***
Sudah seminggu Linzi berada di Indonesia. Sesuai dengan permintaannya. Linzi tidak mau dijemput oleh keluarganya. Dia ingin dijemput sama Debbina di bandara.
Linzi dan Debbina berpelukan melepas kangen. Wajar sih ... hampir lima tahun mereka tidak bertemu. Sebenarnya Debbina sudah sering kali ditawarkan ikut mengunjungi Linzi, namun Debbina menolaknya halus.
Putri bungsu keluarga Sudjono pulang dan dia akan menetap di Indonesia. Libra langsung memerintahkan pengawal buat menjaga adik semata wayangnya. Tentu saja, tanpa pengetahuan Linzi.
Kemarin Linzi pergi ke Mall dengan Debbina dan juga Karen membeli dress buat dipakai di pernikahan kakaknya nanti.
Sekarang Linzi sedang fokus menghias kue kering yang ada di tangannya. Dia membuka Toko Kue. Sebelum dia pulang ke Indonesia, dia sudah membeli salah satu bangunan yang akan dijual.
Tadinya sang papa menawari membuka Toko Kue di Mall atau di tempat yang ramai, tapi Linzi menolaknya. Dia lebih suka tidak terlalu ramai. Toh di sini juga dekat sekolahan anak SMA. Jadi tidak masalah baginya.
Selama Linzi di Toko. Karen selalu ada di sampingnya. Dan tanpa sepengetahuan Linzi. Libra memerintahkan pengawal memantau Linzi diam-diam.
"Permisi, Mbak Zee." Salah satu karyawan Linzi datang menghampirinya.
"Kenapa, Mbak?" tanya Linzi tanpa menoleh. Dia sedang fokus dengan kue-kue di hadapannya.
"Itu ada ibu-ibu di depan ingin bertemu dengan anda," ucapnya.
Gerakan tangan Linzi berhenti, lalu keningnya berkerut mendengar ucapan salah satu karyawan.
"Siapa?" tanya Linzi.
"Saya tidak tahu, Mbak. Tapi ibu itu pengen ketemu dengan Mbak Zee ... pemilik Toko ini."
"Oowhh ... ya sudah. Bilang sama beliau, tunggu lima menit, nanti saya datang," ucap Linzi dengan seulas senyum.
"Baik, Mbak Zee ...."
Linzi mendesah pelan. Dia berjalan menuju wastafel mencuci tangannya sebentar, lalu melepaskan apron yang ia pakai.
"Nona mau nemuin orangnya?" tanya Karen.
Linzi tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Karen. "Iya aku mau menemui orangnya, Ci."
"Tapi Non---"
"Nggak apa. Mungkin sangat penting, makanya beliau ingin menemuiku," ucap Linzi dengan seulas senyum.
Linzi berjalan keluar dari tempat kerjanya. Dia penasaran dengan wanita yang ingin bertemu dengannya.
Linzi melihat, di salah satu kursi ada seorang wanita paruh baya seumuran mamanya sedang duduk santai, sembari menikmati salah satu kue buatannya.
"Beliau orangnya, Mbak?" tanya Linzi berbisik ke karyawan tadi.
"Iya, Mbak. Beliau orangnya."
Linzi menganggukkan kepala, paham. Dia menghampiri wanita paru baya yang sedang menunggunya.
"Hallo ... selamat siang, Bu," sapa Linzi dengan seulas senyuman.
Wanita paruh baya itu mendongakkan kepala. Bibir yang terpoles gincu warna merah itu, tersenyum manis melihat gadis cantik yang menghampirinya.
"Apakah kamu pemilik tokonya, anak cantik?" tanyanya ceria.
Linzi mengerjapkan kedua mata beberapa kali, lalu bibirnya tersenyum.
"Iya, Bu. Saya pemiliknya," jawab Linzi ramah.
Mata wanita paruh baya itu berbinar, bibirnya juga tersenyum begitu lebar.
"Ya ampun ... ternyata pemiliknya masih muda, cantik lagi, cocok dijadikan menantu saya."
Loh kok...
Mata Linzi mengerjap cepat dan juga keheranan.
"Saya bercanda, anak cantik. Tapi kalau kamu belum punya pacar dan belum juga menikah, bolehlah nanti Tante kenalkan dengan anak tampan Tante."
