Agatha diam-diam menatap tajam pria di hadapannya yang terlihat sangat santai. Ia bahkan sempat melemparkan senyuman simpul penuh kemenangannya pada Agatha yang membuat Agatha menyipitkan matanya tidak suka.
"Bunda baru tau kalau ternyata Agatha udah punya pacar, soalnya asal ditanya selalu jawabnya gak ada," kata Ratih tersenyum.
"Dia masih malu mungkin Tante." Ingin sekali rasanya Agatha mencakar wajah pria yang tidak lain adalah Andra itu saat ia menjawab dengan mengada-ngada. Agatha tidak menyangka bahwa pria itu akan mengikutin bahkan sampai ke kampung halamannya. Dan yang lebih gila lagi, bahkan ia datang bersama kedua orang tuanya dan memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Agatha. Ah rasanya Agatha ingin ditelan bumi saja sekarang. Setiap kali ia ingin mencoba menjelaskan bahwa mereka berdua tidak memiliki hubungan apa-apa, Andra selalu memotongnya hingga membuat Agatha benar-benar jengah.
"Panggil Bunda aja, masa tante." Agatha melirik bundanya dengan mata terbelalak sedangkan bundanya menatap Andra tersenyum ramah.
"Iya Bunda." Habislah sudah, bundanya sudah termakan oleh akting Andra yang sangat luar biasa.
"Jadi kedatangan kami kesini atas permintaan Andra yang meminta kami untuk melamar anak Bapak," ucap Tio, ayah Andra buka suara setelah merasa basa basi diantara mereka sudah cukup untuk mengutarakan niatnya. Lagi dan lagi Agatha dibuat membelalak kaget, ia pikir hanya sekedar berkunjung biasa, ia masih punya harapan menjelaskan semuanya pada ayah dan bundanya saat mereka pulang nanti. Tapi apa yang baru ia dengar? melamar? yang benar saja.
"Wah jadi nak Andra datang kesini untuk melamar putri ayah?" Andra mengangguk pasti sembari tersenyum.
"Jujur saja, ayah senang, karena ada yang datang dengan begitu serius untuk Agatha. Memang jika sudah siap, alangkah baiknya segera menikah saja. Tapi semuanya ayah serahkan pada Agatha," kata Ari melirik putrinya.
Agatha benar-benar bingung sekarang, apa yang harus dilakukannya? tentu saja ia tidak ingin menikah dengan orang asing nan menyebalkan seperti Andra. Tapi situasi sangat terjepit sekarang. Ditatapnya kedua orang tuanya yang tidak bisa menyembunyikan rona bahagianya. Agatha bahkan tidak pernah melihat kedua orang tuanya sebahagia ini. Apakah ia harus mengacaukan kebahagian ayah dan bundanya?
"Bagaimana Agatha, apakah kamu bersedia?" tanya Tio. Agatha melirik Andra yang terlihat juga sedang menunggu jawabannya. Melihat wajah Andra membuat Agatha sangat ingin menerkam dan mencakar-cakar wajah tampan seseorang yang sudah membuatnya berada di posisi sulit seperti itu. Andra terlihat mengangguk menginsyaratkan Agatha untuk segera menjawab dengan menyetujuinya.
"Iya, aku mau menikah dengan Andra," jawab Agatha akhirnya namun dengan kata penuh penekanan dan diakhiri dengan senyum terpaksanya. Agatha tidak punya pilihan lain, jika ia menolak, Andra bisa saja memberi tahu bahwa ia memiliki hutang yang sangat banyak padanya dan mungkin saja akan memintanya pada ayah dan bundanya, mereka pasti akan sangat terkejut. Belum lagi ayah dan bundanya yang akan sangat kecewa karena sudah berharap akan memiliki menantu karena mereka sudah sangat menantikannya.
"Alhamdulillah kalau niat baik kami diterima. Mungkin kita bisa mulai membicarakan tentang pesta lamaran dan juga untuk pernikahan nantinya," lanjut Tio lagi.
"Gak usah pakai pesta lamaran Pak, langsung nikah aja. Lamarannya kan udah, anggap aja ini lamarannya. Dan aku juga gak mau pesta yang meriah, cukup sederhana dan tidak banyak tamu," kata Agatha cepat, ia tidak ingin ada acara apapun yang nantinya menjadikannya sebagai pusat perhatian. Ia tidak bisa membayangkan apa tanggapan orang-orang nantinya saat ia tiba-tiba menikah dengan Andra.
"Keluarga kami itu keluarga pebisnis, gak mungkin bikin acara biasa aja. Apalagi Andra anak satu-satunya, kami akan buatkan acara yang meriah dan dihadiri-orang penting." Akhirnya Melisa, ibu Andra yang sedari tadi hanya diam buka suara juga. Ia terdengar menyangkal rencana Agatha yang tidak ingin ada pesta. Keluarga mereka adalah keluarga yang terpandang, jadi tidak mungkin jika tidak ada pesta.
"Gak papa Ma, mungkin Agatha udah gak sabar nikah sama aku, makanya gak mau pakai lamaran." Andra tersenyum menggoda Agatha membuat darah Agatha mendidih. Ia bahkan sangat mengada-ngada.
"Gak papa kalau Agatha gak mau ada acara pertunangan, tapi untuk acara resepsi pernikahan tentu saja kita tidak bisa jika melewatkannya. Kabar bahagia ini harus kita bagikan kepada banyak orang," ucap Tio yang membuat Agatha pasrah.
Setelah itu kedua keluarga itu terlibat pembicaraan untuk rencana pernikahan Andra dan Agatha. Bahkan tanggalpun sudah ditentukan yang akan berlangsung 3 minggu lagi. Agatha benar-benar tidak menyangka bahwa bulan ini ia akan menikah. Ia bahkan seolah mimpi dan tidak bisa mengendalikan sendiri mimpinya. Entah akan seperti apa kehidupannya nantinya bersama pria yang sangat menyebalkan baginya itu.
***
"Papa kenapa sih setuju-setuju aja sama permintaan Andra buat melamar perempuan itu? Lagian papa kenapa maksa banget Andra buat nikah? Andra bisa nikah waktu dia siap nanti." Melisa terus saja berceloteh sepanjang jalan pulang ke Jakarta mengenai putra satu-satunya yang akan menikah dengan gadis yang bahkan sama sekali tidak ia kenal.
"Papa gak maksa, papa cuma kasih Andra pilihan. Lagian Agatha anak yang baik, cantik, dan sepertinya akan bisa menyeimbangi Andra. Keluarganya juga sangat baik dan sopan. Jadi gak ada yang salah," jelas Tio.
"Tapi mereka bukan siapa-siapa. Apa yang bisa kita banggakan ke orang-orang Pa? apa kata orang-orang kalau tahu besan kita cuma orang biasa, dari kampung. Mama benar-benar gak habis pikir sama jalan pikiran Papa."
"Memangnya saat papa menikah sama Mama, papa sudah jadi siapa-siapa? Jangan menilai orang kayak gitu Ma. Lagian kenapa kita harus peduli sama omongan orang-orang sih? kalau calon menantu kita bukan orang baik, perempuan yang gak benar, baru kita malu."
"Terserah Papa ajalah." Melisa mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Mau seperti apapun ia berbicara, suaminya itu pasti akan tetap dengan pendiriannya. Sejujurnya Melisa sangat menolak tentang pernikahan putranya itu karena ia tahu Andra menikah hanya karena permintaan ayahnya. Lagi pula Melisa bukan mengingkan calon menantu seperti Agatha yang dari kalangan orang biasa seperti itu. Ia sangat menyayangkan pilihan putranya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebagai istri ia harus tetap mengikuti perkataan suaminya meskipun sangat menentangnya.
Andra yang sedari tadi mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya tentang dirinya itu hanya memutuskan untuk diam di bangku belakang. Ia melemparkan pandangannya keluar jendela memikirkan lagi keputusannya itu. Ia tidak tahu apakah keputusannya kali ini benar atau cukup gegabah. Yang ia tahu, ia tidak ingin Aron mengambil alih perusahaan keluarganya. Ia sudah sering kalah dari pria itu, dan ia tidak ingin kalah lagi untuk kali ini.
***
Agatha berjalan gontai memasuki kantor. Rasanya ia tidak punya semangat hidup lagi sekarang karena merasa hidupnya benar-benar sudah tidak sesuai dengan keingiannya. Jiny yang melihat kedatangan Agatha tidak semangat seperti biasanya menatapnya aneh. Bukankah ia baru saja berlibur dan pulang ke kampung halamannya? tapi kenapa ia malah terlihat tidak senang? harusnya ia lebih bersemangat untuk kembali bekerja seperti biasanya.
"Tha, lemes amat. Darah rendah lo?" tanya Jiny.
"Gue lagi gak mau bercanda," balas Agatha ketus langsung menyalakan komputernya untuk kembali bekerja. Jiny menyipitkan matanya, sepertinya sahabatnya itu sedang dalam msalah. Jiny langsung menarik kursinya untuk lebih dekat dengan Agatha.
"Lo ada masalah apa Tha?" tanya Jiny. Agatha menghela nafas kasar kemudian menyandarkan tubuhnya disandaran kuris.
"Wah, kayaknya berat banget nih."
"Ini semua gara-gara si k*****t Andra."
"Andra? memangnya kenapa? dia mau laporin lo ke polisi ya karena soal hutang itu? bener? dia mau bawa lo ke kantor polisi?" tanya Jiny khawatir.
"Enggak."
"Loh kok enggak? atau lo mau dibawa ketemu bos buat dilaporin ke bos. Lo bisa dipecat dong Tha. Gue gak siap kehilangan lo di kantor ini." Jiny makin dibuat panik. Agatha hanya memutar bola matanya malas melihat reaksi berlebihan sahabatnya itu.
"Gue mau dibawa ke pelaminan," kata Agatha.
"APA?!" Jiny memekik kaget membuat seisi ruangan menatap mereka berdua. Dengan cepat Agatha langsung membungkam mulut Jiny dan melemparkan senyumnya kesekitar memberikan isyarat bahwa mereka baik-baik saja. Orang-orang di ruangan yang tadi melihat mereka kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
"Mulut lo kayak toa banget sih," kesal Agatha.
"Maksud lo apa sih tadi? pelaminan apanya?" Agatha menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannnya perlahan sebelum memulai ceritanya. Dengan memelankan sedikit suaranya, Agatha pun menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Andra hingga rencana pernikahan mereka. Jiny benar-benar dibuat terkaget-kaget tidak menyangka. Tapi disisi lain Jiny merasa sangat iri dengan Agatha yang akan menikah dengan pria tampan seperti Andra, apalagi ia kaya raya dan sukses. Sangat bertolak belakang dengan Agatha yang merasa tidak ada sisi baik dalam diri Andra yang membuatnya harus senang dengan pernikahan ini.
***
Agatha mengetik dengan bersemangat agar secepatnya bisa menyelesaikan pekerjaanya dan pulang. Ia tersenyum senang saat pekerjaannya sudah selesai. Rasanya begitu lega. Gadis itu meregangkan otot-otonya yang terasa kaku karena lelah bekerja.
Ia langsung segera berkemas dan bersiap-siap pulang. Jiny sudah pulang terlebih dahulu karena memang arah dari tempat tinggal Jiny dan Agatha berlawanan arah, jadi mereka tidak pernah pulang bersama. Disaat dirasa semuanya sudah selesai, Agatha langsung bergegas pulang. Ia akan memesan ojek online saat nanti sudah sampai di depan kantor seperti biasanya.
Tiba-tiba langkah Agatah melambat, matanya sedikit memicing memastikan siapa yang tengah berdiri di samping mobilnya di depan kantornya itu. Menyadari siapa orang itu membuat Agatha langsung memalingkan wajahnya. Ia memutuskan untuk pura-pura tidak mengenali orang itu.
"Heh!"
"Jalan aja terus Agatha, anggap aja penampakan," kata Agatha pada dirinya sendiri mengabaikan panggilan orang itu.
"Woi." Agatha tetap terus berjalan.
"Calon istri," teriaknya yang membuat langkah Agatha langsung terhenti. Ia berbalik menatap orang itu dengan tatapan tidak bersahabatnya.
"Masuk," katanya kemudian mendahului Agatha masuk ke dalam mobilnya.
"Atau gue mau teriakin calon istri lagi? di dalam kantor lo masih ada orang kayaknya," katanya lagi sebelum benar-benar masuk ke dalam mobilnya. Agatha meninju-ninju udara melampiakan kekesalahnnya pada orang itu kemudian akhirnya pasrah dan ikut masuk ke dalam mobilnya.
"Gue beli mobil ini pakai uang bukan pakai daun. Jangan seenaknya lo banting-banting," kata Andra saat mendengar Agatha membanting pintu mobilnya saat menutupnya. Agatha menatap Andra tajam kemudian kembali membuka pintu mobil pria itu dan kembali membantinya sembari tersenyum puas. Andra hanya menatapnya geram. Ia langsung melajukan mobilnya.
"Lo mau makan apa?" tanya Andra.
"Gue gak laper," balas Agatha ketus.
"Gue mau ngomong sama lo. Jadi kita harus makan dulu."
"Gue ogah makan sama lo, bisa-bisa gue muntah. Buruan anterin gue pulang aja," kata Agatha. Andra menatap Agatha dengan ekor matanya. Agatha adalah satu-satunya wanita yang selalu berbicara ketus padanya. Jika bukan karena Andra membutuhkannya untuk menjalankan misinya, ia sudah bisa memastikan untuk menendang wanita menyebalkan ini keluar dari mobilnya.
Akhirnya Andra pun melajukan mobilnya menuju kos-kosan Agatha sesuai permintaanya.
"Makasih," kata Agatha bersiap untuk turun saat mobil Andra terparkir sempurna di depan kos-kosannya. Tapi dengan cepat Andra menahannya dengan memegang tangan gadis itu.
"Sebentar, gue mau ngomong."
"Ya udah ngomong aja, gak usah pegang-pegang. Mau nyebrang lo?" Agatha menepis tangan Andra.
"Nih buat lo." Andra mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya kemudian memberikannya pada Agatha. Agatha menatap sebuah kotak seperti kotak perhiasan.
"Apaan nih?"
"Lo kan gak mau ada acara pertunangan, jadi ini cincin tunangan buat lo."
"Gak usahlah, sandiwara lo terlalu niat. Udah ah gue mau masuk." Lagi-lagi Andra menahan tangan Agatha yang hendak keluar. Ia langsung membuka kotak cinta itu kemudian memasangkan cincin berlian yang indah itu di jari manis Agatha. Terlihat sangat pas, padahal Andra hanya menduga-duga ukuran jari manis Agatha.
"Lo pakai cincinnya, jangan dijual."
"Ya karena udah punya gue, jadi ya suka-suka gue lah," balas Agatha kemudian keluar dari mobil Andra. Andra hanya mendengus kesal mendengar jawaban gadis itu kemudian langsung berlalu pergi.
Agatha menatap kepergian Andra, setelah mobilnya sudah tidak terlihat lagi hilang ditikungan, Agatha menatap cincin yang kini sudah melingkar di jari manisnya pertanda bahwa ia benar-benar tuangan seorang Andra Ghani. Cincin itu terlihat sangat cantik, tapi tetap saja tidak membuat hati Agatha senang.