Ruang Kenangan
Kenangan itu masih tersimpan di buku, dinding rumah dan pikiran bawah sadarnya. Saat melewati ruangan kosong, langkahnya selalu terhenti. Sejenak memutar ulang momen kebersamaan dengan lelaki yang menjadi inspirasinya.
Hampir satu jam, Dirga Argani berdiri mematung di ruangan kerja Baharuddin. Buku-buku yang tersimpan rapi di dalam rak nyaris tak tersentuh. Berdebu dan kusam.
Lampu yang biasanya menyala di malam hari karena si empunya rumah rakus melahap ilmu, tidak terlihat lagi. Rumah itu kini senyap, cahayanya redup seolah berkurang daya hidupnya.
"Gus Dirga, ayo makan! Nanti terlambat!" ucap Irah dengan suara lembut. Gus adalah nama panggilan yang biasa disematkan kepada laki-laki di Kediri. Cah Bagus atau disingkat Gus.
Pemuda berusia delapan belas tahun yang perawakannya tinggi besar itu hanya bergeming. Tak mengindahkan panggilan Irah. Lama dia mematung di depan pintu, mengamati satu per satu barang-barang yang ada di dalamnya. Seolah belum rela semua yang pernah terjadi di ruangan itu hanya tinggal kenangan. Begitu banyak hal indah yang memberatkan langkahnya untuk pergi.
Semenjak Baharudddin sakit. Semua urusan rumah dihandle Irah. Hanya perempuan berkonde itu yang sanggup bertahan bekerja di rumah kamituwo. Sudah puluhan tahun dia mengabdi, jauh sebelum Dirga lahir.
Kondisi ekonomi Irah yang pas-pasan memaksanya banting tulang membesarkan kedua anaknya. Suaminya mengalami kecelakaan parah saat hendak pergi berjualan di pasar Badas. Kakinya lumpuh. Tak ada yang bisa dilakukan suaminya selain berbaring di ranjang.
Perempuan kurus itu memikul tanggung jawab besar sebagai istri, ibu dan tulang punggung, tetapi dia tak mau menyerah pada garis nasib. Pekerjaan apapun dia lakukan. Termasuk bekerja di rumah kamituwo. Irah selalu memberikan yang terbaik yang dia bisa.
Lalu di mana pekerja lainnya? ngacir, tak tahan omelan pedas Larasati-Istri Baharuddin-yang terkenal blak-blakan dan suka menghina. Mulutnya seperti kapas, gampang menyalahkan orang, mengumbar aib hingga semua warga desa lainnya tahu.
Mereka yang bekerja di rumah Larasati harus siap uji nyali, kebanyakan hanya bertahan selama beberapa Minggu. Rata-rata tak sanggup batinnya terluka dalam. Gonta-ganti pekerja sudah biasa di rumah ini. Larasati si nyonya rumah, tak ambil pusing dengan sikap pekerja yang panas telinganya dengan kata-katanya yang pedas.
Dia tak peduli apakah mereka yang bekerja menyimpan dendam atau tidak karena dipermalukan di depan banyak orang. Bagi Larasati mereka yang butuh uang, ya harus mau bertahan bekerja di rumahnya.
"Ayo, Gus, sini! Ayam gorengnya uenak." Lintang melambaikan tangan ke arah Dirga. Bocah kecil itu merasa puas dengan makanan yang dimasak Irah. Nambah terus porsi makannya. Tak cukup satu yang diambil, mulutnya penuh makanan hingga membuatnya kesulitan berbicara.
"Kalau habis, jangan nyesel, Gus," teriak Lintang.
Bocah berperawakan kurus itu tak perlu menunggu lama untuk menyantap hidangan lezat. Lintang bisa makan sepuasnya, tidak ada yang melarang. Berbeda saat masih ada Baharuddin, Larasati selalu melarang anak-anaknya makan sebelum sang kepala keluarga selesai. Katanya untuk mengormati yang mencari nafkah.
Tradisi turun temurun yang diwariskan keluarga Larasati, dijalankan dengan baik. Bagaimana menghormati suami, menjadikannya raja di rumah. Bahkan jika ada makanan yang tidak habis, Larasati melahapnya hingga tidak bersisa. Berburu berkah di makanan Baharuddin.
***
Badas, 1980an
Suara azan menggema dari surau. Membangunkan Dirga yang terlelap dari tidurnya. Gelagapan dia berlari mengambil wudu. Pagi ini anak mbarep Baharuddin terlambat bangun. Biasanya sebelum azan berkumandang, pemuda itu sudah menunggu di musala sembari melantunkan shalawat Nabi.
Ini semua gara-gara Dirga ikut melek'an bareng orang-orang dewasa. Baru tidur jam satu pagi karena nonton wayang kulit di TV. Katanya seru.
