru. Permisi, maaf ya, Tante." Linzi langsung pergi setelah mengatakan itu. Bahkan dia sedikit berlari jalannya. "Loh ... Eh, anak cantik!" Wanita paruh baya bernama Juwita Abimana mendesah pelan. Padahal ini kesempatan beliau ingin mengenalkan calon menantu masa depan dengan putra sulungnya. "Mommy," panggil seseorang membuat Bu Juwita menolehkan kepalanya. "Ya ampun, Hayden. Kamu telat datang, Nak. Tadi Mommy ingin sekali mengenalkan kamu dengan calon menantu Mommy." Bu Juwita memukul lengan anaknya sedikit kesal. "Calon menantu Mommy? Buat siapa, Mom?" tanya Hayden atau Aden dengan kening berkerut. "Ya buat kamu dong, Hayden Bayu Abimana. Memang buat siapa lagi. Anak Mommy dan Daddy kan hanya satu. Gimana sih, kamu!" kesalnya. Aden terkekeh pelan, dia merangkul pundak Mommy-nya. "Mommy jangan marah-marah, nanti nambah cantik," ucap Aden disertai kekehan. Bu Juwita memutar bola matanya, jengah. Beliau tidak bisa marah dengan anak semata wayangnya ini. "By the way ... Mommy bahas calon menantu, gimana sih, Mom? Aku nggak paham." "Itu tadi Mommy ketemu, calon menantu idaman Mommy, Den. Mau Mommy kenalin dia dengan kamu, dianya keburu pergi. Jadi gagal deh," keluh Bu Juwita. "Berarti itu tidak jodoh, Mom," ucap Aden asal. "Tapi Mommy berharap, kalian berjodoh, Nak," rajuk Bu Juwita dengan bibir cemberut. Aden tersenyum tipis. Dia malah berharap berjodoh dengan gadis bernama 'Zee atau Linzi'. Dan semoga gadis itu bukan adiknya Libra. Wkwkwk "Mommy yakin, kamu pasti suka sama dia loh, Nak. Anaknya cantik dan baik." "Jodoh pasti nggak kemana, Mom," jawab Aden dengan seulas senyum. "Dan Mommy berharap kamu berjodoh dengan dia." "Aamiin...," jawab Aden tanpa sadar. 'Loh kok ... gue aminin. Gue kan berharap jodoh sama Zee. Sudahlah yang penting, Mommy seneng,' gumam Aden dalam hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN