Princess Sudjono : 6

1825 Kata
Tahun 2021... Linzi POV... Tring!! Tring!! Tring!! Samar-samar aku mendengar notif ponselku, yang aku taruh di atas meja nakas. Tanganku merambat mengambil ponsel, dengan mata masih terpejam. Aku membuka mata pelan, lalu menyipit dengan deretan pesan yang dikirim oleh kakak semata wayangku. Kak Libra [Hallo adek emesshhh Akak, yang paling cantik.] Aku mendengus kecil. Kemudian aku bangun dan bersandar di kepala ranjang kasur yang nyaman dan tenang ini. Tanpa membalas, aku kembali membaca pesan selanjutnya. [Adek, Akak ... Kakak sebentar lagi akan menikah. Kamu HARUS pulang ke Indonesia, Zee....] [Awas aja kalau sampai kamu nggak mau pulang. Kak Libra, akan meminta papa untuk tidak mengirim duit dan membekukan nomor rekening kamu.] "Astaga ... dikiranya aku di sini hanya makan, tidur, kuliah saja," gerutuku sedikit kesal. [Atau kamu mau Kak Libra datang ke sana, dan menyeret kamu pulang ke Indonesia. See ... Kak Libra sangat gampang melakukan itu.] Lagi-lagi aku mendengus kesal. Aku membanting ponsel ke kasur. Kemudian mengacak rambut kasar. Mungkin sekarang rambutku sudah kaya orang tersengat listrik, sangat berantakan. Tring!!! Aku kembali, mengambil ponselku. [Kamu harus pulang, Linzi Widya Sudjono!] "Aaahhh Kak Libra menyebalkan...," teriakku sangat kesal. Tok tok tok! Sudah bisa pastikan kalau yang mengetuk pintu kamarku Karen Cici. Karena di Apartment ini hanya aku dan Karen Cici. "Nona...." "Iya, Ci," jawabku sembari beranjak dari tempat tidur. "Nona mau sarapan apa?" Aku yang sedari tadi merapikan seprai menoleh ke arah Karen Cici, beliau masih berdiri di tengah-tangah pintu kamar. Aku berpikir sebentar, bingung juga mau sarapan apa. "Nona...." "Toast bread dengan selai Srikaya sama hot chocolate milk aja, Ci," pintaku dengan seulas senyum. "Baik, Nona." "Terima kasih, Ci," ucapku tulus. "Sama-sama, Nona." Aku mendesah pelan saat Karen Cici berlalu dari pintu kamar. Ku akui, walaupun Karen Cici mempunyai wajah datar kaya papan triplek. Namun, beliau adalah salah satu pengawal setia keluarga Sudjono. Selama bertahun-tahun hidup di sini. Aku banyak curhat ke cici, yang beliau tanggapi dengan bijaksana. Oh ya! Tidak terasa, aku sudah lima tahun di Australia. Kalau bertanya, dalam waktu selama itu aku pulang apa tidak? Jawabannya tidak. Aku belum mau pulang ke Indonesia. Aku nyaman di sini. Walaupun ada hari-hari besar juga aku tidak pulang. Bahkan Hari Raya sekalipun aku tidak pulang ke rumah. Hanya papa dan mama yang akan berkunjung ke tempatku tiga bulan sekali, sementara Kak Libra bisa hitungan jari dia datang bersama Mbak Aiza calon kakak iparku. Aku paham karena pekerjaan Kak Libra sangat sibuk. Selama papa dan mama datang berkunjung. Kami akan jalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain, mencicipi berbagai kuliner yang pastinya sudah ada logo halal. Mama sudah tidak lagi menyinggung kapan aku pulang. Mungkin beliau sudah bosan, aahh mungkin mama sudah pasrah dengan ke keraskepalaanku yang ingin tinggal di sini lebih lama lagi. Aku menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul jam 8 pagi, waktu Australia. Sedangkan di Indonesia jam 4 subuh, dan kakakku yang tampan tapi memiliki tingkat keinginan tahuan di atas rata-rata itu sudah bangun. Amazing, bukan. Aku keluar dari kamar mandi, setelah melakukan ritual mandiku. Berjalan menuju walkcloset untuk berganti pakaian dan setelahnya memoles wajahku sedikit. Untuk permintaan kakakku yang akan menikah dalam waktu dekat ini, mungkin aku bisa mempertimbangkannya. Sejujurnya aku juga ingin pulang ke Indonesia. Tapi ... lagi-lagi aku mendesah pelan. Padahal kejadian itu sudah lima tahun berlalu. Namun lukanya masih ada sampai sekarang. Aku tidak lagi mencintainya sih ... cuma untuk membuka hatiku pada orang lain atau pria cukup sulit, mengingat cinta pertamaku saja mengkhianatiku apalagi dengan cinta yang baru. 'Sudahlah, Zee ... ayo dong! Jangan seperti itu.' Aku selalu tanamkan, kalau semua akan baik-baik saja walaupun rasanya sulit sekali. "Selamat pagi...," ucapku ceria kepada Karen Cici. Aku hanya ceria dan seperti Linzi, kalau sedang bersama orang-orang terdekatku. Namun dengan orang lain, aku akan bersikap dan berwajah datar. Aku membentengi diriku sendiri karena tidak mau terluka yang kedua, ketiga, dan seterusnya. "Selamat pagi, Nona." Aku mendudukkan pantatku ke salah satu kursi sembari menaruh slingbag favoritku. "Hemm ... smells good," komenku dengan hidangan yang sudah tersaji di depanku. "Terima kasih, Ci," ucapku tulus. "Sama-sama Nona," jawab Karen Cici yang sudah duduk di hadapanku. Kami memulai sarapan. Membuat sarapan atau makanan, kami lakukan bersama walau banyak yang buat Cici Karen sih, aku tinggal makan. Hehehe "Nona." Panggilan Karen Cici menghentikan jariku berselancar ke benda pipih yang selalu aku bawa kemanapun. "Kenapa, Ci?" tanyaku santai. "Tuan Besar bilang Anda harus mempertimbangkan, tentang kapan Anda pulang ke Indonesia." Aku mendesah pelan, lalu meletakkan ponselku ke meja. "Papa bilang begitu?" tanyaku sedikit malas. "Iya, Nona. Seperti yang Anda tahu, Tuan Muda akan menikah dalam waktu dekat ini." "Menurutmu Ci, bagaimana denganku?" tanyaku sembari menggigit toast bread dengan isi selai kesukaanku. "Maksud Anda?" Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Apa tadi pertanyaanku salah ya? Atau ambigu? "Cici tahu kan, alasanku datang ke sini." Ku lihat Karen Cici tersenyum tipis. Beliau jarang-jarang tersenyum. Namun saat tersenyum, aku yakin banyak laki-laki menyukainya. Senyum antara manis dan tegas secara bersamaan terpatri di bibirnya. "Menurut saya, Anda harus melawan rasa sakit itu, Nona." Keningku berkerut, kurang paham dengan ucapan Karen Cici. "Maaf ini. Saya mau tanya, apakah Nona masih mencintainya?" Aku tertawa kaku, "Aku tidak mencintainya lagi, Ci," jawabku santai. "Ya sudah, kalau begitu Anda harus bersikap biasa saja. Jika Anda terus-terusan seperti ini, mereka pasti akan berpikir kalau Anda masih menyimpan rasa pada mantan pacar Anda." Aku sedikit terkejut dengan penuturan Karen Cici. Iyakah? Mereka akan berspekulasi kalau aku masih mencintai mantan pacarku. "Apa Nona pernah mendengar, kalau sakit hati karena seseorang, obatnya seseorang juga." "Maksudnya?" tanyaku dengan kening berkerut. "Jadi misalnya kita sakit hati ke orang. Obatnya orang lain juga. Kaya Nona sakit hati dengan mantan pacar Nona. Cara nyembuhinnya, Nona cari orang lain untuk mengobati luka di hati Nona." Aku tersenyum kecut, "Siapa Ci? Bagi aku semua laki-laki sama saja." "Tidak sama, Nona. Buktinya, Tuan Muda sangat setia ke Nona Aiza." "Ya karena Kak Libra adalah kakakku, Ci," ujarku dengan kekehan. "Memang benar. Tuan Muda memang kakak Nona. Tapi Tuan Muda juga seorang laki-laki, bukan?" Aku terdiam mencerna ucapan demi ucapan Karen Cici. Kemudian aku mendesah pelan. Apa yang diucapkan Karen Cici ada benarnya juga. "Aku harus gimana, Ci?" keluhku. "Cobalah Nona membuka hati untuk orang lain. Jangan sama ratakan semua laki-laki seperti itu. Saya takut Nona akan terus menderita, sementara mantan pacar Nona hidup bahagia bersama istri dan anaknya." "Cici benar. Terima kasih masukannya, Ci," ucapku dengan senyum tulus. "Sama-sama, Nona." Siang hari... Obrolan pagi hari bersama Karen Cici, membuat hatiku sedikit terbuka. "Sudahlah ... memang waktunya aku harus pulang ke Indonesia." Setelah aku memikirkan matang-matang. Akhirnya aku memutuskan pulang ke Indonesia, tempat tinggal keluargaku. Aku menatap jam di dinding sudah menunjukkan jam satu siang, berarti di Indonesia jam 9 pagi. Aku mendial nomor telepon Kak Libra. >) Hallo, Zee.... >>) Hallo Kak. Kakak sibuk? Aku memutar bola mataku, saat Kak Libra mengalihkan teleponku menjadi videocall. >) Kamu tidak apa kan? Aku menatap wajah tampan kakakku di layar ponsel. >) Zee, kenapa kamu diam saja? >>) Aku nggak apa, Kak. >) Kamu kenapa telepon Kakak? Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan? Aku terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Kak Libra. Di sana Kak Libra sedang fokus dengan berkas-berkas perusahaan yang membuatku pusing, pastinya. >>) Aku akan pulang, Kak. Di layar aku melihat Kak Libra menghentikan kegiatannya. Dia menatapku tidak percaya, sementara aku menatapnya datar. >) Kamu serius, Zee? Aku memutar bola mataku, jengah. >) Zee.... >>) Iya, Kak. Aku serius! >) Kakak jemput kamu nanti. >>) No! Aku nggak mau Kak Libra yang jemput aku. >) Terus? >>) Debbina. Aku mau Debbina yang jemput aku di Airport. >) Tap--- >>) Kalau Kak Libra tetap maksa jemput. Aku nggak jadi pulang! Ku dengar, Kak Libra berdecak kesal. Tapi aku tidak peduli. >) Ya sudah, terserah kamu. Yang penting kamu pulang ke Indonesia. >>) Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Tanpa menunggu jawaban Kak Libra. Aku langsung mematikan sambungan video-callku. "Bissmillah ... aku pasti bisa," tekadku. Linzi Pov End. *** Aden POV... Hari yang melelahkan... Ah bagi gue tidak ada hari yang tidak melelahkan. Saat ini gue sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Tempat di mana gue berjanjian dengan Tante Mega, mami dari Arfiq Hadiutomo. Sahabat gue yang menyebalkan. Arfiq adalah sahabat gue sejak lama. Gue sempat terkejut saat Tante Mega bilang, Arfiq akan menikah dan sudah menikah dengan gadis yang pernah bertemu dengan gue beberapa kali. Sebelum gue tahu kalau Arfiq dan Indah sudah menikah. Gue sempat heran dan bertanya-tanya saat Arfiq menatap gue dengan tatapan tajam di lihat dari matanya. Dan saat gue tahu ... gue hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabat gue, Arfiq Hadiutomo. Gue punya dua sahabat Libra dan Arfiq. Di antara kita bertiga cuma gue yang masih jomblo. Ah tapi gue nggak peduli. Alasan gue menolong dan mencoba mendekati Indah, karena gue seperti melihat gadis lima tahun yang gue tolong dulu. Gue belum melupakannya sampai saat ini. Gue berharap suatu hari nanti kita bertemu lagi. Wajah Indah dan si 'Dia' hampir mirip. Cuma matanya yang beda. Indah matanya sedikit bulat, sementara gadis itu memiliki mata yang cantik seperti bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku. Eak... Eh kok, gue malah nyanyi. Gue terkekeh kecil, lalu menggeleng pelan. Kenapa gue kalau kepikiran dia jadi bego sih! Heran gue, dengan otak gue sendiri. Itu baru kepikiran dan membayangkan dia. Coba kalau gue bertemu dia langsung. Mungkin kalau gue ketemu dia langsung. Gue bukan Hayden Abimana bermuka datar tapi Hayden yang ... entahlah ... gue jadi malu sendiri. Nggak terasa mobil yang gue kendarai sampai di parkiran Mall tempat gue janjian dengan Tante Mega dan ... anak bungsunya, Zahra Hadiutomo. Gadis dan adik menyebalkan kata Arfiq. Gue mengambil masker dan topi putih kesayangan gue. Setelah mengunci mobil. Gue berjalan dengan langkah datar dan dingin. "Maaf, Tante. aku telat." Gue meminta maaf karena telat. "Nggak apa, Den." Gue tersenyum kecil. Wanita paruh baya orang tua Arfiq sekaligus sahabat mommy gue, cukup nyentrik dan juga heboh kaya mommy gue. Beliau bersahabat seperti persahabatan anaknya. "Gimana, Den?" Gue menceritakan semuanya kepada Tante Mega tentang Arfiq dan Indah. Setelah selesai dan Tante Mega pulang bersama si menyebalkan. Gue masih tetap di sini duduk. Jujur gue penasaran dengan gadis tadi yang tidak sengaja gue lihat. Gadis cantik dengan kedua temannya, kenapa nggak asing di mata gue. "Zee...." Deg!! Suara dan panggilan nama itu seperti ... gue mencari sumber suara itu. Gue ketemu dengan suara dan orang yang dipanggilnya. Mata gue tidak sengaja bertatapan dengan matanya. Mata itu... Gue memegangi jantung gue yang tiba-tiba berdetak kencang. Sepertinya gue harus pergi dari sini. 'Oh Tuhan ... Mommy ... tolong aku.' Gue beranjak dari. Rasanya gue tidak bisa mengendalikan luapan bahagia gue karena hari ini bertemu dengan mata indah dan cantik itu. "Linzi, lo itu gimana sih!" Deg!! 'Linzi.' Namanya Linzi... Tadi Tante Mega bilang kalau adik Libra namanya Linzi. Nggak mungkin dia kan? Atau cuma namanya aja yang sama. Ahh ... kenapa kepala gue jadi pusing. Gue cuma berdoa semoga dia bukan adik dari Tuan Kepo, Libra Sudjono. Bisa mampos gue! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN