Menjadi Suami Istri

1511 Kata
Baik Andra ataupun Agatha sama-sama berusaha memperlihatkan senyuman terbaiknya di hadapan para tamu undangan yang menghadiri pesta pernikahan mereka hari ini. Tadi pagi akad sudah dilaksanakan, dan malam ini resepsi digelar di aula sebuah hotel berbintang. Meskipun hanya memiliki waktu satu bulan, tapi semuanya dipersiapkan dengan begitu matang oleh Tio dengan menyewa jasa wedding organizer terbaik. Pestanya terlihat sangat sederhana tapi sangat elegan. Banyak rekan-rekan bisnis Andra yang datang dan juga beberapa rekan kerja Agatha pula. Agatha memang sengaja tidak banyak mengundang, karena ia pikir tidak ada gunanya mengundang banyak orang di pernikahan yang tidak diinginkannya ini. Bahkan ia sama sekali tidak merasakan kebahagiannya di hari penting ini. Rasanya ia ingin sekali menepis tangan Andra yang sedari tadi melingkar di pinggangnya. Andra memang sangat pandai berpura-pura. Seluruh keluarga Agatha yang berada di Bandung datang ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan yang sudah mereka tunggu-tunggu ini. Satu hal yang membuat Agatha merasa senang adalah saat melihat ayah dan bundanya bahagia. Itu adalah satu-satunya alasan mengapa ia melakukan hal ini. Masih teringat jelas oleh Agatha bagaimana ayah dan bundanya yang terlihat begitu senang bahkan selalu menceritkan pada teman-temannya atau siapapun yang ia temui bahwa Agatha akan segera menikah. Tentu Agatha tidak sampai hati untuk menghancurkan kebahagian orang tuanya. Usai acara berlangsung, Agatha beserta ayah dan bundanya ikut pulang ke rumah Andra. Mereka semua terlihat berdecak kagum melihat rumah mewah yang biasanya hanya terlihat di layar kaca saja. Ternyata keluarga Andra benar-benar keluarga yang berada. Hal itu membuat kedua orang tua Agatha merasa senang karena anaknya bisa diterima di keluarga seperti ini. Apalagi melihat sikap ayah Andra yang benar-benar sangat baik pada mereka. Tapi entah perasaan mereka saja atau memang benar adanya, ibu Andra tidak seramah ayahnya. Tapi mereka mengerti, pasti karena merasa masih cukup asing karena belum lama saling mengenal. Karena merasa sudah sangat lelah, Andra dan Agatha langsung bergegas menuju kamar mereka yang merupakan kamar Andra sebelumnya. Agatha masuk dengan ragu-ragu sementara Andra sudah terlebih dahulu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Pandangan Agatha mengedar ke setiap sudut ruangan. Kamar ini di d******i warna coklat muda yang terkesan elegan dan klasik. Agatha duduk di atas ranjang berukuran king size itu, terasa sangat nyaman. "Lo gak mau mandi?" "Aaaaaaaaa...." "Heh! Apaan sih teriak gitu?" "Pakai baju lo dong!" Agatha menutup wajahnya dengan kedua tangannya melihat Andra yang keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan baju dan hanya memakai handuk menutupi bagian bawahnya. Andra yang menyadarinya langsung bergegas untuk mengambil bajunya di lemari dan memakainya. Ia lupa bahwa ia tidak sendiri lagi di kamar ini sekarang dan melupakan kebiasaannya itu. "Udah nih." "Lo pikir badan lo bagus apa? Gak usah umbar-umbar aurat!" Ketus Agatha kemudian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya pula. "Ujian agama lo remedial ya? Badan bukan aurat gue!" Balas Andra pula tak mau kalah. Agatha terlihat tidak acuh dan lansung menutup pintu kamar mandi. Andra mendengus kesal, ternyata gadis itu semakin menyebalkan. Setelah menggunakan pakaian tidurnya secara lengkap, Andra langsung menidurkan tubuhnya yang lelah diatas ranjangnya yang nyaman. Rasanya lega sekali bisa berbaring setelah melewati hari yang begitu panjang. Andra mengambil ponselnya di nakas kemudian melihat banyak sekali panggilan yang tidak terjawab dari Citra membuat Andra menghembuskan nafasnya kasar. Ada rasa bersalah menyelimutinya, pasti ini cukup menyakitkan bagi Citra, tapi ini sudah menjadi pilihan ia juga. Andra sudah berusaha mengajaknya menikah, namun ia malah memilih kariernya begitu saja. Setelah beberapa lama membersihkan dirinya, Agatha keluar dari kamar mandi lengkap dengan baju tidurnya. Ia mendapati Andra yang tengah terlelap di ranjangnya. Untuk sesaat Agatha berpikir apakah ia harus tidur di samping Andra atau tidak? Ya memang ia sudah menjadi istri sah Andra, tapi pernikahan ini bukan hal yang mereka inginkan. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Agatha memutuskan untuk mengambil bantal dan tidur di sofa yang lumayan luas yang terdapat di kamar Andra ini. Jika ia menggunakan kamar lain di rumah ini, bisa-bisa orang tua mereka akan mengetahuinya. Baru Agatha membaringkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya beberapa saat untuk mencoba tidur, ia merasakan suara langkah seseorang mendekat padanya membuat Agatha kembali membuka matanya. "Pakai nih." Andra memberikan sebuah selimut kemudian berlalu pergi kembali membaringkan tubuhnya di kasur empuknya. Agatha mendengus kesal, ia pikir Andra akan meminta untuk berganti posisi dan membiarkannya untuk tidur di ranjang. Ternyata ia lebih menyebalkan dari yang Agatha kira. *** "Kenapa lo mau terima pernikahan ini?" "Ya karena lo lah." "Lo kan bisa aja nolak." "Emangnya gue punya pilihan? Udahlah, lagian kita juga udah nikah sesuai kemauan lo." "Ya emang sih, tapi berarti kita sama-sama saling menguntungkan. Karena lo pasti juga punya alasan tersendirikan kenapa milih buat nerima pernikahan ini." "Terserah." Agatha yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin besar hanya memutar bola matanya malas. Untuk apa ia menjelaskan pada Andra, tidak ada gunanya juga. "Gini, kita coba pernikahan ini 1 tahun. Tapi ya kalau bisa lebih cepat lebih baik lagi. Gue akan cari cara buat bikin papa gak permasalahin kalau pernikahan kita ini gak bisa bertahan. Yang penting gue udah bisa ambil alih perusahaan. Jadi tugas lo sampai disitu aja." Tangan Agatha seketika terhenti menyisir rambutnya. Ia menatap pantulan Andra di cermin yang sedang berdiri di belakangnya. "Pernikahan ini akan terus terjadi, bukan hanya satu tahun!" Agatha bangkit dari posisinya kemudian berdiri di hadapan Andra sembari berkata tegas membuat dahi Andra mengernyit heran. Setelah mengucapkan kalimat itu, Agatha langsung berlalu keluar kamar. Gadis itu bahkan menutup pintu cukup kuat. "Aneh banget, bukannya dia juga gak mau pernikahan ini? Kenapa malah mau pertahanin?" Kata Andra bingung pada dirinya sendiri. Tidak ingin ambil pusing, Andra langsung bergegas menyusul Agatha. Pagi ini mertuanya memutuskan untuk pulang ke Bandung. Ayah Agatha yang juga merupakan salah satu pengurus desa harus menghadiri sebuah rapat yang sudah dirancang sejak jauh-jauh hari. Lagi pula mereka tidak ingin mengganggu putrinya yang baru saja menikah. Agatha dan Andra sudah berjanji bahwa mereka akan mengambil libur nanti dan menghabiskan waktu di Bandung lebih lama bersama mereka. *** "Kamu yakin gak mau tinggal disini aja?" tanya Tio setelah menyesap tehnya melihat putra dan menantunya yang kini duduk di hadapannya. "Enggak Pa. Andra mau lebih mandiri dan mulai bangun rumah tangga sama Agatha di rumah baru kami." "Ya bagus kalau gitu, itu artinya kamu mau belajar bertanggung jawab," kata Tio salut. Andra dan Agatha hanya saling melirik dengan ekor mata mereka. Tentu saja bukan itu alasannya. Jika tetap di rumah ini, mereka harus selalu berpura-pura seperti suami istri pada umunya. Itu pasti akan sangat melelahkan. "Andra.. Andra... emangnya kamu yakin bisa hidup berdua aja? istri kamu aja kayaknya belum banyak tau soal kamu. Mama gak bisa bayangin bakal gimana nantinya," kata Melisa buka suara. Agatha yang sedari tadi menunduk mengangkat kepala menatap ibu mertuanya itu. Ibu mertuanya ini jarang sekali berbicara, apalagi kepadanya, tapi setiap kali berbicara entah mengapa selalu terdengar sinis. "Gak papa lah Ma, mereka bisa sama-sama belajar. Iyakan Agatha?" Agatha mengangguk kecil sembari tersenyum menjawab ucapan ayah mertuanya. Entah mengapa Agatha merasa kurang nyaman disituasi seperti ini. Ingin rasanya ia lebih banyak berbicara pada ibu mertuanya itu, tapi melihat tatapannya saja, Agatha sudah dibuat bergidik ngeri terlebih dahulu. "Kapan rencananya kalian mau pindah?" "Besok Pa. Lagi pula libur Andra sama Agatha cuma sampai besokkan. Karena pernikahan ini agak mendadak jadi baru bisa dapat libur sebentar." "Kamu kalau mau libur lebih lama gak papa. Kalian bisa bulan madu dulu." "Enggak. Enggak.. gak usah," sahut Agatha cepat mendengar ucapan Tio membuat mereka semua menatap Agatha. "Di kantor lagi banyak kerjaan banget soalnya Pa, ada proyek buat bulan ini. Mungkin nanti aku sama Andra bisa atur lagi liburnya di bulan-bulan lain," jelas Agatha. Gadis itu terlihat panik saat baru sadar menolak dengan spontan. Lagi pula, bagaimana bisa ia berbulan madu dengan pria itu. "Oh yaudah kalau gitu. Terserah kalian aja."  *** Agatha duduk di mini bar yang berada di depan dapur bersih di rumah Andra sembari mengaduk-aduk teh buatannya. Ia menyesap teh itu saat dirasa sudah tidak terlalu hangat, rasanya manis.  "Sekarang kalau perempuan mau hidup enak gampang banget ya. Tinggal dekatin aja laki-laki kaya." Agatha kembali meletakkan tehnya di atas meja saat melihat Melisa datang sembari berbicara tanpa menoleh pada Agatha. Disini tidak ada orang selain Agatha, jadi bisa dipastikan bahwa ibu mertuanya itu sedang berbicara dengannya. "Mama mau bikin teh? biar aku aja yang bikinin," tawar Agatha bangkit dari duduknya menghampiri Melisa yang terlihat sedang menyeduh tehnya. "Gak usah, saya bisa sendiri." Agatha diam di tempatnya menerima penolakan Melisa. Suasana menjadi sangat canggung. Agatha tidak tahu harus bersikap seperti apalagi pada ibu mertuanya yang sepertinya tidak menyukai dirinya ini. "Kamu gak perlu susah-susah baik sama saya, karenakan kamu cuma mau anak saya aja kan? diajak nikah buru-buru kok mau." Melisa tertawa sinis kemudian berlalu dari hadapan Agatha setelah teh buatannya selesai. Agatha langsung menghembuskan nafasnya panjang berusaha mengumpulkan kesabarannya. Sepertinya kesabarannya akan sangat diuji oleh ibu mertuanya ini. Agatha tidak ingin ambil pusing. Lagi pula apa yang dipikirkan oleh ibu mertuanya itu tidak benar adanya. Tapi sikap ibu mertuanya itu malah membuat Agatha berpikir, apakah keputusannya ini sudah benar atau belum? atau sebenarnya keputusannya untuk membahagiakan kedua orang tuanya ini malah akan semakin menyulitkan hidupnya ke depannya? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN