Tak Seindah Drakor

1742 Kata
"Eh pengantin baru udah masuk kerja aja. Gak bulan madu emangnya?" Tanya Jiny ingin tahu saat melihat kedatangan Agatha yang sudah masuk kerja saja setelah 5 hari mengambil cuti usai menikah. Agatha terlihat enggan menjawab pertanyaan sahabatnya yang sudah bisa dipastikan sedang menggodanya itu dan lebih memilih menyalakan komputernya untuk mulai bekerja. Ia menyeruput coffe latte yang tadi sempat ia beli sebelum berangkat ke kantor. Merasa tidak diacuhkan, Jiny membawa kursinya lebih mendekat pada Agatha. Tentu saja ia tidak akan pantang menyerah, banyak hal yang ia tahu dari sahabatnya yang baru saja menikah itu. Ah mengingat Agatha sudah menikah apalagi dengan pria tampan nan kaya seperti Andra benar-benar membuatnya merasa iri. "Jadi gimana? Lo sama Andra udah ena-ena belum?" Tanya Jiny berbisik di telinga Agatha. Agatha membulatkan matanya mendengar pertanyaan Jiny. Apakah ia harus menanyakan hal itu? "Lo bisa balik ke meja lo gak? Lagian kepo banget sih," omel Agatha. "Ya udah sih, namanya gue juga penasaran. Lagian lo udah nikah, muka masih juga ditekuk." "Selamat pagi Agatha." Baru saja Agatha ingin kembali buka suara untuk mengomeli sahabatnya itu, tiba-tiba seorang pria berjas rapi datang menghampiri mereka yang sontak membuat Agatha dan Jiny langsung bangkit dari duduknya memberi salam sopan. Mereka mengedipkan matanya beberapa untuk memastikan bahwa bos merekalah yang menghampiri mereka saat ini. Tumben sekali mereka datang ke ruangan karyawan biasa seperti ini. Apakah mereka baru saja membuat kesalahan? "Selamat pagi Pak," balas Agatha gugup. Berbagai macam pikiran buruk memenuhi pikirannya mengapa ia sampai dihampiri seperti ini. "Udah pada sarapan?" Tanya pak Gunawan lagi. "Uu.. udah Pak," balas Agatha dan Jiny ragu-ragu. Apa mereka tidak salah dengar? "Gimana Agatha setelah menikah? Pastinya lebih bahagia dong," kata pak Gunawan dengan diiringi senyumannya. Dahi Agatha mengeryit heran, biasanya bosnya ini akan selalu memperlihatkan wajah masamnya pada siapa saja. Kenapa sekarang ia terlihat sangat ramah? Aneh sekali. "Ii..iya Pak." "Kamu nyaman di bagian ini? Kalau enggak, saya bisa rekomendasiin kamu untuk naik jabatan." "Enggak Pak, gak usah, saya udah nyaman disini," tolak Agatha. Agatha dan Jiny saling melirik sesaat. "Saya gak nyangka loh kamu ternyata nikah sama pak Andra. Kapan-kapan bilangin sama pak Andra, kalau mau keluarin produk baru, launchingnya di media kita aja," kata pak Gunawan lagi. "Iya Pak, nanti saya coba ngomong." "Ya udah silahkan kembali bekerja." Masih dengan senyumannya, pak Gunawan berpamitan kemudian berlalu pergi. "Huh, dasar kunyit asem, kalau mau ngejilat aja baru sok-sok manis," ledek Jiny setelah pak Gunawan benar-benar pergi membuat Agatha tertawa. "Ternyata ada juga untungnya gue nikah sama Andra," kata Agatha setelah menyadari bahwa sikap baik bosnya itu karena statusnya sekarang sebagai istri Andra. Tidak ingin membuang waktu, Agatha langsung mulai bekerja. Ia masih memiliki waktu 2 jam sebelum nanti ke lokasi untuk mewawancarai. Meskipun Andra sudah menawarkan Agatha untuk berhenti saja bekerja karena Andra sudah memberikannya uang bulanan yang sangat lebih dari cukup, tapi Agatha menolak dengan alasan ia tidak tahu harus melakukan apa jika di rumah saja. Jadi ada baiknya ia bekerja saja. Lagi pula meskipun sudah menikah, rasanya sama saja. Agatha bahkan merasa tidak ada yang berbeda dalam hidupnya. *** "Hai Baby." Citra menyembulkan kepalanya dari balik pintu dengan senyum sumringahnya melihat Andra yang sibuk berkutat dengan berkas-berkasnya. "Akukan udah bilang, kamu jangan ke kantor, gak enak kalau ada orang yang lihat. Orang-orangkan taunya aku udah punya istri," kata Andra. "Aku cuma mau anterin kamu makan siang doang kok. Aku tau kamu pasti sibuk sampai gak sempat makan siang. Lagian yang lainnya juga pada sibuk makan siang, jadinya gak bakal ada yang sadar. Akan lebih bahaya lagi kalau kita ketemunya di luar," kata Citra kemudian melenggang memasuki ruangan Andra. Gadis itu membawa kantong berisi makanan. Ia langsung menyiapkan makanan yang ia bawa di atas meja. Ia sempat menelfon Andra tadi menanyakan apakah Andra sudah makan siang atau belum. Andra mengatakan bahwa pekerjaannya sedang banyak hingga ia sepertinya akan terlambat makan. Oleh karena itulah melihat Andra yang terlalu sibuk membuat Citra berinisiatif untuk membawakannya makanan dan memastikan ia tetap makan. "Sini Baby, makananannya udah siap," kata Citra usai menyiapkan makanan diatas meja dan duduk di sofa yang berada di dalam ruangan Andra. "Makasih ya Sayang." Sebelum duduk Andra sempat mendaratkan ciumannya di pipi Citra yang dibalas Citra dengan senyuman senang. Keduanya tampak makan dengan lahap sembari berbincang-bincang kecil. Hubungan mereka kembali terlihat baik-baik saja seolah tidak ada yang berubah meskipun Andra kini berstatus sebagai suami Agatha. "Baby, lusa aku ada pemotretan di Bali. Kamu ikut dong, kita udah lamakan gak jalan-jalan bareng. Mau ya?" Bujuk Citra usai mereka makan. "Aku lagi banyak kerjaan banget." Citra mengerucutkan bibirnya kecewa. Ia bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Andra dan duduk di sandaran sofa kemudian memeluk Andra. "Kamu emangnya gak kangen jalan-jalan sama aku? Sehari doang Baby." Andra tampak berpikir sejenak. "Okey, sehari aja ya." "Yeayyyy..." Citra langsung bersorak senang membuat Andra tersenyum. Andra merengkuh pinggang Citra agar semakin mendekat padanya. Ia mendekatkan wajahnya pada Citra kemudian mendaratkan ciuman mulus di bibir gadis itu. Keduanya terlihat saling menikmati dan saling melumat satu sama lain. Suara decapan yang memenuhi ruangan seolah menjadi pertanda bahwa kedua saling menyalurkan cintanya melalui ciuman itu. "Sayang, aku harus balik kerja," kata Andra mengingatkan saat tangan Citra mulai mengelus bagian bawahnya tepat di miliknya. Citra terlihat kecewa, namun sesaat kemudian ia tersenyum mengerti. Lagi pula ia tidak ingin merusak dandanannya kali ini karena ia harus pemotretan setelah ini. Citra sempat mendaratkan ciumannya sekali lagi pada bibir Andra sebelum ia beranjak dari posisinya untuk membiarkan Andra kembali bekerja. *** "Lo kenapa bengong aja sih? Gue udah cerita panjang lebar juga," keluh Agatha saat Jiny tak kunjung memberikan respons atas ceritanya. Padahal ia sudah sangat bersemangat tadi untuk menceritakan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Andra. Agatha akhirnya memutuskan untuk bercerita pada Jiny, lagi pula Jiny adalah satu-satunya sahabat dekatnya. Jadi mau bagaimapun, Agatha tidak mungkin menyembunyikannya dan berpura-pura bahwa pernikahannya baik-baik saja di depan Jiny. Apalagi sahabatnya itu selalu ingin banyak tahu. "Aaaa eotteoke?!" Jiny menangkup mukanya dengan kedua tangannya terlihat frustasi. Dahi Agatha mengeryit heran melihat respons Jiny. Apa yang terjadi dengannya? "Kenapa kisah hidup lo jadi kayak drama korea gini sih? Oppa Andra kenapa jahat banget sih mainin sahabat gue!" Geram Jiny. "Hihhhh! Oppa apaan, dia itu gak pantes ya dipanggil oppa. Jangan bikin bayangan oppa-oppa yang biasanya ada di kepala gue jadi ternodai gara-gara cowok ngeselin itu," kata Agatha. "Lo sih, kenapa diajak nikah mau aja. Kenakan lo!" "Ya gue gak ada pilihan lain. Gue gak mau ngancurin kebahagian ayah sama bunda. Lagian gue juga gak ngerti kenapa saat itu gue cepat aja bilang iya." "Nah itu tandanya ini emang udah takdir, dan lo emang udah ditakdirin buat sama Andra. Ya bodo amat dia udah punya pacar atau enggak, yang pentingkan lo istrinya." "Gue juga mikir gitu. Enak aja dia udah maksa gue nikah sama dia terus mau pisah seenaknya," kata Agatha kesal kemudian memasukkan satu sendok penuh nasi beserta ayam ke dalam mulutnya untuk melanjutkan makan siangnya yang tertunda karena bercerita. "Eh Tha, lo mau gue kasih tau gak caranya biar suami lo tertarik sama lo?" Tanya Jiny antusias. "Gimana?" "Kalau di rumah, lo harusnya pakai lingerie yang seksi-seksi, kalau perlu warnanya yang merah. Ah gue jamin dia bakal klepek-klepek," ucap Jiny mengutarakan idenya. Agatha terdiam sesaat terlihat berpikir. Tapi sesaat kemudian ia langsung bergidik membayangkan bagaimana jika ia memakai pakaian seperti itu. "Ah ogah! Emangnya gue cabe-cabean apa. Gue gini aja udah seksi," kata Agatha percaya diri. "Dih seksi apanya tu. Lo tidur aja suka pakai baju tidur motif kura-kura, seksi dari mananya," ledek Jiny. Agatha hanya mengangkat bahunya tidak acuh dan kembali fokus makan. "Eh lo udah nonton belum drama yang gue rekomendasiin itu?" Tanya Jiny mulai mengganti topik obrolan mereka. "Ya belumlah, guekan sibuk belakangan ini. Udah tamat belum sih?" "Belum, tinggal 4 episod lagi." "Gue tunggu kelar aja deh, gue gak suka di gantung-gantung." Kedua wanita itu kini terlihat sangat asik dengan topik pembicaraan barunya yang malah membuat mereka terlihat lebih bersemangat. *** Andra mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling kafe mencari orang yang ingin ia temui. Setelah melihat 2 orang yang duduk di sudut kafe melambaikkan tangan padanya, Andra langsung menghampiri mereka. "Andra... akhirnya lo datang juga." "Kami baru sampai Jakarta langsung kesini loh buat ketemu sama lo, bahkan belum sempat pulang." "Ya haruslah, kalian sih sekolah mulu kelamaan," ledek Andra. Ia langsung mengambil posisi duduk di depan dua orang berwajah serupa bahkan hampir tidak ada bedanya itu. Jika orang lain apalagi yang baru mengenal mereka pasti akan sangat kesulitan membedakan keduanya. Tapi karena Andra sudah bersahabat dengan mereka sejak kecil, jadi ia sangat mudah membedakannya. "Lo parah banget, masa nikah tiba-tiba. Mana pas waktu hari kami ujian lagi, ya mana bisa datang," protes Bima. "Gak heran sih, Andrakan suka gak jelas," sahut Bimo pula. Bima dan Bimo adalah saudara kembar. Mereka adalah sahabat Andra sejak duduk di bangku SMP. Karena mengambil kuliah di London hingga Master, jadi baru kali ini mereka bertemu lagi. Tapi setiap libur kuliah baik Bima maupun Bimo pasti selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Indonesia. "Mana bini lo? Kok gak diajak? Lagi ada jadwal pemotretan ya?" Tanya Bima saat menyadari bahwa Andra datang sendiri. "Gue bukan nikah sama Citra." "Ha??!" Keduanya kompak terlihat terkejut. Setahu mereka pacar Andra adalah Citra. Mereka bahkan pernah dikenalkan oleh Andra waktu itu. "Jadi lo nikah sama siapa?" Tanya Bimo. "Namanya Agatha." "Agatha? Agatha siapa?" Andra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan pada sahabat-sahabatnya itu. Setelah memikirkan kalimat yang tepat, akhirnya Andra memutuskan untuk menceritakan pada mereka bagaimana awal pertemuannya dengan Agatha dan kenapa mereka sampai menikah. Tentu saja baik Bima maupun Bimo terlihat terkejut mendengar cerita Andra. "Gila! Gokil lo Bro. Keren dong jadi dapat 2," kata Bima diiringi tawanya kemudian mengangkat tangannya untuk bertos ria dengan Andra yang langsung dibalas oleh Andra. "Dih keren apanya? Lo nyiksa kalau gitu namanya," kata Bimo dengan respons yang bertolak belakang dengan Bima. "Ya elah Mo, masih aja tua pikirannya. Lagiankan pilihan Andra itu udah benar. Dengan dia nikahin Agatha, dia bisa dapatin perusahaan tapi dia tetap masih bisa sama Citra. Lagiankan ceweknya juga gak masalah. Selow aja Bro," kata Bima mencoba membela Andra karena menurutnya keputusan Andra itu sudah benar. "Gini nih, kalau masalah fakboy, lo cocok banget emang sama Andra." "Udah.. udah.. bisa-bisa nanti gara-gara gue persaudaraan kalian bisa retak. Mending kita pesan makan aja, laper banget nih gue," kata Andra mulai menengahi. Sejak dulu baik Bima maupun Bimo sering sekali berbeda pendapat. Disinilah peran Andra dibutuhkan sebagai penengah di antara mereka
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN