Princess Sudjono : 5

1512 Kata
*** Setelah beberapa hari yang lalu, menemui Debbina, bertanya di mana Linzi namun tidak ada hasil. Sandi berjalan kaki tanpa arah tujuan, dengan perasaan tidak menentu. Beberapa hari ini, Sandi menelpon Linzi tapi tidak ada jawabannya. Mungkin nomornya diblokir Linzi atau Linzi ganti nomor. Yang jelas tidak bisa menyambung ke nomor Linzi. "Sayang ... kamu dimana?" Sandi mengusap wajahnya kasar. "Aku minta maaf sama kamu. Tolong beri aku kesempatan," ucap Sandi sangat frustasi. Tiba-tiba sekumpulan orang berseragam serba hitam turun dari mobil hitam juga. Kemudian berdiri di hadapan Sandi, dengan wajah datar dan mukanya sangar-sangar. "Anda yang namanya Sandi Ramadhan?" tanya salah satu orang itu. Kening Sandi berkerut, tapi kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya Pak. Saya Sandi Ramadhan." "Bisa Anda ikut kami. Tuan kami ingin bertemu dengan Anda." "Saya tidak mau! Lagipula siapa Tuan anda?" tanya Sandi semakin mengerutkan keningnya. "Anda pasti tahu dan paham. Silahkan Pak Sandi. Sebelum kami, memaksa Anda ikut." Sandi tertawa terbahak, bahkan mengeluarkan air mata sangking gelinya. Sementara para pengawal di depannya masih menatap Sandi datar. "Pak Sandi, silahkan." Sandi menghentikan tawanya, lalu balik menatap datar para pengawal di depannya, "Saya tidak mau! Saya tidak ada urusan dengan Tuan kalian!" jawab Sandi tegas. Ketua itu memberi tahu anak buahnya lewat isyarat mata. Tahu apa yang bos-nya mau, beberapa pengawal langsung maju mendekati Sandi. Kemudian.... Bugh!! Satu tonjokan dilayangkan ke perut Sandi, membuat Sandi yang tidak siap tersungkur jatuh ke tanah. Sandi menatap nyalang orang yang tadi menonjok perutnya, "Siapa kalian, Hah!!" tantang Sandi memegangi perutnya. Dia tidak takut, karena tidak merasa tidak salah apa-apa. Ketua pengawal itu menyeringai. Kemudian berjalan mendekati Sandi lalu memegang kerah kemeja yang Sandi pakai. "Sepertinya Anda lebih suka dipaksa. Bawa dia!!" perintahnya melepaskan kerah kemeja Sandi kasar. "Baik, Bos!" Para pengawal memaksa Sandi bangun. Sementara Sandi memberontak sekuat tenaga. Namun tetap saja kalah, karena badan kecil Sandi tidak sebanding dengan badan para pengawal yang Sandi tidak tahu tuannya, siapa. "Lepaskan saya. Saya tidak ada urusan dengan Tuan kalian!!" ucap Sandi masih berusaha memberontak. "Diam!! Atau ini pistol yang ada di saku celana saya, menembus jantung Anda! Dan saya tidak bercanda soal itu!" Sandi mengatupkan bibirnya. Jantungnya langsung bertalu kencang. Tentu saja, dia tidak mau mati sia-sia tertembak, padahal tidak ada apa kesalahannya. Sandi diseret masuk mobil. Dia tidak tahu akan dibawa kemana oleh orang-orang itu. Mobil yang membawa Sandi mulai memasuki pelataran rumah yang sangat megah. Kening Sandi berkerut melihat rumah yang belum pernah dia datangi. "Turun!!" perintah ketua pengawal ke Sandi. Sandi hanya menurut saat tubuhnya didorong. Di depannya ada seseorang yang sedang duduk membelakangi dengan kepulan asap rokok yang menguar. "Tuan, ini orang yang Anda minta," ucap ketua pengawal ke atasannya. "Terima kasih, atas kerjanya," jawabnya sekalian mengibaskan tangan. Sandi melebarkan mata mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Jantungnya berdetak kencang. Pikirannya langsung.... "Kamu pasti tahu suara saya, bukan?" Orang itu membalikkan kursinya, menghadap Sandi. Beliau menyeringai dan menatap tajam pemuda yang telah menghamili putri bungsunya. "Pak-- Pak-- Pak Rudy---" ucap Sandi takut. Jadi benar dugaannya tadi. Kalau orang itu adalah Rudy Nugroho, pemilik perusahaan tempatnya bekerja atau orang tua dari Yilandari Nugroho. "Benar, saya Rudy Nugroho, pemilik tempat kamu bekerja, Sandi Ramadhan." Sandi menundukkan kepalanya. Dia tahu, cepat atau lambat akan berhadapan dengan orang tua Yilan. Namun Sandi tidak menyangka bahwa hari ini dia berhadapan dengan Rudy Nugroho. "Kamu tahu apa kesalahanmu? Hah!!" Sandi menganggukkan kepalanya, "Saya minta maaf, Pak," jawab Sandi. "Beraninya kamu mendekati Yilan dan menghamilinya!!" "Kamu tahu, gara-gara kelakuan kalian, membuat saya malu di hadapan keluarga besar Abimana. Terutama Pak Billy dan Bu Juwita Abimana." "Maafkan saya, Pak Rudy." Pak Rudy berdecih, "Hajar dia!" perintahnya kepada para pengawal. Kedua pengawal memegang kedua tangan Sandi. "Pak Rudy, saya mohon maafkan saya." Bugh! Bugh! Bugh! Bugh! "Ayah!!" Yilan datang langsung memegang kaki ayahnya sambil menangis tersedu. "Jangan pukul dia, Ayah ... aku mohon, jangan memukulnya," pinta Yilan memohon. "Kamu membelanya, YILAN!" ucap Pak Rudy, beliau tidak percaya dengan anak bungsunya yang membela laki-laki seperti Sandi. "Maafkan aku, Ayah ... maafkan aku." "Bangun Yilan! Buat apa kamu memohon seperti ini, hah!!" "Aku mencintainya, Ayah ... aku mencintai Sandi. Tolong beri ampunan buat aku dan Sandi." Yilan mengangkupkan kedua tangan memohon. Air mata mengalir begitu deras di pipinya. "Tolong jangan bunuh Sandi, Ayah. Dia adalah ayah dari anak yang dikandung aku." "Ayah tidak mau kan, kalau cucu ayah lahir tanpa ayah." "Kata siapa ayah menganggap dia cucu Ayah, hah!!" "Ayah...." Yilan tidak percaya dengan ucapan ayahnya. "Ayah membenci dia, Yilan! Sebenci pada ayah dari anak yang dikandung kamu." "Anak ini tidak bersalah, Ayah. Kami yang salah." Yilan tergugu sambil mengelus perut ratanya. Sandi yang melihat Yilan seperti itu merasa bersalah. Benar kata Yilan. Anak mereka tidak bersalah. Dengan susah payah, Sandi mendekati Pak Rudy, "Pak Rudy ... saya akan bertanggung jawab." Sandi menangkupkan kedua tangannya. "Terserah kalian. Yilan bereskan semua barang kamu. Dan pergilah dari rumah ini." Pak Rudy pergi dari situ setelah mengatakan itu. "Ayah...." Yilan menatap punggung lebar sang ayah yang menjauh. *** Di tempat berbeda.... Linzi menatap keindahan Kota Sydney. Kota terbesar di Australia. Sudah lima hari dia di sini. Berkuliah, sekaligus menenangkan dirinya dari penghianatan yang dilakukan oleh Sandi, mantan pacarnya. "Nona, mau pergi sekarang?" Linzi menolehkan kepala, lalu menatap pengawal pribadinya. Karen Chou. "Iya, Ci. Sekarang saja kita pergi," jawab Linzi dengan seulas senyuman. Sebagai putri bungsu keluarga Sudjono. Linzi tidak mungkin dibiarkan pergi sendiri, apalagi di Negara orang, jelas tidak mungkin. Di negara sendiri saja, Linzi dilindungi oleh keluarganya. Terutama oleh sang papa dan kakaknya. Jadi Linzi hanya menurut, saat sang papa menyuruh salah satu pengawal setianya untuk menjaga Linzi di Negara yang menjadi tempat tinggal Kangguru ini. Linzi berkuliah di salah satu Universitas terbaik Kota Sydney. Dia mengambil jurusan Baking and Pastry. Linzi ingin membuka usaha di bidang kue dan cookies. Linzi tidak peduli dengan perusahaan. Toh, sudah ada sang kakak yang memegang kerajaan bisnis milik keluarganya. Linzi berharap di Negara ini, dia bisa menyembuhkan lukanya. Cinta pertama dan pacar pertama sungguh tega mengkhianatinya. "Nona, Tuan Besar berpesan. Setelah pulang kuliah, Anda diminta telepon ke Indonesia." "Baik, Ci." Linzi memanggil Karen Chou, Cici. Karena Karen memang orang keturunan Tionghoa. Karen adalah pengawal perempuan yang sudah lama bekerja di keluarga Sudjono. Linzi menghembuskan napasnya lelah. Dia sedang bertukar pesan dengan Debbina. Sahabatnya bilang, Sandi mendatanginya dan bertanya dimana dia sekarang. 'Tuhan ... aku ingin melupakan dia.' Tidak terasa Linzi sudah seminggu disini. Dia membuat kue, sambil bersenandung. Kegiatan ini yang bisa melupakan rasa sakit hatinya. Membuat kue kering atau biasa disebut cookies buat cemilan menonton drama Korea kesukaannya. Tring!! Tring!! Masih dengan bersenandung, Linzi membuka ponselnya yang sudah dipastikan dari Debbina. Tangan Linzi bergetar dan matanya berkaca-kaca. Pesan yang dikirim Debbina adalah foto pernikahan Sandi dan Yilan. Dadanya seketika nyeri melihat itu. Linzi menyeka kasar air matanya yang mengalir. "Semua pria memang seperti itu. Ngomong cinta dan sayang. Tapi nikahnya sama orang lain." Linzi melempar kasar spatula kue yang berada di tangannya. Tubuhnya meluruh dan mulai menangis. "Kamu tega, Kak Sandi. Kamu menikah di atas tangisan dan rasa sakitku." "Semoga pernikahan kalian bahagia, ya Kak." Linzi mengambil sapu tangan yang dikasih oleh seseorang. Dia berharap bisa bertemu dengan si pemilik untuk mengembalikan sapu tangannya. Linzi mengelus sapu tangan yang ada hurufnya. Mungkin itu huruf inisial dari sang pemilik. "H.B.A. siapapun kamu. Aku berharap bisa bertemu lagi suatu hari nanti." Jakarta. Seorang pria tampan sedang fokus dengan berkas-berkasnya. Hari ini mendapat kabar mantan calon tunangannya menikah. Dia tidak peduli akan hal itu. Sekarang yang ada di pikirannya hanya kerja, kerja, dan kerja. Pria bernama lengkap Hayden Bayu Abimana itu sedang berada di rumah, mengerjakan berkas-berkas perusahaannya. "Nak...." Pria yang biasa disapa Aden menolehkan kepalanya menatap sang mommy tercinta. "Kenapa, Mom?" tanya Aden dengan seulas senyum. Aden hanya akan tersenyum ke keluarganya. Kalau sama orang lain. Jangan harap! Dapat senyum dari dia. Senyum Aden mahal. Wkwwk Bu Juwita duduk di samping putra tunggalnya yang tampan karena wajah Aden blasteran Jawa-German. Wajah Aden mewarisi hampir sepenuhnya wajah dan sikap dari Billy Abimana, sang daddy. "Kamu sudah mendengar kabar itu, Nak?" tanya Bu Juwita hati-hati. "Sudah, Mom." "Maafkan Mommy, Nak...." Aden terkekeh pelan, dia memeluk sang mommy dari samping. "Kenapa Mommy harus minta maaf?" "Karena Mommy yang memaksa kamu," jawab Bu Juwita sendu. "Namanya jodoh, maut, rezeki, itu sudah ada yang ngatur, Mom," ucap Aden. "Lagipula aku belum mencintai dia," lanjut Aden di akhiri dengan kekehan. "Bener, kamu tidak apa?" tanya Bu Juwita dengan mata memicing. "Iya aku tidak apa, Mom...." "Mommy merasa bersalah sama kamu, Aden." "Tapi aku tidak apa. I'm okay...." "Jangan merasa bersalah, Mom. Mungkin dia memang bukan jodoh aku." "Aku sendiri bersyukur tahu sekarang, daripada tahu belakangan, kan," ucap Aden menenangkan. "Semoga untuk ke depannya, kamu bisa selalu bahagia, Nak...." "Aamiin...." "Mommy akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Hayden," ucap Bu Juwita dengan mata berkaca-kaca. "Kebahagiaan Mommy adalah kebahagiaanku. Selama Mommy bahagia, aku pasti bahagia." "Tapi Mommy kemar----" "Itu bukan salah Mommy. Semua sudah diatur oleh Yang Kuasa, Mom. Berhenti menyalahkan diri Mommy." "Aku baik-baik saja, Mom. Aku baik-baik saja." Hayden memeluk Bu Juwita. Hal yang paling Aden tidak mau melihat adalah air mata mommy-nya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN