Agatha menghembuskan nafas lega usai menata kamarnya sesuai dengan ia yang mau. Ia mengedarkan pandangannya tersenyum puas akhirnya semua barangnya sudah tersusun rapi. Untungnya hanya bagian kamar yang harus ia tata sendiri, jika seluruh ruangan, ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa tulang-tulangnya nanti yang pasti akan terasa sangat lelah. Bagian luar sudah dorapihkan oleh jasa bersih-bersih sebelum mereka pindah sekaligus semua perabotan sudah benar-benar lengkap karena sebelumnya rumah ini masih kosong karena belum ditinggali.
Rumah dengan desain minimalis yang cukup besar ini akan menjadi tempat tinggal baru bagi Agatha dan juga Andra. Rumah ini sebenarnya sudah satu tahun yang lalu di bangun oleh Andra. Ia sebenarnya sejak dulu berencana untuk tinggal sendiri, mungkin agar lebih mandiri atau lebih bebas lebih tepatnya. Tapi ibunya selalu melarang, wajar saja, Andra adalah anak satu-satunya, tidak mungkin ibunya ingin berpisah cepat-cepat dengannya meskipun sebenarnya sang ayah sudah sejak lama mengizinkannya. Tapi berhubung sekarag ia sudah menikah, jadi orang tuanya mengizinkan. Lagi pula dengan kondisi pernikahan mereka yang seperti ini membuat akan cukup sulit jika mereka masih tinggal bersama orang tua.
Saat Andra bertanya berapa asisten rumah tangga yang Agatha butuhkan di rumah, Agatha menolak. Ia pikir, asisten rumah tangga tidak begitu diperlukan meskipun rumah ini cukup luas. Andra dan Agatha sama-sama bekerja, pulang ke rumah saat malam hari. Jadi rasanya tidak akan ada yang terlalu perlu dibersihkan. Jika membersihkan sedikit-sedikit saja, Agatha juga bisa melakukannya. Untuk masalah memasak, jangan ditanya lagi, Agatha yang merupakan anak kos sejati sejak lama sudah sangat terbiasa dalam hal masak memasak. Jadi itulah alasan ia menolak.
Baru saja Agatha membaringkan tubuhnya di atas ranjang untuk beristirahat sejenak sembari mengumpulkan niatnya untuk mandi, tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi. Karena hanya tinggal berdua, jadi suara bel rumah ini di desaign agar terdengar ke setiap sudut rumah manapun. Agatha tidak berkutik, ia menutup matanya. Rasanya terlalu lelah untuk membukakan pintu, biar saja Andra yang membukannya, pikirknya. Tapi beberapa saat, bunyi bel tidak kunjung berhenti bahkan semakin menjadi-jadi seperti di tekan dengan tidak sabaran. Agatha langsung bangkit dari posisinya bergegas membukakan. Lagi pula siapa yang datang malam-malam begini, dan dimana Andra? apa ia sedang mandi?
"Mana Andra?" baru saja Agatha membukakan pintu, seorang wanita berbadan tinggi langsing berwajah cantik agak oriental langsung menghujaninya dengan pertanyaan.
"Kayaknya lagi mandi deh, Mbak ini siapa ya?" tanpa menjawab ucapan Agatha, wanita itu langsung masuk ke dalam rumahnya membuat Agatha kebingungan.
"Andra... Andra... Andra...!!!" Wanita itu memanggil-manggil Andra tiada henti membuat Agatha langsung menyusulnya.
"Maaf Mbak, tapi Andra kayaknya lagi mandi deh. Biar aku panggilin ya."
"Lo istrinya Andra?" tanya wanita itu dengan nada yang tidak bersahabat. Agatha mengangguk kecil merasa bingung siapa wanita yang datang malam-malam seperti ini dan terlihat sedang sangat marah.
"Ternyata seleranya Andra langsung turus kasta," katanya lagi sembari memperhatikan penampilan Agatha yang saat itu hanya menggunakan kaos polos berwarna abu-abu oversize serta memakai celana panjang rumahan. Merasa diperhatikan, Agatha ikut memperhatikan dirinya, memangnya ada yang salah? bukankah ini adalah pakaian yang paling nyaman di rumah?
"Andra mau cari istri atau cari pembantu sih?" ucapnya meremehkan yang membuat mata Agatha langsung menyipit tidak suka. Ia mendongakkan sedikit kepalanya agar bisa menatap wanita yang tingginya melebihi Agatha ini.
"Heh! lo ini siapa sih? datang malam-malam ke rumah orang, terus ngata-ngatain gue," marah Agatha tidak terima. Ia bahkan mengangkat lengan bajunya bersiap melawan wanita menyebalkan di hadapannya kini.
