Arkan melepaskan pegangan tangannya. Tanpa menunggu lagi, dia berlalu pergi meninggalkan Lunar. Dia tidak ingin mendengar apa pun karena membayangkan bagaimana Nico menggenggam tangan Lunar saja sudah membuatnya diliputi kegelisahan. Dia sunggug tidak suka berada dalam situasi ini. Lunar mengerutkan dahi. "Kenapa dia begitu marah? Harusnya aku yang marah padanya karena lebih memilih Raya." Dia menatap punggung Arkan kembali. "Apa karena ini mengenai diriku yang harus menjaga martabat sebagat istrinya?" "T—tunggu, Arkan!" Orang-orang hanya memandangi seorang wanita berteriak. Bersikeras mengejar pria yang berjalan dengan cepat. Wajah kedua orang itu menghilang setelah pintu lift tertutup rapat. Di dalam lift, Arkan bergeming untuk tidak memedulikan wanita yang kini berdiri di belakangny