Pemuda bermata sipit itu menyukai semua hal tentang wayang. Tak pernah melewatkan program TV Ria Jenaka di hari minggu, sebuah acara komedi yang berkisah tentang wayang orang yang tokoh utamanya adalah punakawan, Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong.
“Hey ... Tunggu, aku dulu!” cegat Darma saat Dirga hendak memasuki kamar mandi.
“Enak saja, aku yang duluan.” Tanpa banyak cakap, Darma–anak kedua–menarik sarung Dirga yang disampirkan di bahunya, kemudian menyerobot masuk ke kamar mandi.
Brakkk.
Darma menutup pintu dengan keras.
“Dasar sontoloyo!" Dirga berdecih kesal melihat kelakuan adiknya. Saat keluar dari kamar mandi, bocah itu cengar-cengir memandangi raut muka Dirga yang memerah seolah ingin menggerus wajah Darma.
“Dirga, Damar ....” Mendengar suara lantang Baharuddin. Dirga bergegas ke kamar mandi. Tak ada yang berani melawan Baharuddin jika sudah berteriak, semua anaknya patuh padanya. Baru saja melangkahkan kaki, Iswara adik ketiganya menerobos masuk.
“Aku dulu ya, Mas.” Dirga terpaksa mengalah lagi, tak tega melihat muka melas Iswara, adik perempuan satu-satunya yang selalu nurut dan bersikap manis kepadanya. Kemudian datang Lintang si bontot yang juga ikut menyela. Dirga menghela napas panjang mendapat giliran terakhir. Hukuman dari Baharuddin siap diterimanya. Menghapal sepuluh ayat Al-Qur'an.
Baharuddin menunggu keempat anaknya di musala. Rutinitas subuh yang harus diikuti semua anggota keluarga. Sudah lama Baharuddin membiasakan berjamaah salat subuh untuk menumbuhkan semangat pagi anak-anaknya, juga waktu yang tepat bercengkrama bersama mereka. Memberikan wejangan ilmu kehidupan. Sebelum dimulainya aktivitas pekerjaan sebagai pejabat desa.
Baharuddin dikenal warga desa sebagai orang yang baik, jujur, tegas, disegani banyak orang. Pendiam, sekali bicara bikin gemetar orang disekelilingnya. Dia dipercaya masyarakat menjadi kamituwo di desa Badas, semacam jabatan administrasi di sistem pemerintahan tingkat desa di dalam tradisi Jawa.
Termasuk yang mengatur saluran air (Jogo Tirto) agar masyarakat desa tidak saling bersitegang dan mendapatkan jatah adil dalam pengairan sawah.
Selepas salat, Baharuddin kembali ke ruangannya. Membaca buku ditemani Dirga anak mbarepnya. Di ruangan itulah mereka berdua mengabiskan waktu.
“Assalamu’alaikum …”
“Waalaikum salam. Masuk, Rah!" Larasati membukakan pintu untuk Irah. Disusul Lami yang mengekor dari arah belakang.
Dua perempuan itu selalu datang pagi, bekerja di rumah Baharuddin. Irah bagian memasak di dapur dan Lami yang membersihkan rumah. Termasuk menyuapi Lintang saat makan.
Menjadi istri seorang kamituwo membuat Larasati dilimpahi banyak harta. Tanah bengkok hasil jabatan Baharuddin menjadikannya orang kaya di desa, sawahnya berhektar-hektar luasnya. Apa yang diinginkan tinggal tunjuk saja, kegemaran belanja menjadi kesenangannya.
Wajah ayunya semakin cling dalam balutan busana mewah. Kulit kuning langsat dengan pipi bersemu merah memesona siapapun yang menatap istri kamituwo ini.
"Semua makanan sudah matang, Bu!" lirih Irah. Giliran Larasati yang menyiapkan di meja makan. Perempuan cantik itu terampil menghidangkan. Lalu memanggil Baharuddin di ruangan kerjanya untuk makan dahulu.
“Lintang, Iswara … sini!” Dirga memanggil kedua adiknya yang mengintip dari balik kelambu. Lintang tak mau beranjak dari sana, terus mengintip sembari berdecap hingga Baharuddin selesai makan.
“Gus Dirga, Gus Darma, Bapak sudah selesai.” Lintang terus mengoceh, tak sabar ingin melahap makanan yang tersaji di meja. Dirga hanya bergeming, sementara Darma memilih membaca buku. Mereka menunggu Larasati memanggilnya ke meja makan.
Setelah selesai makan, Baharuddin mengantar Darma, Lintang dan Iswara ke sekolah menggunakan motor. Barang mewah di desa Badas, hanya dua orang yang memiliki kendaraan bermesin itu. Kamituwo dan pak Lurah.
Sementara Dirga, memilih bersepeda bersama teman-temannya menikmati udara segar pagi hari.
***
“Ke pasar Pare, Bu.”
“Iya, seperti biasanya.”
Langganan becak Larasati sampai hapal aktivitas harian yang dilakukan perempuan cantik ini selepas keempat anaknya berangkat sekolah. Dia pergi belanja. Memborong bahan-bahan kue, membeli kain dan perhiasan.
Baharuddin yang mengetahui hobi istrinya, tidak pernah melarang. Saat menikahi Larasati, usianya sudah tua, empat puluh lima tahun. Sementara Larasati masih belasan tahun. Wajar jika perempuan itu manja, suka bersenang-senang dan bergaya.
“Irah, Lami, bantu aku membuat kue!” Tergopoh-gopoh dua perempuan itu berlari membawakan belanjaan Larasati.
“Sebanyak ini, Bu?” Ira membeliakkan matanya melihat bahan kue yang dibeli majikannya.
“Iya, emang kenapa kalau aku buat banyak? Toh, kamu juga bisa makan,” ketus Larasati. Irah hanya menunduk dan membawa bahan kue ke dapur kemudian mulai membuat adonan donat, putu ayu, jenang.
Setiap hari Larasati membuat makanan dalam jumlah besar, panci-panci terisi kuah sayur santan lengkap dengan ayam dan udang. Persis orang yang punya hajatan, kemudian memanggil tetangga-tetangganya. Membebaskan siapa saja yang mau mengambil sayur kuah dan kue di rumahnya.
“Gimana ... bagus nggak?” Larasati memanggil kedua rewangnya untuk pamer perhiasan yang baru dibelinya. Kemilau emasnya membuat silau mata Lami.
“Bagus, Bu,” sahut Lami dengan wajah tertunduk.
“Kamu mau?" Lami mengangguk malu-malu.
"Mangkanya cari suami itu yang mapan, bisa menyenangkan istri. Nggak kayak Katni, buruh sawah yang nggak jelas nasibnya. Bisanya cuma produksi anak, tetapi nggak tanggung jawab kasih nafkah.”
Jleb! Gemuruh di d**a Lami berdetak kencang. Dia berusaha tidak sakit hati, ditahan perasaannya karena masih butuh tambahan uang untuk kebutuhan hidup.
“Kamu juga, Irah. Bilang sama suamimu, kalau kerja yang giat. Nggak malu apa, numpang terus di rumah mertua. Dasar pengangguran, laki-laki seperti itu kok dipertahankan. Udah sakit-sakitan, nyusahin lagi."
Irah hanya mengurut d**a, tak berani membalas Larasati. Dari awal sebelum bekerja di sini, dia sudah paham karakter majikannya yang suka merendahkan, ngomong ceplas-ceplos tanpa memikirkan perasaannya. Banyak yang keluar masuk bekerja di rumah Larasati. Mereka tidak tahan omongan sengit dan sikap angkuh Larasati. Berbanding terbalik dengan Baharuddin yang dikenal baik, sopan dan menghargai orang lain.
Setelah puas membuat dua rewangnya gigit jati. Larasati sibuk menata aneka makanan yang disembunyikan di bawah ranjangnya. Ada kue, jajanan dan minuman semua lengkap. Saat mau mengambil coklat kesukaannya datang Irah membawa kue donat.
“Permisi, Bu, kuenya sudah jadi. Mau dibagikan sekarang?”
“Nggak usah, Ra. Buat nanti malam. Kau ambil saja untuk dibawa pulang ke rumahmu. Jangan lupa sayurnya juga.”
“Baik. Bu.”
Ini yang Irah suka dari majikannya, urusan makanan tidak pernah pelit.
Menjelang malam, orang-orang berdatangan ke rumah Larasati untuk nonton film Saur Sepuh. Cerita kerajaan Majapahit dengan adegan peperangan. Di desa ini hanya Baharuddin yang memiliki TV hitam putih. Teras dan ruang depan selalu sesak dengan kerumunan orang. Di tengah kemeriahan, Larasati membagikan kue dan memberi teh hangat.
Senyum sinis Larasati menatap wajah orang-orang yang datang ke rumahnya mencari hiburan. Gemerincing emasnya sesekali dibunyikan untuk membuat siapapun yang menatapnya takjub.
"Kamu ngapain lihat-lihat. Pengen gelang emas ini? His ... Enak saja, kerja keras! Jangan jadi jongos," hardik Larasati kasar sembari memicingkan mata di depan banyak orang.
Sejak peristiwa itu, Katni tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di rumahnya. Begitupun Lami–istrinya–menghilang bak ditelan angin.