"Gue pacarnya Andra," jawab wanita itu tersenyum sinis membuat Agatha terdiam sesaat. Jadi Andra masih memiliki pacar? Kalau begitu kenapa ia tidak menikahi pacarnya saja?
"Oh lo pacarnya? gue istrinya," balas Agatha dengan tersenyum tidak kalah sinis penuh dengan kemenangan. Ya meskipun benci mengakui bahwa ia adalah istrinya Andra, tapi setidaknya itu diperlu diakui di depan wanita ini. Lihatlah kini wajah wanita itu terlihat geram dan semakin kesal.
"Citra?" baru saja wanita itu terlihat membuka mulut untuk kembali angkat suara, tiba-tiba saja Andra datang. Keduanya langsung menoleh kepada Andra. Andra terlihat cukup kaget melihat kedatangan Citra yang ia ketahui belakangan ini sedang berada di Jepang untuk menghadiri acara fashion show tiba-tiba ada di rumahnya.
"Kamu tau dari mana aku disini?" tanya Andra.
"Aku tadi ke rumah kamu, dan kata mama kamu, kamu ada disini."
"Agatha, bisa tinggalin kami berdua?" ucap Andra pada Agatha. Tanpa menjawab apapun, Agatha langsung berlalu pergi. Sebelum pergi ia sempat kembali beradu tatapan dengan Citra. Sebenarnya tanpa di suruhpun ia memang akan pergi. Ia sama sekali tidak berminat untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
Untuk sesaat suasana di antara Andra dan Citra menjadi sunyi. Andra membawa Citra untuk duduk di ruang tamu yang terdapat di rumahnya. Meskipun selama ini mencoba menghindari Citra setiap kali ia mencoba menghubungi Andra, namun Andra tidak mungkin bisa selalu menghindarinya. Bagaimanapun mereka harus saling bicara.
"Kenapa kamu malah nikah sama perempuan lain? kamu bahkan gak bilang apa-apa sama aku. Kamu anggap aku apa sih Ndra?" Citra mulai buka suara. Ia menatap Andra sendu bercampur kecewa. Bagaimana tidak kecewa, tiba-tiba ia mendapat kabar bahwa Andra menikah.
"Akukan udah bilang sama kamu, kamu mau nikah dalam waktu dekat ini." Andra tidak berani menatap mata Citra. Ia berusaha melihat kemana saja yang penting tidak melihat Citra.
"Iya tapikan kamu ngajak aku buat nikah. Aku kira kamu bakal nunggu aku. Aku kira kalau aku nolak, kamu gak bakal nikah sama orang lain. Kamu tau gak sih gimana sakitnya perasaan aku?" gadis itu terdengar mulai terisak. Mau bagaimanapun, ia tidak bisa menyembunyikan bahwa perasaannya sangat hancur saat tahu bahwa kekasihnya menikahi perempuan lain.
"Aku gak ada pilihan lain. Aku udah bilangkan sama kamu. Kamu sendiri yang gak mau nikah sama aku." Kini Andra memberanikan diri untuk menatap Citra.
"Aku bukannya gak mau, aku mau nikah sama kamu. Tapi gak secepat ini Ndra. Kenapa sih kamu gak sabar nunggu, kamu gak cinta lagi sama aku?" Andra diam tidak menjawab. Ia kembali mengalihkan pandangannya. Melihat Citra menangis membuat ia merasa ikut sakit dan merasa bersalah.
"Apa hubungan kita selama ini gak ada artinya apa-apa lagi buat kamu? udah banyak hal yang kita lalui selama ini. Kamu ingatkan, bahkan aku yang selama ini dukung kamu buat pegang perusahaan papa kamu meskipun kamu gak mau. Aku yang bikin kamu semangat mau kerja, apa semudah itu Ndra?" ucapan Citra membuat Andra teringat masa-masa dimana ia tidak memiliki semangat melakukan apapun hingga Citra datang yang membuatnya bersemangat karena Citra suka pria pekerja keras. Untuk sesaat Andra menjadi berpikir, apakah keputusan yang sudah ia ambil ini sudah benar atau malah akan menyulitkan dirinya ke depannya? Jujur saja, perasaan Andra pada Citra masih sama seperti dulu.
"Aku gak mau kehilangan kamu," tangis Citra semakin pecah. Andra yang tadi duduk di hadapan Citra langsung berlutut di hadapan gadis itu. Ditangkupnya wajah Citra yang terlihat sangat kacau kemudiannya disekanya air mata gadis itu.
"Aku minta maaf ya," kata Andra lembut.
"Aku gak masalah kalau kamu udah nikah. Kita bisa sama-sama kalau nanti kontrak aku udah habis. Satu tahun aja Ndra, tolong tunggu aku. Aku lagi persiapin untuk tampil di acara fashion show ternama di Milan. Setelah itu aku janji bakal tinggalin dunia modeling aku. Kamu nikah karena mau dapat perusahaankan? itu mimpi kamukan? kalau kamu aja boleh punya mimpi, kenapa aku enggak. Ini gak ada buat aku." Andra tampak berpikir sejenak mendengar ucapan Citra. Sebenarnya Citra ada benarnya, pilihan yang diambil Andra ini pasti tidak adil untuknya.
"Oke, aku bakal tunggu kamu."
"Beneran?" Andra mengangguk membuat Citra tersenyum senang. Gadis itu langsung memeluk Andra merasa sangat lega. Ia sudah menebak bahwa Andra tidak mungkin dengan mudah melupakannya begitu saja. Lagi pula bagi Citra, tidak masalah jika Andra sudah memiliki istri. Selama Andra masih mencintainya, posisi istrinya itu sama sekali tidak ada artinya.
***
"Lo bisa baca dulu sebelum tanda tangan," kata Andra sembari menyodorkan sebuah map pada Agatha. Agatha menatap map di atas meja itu tanpa minat. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan d**a kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia terdengar menghela nafas sejenak sebelum bersuara.
"Gak usah pakai surat-suratan deh, udah kayak orang kecamatan aja," kata Agatha terdengar santai.
"Jadi lo mau pernikahan kita cuma sampai 1 tahun karena setelah itu lo mau nikah sama pacar lo yang tadi?" Andra mengangguk. Setelah tadi menjelaskan secara garis besar, ternyata Agatha sudah memahami maksudnya.
"Di dalam surat itu ada beberapa perjanjian. Termasuk uang yang akan gue kasih buat lo sebagai bentuk terima kasih gue atas bantuan lo mau nikah sama gue yang bisa lo dapat setelah pernikahan kita selesai nanti. Disitu juga ada perjanjian kalau gue gak akan nyentuh lo ataupun ambil hak gue sebagai suami biar lo gak mengalami kerugian apapun nantinya kalau udah pisah sama gue. Gue rasa itu udah cukup adil," jelas Andra lagi. Dalam hati rasanya Agatha sangat ingin mencakar habis wajah tampan suaminya ini yang terlihat tidak memiliki hati membicarakan hal seperti ini di hadapannya. Ia bahkan lebih payah dari pada anak kecil saat mengambil keputusan. Ia pikir pernikahan ini adalah lelucon.
"Itu kan kesepakatan dari lo, rasanya gak adil kalau gak ada kesepakatan dari pihak gue," kata Agatha.
"Kalau lo ada tambahan ya silahkan, gue bakal terima."
"Kita lupain kesepakatan yang lo buat. Satu tahun yang kita punya bakal gue pakai buat pertahanin pernikahan kita. Jadi gue akan buat lo jatuh cinta sama gue dalam waktu satu tahun dan ninggalin pacar sampah lo yang punya jiwa pelakor sejak dini itu," kata Agatha penuh penekanan.
"Kalau dalam satu tahun lo gak cinta sama gue, lo boleh pergi dan nikah sama mantan lo."
"Gue gak ngerti."
"Terserah, intinya gue gak mau pernikahan ini berakhir. Anak kecil kayak lo, masih sangat butuh bimbingan. Dan pacar lo, gak akan bisa membimbing lo. Gue akan ajarin lo cara ngambil keputusan yang baik dan benar, tanpa menyusahkan orang lain," kata Agatha lagi.
Agatha yang merasa pembicaraan ini sudah cukup jelas memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan berisitirahat. Sebelum pergi ia sempat mendekati Andra yang teelihat masih bingung. Gadis itu sedikit menunduk agar bisa berbisik di telinga Andra.
"Selamat malam Suami," bisik Agatha tepat di telinga Andra. Hembusan nafasnya bahkan terasa sangat jelas bagi Andra membuat Andra membeku. Andra memperhatikan Agatha yang sudah berlalu darinya menaiki anak tangga. Benar-benar respon Agatha di luar dugaan Andra. Sepertinya gadis ini tidak seperti gadis-gadis lainnya yang akan sangat mudah untuk diatur.
Andra sepertinya sudah salah menilai Agatha, gadis itu lebih berani dari yang ia kira. Jika sudah begini, Andra harus lebih hati-hati dalam menghadapinya. Apa tadi katanya? jatuh cinta? yang benar saja. Andra tidak mungkin akan jatuh cinta padanya.