"Ayah?" Tangis Dirga luruh, di samping jasad Baharuddin yang terbujur kaku. Hatinya berkecamuk. Sementara Larasati menangis tersedu-sedu. Dipeluknya tubuh ibunya. Ketiga adiknya Darma, Iswara dan Lintang tidak terlihat, mereka diungsikan ke rumah saudara.
Gemetar tubuh pemuda itu, perasaan tercabik-cabik. Kehilangan ayah di usia muda tidak mudah. Apalagi Baharudddin sosok ayah yang baik, kebersamaan bersamanya terasa singkat. Para kerabat berusaha menguatkan Dirga. Membesarkan hati anak mbarep yang sebentar lagi memikul beban tanggung jawab berat.
Dirga tak mau beranjak dari rumah, dia mengikuti prosesi pemakaman hingga selesai sebagai wujud penghormatan terakhir kepada ayahnya. Mulai dari memandikan, mengkafani, mensalatkan hingga mengantarnya ke tempat pemakaman. Dirga berusaha tegar, tidak meraung dan histeris karena ada hati yang harus dijaga, ibunya dan ketiga adiknya.
Satu per satu tamu datang mengucapkan bela sungkawa, rekan kerja Baharudddin hingga Ibrahim dan seluruh kerabatnya datang melayat. Beberapa sanak saudaranya ikut menetap di rumah berusaha meneguhkan Larasati yang bolak-balik pingsan karena belum menerima kenyataan jika suaminya telah pergi.
Menjadi janda di usia muda tidak pernah terpikirkan Larasati. Seketika dunianya runtuh. Derai tangis dan keangkuhannya luruh. Irah terus berada di sampingnya. Pekerja yang sering dihinanya itu tidak mau pergi. Setia menemani Larasati.
Malam itu, Dirga memilih menyendiri di ruangan kerja ayahnya. Melahap kenangan indah melalui barang-barang peninggalan ayahnya. Suara Baharudddin seolah menenuhi ruangan. Percikan semangat, kebijaksanaan yang membuat Dirga bersemangat meraih mimpi. Kini tak ada lagi sosok yang membakar jiwanya, Ia merasa kehilangan. Kanker paru merenggut nyawa ayahnya dengan sadis. Orang yang dikenal baik dan ringan tangan itu telah pergi.
Hari-hari kembali sepi, tak ada lagi yang ditunggu di meja makan. Yang memberi wejangan selepas subuh dan mengantar adiknya ke sekolah.
Pagi itu, Dirga dikejutkan dengan kedatangan dua orang petugas berseragam. Menagih utang dan biaya berobat ayahnya. Pemuda itu syok, dia harus menuntaskan semuanya sendirian. Sementara Larasati ibunya mengurung diri di kamar.
"Sebanyak ini, Pak?"
Dirga gemetar membaca tagihan itu. Dadanya langsung sesak. Angka yang tertera di kertas nominalnya sangat besar. Tak pernah dia berurusan dengan masalah uang.
Keringatnya bercucuran membasahi dahi, berkali-kali disekanya. Ketegangan di wajahnya tak bisa ditutupi. Ingin mengadukan masalah ke Larasati. Orang tua satu-satunya yang Dirga punya, tapi mana mungkin. Kondisi ibunya masih syok dengan kematian ayahnya. Anang mengurungkan niatnya mengetuk pintu kamar ibunya, memilih menghadapi dua petugas berseragam putih sendirian.
Sehari-hari Larasati hanya mengurung diri di kamar, berderai air mata, meratapi nasibnya yang kini sendiri. Tubuhnya sampai kurus kering tak terawat. Di bawah matanya membentuk ceruk yang dalam, sisa kecantikannya memudar. Seiring dengan kesedihan yang dipahatnya.
Rumah Baharudddin yang dulu jadi jujugan sekarang sepi, kerumunan orang menonton TV tidak ada lagi. Pun dengan kerabat dekatnya yang mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Awal-awal mereka banyak membantu, perhatian dengan musibah yang dialami keluarga Baharudddin. Selang beberapa minggu, semuanya berubah. Mereka kembali menjalani kehidupannya sendiri.
Hanya Irah yang masih bertahan di rumah ini. Tak tega melihat Anang mengurus ketiga adiknya sendirian.
"Jadi gimana, kapan tagihannya akan dibayar?" bentak salah satu petugas yang di dadanya tertera nama Agus.
Dirga bergeming belum bisa mengambil keputusan. Kedatangan dua petugas ke rumahnya pagi ini mengejutkannya. Perkara utang bukan masalah sepele, harus segera diselesaikan agar tidak memberatkan Baharuddin dengan tanggungan yang dipikulnya di akhirat.
"S-saya meminta waktu, Pak. InsyaAllah dalam seminggu masalah ini selesai." Terbata-bata Dirga mengucapkannya.
Selama ini masalah berat yang dialaminya hanya seputar sekolah, membuat rumus hitung untuk mempermudah teman-temannya belajar dan persiapan ujian nasional yang sebentar lagi dimulai.
Irah yang melihat Dirga panik menghadapi petugas berseragam tak berani keluar. Hanya mengintip dari balik tirai. Mulutnya komat-kamit merapal doa untuk anak majikannya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Usia Dirga hampir sama dengan Badrun, anak mbarepnya yang baru saja berangkat mengais rezeki di negeri Jiran.
Badrun tak melanjutkan sekolah, ia hanya tamatan tsanawiyah. Keterbatasan biaya, membuatnya nekat mencari peruntungan di negeri orang. Setelah dua petugas itu pergi, Dirga gegas mengambil sepeda, berangkat ke rumah Lik Somad, adik laki-laki Baharudddin.
"Bu Irah, titip ibu dan adik-adik. Saya ada urusan sebentar."
Dikayuh onthelnya dengan kecepatan tinggi. Menerabas teriknya matahari yang membakar kulitnya. Bagaimanapun, Anang masih anak bawang. Butuh bantuan orang dewasa untuk menyelesaikan masalah ini.
"Lik Somad!" Teriak Dirga panik sembari memarkir sepedanya.
Buru-buru dia masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci. Dicarinya sosok laki-laki yang parasnya mirip dengan Baharudddin. Rupanya Somad ada di musala, sedang salat berjamaah dengan istrinya.
Di Badas, jam salat zuhur dan asar agak berbeda dengan yang lainnya. Mundur satu jam setengah dari waktu yang ditentukan. Jika azan zuhur setengah dua belas, surau-surau mulai mengumandangkan azan di jam satu siang menyesuaikan pekerjaan masyarakatnya sebagai petani. Mereka baru pulang dari sawah jam setengah satu.
"Sudah lama kamu datang, Dir?" Somad menghampiri Anang yang duduk di teras.
"Baru kok, Lik."
"Gimana kabar ibumu?" tanya Somad sembari menyalakan kretek.
"Masih kepikiran ayah," jawabnya lesu.
"Trus, ada masalah apa kamu ke sini?" Anang bergeming, lalu menyerahkan selembar kertas ke Somad.
"Bantu saya menyelesaikan masalah ini, Lik!"
Somad tak kalah terkejutnya dengan Dirga, melihat deretan digit angka yang tertera di tagihan. Sakit Baharudddin lumayan lama, dari penyembuhan herbal hingga medis semua sudah dicoba. Ke orang pintar mencari obat penyembuh juga dilakukan. Tetap saja belum ada hasilnya. Hingga kondisi Baharuddin drop beberapa bulan dan dirawat di ICU. Biaya rawat inap di ruangan ini yang mahal.
"Bagaimana, Lik?" Wajah Dirga cemas, menanti jawaban Somad.
"Kamu tenang saja. Aku bantu cari pembeli untuk sawahmu. Biar utang ayahmu lunas."
"Terima kasih, Lik." Dirga mencium punggung tangan Somad.
Ada sedikit titik terang dalam masalah utang ini. Menjual aset peninggalan Baharuddin adalah jalan pintas melunasi tagihan.
****
"Ibu harus sembuh, kasihan Lintang dan Iswara. Mereka butuh Ibu." Larasati mengangguk, tatapan matanya yang kosong mulai terisi. Disuapinya perempuan muda yang terduduk lemas di ranjang.
"Ibuuu!" Ketiga anaknya datang memeluk Larasati. Mereka merindukan kehangatan seorang ibu. Formasi yang dulu berenam, sekarang berlima.
"Mulai saat ini, kita adalah tim." Dirga menyerukan kalimat itu sebagai penyemangat.
Mulai besok, Dirga akan menghidupkan lagi aktivitas pagi yang biasa dilakukan ayahnya. Berjamaah subuh dan berbagi ilmu yang dia pahan kepada adik-adiknya. Dia ingin keluarganya tetap kompak, rukun meskipun tanpa Baharudddin.
"Lintang, Iswara, Darma. Ayo berangkat!"
Pagi ini rute Dirga sedikit berbeda. Biasanya dia berangkat sendiri. Sekarang harus mengantar Iswara dan Lintang dulu. Sementara Darma mulai pagi ini dia berangkat sekolah naik sepeda.
Di sekolah, teman-temannya sudah menyambut. Sudah hampir seminggu Dirga tidak masuk. Kegiatan belajar bersama yang biasanya berjalan, sekarang terhenti. Sang bintang sedang berduka.
"Akhirnya, kamu datang juga. Sekolah ini tanpa kamu terasa beda, Nang." Ibrahim menepuk bahu Dirga.
"Terpaksa aku harus masuk, Bra. Menuntaskan sekolah yang sebentar lagi usai. Minggu depan ujian nasional. Masak mau tumbang di akhir jalan. Beritahu teman-teman, kelas privat terpaksa kuhentikan. Banyak urusan yang harus kuselesaikan. Kau tahu, kan, Bra. Kondisiku sekarang beda."
"Aku selalu mendukungmu. Kalau butuh bantuan, aku siap untukmu."
"Terima kasih, Bra. Kau teman yang baik."
Teman-teman lainnya menyayangkan kelas belajar bersama ditiadakan. Mereka kehilangan sosok bintang yang selalu memberikan motivasi. Tak ada yang berani mengusik keputusan Dirga. Mereka paham betul bagaimana kondisinya. Mengemban amanat baru dalam keluarga itu tidak mudah. Apalagi bagi anak mbarep seperti dirinya.
Bel sekolah berakhir, Dirga buru-buru pulang. Tak ada waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya. Di teras rumahnya, dia melihat Larasati duduk, Dirga kegirangan. Ibunya telah kembali. Dia bisa fokus belajar untuk persiapan ujian nasional.
Banyak para tetangga yang senang atas kematian Baharuddin, melihat Larasati bersedih dan terluka mereka begitu bahagia. Seolah jadi balasan yang setimpal atas sikap Larasati yang sering menghina orang seenaknya, bertutur kata sengit dan acap kasar.
"Bisa apa dia, suami yang dipunya sudah nggak ada. Lihat saja, kehidupannya akan sama seperti kita." Bisik-bisik perempuan di sebelah rumah Larasati terdengar keras.
Larasati geram. Didatanginya rumah tetangga yang sudah memperbincangkan dirinya.
"Ngomong apa kamu, hah? Hartaku ini banyak, nggak aka habis tujuh turunan. Beda sama kamu yang melarat dari lahir." Ditendangnya gubuk reyot milik Ratih–tetangga sebelah. Larasati menggenggam pasir dan menaburkannya ke muka perempuan itu. Ratih menjerit kesakitan, matanya memerah.
"Rasakan! Berani kamu sama aku. Perempuan melarat. Denger kamu nyerocos lagi, tak congkel matamu."
Irah yang melihat juragannya marah, segera menghampiri berusaha menenangkan. "Sudah, Bu. Ayo pulang."
"Jangan ikut campur, Irah! Orang seperti ini, harus dikasih pelajaran. Biar mulutnya tahu diri. Mulai besok, suamimu nggak boleh kerja di lahanku. Masih butuh uangku, sudah belagu." Larasati pergi dengan amarah yang meletup-letup.
"Awas kowe Larasati, hidupmu akan sama sepertiku," gumam Ratih menahan emosi dan tangis.
Bukan Larasati kalau tak menunjukkan kemewahan. Kebiasaan belanjanya semakin parah, pasca meninggalnya Baharuddin. Tanah warisan satu per satu dijual, memenuhi ambisinya. Larasati semakin gila pujian, gemerincing emas dan berlian dipamerkan kepada orang-orang desa. Ia lupa ada hak anak-anaknya untuk sekolah dan biaya hidup yang harus dipenuhi. Terlena dengan gemerlapnya kehidupan.
Dirga yang berjuang lulus ujian nasional menelan kekecewaan atas sikap Larasati. Mengetahui peninggalan Baharuddin dihabiskan. Hanya tersisa beberapa hektar sawah saja. Impiannya berkuliah di kota dan menjadi arsitek muda kandas. Turun ke sawah dan menggarap lahannya sendiri jadi pilihan berat.