Sesampainya di depan rumah orang tuanya. Rea terdiam di dalam mobil. Matanya menatap lurus ke arah dua orang paruh baya yang terlihat menunggunya keluar dari mobil. Kean mematikan mesin mobilnya dan melepaskan seat beltnya, lantas menoleh ke arah Rea yang masih diam dengan pandangan lurus ke depan. “Re, ayo turun! Mereka nungguin kamu,” ajak Kean yang menyentuh lengan perempuan tersebut. Membuat Rea terkesiap dan menoleh ke arah Kean dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu secepatnya menghapus air matanya. “Iya, kita turun sekarang,” sahut Rea seraya melepaskan seat beltnya. Kean turun lebih dulu dan memutar untuk membukakan pintu calon istrinya yang tampaknya sedang mempersiapkan dirinya bertemu orang tuanya. “Rea?” panggil seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cant

