Melihat bahwa ia tak bisa lagi menolaknya, Rea akhirnya mengangguk setuju. Toh. Tidak ada hal yang buruk dengan memasak bersama calon Mama Mertuanya. “Iya, deh. Tapi nanti kalau nggak enak, Tante jangan salahin Rea, yah?” tukas perempuan tersebut seraya tersenyum. Anita mengangguk, “Siapa yang berani menghina masakan anak perempuan Tante yang cantik ini, hm? Akan Tante getok kepalanya pakai spatula,” candanya sembari mengedipkan sebelah matanya menggoda. “Oke. Siap laksanakan Komandan!” sahut Rea seraya membentuk sikap hormat. Anita tergelak dan mulai memasak. Sedangkan Kean terkekeh dan memilih pergi dari sana. Ia akan memberikan waktu kepada Mamanya bersama Rea. Sebab, Mamanya memang sangat menyayangi perempuan tersebut dan sejak lama ingin agar Rea menjadi istrinya. Setidaknya