Linzi tersenyum kikuk. Baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang menurutnya nyentrik ini.
"Tenang aja. Anak Tante, tampan dan sangat baik. Apalagi anak Tante blasteran karena daddy-nya seorang bule. Eh ya ampun ... Tante malah ngomong ngelantur kemana-mana. Maaf ya, anak cantik," ucapnya sedikit menyesal.
Sedikit saja. Karena beliau memang berharap anak tampannya berjodoh dengan sang gadis. Seandainya si gadis ini belum punya pacar atau suami.
Linzi tersenyum kecil, "Tidak apa, Bu," jawabnya.
"Aduh jangan panggil Ibu. Nanti panggil Ibu, eh, Mommy kalau anak tampan Tante mengucap ijab kabul menyebut namamu," ucapnya ceria.
Linzi menahan tawanya. Baru kali ini dia bertemu dengan seorang ibu paruh baya bukan menyebalkan baginya tapi malah menyenangkan.
"Kamu panggil Tante saja, yaa ... biar lebih akrab gitu."
"Iya, Tante," jawab Linzi pada akhirnya.
"Oh ya! Tadi Tante nanya, kamu pemilik Toko kue ini kan?" tanya beliau sekali lagi.
"Iya, Tante. Saya pemiliknya."
"Wah, masih muda, cantik, pintar, berbakat lagi. Cocok dijadikan calon menantu idaman."
"Ngomong-ngomong kamu belum menikah kan? Tante takut kalau kamu sudah menikah, Tante dimarahi oleh suami kamu."
Linzi tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya, "Belum, Tante."
Wanita paruh baya itu menghembuskan napasnya lega.
"Ada yang bisa saya bantu, Tante?" tanya Linzi dengan seulas senyuman.
"Kenapa kamu berdiri saja? Ayo duduk dulu, anak cantik."
"Ah iya, iya, Tante."
Linzi duduk di hadapan wanita paruh baya itu yang terhalang meja.
"Begini anak cantik. Tante kan mau mengadakan arisan di rumah Tante, tapi Tante sangat sibuk di Boutiqe, jadi tidak bisa membuat cemilan dan makanan. Biasanya anak tampan Tante, yang bantu Tante masak, tapi dia juga sibuk di perusahaan belakangan ini bersama kedua sahabatnya. Entah apa yang mereka kerjakan, Tante tidak peduli, yang jelas dia tidak bisa membantu Tante. Kalau makanannya, Tante bisa pesan di Catering. Cemilannya Tante bingung anak cantik. Bagaimana, kamu di sini bisa menerima pesanan nggak?"
Linzi ternganga mendengar wanita paruh baya itu berbicara panjang lebar.
"Anak cantik!"
Linzi yang ditabok pergelangan tangannya sedikit gelegapan, "Ehh iya Tante, gimana, gimana tadi?"
"Tante mau pesan kue di sini buat arisan. Kamu menerima pesanan, nggak?"
Linzi tersenyum kecil, sebenarnya dia tidak menerima pesanan. Akan tetapi ya sudahlah ... dia tidak enak juga dengan wanita paruh baya seumuran mamanya.
"Baik Tante, bisa. Mau pesen berapa?" tanya Linzi dengan seulas senyuman.
"Syukurlah ... tidak banyak kurang lebih tiga puluh orang," jawabnya, tangan beliau mengambil sesuatu dari tas-nya.
"Ini kartu nama Tante, anak cantik. Nama Tante, Juwita Abimana. Ah ya nama kamu siapa? Tante sampai lupa tanya nama kamu."
"Nama saya Linzi, Tante. Biasa dipanggil Zee." Linzi tersenyum manis.
"Nama kamu cantik, secantik orangnya. Cocok dengan anak Tante yang tampan itu."
Linzi terkekeh pelan. Menurutnya Tante Juwita sangat menyenangkan.
"Anak cantik pembayarannya?"
"Nanti saja, Tante."
Kening wanita paruh baya yang bernama Juwita Abimana itu berkerut.
"Kenapa?" tanya beliau bingung.
"Nanti bayarnya kalau sudah selesai dan sudah diantar ke rumah Tante saja," jawab Linzi santai.
"Loh ... kamu tidak takut, Tante menipu kamu?" tanya Bu Juwita dengan mata memicing.
"Saya percaya sama, Tante." Linzi tersenyum setelah mengatakan itu.
Senyum itu menular ke Bu Juwita. Beliau ikut tersenyum juga.
"Ya sudah ... terima kasih anak cantik. Nanti alamatnya, Tante kasih tahu ya."
"Baik, Tante. Ditunggu pesanannya ya."
"Ok, ok ... Tante berharap, kamu bisa main ke rumah Tante."
"InsyaAllah, Tante."
"Ya sudah ... kalau begitu Tante pulang dulu ya anak cantik."
"Iya, Tante. Hati-hati di jalan, Tante."
***
Di tempat yang berbeda...
Seorang pria tampan menatap pemandangan di luar jendela ruangannya. Dia terpaksa berbohong pada mommy-nya tidak bisa bantu memasak karena sedang sibuk.
Sebenarnya tidak sepenuhnya berbohong sih ... hanya saja, dia ingin sendiri. Di dalam kepalanya masih bertanya-tanya dan mengira-ngira, gadis bernama Linzi apakah adiknya Libra atau hanya namanya saja yang sama.
Entahlah ... yang jelas dia sedang pusing sekali memikirkan itu.
Tok tok tok!
"Masuk," jawabnya datar dan dingin.
"Maaf, Pak Hayden. Ada Pak Libra datang," ucap Sekretaris ke sang atasan, yang bernama Lusi.
"Suruh dia masuk," perintahnya tanpa menoleh.
Dia masih fokus memandangi gedung-gedung pencakar langit Kota Jakarta.
Hayden Bayu Abimana. Pria blasteran Indonesia-German yang akrab disapa Aden oleh orang-orang terdekatnya. Seorang pewaris tahta perusahaan Abimana Group.
"Selamat siang, Tuan Hayden Abimana Yang Terhormat."
Aden mendesah pelan, lalu dia memutarkan kursi kebesarannya, menghadap tamu yang datang ke ruangan hari ini.
Aden beranjak dari duduknya. Dia menghampiri dan menyambut sahabat sekaligus rekan bisnisnya.
"Selamat siang dan selamat datang, Tuan Libra Sudjono," ucap Aden datar sambil berjabat tangan dengan Libra.
"Kurang-kurangin, Den! Muka datarnya," cibir Libra karena muka datar Aden yang baginya mengesalkan.
"Silahkan duduk, Lib." Aden tidak mempedulikan cibiran Libra yang tidak penting sama sekali.
"Ada keperluan apa lo datang ke tempat gue?" tanya Aden datar setelah mereka duduk dan Aden sudah pesan minuman ke sekretarisnya.
"Gue mau ngasih berkas buat lo, sebelum lo pergi ke Singapura bersama Arfiq," jawab Libra sembari menyerahkan berkas ke Aden.
"Ok ... kenapa lo nggak kirim lewat email aja sih?" tanya Aden heran.
"Gue mau sekalian mampir ke tempat lo, Den," jawabnya santai.
"Lalu lo ada perlu apa lagi sama gue?" tanya Aden datar, tangannya mengambil berkas dari Libra.
Libra masih diam saja, tidak menjawab pertanyaan yang Aden ajukan.
Libra menatap penampilan Aden yang sedikit berantakan. Belum lagi mukanya yang datar, sedikit muram. Tidak bertenaga, kaya baterai yang mau lowbat. Wkwkwkw
"Den!"
"Apa?" jawab Aden datar, tanpa menoleh ke Libra.
"Gue masih penasaran tentang hubungan Arfiq dan Indah. Lo pernah ketemu sama Indah, memangnya?" tanya Libra, jiwa keinginan tahuannya belum sepenuhnya tuntas dengan cerita Aden yang di ruangan Arfiq waktu itu.
"Tuan, bisakah keponya dikurangi?" tanya Aden dengan cibiran.
"Lo kan tahu, Kepo itu nama tengah gue," jawab Libra sembari terkekeh pelan.
'Oh Tuhan ... please, gadis yang gue suka jangan adiknya makhluk Kepo bernama Libra Sudjono.' Batin Aden menatap Libra datar.
"Lo kenapa lihatin gue kaya gitu? Gue sadar diri, Den! Kalau gue itu memang tampan. Tapi gue masih normal by the way."
Aden berdecak kesal mendengar ucapan super percaya diri Libra. Sepertinya selain serba ingin tahu, Libra juga mempunyai jiwa kepercayaan yang sangat tinggi.
"Gue juga ogah, kali! Lagian anda percaya diri sekali mengatakan diri anda tampan," balas Aden menampilkan mimik muka ingin muntah.
Kali ini Libra yang berdecak kesal "Jangan coba ngalihin pertanyaan gue, Den!" ucap Libra kesal.
"Pertanyaan apa?" tanya Aden datar.
Lagi-lagi Libra berdecak kesal, sahabat bulenya memang paling bisa membuat dia kesal.
"Lo lagi sakit hati sama Arfiq, Den! Makanya lo jadi pelupa gini."
"Apa hubungannya pelupa sama Arfiq. Lagian siapa juga yang sakit hati, ngaco lo!"
"Ya siapa tahu kan. Karena Indah, milih Arfiq lo jadi kaya gini," ucap Libra sembari menghedikan bahunya.
"Nggaklah. Pertama kali gue lihat Indah, kaya lihat seseorang," jawab Aden tanpa sadar.
"Seseorang ... siapa dia?" tanya Libra beringsut lebih dekat ke Aden.
Tiba-tiba Aden tersadar dengan apa yang dikatakan tadi.
'Mampus gue ... keceplosan tadi,' gumam Aden dalam hati.
Dia lupa sedang mengobrol dengan siapa sekarang. Libra Sudjono a.k.a Tuan Kepo.
"Den! Siapa?" tanya Libra penasaran dengan mata memicing ke arah Aden.
"Bukan urusan lo! Lagian lo siapa? Mau tahu siapa yang gue suka," ucap Aden datar.
"Wahh ... gue siapa?" Libra menunjuk diri sendiri, lalu tertawa kaku, "Lo nggak menganggap gue sahabat lo, Den? Parah banget lo!" kesalnya.
Aden menghembuskan napasnya pelan. 'Ya Allah ... aku mohon dengan sangat, jangan sampai gadis yang aku suka, adik dari temanku ini.'
"Kenapa lo pengen tahu siapa?" tanya Aden mencoba tidak terpancing dan menjawab kekepoan Libra.
Libra menghedikan bahunya, "Gue penasaran aja? Gadis mana yang bisa meluluhkan hati sedingin es kutub utara milik lo dan bisa membuat lo yang bermuka datar jatuh cinta ke dia," jawabnya santai.
"Dikiranya karena muka gue datar, gue nggak bisa jatuh cinta," cibir Aden.
"Ya makanya, gue pengen tahu. Siapa yang berhasil memikat hati pewaris tunggal perusahaan segede Abimana ini."
"Nggak, nggak. Lebih baik lo pergi deh! Gue masih banyak kerjaan sekarang."
"Lo mengusir gue, Den?" Libra memegang dadanya merasa terdzolimi.
Aden berdecak kesal. Manusia tampan sekaligus temannya. Sering banget membuatnya senewen dan ... sudahlah...
Intinya Aden berdoa semoga si 'Zee' bukan adik dari Tuan Kepo. Kalau memang benar 'Zee' adik Libra, bisa-bisa ia akan kesulitan mendapat restu dari Libra.
Apa sekarang dia baik-baikin Libra ya ... menjilat, istilahnya..
Aahh ... tidak-tidak. Belum tentu 'Zee' adiknya Libra. Semoga saja Ya Allah ... batin Aden.
"Lo nggak ada acara dengan Aiza, Lib?" tanya Aden mengalihkan pembicaraan.
Libra langsung mendengus kasar "Pinter banget lo, ngalihin pembicaraan. Sudahlah gue pergi."
Libra beranjak dari duduknya. Dia lupa mau bertemu dengan adik semata wayangnya di Toko Kue milik sang adik.
"Gue pergi, Den. Gue doain semoga gadis yang lo suka, nerima lo yang mukanya datar kaya papan triplek," ucap Libra diiringi tawa membahana.
"Ckk ... sial!"
"Ya Allah ... please lah ya ... semoga cuma namanya saja yang sama, jangan orangnya." Doa Aden, dia menjadi ketar-ketir sendiri.
"Belum juga gue maju ngedeketin dia. Udah takut duluan. Gini amat nasib jomblo," keluh Aden, ngenes.
***