Princess Sudjono : 4

1980 Kata
*** Beberapa hari berlalu... Seorang pria berwajah bule, sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia sangat fokus menekuni berkas-berkas yang diberikan oleh sekretarisnya. Tok tok tok! "Masuk." Seorang pria masuk dengan menenteng map berwarna cokelat. "Pak Hayden, ini yang Anda minta." Pria bule bernama lengkap Hayden Bayu Abimana mendongakkan kepala, menatap datar orang kepercayaannya. Orang di hadapannya, memberikan map cokelat yang diminta sang atasan. Hayden menerima map dari orang kepercayaannya, masih dengan wajah datar. "Terima kasih, Nu." "Sama-sama, Pak." Hayden yang biasa disapa Aden, membuka map-nya. Keningnya berkerut saat melihat satu persatu foto hasil jepretan anak buah Ibnu, orang kepercayaannya. Tidak salah lagi, ternyata dia diselingkuhi. Walaupun Aden tidak pernah mencintai calon tunangannya. Namun, dia menjalin hubungan yang akan menjurus ke pernikahan. "Nu, ini sudah semua?" tanya Aden datar. Aden memang seperti itu, datar dan dingin kalau lagi serius bekerja. Belum lagi karena sifatnya dari dulu yang pendiam. "Iya, Pak." Aden menunjukkan salah satu foto, calon tunangannya di Rumah Sakit. Sedang apa dia di situ? Kalau ada salah satu keluarga sang calon tunangan sakit, pasti mommy-nya menyuruh Aden menjenguknya. "Sedang apa dia di Rumah Sakit? Dan ini dia membeli s**u apa, Nu?" tanya Aden mendongakkan kepalanya menatap Ibnu. Dia bingung ada foto calon tunangannya membeli s**u di supermarket, seperti s**u ibu hamil. Keningnya lagi-lagi berkerut karena di keluarga calon tunangannya, setahu Aden tidak ada yang hamil atau punya anak bayi. "Dia membeli s**u khusus ibu hamil, Pak." "Siapa yang hamil?" tanya Aden penasaran, tapi firasatnya menebak tidak enak. "Calon tunangan anda sendiri yang hamil, Pak. Itu foto dia yang di Rumah Sakit, sedang memeriksakan kandungannya," jawab Ibnu santai. Aden sedikit tidak percaya, tapi mengingat Ibnu mempunyai mata-mata yang sudah di ragukan lagi. Aden percaya. Dia menaikkan sudut bibirnya. 'Hamilnya sama orang lain, nikahnya sama gue. Kan bangke!' umpat Aden dalam hati. "Ya sudah cari lebih detail lagi. Terutama di bagian dia hamil. Saya mau bukti yang lebih akurat, karena hanya foto dan ucapan saja, pasti Om Rudi tidak percaya sama saya. Dikira saya nanti yang mengada-ngada." "Baik, Pak," jawab Ibnu patuh. Dia sudah lama bekerja dengan atasannya. Sang atasan sangat menyeramkan ketika sedang marah. "Sepertinya saya pernah melihat cowoknya," gumam Aden, tapi masih terdengar oleh Ibnu. "Cowoknya bekerja di perusahaan milik keluarga dia, Pak." Aden melebarkan mata, bahkan mulutnya ternganga karena tidak percaya. Padahal tadi Aden hanya menebak cowoknya, kaya dia pernah melihat di suatu tempat. "Jadi dia bekerja di tempat yang sama?" "Iya, Pak. Dan kata mata-mata saya, mereka terkadang pulang bersama di apartment yang kemarin Bapak minta pindah." Memang benar, setelah malam itu memergoki calon tunangannya, Aden pindah ke apartment lain. Beruntung dia baru seminggu di situ, jadi tidak terlalu banyak barang yang harus dibawa. Aden mengepalkan satu tangannya, kalau bukan dia tidak sengaja melihat itu. Mungkin dia akan tetap melanjutkan pertunangannya. "Ya sudah. Kamu boleh pergi," ucap Aden, dia memijit pelipisnya pusing. "Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." "Hem." Setelah