Lunar mendorong pria yang tidak memberikannya kesempatan untuk bernapas. Wajah mereka telah merah warnanya akibat percintaan setelah makan malam. Arkan sungguh terburu-buru sesaat mereka sampai di dalam kamar tadi. "Sebaiknya kita beristirahat agar bisa menuruni gunung dengan lancar besok." "Aku masih kuat untuk berolahraga malam ini." Lunar tersenyum tipis. "Lebih baik simpan tenagamu untuk besok." Arkan menyerah untuk menahan istrinya, lalu dia berbaring telentang di sebelah wanita itu. Selimut ditarik agar bisa menutupi tubuh mereka berdua, pikirannya menerawang ke langit-langit kamar. "Lunar, bisakah kau mengatakan bagian mana dari diriku yang membuatmu jatuh cinta?" "Kau yang selalu membuatku kesal." Arkan berekspresi masam. "Aku berpikir kalau kau akan mengatakan kelebihan yan