kepergiaan orang kepercayaannya, Aden merenggangkan dasi, menghempaskan tubuh kasar di kursi, lalu memejamkan matanya. Di tempat yang berbeda... Debbina keluar dari Toko Buku, berjalan sambil berbalas pesan dengan Zee yang sudah berada di Negeri Kangguru beberapa hari ini. "Bii...." Debbina tersentak kaget, setelah seseorang memanggil namanya. Namun, Debbina tidak menghiraukan panggilan itu, dia tetap melanjutkan jalannya. "Bii." "Apaan sih!!" berang Debbina menepis kasar tangannya yang dicekal seseorang. "Aku mau tahu, di mana Zee? Beberapa hari ini dia susah sekali dihubungi," tanya seseorang dengan nada memelas. "Siapa lo? Lagian, Zee bukan urusan lo lagi," sinis Debbina melipatkan kedua tangannya di d**a. "Zee masih pacar aku!" jawabnya tegas. Debbina tertawa mengejek. Pacar katanya. Debbina memindai penampilan cowok di depannya, sedikit berantakan. "Gue nggak tahu," jawab Debbina malas. "Bii ... aku mohon di mana Zee?" "Udah deh! Lo dah nggak ada urusan lagi sama sahabat gue. Lo kan udah diputusin sama dia," cibir Debbina ke Sandi. Orang yang sedang berhadapan dengan Debbina adalah Sandi. Mantan laknat Linzi. Kata Debbina. "Aku nggak mau putus dari Zee, Debbina!" ucap Sandi tegas. Dia seakan lupa, apa yang telah dilakukan ke Linzi. "Heh, bangke! Mending lo urusin aja tuh wanita yang lo buntingin, daripada lo cari-cari Zee. Sampe di ujung Indonesia juga, lo nggak bakalan nemuin dia," ucap Debbina. Dia masih menahan diri tidak menonjok pemuda di depannya. Sandi terkejut karena Linzi tidak ada di Indonesia. Lalu kemanakah wanita yang dicintanya? "Dia tidak ada di Indonesia?" tanya Sandi dengan suara bergetar. Debbina sedikit gelagapan karena keceplosan, dia ingin menabok mulutnya sendiri yang keseleo tadi. "Bii," tuntut Sandi. "Apa?! Udah deh, lo nggak usah tahu." "Aku cinta dia, Bii." "Cinta kok selingkuh. Lebih parahnya sampe lo bermain di atas ranjang dengan wanita lain. Minta dihajar lo!" sarkas Debbina. Sandi terbungkam, dia memang khilaf selingkuh dari Linzi. "Aku nggak bisa sentuh dia, Bii. Karena aku cinta dan nggak mau ngerusak dia...," lirih Sandi. "Lo---" "Bukannya kata orang kalau orang cinta itu tidak boleh merusak dia. Dan dosa juga kan!" ucap Sandi tegas. Debbina mengerjapkan kedua matanya. Apa yang di ucapkan Sandi ada benarnya. Kalau cinta ya, harus menjaganya dan tidak boleh merusaknya. But wait ... "Lo sinting! Lo pikir melakukan hubungan ranjang dengan anak orang tanpa ada ikatan pernikahan, bukan dosa. Itu dosa juga. DO-SA. Dasar saraf!" jawab Debbina mengskakmat Sandi. Sandi mengatupkan bibir, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sepertinya gue benar, lo bukan manusia. Dah deh gue mau pergi. Lama-lama gila juga ngadepin orang sinting." "Bii...." Lagi-lagi Sandi mencekal tangan Debbina, membuat Debbina mengeram kesal. "Lepasin tangan lo nggak! Kalau nggak mau lepasin, gue tendang aset lo. Biar lo nggak bisa main kuda-kudaan lagi sama partner ranjang lo!" ancam Debbina menatap tajam Sandi. Sandi langsung melepaskan tangannya. Tentu saja dia tidak mau asetnya tidak bisa berdiri lagi. "Bii ... aku mohon." Sandi menangkupkan kedua tangannya memohon. "Ogah!!" Debbina tidak menghiraukan Sandi. Dia berjalan menuju mobilnya. Tidak peduli ke putus-asaan Sandi. Sandi mengacak rambutnya kasar, "Zee ... maafkan aku," gumamnya lirih. *** Aden POV... Akhirnya hari ini datang juga. Gue menatap pantulan wajah gue di cermin. Hari ini adalah hari pertunangan gue, sekaligus hari yang menyedihkan bagi gue. Kemarin gue mau ngomong sama mommy, tapi gue urungkan karena melihat mommy seantusias gitu dengan acara pertunangan hari ini. Gue bingung, gue bimbang. Di satu sisi gue nggak mau lihat orang tua gue sedih, terutama mommy gue. Gue paling anti melihat mommy menangis, apalagi menangis karena gue. Namun, di sisi lain gue nggak mau berhubungan dengan seseorang, sebelum nikah saja sudah bermain api, apalagi kalau sampai kita menikah. Gue nggak bisa bayangin apa yang bakal terjadi di masa depan. "Nak ... sudah siap?" Gue menolehkan kepala, saat wanita yang menjadi cinta pertama gue datang dengan senyum sumringah. Sepertinya beliau senang sekali karena gue akan melangsungkan pertunangan hari ini. Gue jadi tidak tega, membatalkan semuanya. "Mommy cantik banget...," puji gue tulus, mendapat kekehan dari beliau. "Ya iya lah cantik. Anaknya aja tampan kaya gini," jawabnya bangga masih dengan senyum sumringah. Kali ini, gue yang terkekeh. Gue mendekat lalu memeluk beliau yang lebih pendek dari gue. "Aku sayang Mommy...." "Mommy juga sayang kamu," balas mommy, mengusap punggung lebar gue. Gue udah dewasa, tapi kalau di depan mommy gue pasti bertingkah seperti anak kecil. "Mom, aku mau tanya?" tanya gue, sembari mengurai pelukan. "Tanya apa, Nak?" tanya beliau, dengan senyum teduhnya. "Apa Mommy bahagia, kalau aku bahagia?" tanya gue sedikit serius. Mommy gue malah terkekeh. Apa pertanyaan gue salah tadi? "Pertanyaan macam apa itu, Hayden!" jawab beliau disertai kekehan. Kemudian beliau tersenyum teduh seperti biasa. "Mommy bahagia, kalau anak Mommy bahagia," ucapnya tulus, mengelus pipi gue. Dalam hati, gue beruntung dan mengucap syukur telah dilahirkan oleh mommy gue. "Berarti apa keputusan aku, Mommy bakalan terima? Dan Mommy bakalan dukung aku," tanya gue hati-hati. Gue lihat, kening beliau berkerut. Mungkin heran dengan pertanyaan yang gue ajukan. Akan tetapi butuh jawaban beliau. Jawaban beliau menentukan masa depan, yang akan gue ambil. "Apapun yang kamu lakukan. Kalau itu benar dan tidak menyalahi agama. Mommy pasti akan dukung kamu, Nak...," jawabnya tersenyum. Senyum yang menular ke gue. Dalam hati gue mengucap syukur dengan jawaban mommy. 'Bissmillah....' Semoga ini keputusan yang tepat. "Ya sudah, ayo berangkat. Daddy pasti sedang menunggu kita." Gue mengangguk dengan senyum kecil. *** Saat ini gue sudah duduk diapit oleh kedua orang tua gue. Di rumah mewah keluarga calon mertua gue, kalau gue jadi menikah dengan anaknya. Gue sengaja tidak banyak orang yang datang, karena gue mau memutuskan pertunangan gue. Sementara di hadapan gue. Calon tunangan gue, duduk diapit oleh kedua orang tuanya. Dia menunduk sambil memilin kebaya burkatnya. Gue menatap datar dia, bukan terpesona. Namun, gue hanya tidak menyangka kalau gadis cantik kelihatan baik seperti dia, tega berbuat itu. Melakukan hubungan terlarang padahal mereka belum nikah. "Nak." Tepukan di paha, membuat lamunan gue buyar. "Aden diam sangking terpesonanya ya, Den?" celetuk seseorang tapi nggak gue tanggapi. Itulah gue, paling nggak suka basa-basi atau bercanda yang menurut gue tidak penting. "Ok, sekarang kita mulai acaranya." "Tunggu dulu." Gue langsung memotong ucapan pembawa acara. Gue beranjak bangun, mendekati sang pembawa acara. "Maaf, saya ingin menyampaikan sesuatu. Sebelum acaranya dimulai." "Ba-- baik, Pak." "Assalamualaikum semuanya ... pertama saya ingin menyampaikan maaf sebesar-besarnya kepada semuanya yang ada di sini. Terutama kedua orang tua saya. Dan juga keluarga besar Nugroho." Gue menarik napas sambil memejamkan mata, lalu menghembuskan napas gue. "Om Rudi. Saya minta maaf, dengan berat hati saya ingin membatalkan pertunangan ini." "Hayden!" Gue mengangkat satu tangan, saat mommy ingin berbicara. 'Maafkan aku, Mommy....' "Apa yang membuat kamu ingin membatalkan pertunangan ini, Hayden?" tanya Om Rudi dengan kening berkerut. Gue juga mendengar, bisik-bisik dari para tamu undangan. Sementara calon tunangan gue, menatap dengan pandangan bingung. "Coba tanya anak Om. Apakah dia mau bertunangan sama saya?" "Hayden...." "Mommy ... aku mohon, tolong biarkan aku bicara." Gue memalingkan wajah, saat melihat mata Mommy mulai berkaca-kaca. "Hayden, apa yang kamu bicarakan?" "Maaf, Om. Saya akan tanya sendiri ke anak, Om." "Yilan, jawab dari dalam hatimu yang paling dalam. Apakah kamu menyetujui pertunangan ini?" "Ak-- aku a--ku...." Gue lihat Yilan gugup. Mungkin dia bingung, mau jawab apa. "Hayden, cukup basa-basinya!" "Baik, Ibnu tolong bawa ke sini," ucap gue, memanggil Ibnu, dia ikut ke sini, membawa map yang sudah gue siapkan. "Ini, Pak." "Terima kasih, Nu." "Ini, Om. Saya tidak mau berbicara banyak. Silahkan Om lihat sendiri." Gue menyerahkan map cokelat itu ke Om Rudi yang diterima beliau dengan aura sedikit menggelap mungkin karena gue membatalkan acara pertunangan ini. Tapi gue tidak peduli. "Itu alasan saya membatalkan pertunangan ini, Om. Maafkan saya." Gue berjalan mendekati mommy yang sudah terisak kecil. Gue mencoba memeluk mommy tapi beliau malah menghindar. Sementara di belakang sana, daddy menatap gue datar. "Yilan! Apa ini kamu?!!" Om Rudi menunjukkan foto-foto yang kemarin sempat gue lihat. "A-- ay-- ayah...." "JAWAB!!" "I-- iya." PLAK!! "Ayah!!" teriak Wulan, kakak dari Yilan. Mata gue melotot, saat Om Rudi menampar Yilan. Ruangan mulai ricuh, dan bertambah panik saat ibu dari Yilan pingsan. "Hayden." Gue tersenyum kecil, lalu memeluk mommy. "Maafkan aku, Mommy." Mommy gue malah semakin terisak. Jangan tanya hati gue. Hati gue bagai teriris pisau tak kasat mata. Bukan karena gue patah hati karena batal bertunangan. Patah hati gue, melihat mommy menangis di pelukan gue. Gue mematahkan keinginan mommy yang ingin memiliki menantu. Dalam hati gue berjanji. Setelah ini, tidak ada lagi air mata yang turun di mata mommy, kecuali air mata kebahagiaan. "Om Rudi, sekali lagi saya minta maaf. Dan kami pulang dulu." "Hayden, Om minta maaf. Bu Juwita, Pak Billy. Saya dan keluarga besar saya minta maaf yang sebesar-besarnya." "Tidak apa, Pak Rudi. Mungkin mereka belum berjodoh," jawab Daddy. "Ya sudah kami pulang dulu, Pak Rudi. Permisi...." Daddy pergi setelah mengatakan itu, sementara gue di belakang daddy sambil merengkuh bahu mommy yang masih terisak. Gue tidak peduli, apa yang akan dilakukan Om Rudi ke Yilan. Karena itu bukan salah gue. Gue, Hayden Bayu Abimana. Melangkahkan kaki keluar rumah ini, meninggalkan semua yang telah terjadi hari ini. Berdoa semoga hari esok tidak ada kejadian seperti ini lagi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN